
Sementara Vivi menangis dengan pilu di kosan sahabatnya Tania. Dunia yang tadinya begitu indah penuh dengan bunga warna-warni yang harum semerbak bak di taman, dan baru menghiasi hatinya berubah seketika menjadi kelam. Dunia Vivi seakan runtuh, cinta pertamanya setelah sekian lama sendiri malah memberikan luka dan kenangan buruk buatnya.
Dia tidak menyangka sama sekali, pria yang selalu berkata manis dan lembut yang beberapa bulan ini menempel dengannya dengan mudahnya mengkhianatinya dengan gadis lain. Bahkan mereka mungkin saja sudah tidur bersama. Vivi masih tidak percaya hal ini terjadi.
Tania sudah terlelap, tapi Vivianne tidak! Dia tidak bisa tertidur dengan nyenyak, pikirannya selalu melanglang buana. Ditatapnya langit-langit kosan Tania dengan sedih, dan dia menangis kembali di kegelapan malam. Sendirian.
" Seandainya saja…waktu itu dia tidak bertemu dan kemudian ditolong oleh Andrew, mungkin dia tidak akan merasakan jatuh cinta yang mendalam seperti ini dan kemudian terhempas ke dasar lautan! Seandainya….dia ingat kata-kata sang bunda untuk lebih fokus kependidikan dan bukan asmara, mungkin tidak akan begini jadinya…Bunda..maafkan Vivi,bunda…"Vivi terus menyesali dalam hatinya. Lamunannya membawanya kepada sang bunda, betapa dia sudah menyia-nyiakan pengorbanan sang bunda yang bahkan rela memberikan sebagian harta peninggalannya untuk dirinya.
" Bodoh! Aku sangat bodoh! Mempercayai pria yang jelas-jelas terkenal playboy seperti Andrew!" Vivi terus merutuki dirinya.
Vivi bukannya tidak tahu bahwa Andrew seorang playboy yang desas desusnya sudah sangat terdengar. Mengingat Andrew sangat populer di kampusnya! Jadi wajar setiap orang di kampus pasti mengenal Andrew dan kedua sahabatnya.Selain dia kapten basket,pintar, terlebih karena predikat 'playboy' yang disandangnya.
Mr.Heartbreaker!
Namun itu semua diabaikan olehnya, setelah mengenal Andrew lebih dekat, Andrew yang dikenal meski tempramen, tapi dia juga sangat perhatian dan lembut. Ada sedikit kebanggaan ketika seorang Andrew akhirnya memilihnya. Diantara bunga-bunga lainnya yang juga tidak kalah indah dan cantik. Andrew memilihnya sang bunga kampung! Tapi ternyata semua palsu, Vivi bahkan berpikir mungkin ini semua memang sudah direncanakan Andrew! Mengingat hal ini dirinya makin terluka, luka yang penuh dengan darah dan nanah yang tidak akan mungkin disembuhkan hanya dengan menekan luka tersebut dengan kain kasa atau bahkan menjahitnya sekalipun.
Pengkhianatan tetaplah pengkhianata! Dalam bentuk apapun itu!
Vivi beranjak ke arah tasnya, dan mengambil ponselnya, dia lebih baik mencari sekedar hiburan untuk mengalihkan sakit hatinya bukan menghilangkannya. Karena dengan cara apapun menghilangkannya tidaklah mungkin kecuali dia menderita amnesia.
Ah, ternyata ponselnya kehabisan daya. Pantas saja tak satupun pesan diterima. Di kemudian mengambil charger dan mengisi daya ponselnya. Sambil mengisi daya dia kekamar mandi untuk menunaikan sholat, sepertinya dia belum sholat Dzuhur.
Matahari sangat terik dan kebetulan Tania libur sehingga dia tidak akan membangunkannya. Tania beranjak ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan berwudhu.
Tapi tiba-tiba perutnya bergejolak, seperti putaran air, buru-buru dengan melompat untuk ke kamar mandi. Untung saja kosan Tania kamar mandinya di dalam, sehingga memudahkannya untuk memuntahkan sesuatu yang dirasa tidak enak didalam tubuhnya…
Hooeekkkkk!
Vivi memuntahkan namun tak satupun makan yang keluar hanya berupa cairan bening. " Sial! Aku pasti masuk angin karena belum sarapan tadi! Dan sekarang sudah masuk makan siang pula!" dia memakai dalam hatinya. Vivianne membersihkan mulutnya dengan tisu kering yang ada disana.Tapi baru sebentar dia membasuh mulutnya perutnya kembali bergejolak.
Hoek!!
Hoek!!
Kembali dia memuntahkan sesuatu yang tak mengenakkan di dalam perutnya.Hingga dia terkejut sebuah tangan lembut memijat lehernya membuat Vivi makin memuntahkan sesuatu kembali.
Hoek!!
" Are you Ok, Vi? Apa kamu masuk angin yah? Karena kamu belum makan?" ujar sahabatnya Tania yang terbangun.
" Maaf ya,Tan! Sudah ganggu waktu tidurmu! Iya, sepertinya aku masuk angin deh,Tan! Apa kamu punya minyak angin mungkin?" ujar Vivi yang mulai pusing dan sedikit lemas.
" Hmm…tunggu sebentar, sepertinya ada!" Tania yang sedikit masih mengantuk mulai beranjak mencari sesuatu di sebuah meja seperti meja belajar dan membuka lacinya.
" Ini,Vi! Minyak kayu putih aku punyanya!" ujar Tania menyerahkan minyak kayu putih.
" Hoek! Wow! Tan,tolong jauhkan minyak kayu putih itu dari aku,Tan! Baunya sangat menyengat! Malah membuat aku tambah mual! Busuk baunya!"ujar Vivianne menutup hidungnya tapi naas terlanjur dicium olehnya dan dia berlari ke arah kamar mandi kembali.
" Aneh! Busuk? Orang enak begini kok, baunya! Malah dibilang bau busuk? Bau busuk dari mana sih?" Tania sibuk menciumi minyak kayu putih yang dia miliki dan melihat tanggal expired ya bahkan. " Aman. Benar-benar Aneh, si Vivi!"
" Jangan-jangan…Ah, tidak mungkin! Dia gadis baik-baik!" Tania mengenyahkan pikiran yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
Dia meletakkan minyak kayu putih di tempatnya kembali.
" Vi! Aku kalau begitu buatin kamu teh madu yah? Biar kamu enakan? Sama beli sarapan atau malah makan siang, ya? Kamu nggak papa ku tinggal sendirian? Deket,kok! Di Depan kosan ada!" tanya Tania dengan gelisah sambil menatap Vivianne yang masih berkutat di kamar mandi dengan muntahannya.
" Nggak ngerepotin,kok! Kayak siapa saja! Sudah ku tinggal sebentar yah?" ujar Tania meski dengan sedikit ragu meninggalkan Vivianne dalam kondisi seperti ini sendirian. Tapi dia cuma berpikir nanti Vivianne bertambah sakit jika tidak makan.
" Sip!" teriak Vivi sambil menunjukkan jari jempol ke arah Tania.
Tania menghembuskan nafas dan berlari keluar dengan secepat kilat dia tidak ingin meninggalkan Vivianne terlalu lama.
Setelah mendapatkan yang dia mau, Nasi gudeg dengan telur pindang tanpa krecek mungkin cukup. Setelah itu dia menyeduh teh dan madu di dapur kosannya. Dan kemudian menuju kamarnya.
" Loh, Tan? Tumben ke dapur bikin teh,pula! Buat siapa?" ujar teman kosnya bernama Maria.
" Buat teman, Mar! Kayaknya dia masuk angin deh!" ujar Tania singkat.
" Oh…Hati-hati Tan jangan-jangan bukan sekedar masuk angin,lagi…jangan-jangan…ada isinya! Hehehe" ujar Maria.
" Hush! Ojo ngenyek,toh! Isi opo? Air? Wes! Aku balik,Yo?" ujar Tania sambil menggelengkan kepalanya dan berlalu.
Kemudian dia masuk kedalam kamarnya yang hanya berukuran 3x3 meter itu. Cukup lumayanlah, namun semakin sempit karena ada kamar mandi didalamnya. Sedikit kesulitan ketika dia membuka kunci kamarnya, karena kedua tangannya penuh. Sebelah kanan menenteng makanan sebelah kiri menenteng gelas hangat teh madu buatannya.
Ketika terbuka dia mengucapkan, " Alhamdulillah, terbuka juga! Keras banget sih?" keluhnya.
Dengan sedikit mendorong dengan tubuhnya dia membuka pintu kamarnya.
" Ah, Vivi pasti masih dikamar mandi! Kasihan juga dia!" ujarnya lirih.
Melihat temannya yang kepayahan sejak tadi memuntahkan sesuatu, membuat hatinya sedih.Selain karena perut kosong, dia menduga Vivi pasti sangat stress saat ini. Itu menambah membuatnya makin sering muntah. Bukankah penyakit psikis bisa dan memperparah penyakit perut dan muntah,bukan?
Dia menaruh makanan di meja dan minumannya, dan kemudian berteriak dikamar yang tak seberapa luas itu.
" Vi? Minum teh hangat madunya dulu,yuk? Sama habis itu makan yah? Biar perut kamu tidak kosong!"ujarnya.
Tak ada sahutan.
" Ah, itu anak! Pasti tidak dengar, karena kamar mandinya dikunci, apa?" ujar Tania kembali.
Dia mulai beranjak dan mengetuk kamar mandi
Tok!
Tok!
" Vi! Yuk, diminum dulu teh dan dimakan makanannya,yuk?" ujarnya di pintu kamar mandi.
Kembali tidak ada sahutan.
Dicobanya dibuka handle pintu kamar mandi, Tidak dikunci. Didorongnya pintu kamar mandi agar terbuka dengan lebar.
Matanya melotot dan menganga.
" VIVI!"
******