Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 69 Lelah Menjaga Hati Agar tidak Rapuh!



Andrew baru saja memasuki apartemennya dengan Alex di belakangnya yang memaksakan diri untuk tetap bersamanya. Tentu saja dengan alasan hendak mengobati luka Andrew. Itu yang diucapkannya. Kenyataannya adalah, Alex tidak ingin meninggalkan Andrew seorang diri di apartemen itu. Anggaplah Alex berlebihan, tapi dia sungguh mengkhawatirkan sahabatnya itu.


Dulu mereka masih bisa bertiga ketika masih ada Bryan. Bryan selalu bisa mendinginkan hati Andrew yang panas. Tapi bahkan mereka saling tidak bicara satu sama lain. Jadi Andrew hanya punya Alex untuk berkeluh kesah saat ini. Itu sebabnya Alex tidak bisa meninggalkannya terlebih saat ini. Disaat hatinya sedang patah dan lemah. 


" Drew! Lo taruh dimana kotak obat?  Biar gue bersihin luka Lo dan menggantinya dengan perban. Gue takut luka Lo infeksi!" tanya Alex kepada Andrew.


" Tuh, di laci pertama dibawah meja TV! Thanks, Lex!" 


" Sama-sama. Lo kayak siapa aja, sih?" sudah Lo duduk saja di sofa yah?" 


Andrew hanya mengangguk. Dan dia berjalan dibelakang Alex dan duduk di sofa. Dari belakang dia bisa melihat Alex yang sedang mencari kotak obat di laci tersebut. Setelah menemukannya dia berbalik dan duduk disebelah Andrew.


Alex membuka balutan kain yang menutupi luka Andrew. Dia membersihkannya dengan alkohol, dia melihat wajah Andrew tapi sepertinya Andrew tidak merasakan perih atau hal lainnya. Justru Alex yang sedikit meringis, ada beberapa luka yang cukup dalam dan beberapa goresan luka. Kemudian dia memberikan obat setelahnya dan menutupnya dengan perban. 


Alex menarik nafas panjang, dia lega telah menyelesaikannya. Mengobati luka Andrew seakan merupakan perjalan panjang buatnya, tapi yang diobati justru seperti tidak ada disini, pikirannya. Hanya tubuhnya saja yang berada disini. Andrew seperti memikirkan sesuatu, tebakan Alex adalah pasti karena Vivianne! Apalagi coba?


Dengan sedikit berdehem dia mencoba membuyarkan lamunan Andrew," Ehem! Lukanya sudah diperban,Drew! Tapi saran gue, Lo tetap harus ke Dokter dech karena ada luka yang cukup dalam tadi gue pikir seharusnya dijahit,sih…" 


" Nggak perlu,Lex! Ini sudah cukup! By the way, thank you again,ya?" tolak Andrew sambil menggelengkan kepalanya.


" Iya…Tapi please next jangan lakukan hal konyol seperti ini lagi ya? Gue ngerti ngelihatnya! Ya kalau ada pas gue, kalau nggak? Apa yang terjadi sama elo coba?" seru Alex menatap sahabatnya sedih itu.


Andrew hanya menaikan bahunya dengan acuh.


" Drew! Gue serius ini! Gue nggak mau Lo kayak di Melbourne beberapa tahun lalu! Lo masih inget, kan? Lo hampir mencelakakan diri Lo sendiri! Dengan bodohnya Lo melukai tangan Lo dengan pisau cukur! What do you think? Kalau Lo sangat tersiksa dengan perasaan Lo, kenapa tidak minta maaf dan coba memenangkan hatinya Vivianne sih,Drew?" Alex mau tidak mau membuka pembicaraan ini, Andrew tidak boleh menghindar lagi! Dia harus menghadapinya!


Andrew tertunduk, enggan menatap Alex. " Gue nggak bisa Lex! Please jangan paksa gue! Gue lelah, gue mau tidur.."


Alex menghembuskan nafas kasar. Lagi-lagi seperti ini. Alex melihat Andrew yang beranjak berdiri perlahan melangkah.


Alex tidak bisa melakukan apapun, dia masih di sofa.


" Pergilah, Drew! Lari…sejauh yang kau mampu! Tapi Lo perlu tahu satu hal, ke ujung dunia pun Lo berlari tidak akan mengubah apapun juga! Lo mencintai Vivianne!" Alex mengambil resiko ini dia terpaksa! Dia tidak ingin Andrew terus-terusan menutup diri.


" Alex! Lo lancang!" Andrew menoleh dengan mata penuh amarah menatap Alex yang hanya menatap lurus layar TV.


Alex bergerak berjalan perlahan, " Terus bohongin diri,Lo,Drew! Kalau memang itu membuat Lo nyaman! Tapi mau sampai kapan? Mau sampai kapan Lo seakan menutup mata Lo, kalau permasalahan sebenarnya adalah…Lo sangat mencintai Vivianne dan Lo tidak bisa melupakannya! Tapi Lo terlalu tinggi hati untuk meminta maaf kepadanya! Itu masalah Lo! Lo terlalu pengecut!" 


" Alex! Cukup! Lo nggak berhak mencampuri urusan gue! Ini hidup gue! Ini masalah gue! Lo lebih baik pergi dari sini!" Andrew mengusir Alex.


" Lo ngusir,  gue Drew? Sahabat Lo? Wah suatu kemajuan! Ternyata Lo nggak hanya sekedar pengecut, tapi juga pecundang! Nggak nyangka gue punya teman bajing*n seperti Lo! Lo boleh pintar urusan bisnis, pendidikan dan kain-lain! Tapi urusan hati Lo 'Zero'! Ingat dan camkan kata kata gue! Kalau Lo nggak nurunin ego lo sedikit saja, Lo bakalan menyesal! Selamanya cinta Lo akan pergi ninggalin diri Lo! Dan Lo hanya bisa meratapi nya seumur hidup Lo! Lo ga akan pernah bahagia!" ujar Alex sangat kesal dia berbalik hendak keluar apartemen Andrew.


Alex berbalik dan menghindari lemparan Andrew. " Memang! Karena gue nggak mau sakit hati, karena kebodohan yang gue buat sendiri seperti Lo! Gue harap ketika gue siap menetapkan hati gue, dia jadi wanita terakhir gue yang akan membuat hati gue bahagia! Dan gue bahagiakan! Bukan sebaliknya!"


Alex setelah itu pergi dan menutup pintu apartemen dengan keras.


Andrew terpaku di tempatnya. " Benarkah, aku terlalu mementingkan egoku?"


Alex berjalan perlahan ke arah kamarnya, dengan perlahan mencoba mencerna semua perkataan Alex. " Tidak! Aku justru tidak egois,aku sadar telah membuat dia kecewa! Apa yang telah ku perbuat ke dia tidak termaafkan! Itu sebabnya aku menjauh! Berharap Vivianne bahagia, meski hati ini sakit! Anggap saja ini karma! Aku dulu pernah mempermainkan perasaannya, dan sekarang justru aku yang terperosok oleh permainanku sendiri! Apa kamu bahagia bersama papah,Vi? Jika kamu bahagia, aku akan ikhlas…tapi kenapa rasanya hati ini sangat sakit?? Ya Tuhan…please tolong kali ini saja, bantu aku! Tolong hapus kenangan itu dari hati dan pikiranku, Ya Allah!" 


Andrew memilih merebahkan dirinya dan mencoba untuk tidur. Dia lelah, lelah menjaga hatinya agar tidak rapuh dan hancur.


****


Sementara itu Alex yang sedang berjalan ke lobby apartemen sedikit bersungut-sungut berkata, " Sial! Seharusnya gue makan enak tadi di apartemen Andrew! Perut gue laper banget ini! Kenapa jadi makin sakit,sih? Lebih baik gue cari makan! Nanti gue akan cek keadaannya malam nanti! Semoga Lo tidak berpikiran pendek,Drew!" 


Alex hendak turun menuju parkiran depan apartemen Andrew ketika dia melihat seorang gadis dengan pakaian jeans atasan kaos putih melintas di hadapan Alex dengan tertunduk.


" Valery? Benarkah itu dia? Tapi, kenapa penampilannya beda? Lebih…lebih sederhana? Mau apa dia disini? Jangan bilang dia mau ke atas! Ketempat Andrew? Wah tidak bisa dibiarkan ini!"dengan pelan Alex berbicara.


" Valery!" teriaknya.


Perempuan yang tampak berpakaian sederhana itu menoleh, " Alex? Kenapa dia ada disini juga?"


Belum sempat Valery bereaksi, Alex sudah menangkap tangannya dan menyeretnya mengikuti langkahnya. " Ikut gue!"


Valery kaget dia hanya bisa berteriak, " Hey! Apa-apaan sih, Lo? Lepas nggak! Kenapa Lo maksa gue untuk ikut dengan Lo?" 


" Pokoknya ikut! Masuk! Atau Lo mau gue berbuat sesuatu yang lebih dari ini kalau Lo nggak menurut!" Alex mendekatinya disamping pintu mobilnya, Valery mundur dan terjepit dia tidak bisa mundur lagi! Dan tatapan Alex yang kejam mendominasi, belum lagi tubuh Alex yang besar mengungkungnya sangat dekat! Bahkan wajahnya hanya satu inci darinya. 


Valery ketakutan, " Iya, gue akan ikut! Lo tapinya mundur dulu! Gimana gue mau masuk ke mobil coba?, Kalau posisi Lo seperti ini? Minggir!"


Alex pun tidak kalah kaget, tangan kecil Valery mendorong dadanya. Alex berdesir. " Sialan! Ini cewek! Kenapa hati gue jadi deg deg kan sih? Ah, bodo amat! Gue harus ngomong sama dia, agar jangan ganggu Andrew!" 


Alex kemudian mundur beberapa langkah, dan Valery kemudian masuk kedalam mobil. Alex bernafas lega, " Nanti dulu, kenapa gue jadi lega? Memangnya dia ngapain? Ah, tol*l banget sih, Lo Lex! Gini nih, kalau kelamaan jomblo, ya kali cewek melintas mau di embat aja bawaannya? Cih! Ogah gue, bekas Andrew! Cabe-cabean kaya dia mah, banyak! Nggak ribet pula!" 


Akhirnya Alex membuang jauh pikiran kotornya dan mulai memutar ke kursi pengemudi. Dan Alex membawanya mobilnya menjauh dari apartemen Andrew.


*****