
Vivianne terhuyung mundur beberapa langkah ke belakang, matanya melotot melihat seseorang di hadapannya bagaikan melihat hantu.
Ditariknya dengan kasar tangannya yang berada dalam genggaman Andrew. Namun Andrew tidak melepaskannya, dengan gusar Vivianne berusaha lebih keras hingga akhirnya Andrew dengan menarik sedikit senyuman melepaskannya secara tiba-tiba.
Mendapatkan perlakuan yang tidak terduga membuat Vivianne kehilangan keseimbangannya dia hampir terjatuh namun dengan sigap Andrew hendak menolongnya, tapi dia kalah cepat, papanya lebih dulu memeluk dari belakang tubuh Vivianne.
" Kamu tidak apa-apa?" ujar Damian lembut dia berusaha menekan suaranya, agar Vivianne tidak menyadari dia tidak nyaman dengan keadaan yang dilihatnya.
Vivianne menoleh kebelakang seperti orang linglung, namun melihat suara lembut dan senyum Damian yang menenangkannya dia mencoba menguasai dirinya. Yah, ada Damian disisinya. Dia akan baik-baik saja! Dia harus ingat posisinya, dia adalah tunangan Damian saat ini.
Dengan sedikit menekan rasa gugupnya, dia mencoba membalasnya dengan senyum yang coba dipaksakan ya, " Tidak apa-apa, Mas. Mungkin sedikit pusing saja," seru Vivianne sedikit berbohong.
" Oh, Ok. Mau aku bantu carikan obat, minum, atau…" sahut Damian dengan raut wajah kuatir.
Vivianne menggelengkan kepalanya. " Tidak perlu,Mas. Aku masih kuat,kok. Mungkin karena seharian ini aku lupa makan siang,Mas. Aku hanya sarapan roti dan segelas susu tadi pagi."
" Kenapa kamu selalu telat makan, sih, sayang. How many times have I told you! Don't forget about your lunch!" Damian memapah Vivianne ke sebuah kursi yang tidak jauh dari mereka.
Sementara Vivianne tersenyum manis mendapatkan perhatian Damian, Damian selalu memperlakukannya lembut dan penuh perhatian bagaikan seorang ratu.
Reflek Vivianne membelai rahang Damian, " Nggak papa,kok. Beneran, Mas. Cuma sedikit pusing saja, minum air dan sedikit duduk nanti juga menghilang. Jangan kuatir yah?"
Andrew yang melihat semua interaksi keduanya di hadapannya merasa jengah! Matanya memerah, menahan amarah. " Bisa bisanya mereka bermesraan di hadapanku!" batinnya.
Namun tidak urung dia yang menarik kursi dihadapan Vivianne dengan kasar dan duduk melirik mereka dengan diam-diam.
" Kalau begitu, kita minta mereka mengeluarkan makanannya saja kalau begitu,ya? Biar kamu bisa makan puding atau apalah, agar kamu memiliki tenaga,Ok?" dengan membelai lembut rambut kekasihnya itu.
Vivianne hanya mengangguk dengan gugup, karena dia bisa lihat Andrew yang di depannya memperhatikan dirinya tanpa berkedip.
" Drew! Tolong kamu panggilkan pelayan untuk menghidangkan makanannya,segera!" perintah Damian kepada Andrew.
" Kenapa harus aku, sih,Pah?" ujar Andrew kesal sambil berdiri hingga terdengar deritan kursi tertarik kebelakang.
" Ya, siapa lagi dong kalau bukan kamu? Tidak mungkin Papah meninggalkan Anne sendirian yang sedang sakit begini,kan? Sudah sana, buruan!" ketus Damian yang mulai emosi melihat tingkah laku anaknya yang dirasa mulai tidak sopan itu.
" Mas…jangan marah-marah,yah?" Vivianne tau Damian mulai emosi membelai tangan tunangannya itu.
" Kamu lihat kan, sayang…Tingkahnya! Seperti anak kecil saja! Bagaimana aku tidak marah,coba?" ketus Damian tanpa menyembunyikan kekecewaannya.
" Iya, tapi tidak perlu juga kan, teriak seperti tadi?" ujar Vivianne menenangkan.
" Ok, baiklah. I'm sorry, honey!" ujar Damian membalas membelai tangan kiri Vivianne yang terbuka itu.
Vivianne kembali tersenyum canggung karena dia bisa melihat Andrew mulai mendelik ke arahnya dengan amarah yang memuncak. Vivianne menunduk mendapatkan perlakuan seperti itu,dia binggung harus bersikap seperti apa. Tatapan Andrew seakan bisa membakarnya hidup-hidup saat ini.
" Andrew….!" teriak Damian hendak menghampiri anaknya itu.
Namun Vivianne buru-buru menahan lengan besar tunangannya dan menatapnya sambil menggelengkan kepalanya. Damian menatap tunangannya, dan menghembuskan nafas kasarnya.
" Ok,Fine. Ini karena kamu! Kalau tidak…" ujar Damian sambil menarik kursi di samping Vivianne.
" Terima kasih,Mas. Sudah mau menahan diri untuk aku," ucap Vivianne sangat lembut.
" Hmm…"
Vivianne sedikit tenang, setelah melihat Andrew meninggalkan ruangan tersebut untuk mencari seorang pelayan di depan.
Vivianne harus tenang, dia butuh menyegarkan dirinya sejenak. Agar dia bisa menghadapi Andrew, yang tidak pernah diduga merupakan calon anak tirinya itu.
" Mas, aku izin ke toilet dulu, sebentar yah?" Ujar Vivianne mencari cara untuk sekedar menenangkan diri, dia butuh itu saat ini. Dia tidak mau terlihat lemah dihadapan Andrew yang sepertinya hendak menelannya hidup-hidup.
" Mau mas temani?" tawar Damian ikut berdiri.
Vivianne tersenyum, " Hanya ke toilet,Mas….Aku tidak pergi kemana-mana,kok! Sebentar saja,yah?"
" Hmm…Maksud Mas, bukan begitu sih…Kamu kan kurang sehat, jadi Mas kuatir kalau kamu kenapa-kenapa" kini gantian Damian yang merasa tidak enak hati. Seakan-akan dia menjelma menjadi pria posesif entah kenapa. Dia tidak ingin mereka bertemu nanti.
" Iya paham, Mas. Tapi Anne sudah enakan kok! Ane cuma ingin buang air kecil, jangan kuatir yah?" Anne kembali membelai pipi tunangannya, dia tahu Damian akan tenang jika diperlakukan seperti itu.
." Baiklah, Jangan lama-lama yah?" ucap Damian seakan tidak rela.
" Iya, sebentar saja,kok!" Vivianne bangkit dari kursinya dan perlahan berjalan dengan anggun keluar mencari toilet.
Setelah bertanya dengan seorang pelayan pria yang ditemuinya di perjalanan, Vivianne bergerak ke arah toilet yang ditunjukkan dengan sebelumnya mengucapkan terima kasih.
Pelayan tersebut sempat tersenyum malu-malu membalas ucapan terima kasih Vivianne.
Dan semua pemandangan tersebut diperhatikan oleh Andrew yang menghisap sebatang rokok di luar Restoran tersebut.
Dengan tatapan kebencian dan kecemburuannya. " Lihatlah, bahkan tidak hanya papaku yang dia rayu! Mengapa dia menjadi sangat murahan, dengan merayu setiap pria yang menghampirinya? Cih! Kamu berubah,Vi! Sangat berubah!" Andrew menatapnya dengan rasa tidak suka.
Kemudian dia membuang rokoknya di tempat sampah yang ada di dekatnya dengan mematikannya. Andrew tidak menyukai merokok sebenarnya namun malam ini dia ingin melakukannya. Semua dilakukannya untuk menghilangkan kegundahan hatinya. Mungkin jika sudah di apartemennya, dapat dipastikan dia akan menghabiskan sebotol bahkan lebih minuman keras, seperti yang dilakukannya beberapa hari bahkan seminggu belakangan ini.
Andrew perlahan melangkahkan kakinya mengikuti Vivianne dari belakang. Tentu saja tanpa diketahui oleh Vivianne. Dia mengikutinya dari jarak yang cukup jauh, agar tidak dicurigai oleh Vivianne maupun pengunjung lainnya. Dia hanya tidak ingin membuat keributan disini. Yang nantinya berujung papanya mengetahuinya. Bagaimanapun juga dia tidak mau mengecewakan papanya. Tapi dia butuh penjelasan dari Vivianne. Harus! Bagaimanapun caranya! Dan ada hal yang ingin diketahuinya untuk dirinya sendiri.
" Apakah kamu masih mencintaiku,Vi? Apakah rasa itu masih ada? Atau sudah menghilang ditelan rasa sakit hati yang pernah aku torehkan?"
*****