Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 63 Ketakutan Damian



Setelah perayaan yang mengharukan, dan diakhir dengan penerimaan lamaran Damian oleh Vivianne. Mereka kembali ke kediaman mereka masing-masing.


Damian mengantarkan Vivianne dan keluarganya ke apartemen Vivianne dengan selamat. Semua orang tampak kelelahan tapi diwaktu yang bersamaan juga bahagia.


Setelah mengucapkan selamat malam di kening Vivianne dengan mesra, Damian kembali ke kediamannya. Sepertinya dia akan tidur sangat pulas malam ini.


Sepanjang perjalanan Damian bersiul, di dalam mobilnya. Bahkan tingkahnya bak anak ABG yang sedang jatuh cinta saat ini.


Semuanya tidak luput dari pantauan sang ajudannya yang julit atau sopir kepercayaannya itu.


" Wah,Tuan sepertinya sedang bahagia,ya? Dari tadi senyum-senyum sendiri. Saya jadi takut,loh,Tuan. Tuan masih waras kan?" tanyanya.


Damian membuang wajahnya dengan kesal, " Kamu mau aku pecat yah? Berani-beraninya kau mengejek atasanmu sendiri,Ton! Atau sudah bosan bekerja denganku yah, sehingga kamu mulai berani kurang ajar? Hah? Mau dipulangkan ke kampung?" kesal Damian.


" Duh, jangan dong,Tuan. Nanti anak istri saya, makan apa,Tuan. Saya kan hanya bercanda,Tuan. Sepertinya, Tuan berhasil yah, melamar Nona Vivianne,ya Tuan?" ujar sang sopir.


" Hmm…!" ujar Damian.


" Hmm...Itu maksudnya apa,Tuan? Hmm..ditolak atau Hmm…diterima? Atau Hmm..sudah bilang tapi belum dijawab? Yang mana ini,Tuan? Kok saya jadi pusing yah?" tanya sang sopir makin penasaran.


" Aish! Kamu rewel sekali,sih! Sudah kendarai saja mobilnya. Aku ingin segera sampai rumah dan tidur! Siapa tahu bisa memimpikan Vivianne bukan? Hehehe…Duh, jadi kangen deh!" ujar Damian dengan sumringah.


" Hah? Lha, bukannya tadi ketemuan yah, Tuan? Kok, masih kangen sih? Tuan ini aneh, deh!" ujar sang sopir menggelengkan kepalanya.


" Aish! Kamu tidak akan mengerti! Percuma juga aku ngomong sama kamu! Sudahlah!" kesal Damian.


" Hehehe…Memang kalau orang lagi jatuh cinta begitu, yah, Tuan. Bawaannya mau bertemu teroosss…sama sang pujaan hati! Uhuyy!!" sindir sang sopir.


" Hehehe…Kamu tahu saja, iya kok aku bisa seperti ini yah, Ton? Rasanya sudah sangat lama semenjak…semenjak kepergian istriku." ujar Damian raut wajahnya sedih mengingat almarhum istrinya.


" Iya, Tuan. Saya turut bahagia, jika Tuan bahagia. Selama ini saya tahu,Tuan selalu sendirian selama ini. Saya juga tahu kalau Tuan kesepian, terlebih setelah Den Andrew pergi sejak dari SMP hingga saat ini. Tuan selalu sendirian. Semoga saja, Nona Vivianne bisa menemani Tuan hingga nanti,ya Tuan?" ujar sang sopir.


" Amin..Ton! Amin. Oh, iya Ton. Aku ingin berkunjung ke makam istriku apa kau bisa mengantarkan ku besok?" tanya Damian.


" Boleh,Tuan. Saya siap. Hmm..ngomong-ngomong, Tuan, apa Nona Vivianne sudah tahu mengenai Tuan Muda Andrew? Terlebih…mereka dulunya…" ujar sang sopir.


" Diamlah,Ton! Kau merusak mood ku saja! Aku tahu, cepat atau lambat mereka pasti harus dipertemukan. Ini yang membuatku sedikit kuatir. Apakah Vivianne…akan tetap memilihku, Ton? Ah, sudahlah! Yang pasti saat ini Vivianne sudah menjadi tunanganku. Andrew tidak akan berani macam-macam, terhadap tunangan ayahnya, bukan? Apa aku keterlaluan Ton? Aku hanya…mencintai Vivianne! Itu saja! Apa aku salah? Dan apa aku pantas bersanding dengan Vivianne, Ton? Dia masih muda,cantik,pintar usia kami…sangat jauh berbeda kami dia bahkan jauh lebih muda dari Andrew! Usia kami berbeda 25 Tahun! Bayangkan!" ujar Damian sedikit takut membayangkan hal ini.


" Apa,Tuan mencintai Nona Vivianne,Tuan? Maksud saya benar-benar mencintainya? Secara tulus?" ujar sang sopir.


" Hanya Vivianne yang mampu membuatku tenang, merasa seperti seorang pria. Aku kembali hidup! Dulu duniaku hanya bekerja, tapi sejak mengenal Vivianne aku lebih berwarna. Aku lebih bersemangat. Rasanya aku ingin menghabiskan waktu sisa umurku bersama Vivianne,Ton! Dan hidup bahagia! Jika mungkin bersama anak kami!" Damian menatap ke arah jalanan dan membayangkan kehidupannya nanti bersama Vivianne.


" Kami akan menjauh, dari hiruk pikuk kota Jakarta, aku akan menyerahkan perusahaan ku kepada Andrew. Dan aku akan pensiun setelah menikah. Rasanya hidup kami lebih dari cukup! Hanya Vivianne saat ini yang aku butuhkan. Aku sudah tidak memikirkan hal lainnya,Ton." ujar Damian.


" Kalau begitu, kejar kebahagiaan Tuan. Meski kalian memiliki usia yang berbeda jauh, kenyataannya saya melihat Nona Vivianne dapat mengimbangi Tuan. Bahkan Nona Vivianne kadang jauh lebih dewasa,lembut, dibandingkan Tuan! Dan jangan lupakan cantik! Cantik sekali malah,Tuan! Kalau saya belum menikah, sudah pasti saya juga akan jatuh cinta sama Nona Vivianne,Tuan! Kita bisa saingan mendapatkan hatinya Nona Vivianne!" ujar sang Sopir.


Damian yang mendengarnya, dengan kesal melemparkan sapu tangan di sakunya kearah sang sopir.


" Mulutmu makin lama makin kurang ajar,ya Ton! Rasanya mau ku robek-robek saja,mulutmu itu!" ujar Damian kesal.


" Hehehe…Bercanda,Tuan. Sensi banget sih, Tuan!" ujar sang sopir.


" Tapi, Tuan. Saran saya, Tuan sepertinya harus cepat berbicara dengan Nona Vivianne deh, Tuan.. jangan sampai Nona Vivianne tahu, kalau Tuan Muda Andrew anak Tuan dan Tuan seakan sengaja menyembunyikan fakta ini. Dia pasti akan sangat kecewa,Tuan!" ujar Sang sopir.


" Iya, benar juga kamu. Nanti saya akan cari waktu yang tepat untuk berbicara dan memperkenalkan mereka." ujar Damian dengan gelisah.


Damian sedikit memejamkan mata setelah itu dan tidak berbicara kembali. Mereka berdua larut dalam pikiran mereka masing masing. Sehingga tanpa sadar dia sempat terlelap. 


Sang sopir sengaja tidak membangunkan sang majikan hingga setelah beberapa lama mereka sampai di tujuan mereka baru dia membangunkan Tuannya itu.


Damian pun turun setelah terbangun, dia ingin segera kembali tidur di kamarnya dengan kasur kesayangannya yang sangat empuk. Dia sangat lelah malam ini baik fisik dan pikirannya.


Dia turun dan menuju ke pintu depan rumahnya yang tampak sepi, sedikit termenung dan mengambil minuman menenggaknya sebentar dan kembali berjalan menyusuri ruangan tengah, dia terdiam kembali.


" Ah, semoga saja jika Anne pindah kesini maka rumah ini akan lebih ceria! Ah jadi tidak sabar untuk menikahinya secepatnya!" ujarnya dengan pelan sambil mengarahkan pandangannya diseluruh ruangan rumahnya yang tampak sepi dan gelap itu.


" Siapa yang mau menikah, Pah? Apakah benar rumor itu, yang bilang bahwa Papah Ingin menikahi sekretaris papah itu, benar, Pah? Siapa namanya tadi? Anne?" 


Seseorang menghidupkan lampu ruangan tengah, dan tampaklah seorang pria muda gagah yang duduk di sebuah sofa TV berjalan perlahan menghampiri pria yang dipanggilnya Papah itu.


" A-andrew?" suara Damian terkejut dan tercekat bibirnya Kelu tak bisa berbicara. 


Ternyata ketakutannya terjadi, Andrew anaknya pulang.


****