
Di saat Andrew sedang berbahagia karena bisa berdekatan dengan Vivianne, disaat yang bersamaan nun jauh disana Damian sedang mengalami kegelisahan.
Berkali-kali dia menghubungi ponsel Vivianne tunangannya tersebut, namun tidak ada jawaban. Pesan yang diterima adalah kemarin malam dimana Vivienne meminta izin untuk waktu yang tidak dapat dipastikan.
Dan pesannya pun cukup singkat tanpa menjelaskan apapun di dalamnya, ‘Aku izin mengambil cuti ada hal penting yang harus aku selesaikan segera’
‘Apa maksudnya coba? urusan apa yang dimaksud?’
‘Kenapa Vivianne selama ini tidak pernah bilang apapun?, biasanya dia selalu bicara kepadanya, apapun masalahnya. Tapi kenapa sekarang tidak?’
‘ Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Anne mengalami masalah berat yang tidak bisa dia ceritakan kepadaku? tapi apa?’
Banyaknya pertanyaan yang datang di kepala Damian membuatnya semakin pusing, dan dampaknya adalah dia tidak fokus kepada pekerjaannya. Akhirnya Damian memutuskan untuk pulang dan beristirahat di rumah, setelah dia berkali-kali gagal menghubungi Vivianne. Ponselnya entah mengapa selalu tidak aktif.
Damian membereskan berkasnya, dan bersiap-siap hendak pulang ketika asistennya datang mengetuk pintu ruangannya.
“Masuk!” serunya ketika mendengar ketukan dari luar pintu.
“ Maaf ,Pak mengganggu. Tapi didepan ada Pak Alex katanya teman anak bapak ingin bertemu!”
‘Alex? Mau apa dia kesini? Tumben sekali, tidak seperti biasanya?’ Damian mengerutkan keningnya dengan curiga.
“ Suruh dia masuk.” Damian berujar dan meminta Adrian sang asisten untuk mempersilahkan Alex masuk.
“Baik,Pak”
Dengan sedikit memberi hormat sang Asisten bergerak keluar ruangannya.
Tidak beberapa lama Alex masuk ditemani oleh Adrian Sang Asisten.
“ Silahkan, Pak Alex, sudah ditunggu Bapak . Kalau begitu saya keluar dulu, Pak!” sambil memberi hormat.
“ Tunggu sebentar, Adrian tolong tuda semua jadwal saya untuk hari ini,OK? Saya sepertinya akan pulang lebih cepat. Saya kurang enak badan. Kamu handle pekerjaan di kantor sementara saya tidak ada, ya? Tolong kabari jika ada hal mendesak saja.” perintah Daman.
“Baik,Pak! Saya permisi dulu, jika tidak ada hal lainnya.”
“Tidak. Itu saja, silahkan kamu keluar”
Damian memberi isyarat agar Adrian sang asisten dapat keluar.
“Loh, Om Damian sakit? Mau pulang Om? Kalau begitu biar saya antar Om, sekalian.” seru Alex ketika mendengar pembicaraan Damian dengan Asistennya itu.
“Cuma lelah,Lex. Tidak perlu. Jangan! Nanti malah merepotkan kamu!” tolak Damian.
“Nggak repot kok,Om. Biar saya antar yah?” dengan sedikit memaksa.
“Baiklah, saya bereskan ini dulu, ya? Setelah itu kita bisa pergi.” Damian sambil mempersilahkan Alex untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya sambil dia menyelesaikan membereskan berkas-berkasnya yang berserakan di mejanya itu.
“ Oh, iya Lex, tumben kamu kesini? Ada perlu apa?” tanya Damian tanpa menatap wajah Alex dan terus menyelesaikan pekerjaannya itu.
" Oh, tidak ada perlu apa-apa sih,Om! Kan, sudah lama saya tidak bertemu Om Damian, jadi sekalian mampir, Om. Saya kangen ngobrol sama Om Damian. Kebetulan ada pekerjaan di daerah sini, juga sih." Setu Alex dengan mencoba santai, sementara debaran di hatinya sangat kencang. Sepanjang dia mengenal Andrew, baru kali ini dia berbohong kepada Om Damian, Papanya Andrew.
Damian menghentikan kegiatannya sejenak, mengangkat wajahnya dan menatap kearah Alex sambil menatapnya dengan tajam. Alex yang ditatap seperti itu, semakin grogi. Tapi dia telah berjanji kepada Andrew untuk membantunya, jadi dia akan berusaha senormal mungkin.
" Benarkah? Sepertinya ada yang kamu sembunyikan dari saya, katakan, ada apa? Apakah mengenai Andrew? Dan kenapa kamu hanya datang sendiri? Dimana Andrew?" Damian beranjak dari tempatnya dan berjalan perlahan menghampiri Alex.
' Sial! Apa gue bilang,Drew! Bokap Lo itu ga mudah ditipu,bro! Semoga saja dia tidak curiga! Mati gue,kalau dia curiga!' dengan lirih berujar didalam hati.
" Kenapa? Kok, diam?" selidik Damian dan duduk di hadapan Alex.
" Itu…Om,duh, gimana ya, bilangnya?" Alex semakin grogi ditatap Damian dengan tajam.
" Apa ini mengenai Andrew? Jika benar, maka jangan sembunyikan apapun dari saya! Katakan yang sebenarnya! Apa anak itu bertingkah lagi?" tanya Damian dengan intonasi tegasnya.
Alex menelan air liurnya, tenggorokannya kering saat ini. Berhadapan dengan Damian tidaklah semudah yang dikira, karena Damian adalah sosok yang sangat dominan dan tatapannya setajam elang, tidak satupun yang luput dari pantauannya. Bahkan tatapannya serasa langsung menuju hingga ke dada Alex.
" I-iya, Om. Ini mengenai Andrew!" ujar Alex pasrah akhirnya.
Damian mundur kebelakang sandaran sofa namun tetap dengan tatapan tajamnya, " Katakan, kalau begitu." ujarnya dingin.
" Maaf Om, sebelumnya apa bisa kita membicarakannya dirumah Om saja, sambil saya mengantarkan Om,mungkin?" ujar Alex meski sedikit ragu Damian akan menyetujuinya.
Damian menarik nafasnya sangat panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. " Kenapa tidak sekarang saja, apa bedanya?" tatapannya semakin dingin.
Alex seakan membeku hanya ditatap oleh Damian.
" Saya rasa, tidak pantas jika harus membicarakannya disini,Om!" ujar Alex dia mulai tidak yakin apakah rencana akan berjalan dengan lancar kali ini.
Mereka berdua terdiam, Damian semakin tajam menatap Alex. Sementara Alex berulang kali membasahi tenggorokan dengan menelan air liurnya.
" Apakah kali ini serius,Lex?" hanya ini yang diucapkan oleh Damian.
Alex hanya mengangguk saja, " Bisa jadi,Om. Tergantung dari sudut pandang mana Om melihatnya." dengan ketakutan Alex menatapnya.
Damian terdiam kembali. ' Ada apa dengan Andrew? Apakah ini terkait Anne? Sepertinya setelah makan malam itu, Damian belum mendapatkan kabar apapun dari Andrew! Andrew seakan menghilang! Apakah dia sakit hati? Kenapa harus sakit hati? Bukankah dia sendiri yang mencampakkan Anne? Lantas jika bukan karena itu, apa? Apa jangan-jangan…'
" Om! Om Damian?" suara Alex membuyarkan lamunan Damian.
Entah mengapa hatinya mulai gelisah. Seperti semuanya datang bertubi-tubi dan diwaktu yang sama.
'Mengapa semuanya seperti berbarengan? Vivianne menghilang, Alex datang, dan Andrew? Entah apa yang dilakukannya kali ini! Ada apa sebenarnya?'
" Bagaimana,Om? Bisa kita bicara dirumah,Om saja, sambil mengantarkan Om?" seru Alex kembali.
Damian menatap Alex sekali lagi. " Baiklah, kalau begitu, kita pulang sekarang!"
" Siap! Om! Naik mobil Alex saja, ya Om? Nanti biar sopir Om yang mengantar mobil Om ke rumah,bagaimana?" tawar Alex dengan sedikit senyum.
" Boleh, juga!" seru Damian singkat.
" Mari,Om, kalau begitu! Apakah pekerjaan Om sudah selesai?" tanya Alex kembali.
" Hmm!" Damian hanya mengangguk kecil.
" Sebentar saya ambil jas dan tas saya dulu. Dan menitipkan pesan kepada Asisten saya agar sopir saya tidak perlu menunggu saya." seru Damian kembali.
" Siap Om, kalau begitu saya tunggu di depan saja ya,Om?" jawab Alex ketika hendak melangkah keluar ruangan.
" Tidak perlu, kamu tunggu sebentar saja kita akan keluar bersama!" perintah Damian.
Dengan cepat Damian mengambil jas dan tas kantornya. Kemudian melalui interkom dia memerintahkan anak buahnya atau Asistennya untuk meminta sang sopir langsung kerumahnya dan tanpa menunggu dirinya. Karena dia pulang bersama Alex.
Sepanjang perjalanan ke rumah Damian mereka tidak banyak bicara, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Alex yang sibuk mencari alasan apa yang harus dikatakan kepada Damian. Dilain sisi Damian sibuk dengan pikiran terkait Anne yang tiba-tiba menghilang secara misterius tanpa kabar serta mengenai masalah Andrew anak semata wayangnya itu.
Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah rumah mewah yang didiami oleh Damian, rumah tersebut terasa makin mencekam seiring dengan pertanyaan yang diajukan Damian ketika menginjakan kakinya di kediamannya itu.
" So, katakan, apa yang terjadi dengan Andrew?"
******