
Alex menatap Vivianne dengan sorot mata sedikit kesal. Tidak mungkin dia membawa Vivianne ke sana. Ini bukanlah sesuatu hal mudah terlebih Vivianne gadis polos, sedangkan disana Tommy dan anak buahnya pasti sedang merencanakan sesuatu. Alex yakin itu, Alex juga sudah meminta beberapa temannya untuk melindungi mereka jika mereka terpaksa terang-terangan berhadapan dengan Tommy dan gengnya.
Intinya adalah dari sisi manapun Vivianne tak layak dan pasti akan membahayakan dirinya sendiri dan Alex tentunya. Karena Alex harus melindungi dirinya juga.
"Aish! Jadi nambah pekerjaan saja! Alex mulai menggaruk-kepalanya yang tak gatal! Dia pusing saat ini"
Seandainya Bryan tidak juga kecelakaan maka dia mungkin bisa menitipkan Vivianne kepada Bryan. Tapi sayangnya sahabatnya itu juga sedang mengalami kemalangan. Sehingga tak mungkin dimintai bantuan.
" Kak, ayo. Mana helmnya?" tiba tiba Vivianne menarik tangannya sambil menadahkan tangan meminta helm diberikan kepadanya.
" Gue nggak punya! Gue cuma punya satu!"'ujar Alex malas. Dia memang jarang sekali membawa extra helm, alasannya cuma satu dia tak mau ditumpangi gadis-gadis di kampus yang terkadang kecentilan dan membuatnya risih.
" Oh, Ya sudah, kalau gitu aku pergi tanpa helm," Vivianne mulai bicara dengan santai.
" Nanti dulu! Kok Lo yakin bahwa gue akan bawa elo kesana sih? Lo tau kan, ini berbahaya? Dan maaf, gadis seperti,Lo, ga pantas berada disana! Terlalu berbahaya!" ujar Alex kembali menolak Vivianne.
" Maksudmu apa, gadis sepertiku?" ujar Vivianne mulai emosi kali ini.
" Hmm, gimana yah gue bilangnya? Yah, pokoknya seperti Lo,deh!" ujar Alex yang mulai kebingungan mencari kata yang pas.
" Iya, seperti aku yang bagaimana, maksudnya?" Vivianne kembali menodong pertanyaan kepadanya.
" Polos, dan lugu, mungkin? Lo ga tahu orang yang Lo hadapin nanti disana! Dan gue ga mau makin susah karena harus menjaga Lo juga nantinya! Sedangkan gue harus menyelamatkan Andrew! Paham maksud gue? Sudah, yah, gue mesti cabut! Gue nggak ada waktu banyak buat berdebat sama Lo!"Alex mulai melanjutkan jalannya dengan cepat ke parkiran motornya.
" Tunggu! Siapa coba yang minta kamu jagain aku? Aku bisa menjaga diri aku sendiri! Pokoknya aku ikut! Aku ga mau tahu! No reason! No debat!" ujar Vivianne tak kalah sengit.
" Hah?Kenapa sih Lo ngotot banget mau ikut? Kemarin-kemarin kan juga toh, Lo ga peduli kan sama Andrew! Bahkan tadi gue perhatiin Lo lebih perhatian sama Bryan! Apa alasan Lo? Dan jangan bilang cuma karena Lo mau minta maaf! Gue nggak akan percaya!" Alex menatap Vivianne tajam sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
" Lo salah, gue perhatian sama Kak Bryan, karena gara-gara gue dia celaka!" ujar Vivianne menunduk.
" Gara-gara gimana? Orang dia nabrak tiang listrik sendirian kok! Memangnya dia nabrak karena disuruh Lo, gitu?" ujar Alex makin ngawur.
Vivianne yang mendengarnya hanya menggelengkan kepala, " Sumpah demi apa, Kamu berpikiran begitu? Sekarang aku atau kamu yang lugu sih?"
" Makanya ngomong yang jelas, biar gue paham!" ujar Alex juga kesal dibuatnya.
" Karena aku yang minta tolong kak Bryan untuk menghubungi kak Andrew! Aku mau bicara sama kak Andrew tapi kak Andrew seperti menghindari aku! Aku nggak tahu mau minta tolong sama siapa lagi!" ujarnya dengan sendu.
" Dan kemarin pasti dia kecelakaan karena habis menemui kak Andrew, kan?" ujar Vivianne.
" Oh, Jadi elo biang keroknya? Yang buat mereka berantem hebat hingga adu jotos? Heh?" Alex akhirnya tahu akar permasalahan Bryan dan Andrew kali ini dan ini seperti Dejavu kembali beberapa tahun lalu ketika mereka di SMA juga ribut mengenai cewek! Dan Alex yang selalu melerainya. Dan dia keceplosan berbicara mengenai mereka yang berantem.
Vivianne menutup mulutnya kaget, " Jadi mereka sampai segitunya, Kak? A-aku nggak tau harus ngomong apa. Aku nggak ada maksud membuat mereka saling bertengkar! Beneran, Kak! Aku hanya minta tolong agar kak Bryan menemui Kak Andrew agar kak Andrew mau menemui ku! Itu saja! Terus maksudnya artinya biang kerok apa?"
Alex melonggo, dia baru ingat berhadapan dengan Vivianne yang tidak tahu banyak mengenai bahasa gaul, terlebih itu bahasa mereka di Jakarta! Sedangkan Vivianne asli orang Jawa.
" Biang keladi! Iya mereka berantem dan ini kedua kalinya gue lihat mereka berantem sehebat ini setelah dua atau tiga tahun lalu! Dan kalau bukan karena gue ada disana, Andrew dan Bryan mungkin, bisa saling melukai! Dan itu semua karena, Lo! Sudahlah! Gue males berhubungan dengan cewek seperti diri Lo! Jauh sana dari gue! Selama gue masih sadar, nih!"ujar Alex kini mulai menaiki motornya dan memasang helmnya. Namun ketika dia memasukkan kunci motornya, buru-buru dicabut oleh Vivianne.
" Hey! Maksud Lo apa? Kembalikan nggak, kunci gue!"'Alex turun dan menghampiri Vivianne.
Vivianne menggelengkan kepalanya, " Nggak akan! Aku tahu aku salah, seharusnya tidak melibatkan kak Bryan dalam permasalahan aku sama Andrew! Tapi aku tidak tahu akan sampai sejauh ini! Oleh karenanya, tolong kasih aku kesempatan untuk memperbaikinya! Aku ingin menolong kak Andrew! Mungkin dengan begini, dia bisa memaafkan ku. Tolong bantu aku! Aku janji akan menjaga diriku sendiri! Aku tidak akan merepotkan kakak, kok! Please? Cuma kakak satu-satunya harapanku!" Vivianne mulai berkaca-kaca dan menatap sendu dan jangan lupakan tatapan puppy eyes nya itu.
" Aih! Nyusahin aja sih, nih, cewek. Ok, gue nyerah! Lo boleh ikut! Tapi Lo nggak boleh jauh jauh dari gue, paham? Bahaya!" ujar Alex akhirnya menyerah.
" Paham! Kak!" Vivianne kegirangan dan kemudian menyerahkan kuncinya kepada Alex.
" Ya sudah, Lo naik dibelakang gue! Ga masalah kan, kalau Lo nggak pakai helm? Dan pegangan yang kuat gue nggak mau Lo nanti terpelanting! Karena gue akan ngebut! Biar cepet sampai sana! Gue kuatir kenapa-kenapa sama Andrew!" Alex akhirnya menyerah, dan daripada dia berdebat yang tidak akan selesai-selesai,yang malah membuat Alex akan lama sampai ditempat tujuan.
Akhirnya mereka menaiki motor Alex yang pastinya dudukannya di belakang kecil itu. Dan benar saja kata Alex, dia memacu motornya bagai kesetanan membelah kota jogja yang mulai renggang karena malam memang semakin larut.
Vivianne terpaksa memeluk jaket Alex karena dia tak mau dirinya terlempar karena diterpa angin yang kuat, mengingat cara mengendarai Alex.
Di Perjalanan menuju tempat yang sama sekali Vivianne tidak tahu itu, tiba-tiba ponsel Alex berdering dan untunglah, dia telah memasang headset di kupingnya sehingga tidak mempengaruhi lajunya motor mereka.
" Ya, Ton? Kenapa? Tenang, gue sebentar lagi sampai!" ujar Alex sambil berbicara.
("...")
" Apa lo bilang? Motor Andrew disabotase? Kenapa lo bisa nggak tau sih? Kan gue suruh lo jagain Andrew!" ujar Alex dengan amarah.
("...")
" Sial! Jadi Tommy main curang? Lo lihat aja Tom, Lo bakal mati ditangan gue!" tiba-tiba Alex mengepalkan tangannya sambil memukul stir motornya.
Vivianne yang mendengarnya sangat kuatir sekarang. "Duh, kok kamu bisa jadi tidak pintar sih, Drew!" Vivianne membatin.
Tak beberapa lama mereka sampai di tempat balapan liar itu dimulai tersebut tapi sayang, keadaan sepi!
Alex mengeram! Dan mencoba kembali menghubungi Andrew, sejak tadi sejak dirumah sakit dia mencoba menghubunginya tapi Andrew tak mengangkatnya. Saat dia akan mulai melajukan kendaraannya seorang pria melambaikan tangannya ke Alex.
" Hi, Lex! Kenapa Lo baru datang sih? Lo telat! Andrew sudah mulai start tadi!" ujar seorang yang Vivianne tak ketahui karena dia baru melihatnya.
" Iya gue ada urusan sedikit tadi! Terus Lo tahu rute Alex dan Tommy kali ini?" Anto mengangguk.
Sambil mengeluarkan sebilah kertas, " Ini rutenya, dia paling baru sampai disini! Lo bisa buruan kalau mau nyusul dia dan Lex, hati hati! Gue akan minta yang lainnya tetep jagain Andrew! Meski gue nggak yakin,karena Tommy mengerahkan banyak anak buahnya! Dan apa rencana Tommy selanjutnya buat Andrew! Dan Lex ini?"
" Ok, kalau gitu! Gue jalan duluan! Oh, ini pacarnya Andrew!" jawab Alex asal. Tapi sukses membuat Vivianne merona malu. Dia tak menyangka Alex malah mengakuinya sebagai pacar Andrew entah mengapa hatinya jadi menghangat.
" Hah? Pacar Andrew? Yang Bener,Lo! Kok bisa ada sama Lo?" ujar Anti sambil menyindir.
" Udah! Gue jalan duluan! Mereka lagi marahan! Makanya dia mau ikut gue! Bye, To! Thanks yah? Dan Lo, pegangan yang kuat! Kita akan beneran ngebut sekarang!" ujar Alex tanpa aba-aba kembali.
" Hah? Ngebut? Bukankah dari tadi juga sudah ngebut, bukan? Lantas sekarang, maksudnya apa?" Vivianne kebingungan atas ucapan Alex.
Setelah membatin Vivianne baru paham maksud perkataan Alex. Dan kali ini ketegangannya berlipat-lipat kali!
Setelah kejar-kejaran di jalanan Alex melihat punggung Andrew dan dia melihat Andrew coba diapit oleh beberapa orang agar terdorong ke samping di pagar pembatas. Tapi Andrew yang lincah menghindarinya dan untuk ada orang Anto yang menolongnya juga.
Alex kembali menghubungi Andrew, beruntun kali ini tersambung.
" DREW!! MENEPI! STOP! TOMMY MAU BIKIN LO CELAKA!!!"teriak Alex dengan kencang.
(" WHAT?GUE NGGAK DENGER!" )
"Gue bilang, menepi! Stop!!! Motor Lo di sabotase!! Gue dibelakang Lo!" Alex kembali berbicara.
(" OH,OK!!")
Alex menghembuskan nafas lega, Syukurlah dia mendengarkan ku. Tapi Alex bingung "Kenapa Andrew tidak berhenti?"
Dengan gelisah dihubungi kembali Andrew. Belum Alex bertanya terdengar teriakan Andrew, (" GUE GA BISA BERHENTI! REM GUE BLONG!" )
Ketika Alex akan menjawab dari arah samping sebuah sepeda motor menabrakkan dirinya menghantam Andrew, Andrew sempat oleng seketika dana Andrew menabrak pembatas jalan dan kemudian terseret beberapa meter didepan.
" ANDREW!" Teriak Alex dan Vivianne berbarengan.
Entah bagaimana caranya ketika Andrew terseret terdengar suara sirine polisi! Alex kelabakan, dia bingung harus bagaimana. Karena tumben, setelah sekian lama mereka balapan, baru kali ini ada polisi di area ini! Alex jadi teringat, yang Anto bilang bahwa Tommy merencanakan sesuatu, "Apakah ini maksudnya?"
Ketika sampai ditempat Andrew, Alex langsung turun dan melihat kondisi temannya itu.
Dan Vivienne pun terisak menangis namun dia sempat menghubungi ambulance.
Vivianne pun menghamburkan diri kemudian ke arah Andrew, " Kak! Bertahan! Ambulance akan segera datang!"
Sambil menahan tangis dia menopang tubuh Andrew, dia tak menyangka Kaki Andrew terluka parah karena motor sempat menghantamnya dan dia tergencet motornya sendiri.
" Vi-vivianne?" ujar terpatah patah Andrew.
" Iya, Kak! Ini aku! Please, Kak! Bertahan! Tolong bertahan! Jangan seperti ini! Aku tidak mau Kaka seperti ini!" Vivianne terisak, dan air mata Vivianne sukses keluar deras.
" Ka-kamu menangis? Bu-buat aku?" Andrew menatapnya heran.
" Tentu! Karena kakak..berarti buat aku!"
" Aku ngantuk..aku nggak denger kamu ngomong apa?"
" Kak! Sadar! Kak! Kakak harus tetap sadar, please!"
Andrew mulai melemah, kemudian mulai akan menutup matanya. Vivianne mulai panik! Ditepuknya kembali pipi Andrew agar tak kehilangan kesadarannya. Andrew pun kembali membuka mata walau tampak berat. Dan menatap sayu Vivianne.
" Please don't! Aku bilang, aku sayang sama kakak!"
Andrew tersenyum dan kemudian menutup mata tak sadarkan diri.
" KAK ANDREW!!" teriak keras Vivianne.
Alex yang melihatnya ikutan panik dan merasa kasihan, tapi dia harus berpikiran jernih saat ini. Dari kejauhan dia melihat ambulance dan beberapa mobil polisi menghampiri. Dia mengeluarkan ponselnya menghubungi seseorang. Seseorang yang dia yakin bisa menolong Andrew.
*****