
" So, siapa yang keluar kota? Dan surprise apa yang dimaksud?" Bryan mengulangi pertanyaannya karena melihat tingkah gugup Tania.
" Ah, itu…" Tani berusaha berpikir keras tapi tak menemukan satu alasan pun yang dapat diungkapkan.
" Jangan coba membodohi aku! Kenapa kamu gugup?" ketus Bryan.
" Siapa yang mau membodohi kamu? Memangnya kamu tidak cukup pintar, apa sehingga mudah dikelabui?" Tania mencoba santai menanggapinya.
" What? Kamu meledek aku? Hah?" Bryan menahan emosinya karena ulah Tania.
" Idih, siapa yang meledek kamu! Males banget! Buang-buang energi,tau!"ucap Tania tidak kalah kesalnya.
" Lantas? Wow itu namanya bukan meledek? Menghina? Hello, sama saja bukan?" Bryan makin emosi. Entah mengapa dia selalu terlihat emosi setiap kali melihat Tania. Padahal mereka baru pertama kali bertemu pagi ini.
" Aku…bilang, tidak ya tidak! Heran, orang tidak meledek kok malah dituduh meledek,sih?" Tania mulai mengepalkan jarinya saking kesalnya.
" KAMU…!" Bryan sudah kehilangan kesabarannya menghadapi gadis mungil namun sangat pemberani itu.
" Maaf, ini Rumah Sakit! Jika kalian tetap ingin bertengkar, silahkan keluar! Dan mohon jangan menghalangi jalan kami. Kamu akan membawa pasien ke kamar untuk beristirahat." suar Dokter berbicara menengahi mereka.
" Tuh! Dengerin! Ayo,Dok! Kita tinggalkan saja pria emosian ini!" Tania berujar sambil menjulurkan lidahnya dan mengikuti langkah kaki sang Dokter tersebut.
" Cih! Dia yang memulai kenapa jadi aku yang salah,sih? Awas saja, gadis menyebalkan!" dengan sorot amarah Bryan menatap kearah gadis yang sudah berjalan beriringan dengan Dokter di depannya itu.
Dengan perasaan kesal Bryan akhirnya mengikuti langkah mereka di belakang. Segala emosi, kekesalan dan amarah ditekannya, karena dia sadar saat ini Vivianne butuh bantuannya.
Akhirnya mereka tiba di ruangan yang sudah dipesan Bryan. Bryan memesan kamar VIP untuk Vivianne. Demi Vivianne dia rela merogoh koceknya sendiri agar Vivianne mendapatkan perawatan yang terbaik. Dia ingin Vivianne cepat sembuh. Dibalik itu semua, Bryan merasa sangat bersalah kepada Vivianne. Dia tidak bisa melindungi Vivianne walau hanya sebagai seorang teman. Dia sadar, seharusnya dia dapat menghentikan Andrew dan dapat menghentikan taruhan mereka. Karena hal ini sudah bukan lelucon lagi! Seorang gadis yang polos terluka karena mereka. Penyesalan ini yang membuat hati Bryan semakin sakit. Terlebih melihat Vivianne yang merupakan gadis baik hati, lembut, penyayang, harus tumbang karena sebuah taruhan dan pengkhianatan.
Bryan menatap sedih kearah Vivianne yang terbaring lemah. Kepalanya harus diperban karena ada luka di belakang kepalanya ketika terjatuh menyentuh tanah. Mungkin dia mengenai batu, sehingga kepalanya harus terluka dan mengeluarkan darah.
Bryan memasuki ruangan itu, dan melihat Tania yang memegang erat jemari Vivianne dan sesekali mengusap dan mengecupnya.
" Vi, bangun Vi! Kamu harus kuat! Kamu pasti kuat! Kamu pasti bisa melalui ini semua." Tania terus bergumam sambil sesekali menghapus air matanya dan air ingusnya yang mulai keluar.
" Sruuk…!" Tania menghisap air liurnya.
Bryan yang jijik melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya, " Kamu jadi cewek, jorok banget,sih! Jangan bawa virus dong,kesini! Kasihan itu si Vivi Nya!"
Tania menatap Bryan masih dengan sorot mata penuh kesedihan, " Biarin! Ini ingus-ingus juga punya aku sendiri,Kok! Kan bukan punya kamu! Lagian aku tidak membuangnya ditangan atau di ruangan ini, kan? Jadi tidak masalah,dong! Kenapa? Kamu keberatan? Ngiri? Ngiri bilang Bos!"
" Idih! Benar-benar,yah! Susah banget bicara sama kamu! Heran, Vivianne punya teman model nya seperti kamu ini." Bryan yang kesal hanya membuang wajahnya dan menuju sofa yang ada di kamar rawat inap itu untuk sekedar mendudukkan dirinya.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara keduanya. Mereka terdiam dan saling menahan diri. Tania yang kelelahan akhirnya tanpa sadar tertidur sambil memegang jemari Vivianne dengan menaruh kepalanya di sisi tempat tidur Vivianne.
Bryan yang hanya pura-pura terpejam melirik, " Akhirnya dia bisa diam juga! Syukurlah! Pusing kepalaku mendengar celotehannya. Kok bisa ada perempuan urakan seperti dia,sih!'
Bryan akhirnya kembali memejamkan dirinya, dia bermaksud mengistirahatkan badannya meski hanya sejenak.
Tak berapa lama batu sekitar 10-15 menit dia mengistirahatkan dirinya, ponselnya berbunyi. Karena khawatir mengganggu istirahat kedua orang gadis di hadapannya Bryan keluar dari kamar rawat inap untuk menerima panggilan tersebut.
Bryan luma memasang ponselnya dalam mode senyap karena fokusnya hanya ke Vivianne tadi
" Assalamualaikum,Hallo!" Bryan menerima panggilan tanpa sempat melihat siapa yang menghubunginya.
Tapi tak terdengar suara apapun disana. Bryan menjauhkan ponselnya dari telinganya, dan mengerutkan keningnya " Andrew? Mau apalagi,Dia?" lirihnya sangat pelan.
Bryan menarik nafas dan menghembuskannya. " Jika kamu tidak ingin berbicara, maaf aku harus menutup teleponnya! Vivianne membutuhkan aku!" ketus Bryan dia kesal dengan tingkah Andrew.
(" Tu-tunggu! Bagaimana keadaannya?" )
tanya suara orang disana yang dirasa sedikit ada kesedihan di nada suaranya.
" Apa peduli,lo? Sudah puas Lo menyakiti Vivianne,Heh? Dia begini juga karena ulahmu! Lo yang membuat Vivianne jatuh sakit! Kepalanya terluka! Dia mengeluarkan banyak darah. Kamu tahu itu?" Bryan sengaja melebih-lebihkan kondisi Vivianne dia mau tahu reaksi Andrew.
(" A-apa? Kepalanya terluka? Berdarah? Terus bagaimana keadaannya sekarang? Apa kata Dokter?" )
Bryan dapat merasakan suara rasa kuatir dari pertanyaan yang diajukan Andrew, hal ini justru malah membuatnya semakin kesal dan marah karena mengingat tingkah laku Andrew yang beberapa jam itu.
" Masih peduli? Bukankah lo akan senang, kalau tahu Vivianne terluka bahkan meninggal sekalipun,mungkin?"
Bryan semakin geram, apa yang diperbuat Andrew sudah sangat keterlaluan.
(" BRYAN! Jangan kurang ajar lo! Bagaimanapun juga Vivianne itu masih…")
" Masih apa? Lo mau bilang, masih pacar lo? Hah? Egois sekali kamu! Sadar, Drew! Setelah apa yang Lo lakuin ke Vivianne, itu sudah membuat Lo tidak punya hak apapun lagi terhadap,Vivianne! Ingat,itu! Menyesal gue, serahin Vivianne ke tangan,Lo dan mundur kalau hanya buat Lo sakiti!" amarah Bryan makin memuncak.
(" Terserah Lo mau bilang apa,Bry! Tapi tolong kasih tahu gue apa yang terjadi sama dia, bagaimana keadaannya! Ka-karena gue sayang sama Vivi!")
Terdengar suaranya sedikit parau.
" Gue bingung sama Lo! Setelah lo hancurkan Vivi, Lo masih bilang sayang sama, Dia? Sadar Woy!! Lo sudah punya Valery! Kalian sudah menghabiskan malam bersama malam itu bukan? Lo memang brengsek! Jadi tidak perlu lagi ganggu-ganggu Vivianne! Lo dengar,itu? Kalau tidak, jangan salahkan gue kalau Lo itu teman baik gue!" Bryan hendak memutuskan sambungan ponselnya.
(" Gue nggak ada apa-apa sama Valery, Bry! Gue yakin itu! Lo tau sendiri, kalau gue mau, gue sudah tidur sama dia dari dulu! Tapi tidak pernah gue lakuin, bukan? Karena gue sudah anggap dia seperti adik gue sendiri! Gak lebih! Ta-tapi malam itu Vivi melihatnya…dan gue mau jelasin ke Vivi tapi dia malah menghindari gue! Lo tau itu kan?" )
" Mana gue, tau! Ya kali aja kan, Lo nafsunya baru sekarang? Terlebih kalian mabuk! Dan jangan salahkan Vivi! Kalau gue jadi Vivi gue juga nggak mau mendengarkan alasan Lo itu! Lah wong dilihat dengan mata kepala dia sendiri,kok! Jadi disini bukan Vivi yang salah, tapi Lo!" Bryan makin emosi.
(" Bukan itu maksud gue,Bry! Gue cuma bilang…kalau disini,Dia juga salah! Dia nggak percaya sama gue! Kenapa dia juga malah cari perlindungan cowok lain dan bukannya cari gue!" )
" Maksud, Lo apa? Siapa cowok lain yang Lo maksud? Heh? Gue? Lo picik! Drew! Gue hanya mencoba membantunya! Setelah cowoknya sendiri mengkhianati,Dia! Dan maksud Lo cari perlu dungan apa? Gue baru ketemu Vivi hari ini yah! Dan itupun di kampus! Lo masih nuduh gue yang sembunyikan Vivi seminggu ini, Heh?" Bryan makin berapi-api.
(" Kalau bukan Lo siapa lagi? Vivi tidak punya teman dekat lagi selain Lo! Sudahlah,Bry! Gue tau kok, Lo suka sama Vivi juga, kan? Bagus dong, berarti gue sudah kasih kesempatan Lo untuk bersama sama Vivianne! Gih ambil, gih! Bekas gue!" )
Andrew terdengar emosi juga di seberang sana.
" Bangs*t Lo, Drew! Jangan samain gue sama elo,yah! Perasaan gue tulus buat dia! Gue nggak pernah mempermainkan perasaan, Dia! Sayangnya Vivi terlalu polos dan buta untuk melihat buaya di hadapan,Dia! Suatu saat lo bakal menyesal,Drew! Ketika Lo menyesal, semua tidak akan pernah bisa kembali seperti dulu! Camkan itu! Kalau perlu gue yang memastikannya!" Bryan kemudian menutup ponselnya.
Terdengar beberapa kali Andrew mencoba menghubunginya kembali namun selalu ditolaknya. Karena kesal akhirnya dia menuliskan pesan kepada Andrew.
" Vivianne ada di kamar VVIP Mawar No 6 Rumah Sakit Abdi Waluyo. Lihat sendiri keadaannya, atau tidak perlu sama sekali!"
Send!
Dan pesan pun terkirim.Terlihat pesan telah dibaca oleh Andrew. Karena sudah centang biru.
Bryan memasukkan kembali ponselnya. Dia berniat membeli makanan untuk dirinya atau sekedar kopi atau air dingin untuk menenangkan emosinya karena Andrew.
Bryan pergi keluar Rumah Sakit menuju Cafe terdekat di rumah Sakit itu.
****
Sementara itu di kamar rawat inap Vivianne mulai sadarkan diri dia menggerakkan jarinya.
Tania yang merasakan pergerakan Vivianne pun terbangun.
" Vi! Kamu sudah siuman,Vi?"
Vivi memegang kepalanya yang terasa sakit, " Aku dimana Tan? Aku Kenapa?"
Tania tersenyum, " Alhamdulillah kamu sudah sadar,Vi! Aku kuatir banget sama kamu, tau tidak? Kamu sempat jatuh Vi..setelah..setelah..kejadian itu. Dan kemudian pingsan kamu juga terluka dibagian kepala, aku dan Bryan membawa kamu kesini! Apa kamu lupa?"
Vivi mulai mengingat sesuatu, Andrew dan semua ucapannya kembali berseliweran di otaknya. Dia kembali meneteskan air mata.
" Andrew sangat kejam,Tan! Dia -dia pria bajing*n! Aku kecewa sama,Dia! Aku sakit hati, marah sama Dia! Memangnya salah aku apa,Tan? Sehingga dia memperlakukan aku layaknya sampah!" Vivianne mulai menangis tersedu.
" Sudah! Sudah! Pria bajing*n seperti dia tidak perlu kamu tangisi,Vi! Dia tidak pantas mendapatkan kamu!"ujar Tania sambil menepuk tangan Vivi memberikan kekuatan.
" Kamu benar, Tan! Dia tidak pantas! Aku benci sama,Dia!" Vivianne marah dengan mata kemerahan.
" Hmm…tapi Vi..Bagaimanapun juga, dia perlu tahu bukan mengenai kehamilan,kamu? Dia ayah dari janin yang kau kandung,bukan?" Tania bertanya perlahan.
" A-apa? A-aku hamil?" tanya Vivi membelalak.
Tania mengangguk sedih, " Jadi dia tidak tahu bahwa dia hamil?" Batinnya.
" Apa kamu tidak tahu,Vi? Bahwa kamu hamil?" tanya Tania.
Vivianne menggelengkan kepalanya, " Aku tidak mungkin hamil,kan Tan? Kamu bohong, kan? Aku tidak mau hamil anak bajing*n itu! La-lagi pula…mana mungkin bisa aku hamil? Aku tidak…"
" Tenang,Vi! Tenang! Maksud kamu apa? Kamu tidak melakukannya? Lantas itu bayi siapa?" Tania mulai bingung.
Vivi menggelengkan kepalanya, " Kamu tahu aku tidak pernah dekat pria manapun selain Andrew! Tapi aku..merasa tidak pernah..melakukannya! Apa mungkin…waktu itu…Arrghh!! Tidak!!"
Vivi berteriak dan menggelengkan kepalanya sambil memukul-mukul dirinya dan perutnya. " Aku tidak mau hamil,Tan! Aku mau mengejar cita-cita aku! Aku sudah berjanji sama Bunda! Dan adik-adik panti! Bunda….hikhik…dia pasti kecewa sama aku,Tan! Bu-bunda…sudah mengorbankan segalanya..buat aku bisa kuliah di sini,Tan! Aku tidak sanggup! Tidak sanggup! Menghadapi mata Bunda!"
Tania yang kebingungan tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya dia cuma bisa memeluk Vivi semakin erat sambil mengelus punggung sahabatnya mencoba menyalurkan kekuatan. Mereka saling berpelukan dan menangis bersama, " Tenang,Vi!…Tenang! Allah masih bersama kita! Allah kasih cobaan sama kamu karena kamu sanggup Vi! Jadi kamu harus kuat! Jangan lemah! Aku tahu berat, tapi setidaknya berjuanglah! Berjuang buat diri kamu, Bunda,Aku,anak kamu, Bryan yang masih menyayangi kamu.!" Tania mulai terisak.
Setelah sekian lama mereka menangis bersama,kedua mata mereka makin sembab! Tak lama terasa getaran bahu Vivi mulai tenang, tanda dia mulai menghentikan tangisannya.
" Tan, tolong rahasiakan ini semua yah, Tan? Termasuk kepada Bryan! Di-dia tidak tahu,kan?" tanya Vivi mulai mengigit bibirnya.
Tania menggelengkan kepalanya, " Tidak,Tan! Kebetulan pas Dokter memberitahukannya dia sedang urus administrasi! Dan aku juga minta Dokter merahasiakannya untuk kamu!"
" Terima Kasih,Tan. Aku tidak akan tahu kalau tidak ada kalian terutama kamu! Hmm..Bryan dimana sekarang?"
" Di-dia sedang keluar! Tadi ponselnya berdering." Tak berapa lama terdengar pintu didorong.
" Nah, itu mungkin Dia,Vi! Hapus air mata kamu, kamu tidak mau Bryan curiga,kan?" ucap Tania.
Vivianne kemudian menghapus sisa air matanya.
" Kak Bryan! Aku pikir Kakak kema…" ucapan Vivi terputus. Dia mematung ditempatnya. Menatap pria yang yang baru saja masuk perlahan kedalam kamar rawat inap nya itu.
Tania pun ikut membeku menatap orang yang kehadirannya tidak pernah mereka duga sama sekali.
*****