Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 60 Berangkat Ke Acara Wisuda



Suara ponsel membangunkan Vivianne dari tidurnya. Dia merasa sangat lelah setelah menangis semalaman, akhirnya tertidur di atas meja riasnya. Vivianne mencoba membuka matanya yang terasa sangat berat. Namun, kenangan buruk beberapa tahun yang lalu mulai datang kembali melalui sebuah mimpi. Entah mengapa, mimpi itu makin sering menghantui Vivianne beberapa bulan terakhir. Dia tidak tahu apa artinya dan mengapa semua ini terjadi. Mungkinkah itu sebuah peringatan bahwa dia akan bertemu kembali dengan Andrew seperti yang terjadi tadi malam, atau ada hal lain yang belum dia ketahui? Atau mungkin dia masih menyimpan perasaan cinta untuk Andrew, tapi Vivianne tidak tahu pasti. Sangat sulit untuk melupakan seseorang yang pernah dicintai dan kemudian mengkhianatinya. Terlebih lagi karena di antara mereka ada Avan, buah hati mereka. Mungkin itulah alasan terbesar kenapa dia tidak bisa benar-benar melupakan kenangan indah tentang Andrew.


Dengan perlahan, Vivianne terbangun dari lamunannya dan menuju tasnya untuk mencari ponselnya. Ternyata, panggilan telepon dari Damian membuat Vivianne tersenyum. Damian adalah orang yang selalu mencintai dan merhatiinya dengan tulus. Lalu mengapa, dia seakan mendapati dirinya terpuruk dalam kenangan masa lalu yang tidak seharusnya dikenang?


"Assalamualaikum, Mas. Malam," sapanya.


"Waalaikumsalam, sayang. Malam. Sedang apa? Apa kamu melupakan sesuatu, sayang?" Damian menjawab dari seberang.


"Melupakan apa, ya?" Vivianne mencoba mengingatnya tapi tetap gagal.


"Iya, apakah kamu lupa bahwa kamu akan menghubungiku, jam berapa kamu aku jemput besok pagi? Kamu akan wisuda kan? Masih ingat?" Damian bertanya.


"Ah, itu... maaf. Aku bukannya lupa, hanya saja tadi kami baru saja kembali dari berbelanja di supermarket," seru Vivianne.


"Baiklah, apa kamu bersenang-senang hari ini? Apa yang kamu beli?" Damian bertanya lagi.


"Lumayan, mungkin hanya Avan yang menikmati tempat permainannya. Aku tidak membeli apa-apa, Mas," ujar Vivianne.


"Apa? Kamu tidak membeli apapun? Katanya tadi ke supermarket, untuk apa kalian ke sana jika tidak membeli apa pun?" Damian merespon dengan keheranan.


"Hm... Avan ingin cepat-cepat kembali, Mas. Bagaimana kalau nanti saja jika Mas tidak sibuk, kita ke supermarket bareng? Atau besok saja kamu berbelanja ke sana lagi," ujar Vivianne sedikit keceplosan.


"Baiklah, kalau begitu kamu kembali tidur, ya? Agar segar untuk acara wisuda besok pagi. Mas juga harus istirahat sebentar. Mas hanya kangen mendengar suaramu saja kok! Have a nice dream, sayang," Damian menutup panggilan telepon tersebut.


"Loh bukannya Mas menanyakan kapan aku harus dijemput besok? Hehehe..." ujar Vivianne sambil terkekeh.


"Ini sudah larut, kamu tidur lagi, ya? Saya harus istirahat sebentar supaya bisa menemanimu diwisuda besok. Love you! Assalamualaikum," Damian berbicara lagi sambil memberikan kiss jauh.


"Love you too, Mas. Waalaikumsalam," tutup Vivianne.


Setelah menerima telepon dari Damian, Vivianne merasakan kehangatan dan kasih sayang yang diberikan oleh Damian. Dia sangat bersyukur masih memiliki orang seperti Damian di hidupnya. Seseorang yang selalu dan berada di sisinya ketika dia sedang sedih dan galau, dan siap menghiburnya. Vivianne memutuskan untuk memusatkan perhatian pada apa yang dia miliki saat ini, dan bukan pada apa yang sudah dia tinggalkan atau yang tidak mungkin dimiliki.


Masih tertawa-tawa setelah telepon dengan Damian, Vivianne mendapat kunjungan Bunda yang memerhatikan keadaan seluruh isi kamar, termasuk alat make-up Vivianne yang berserakan di sekitar meja.


"Ada di dekat ruang TV, Bunda. Tapi ini tidak apa-apa kok, Bunda Anne bisa mengurusnya sendiri," tolak halus Vivianne.


"Sudahlah, kamu disini saja, biar Bunda yang bantu." akhirnya, Bunda pergi ke ruangan TV untuk mengambil kotak obat-obatan. Setelah menemukannya, Bunda berbalik dan pergi ke kamar Vivianne untuk memberikan perawatan pada lukanya.


"Sama seperti luka ini, Nak. Jika tidak diobati segera, maka akan menimbulkan infeksi yang nantinya akan lebih berbahaya. Begitu juga dengan hatimu. Jika kamu tidak mencoba untuk berdamai dengan hatimu dan menerima segalanya, maka itu malah akan melukai hatimu lebih dalam. Terima dan obati lukamu. Bunda pikir Damian bisa membantu mengobatinya. Bunda melihat kamu selalu tersenyum jika bersamanya. Bunda hanya ingin mengingatkan kamu!" ujar Bunda sambil menutup luka cantik Vivianne.


Setelah itu, Bunda menyarankan Vivianne untuk tidak memikirkan hal lain, termasuk kamar yang berantakan. Bunda ingin membantu membuka jalan untuk Vivianne menuju wisuda besok pagi. Vivianne akhirnya memutuskan untuk tidur lagi dan memimpikan hari wisuda besok.


Matahari belum tinggi saat Vivianne bangun dari tidurnya di pagi hari. Hari ini adalah hari wisuda, hari yang ditunggunya untuk menjadi sarjana impian. Perjalanan panjang yang melelahkan akhirnya dijalani Vivianne dengan sukses. Tidak mudah untuk sampai ke titik ini, tapi Vivianne tetap positif dan penuh harapan. Dia bersyukur atas semua yang dimilikinya dan melangkah maju dengan berani menghadapi masa depan.


Vivianne terlihat sangat cantik meski mengenakan kebaya dan kain lurik yang tidak terlalu heboh, lebih kepada sederhana. Kebayanya berwarna biru langit dan sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Dia lebih memilih kebaya yang tidak terlalu formal dengan lengan pendek, demikian juga kainnya yang berbentuk rok dengan hiasan di depan yang hanya sebatas betis. Kebayanya lebih kepada kebaya nona Belanda atau Kebaya Encim orang bilang. Rambutnya pun hanya diikat cepol biasa dengan sedikit hiasan di atasnya. Vivianne selalu tampil sempurna meski memakai pakaian yang sederhana.


Sementara Bunda tampil layaknya perempuan Jawa pada umumnya, mengenakan kebaya lengan panjang, kain, serta selendang yang disampirkan di bahunya. Semua tampak sempurna.


Maya dan Avan tidak ikut kali ini, karena Vivianne khawatir Avan akan kelelahan dan bosan jika berada di sana terlalu lama.


Setelah semuanya siap, tak berapa lama Damian menjemputnya. Damian tidak bisa berkata-kata melihat penampilan Vivianne yang luar biasa itu.


"Wow! You look so beautiful, sayang! Kok aku jadi tidak rela kamu dilihat banyak orang, ya?" candanya ketika menjemput Vivianne.


"Ish! Apa sih, Mas juga terlihat tampan dan gagah, kok!" dengan malu-malu memuji Damian yang tampil tidak kalah luar biasa. Damian mengenakan baju berlengan panjang dan celana bahan yang senada. Vivianne yang jarang sekali melihat Damian mengenakan batik terpukau melihatnya. Rambutnya ditata rapi sedikit dan luar biasa fresh! Meskipun memakai batik tidak pantas membuatnya bertambah terlihat dewasa, itu anehnya.


"Terima kasih, tapi aku memang selalu tampak mempesona, bukan? Hehehe…" Damian bercanda.


"Idih! GeEr! Kita berangkat yuk? Nanti kita terlambat, loh…" ajak Vivianne.


"Ayok, Anne, Bunda!" Damian menekuk kedua lengannya sedikit.


Vivianne tersenyum kecil, demikian juga dengan Bunda yang terkekeh melihatnya. Tapi tak urung, kedua wanita berbeda usia itu pun mengapit lengan Damian.


Dan mereka pun pergi ke acara perhelatan penting dalam hidup Vivianne itu.