Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 48 Perkelahian Vivianne Dengan Pria Tidak Dikenal!



Vivianne terduduk, selera makannya tiba-tiba menghilang. Baru saja dia menginjakan kaki di Ibukota Jakarta tapi, kejadian buruk sudah menimpanya. Bagaimana mungkin dia bisa bertahan dis kita sebesar Jakarta ini? Sedangkan yang yang dibawanya dan sebagian dari Bundanya juga ikutan lenyap. Entah bagaimana dia akan melanjutkan hidup dikota besar ini.


" Bu, maaf, boleh saya tahu berapa kira-kira makanan ini, Bu?" tanya Vivi ragu.


Sang penjaga warung menatapnya sedih. " Dua puluh ribu rupiah, Mbak. Lain kali berhati hati ya, Mbak? Ini kota Jakarta bukan di desa yang semua orang baik. Disini kita harus bisa menjaga diri kita sendiri." ujar Sang penjaga warung.


" Terima Kasih,Bu. Dua puluh ribu,ya? Sebentar yah,Bu." ujar Vivianne kembali sambil merogoh kantong celananya. Hanya ini yang tersisa, untunglah kemarin ketika Bus berhenti dia sempat membeli cemilan dan memasukkan uangnya di dalam kantong celananya itu. Dia menaruh sisa uang beberapa lembar lima ribuan dan dua ribuan. Serta beberapa uang recehan. Dia menaruhnya di atas meja warung sederhana itu.


Vivianne mulai menghitungnya, " Lima ribu, hmm…sepuluh ribu, dan satu,dua,tiga,empat,lima! Ah, Alhamdulillah! Ini pas dua puluh ribu,Bu!" Dia memberikan dua uang lembaran lima ribu dan sisanya adalah lima lembar ribuan kepada penjaga warung. Dan memasukkan recehan kembali ke dalam kantong celananya dengan sedikit kelegaan.


" Hmm…bolehkan saya meminta air minumnya dibungkus, Bu? Cukup Air putih saja." Vivianne berpikir dia akan mengisi perutnya jika lapar dengan memenuhinya dengan air putih saja.


Sang penjaga warung melihatnya dengan raut wajah tidak tega. Dia hanya menerima dua lembar lima ribuan saja. Dan mengembalikan sisanya kepada Vivianne.


" Ambillah,Mbak! Ini cukup." senyum ramah sang penjaga warung.


" Tapi, Bu. Kenapa? Bukankah tadi Ibu bilang dua puluh ribu,bukan? Ini pas, kok Bu! Tapi maaf jika uangnya recehan." ujar Vivianne mendorong kembali uangnya.


Sang Ibu tersenyum, " Tidak apa-apa,Mbak. Anggap saja saya sedekah. Tapi hanya ini yang saya bisa bantu. Maaf! Seandainya saja saya tadi memperingati Mbaknya…mungkin mbaknya tidak akan kecopetan. Saya minta maaf karenanya. Jadi terimalah, anggap saja sebagai penebus rasa bersalah saya yang tadi tidak bisa membantu,Mbak!"ujar sang penjaga warung.


" Tapi, kemalangan saya bukan tanggung jawab,Ibu. Saya yang salah,kok,Bu. Kurang berhati-hati. Mungkin ini juga peringatan dari Allah." ujar Vivianne tersenyum.


" Saya ikhlas,kok,mbak. Jadi Mbak bisa menyimpannya buat makan nanti. Ini masih pagi, pasti mbaknya butuh makan, nanti siang dan malam,bukan? Atau bagaimana kalau begini saja, ini saya ambil tapi saya akan bungkuskan nasi bungkus buat mbak makan nanti,bagaimana? Jadi Mbak bisa makan nantinya. Mau yah?" ujar sang penjaga warung nasi.


" Masyaallah. Ibu baik sekali kepada saya. Semoga Allah akan mengganti dengan rezeki yang lebih ya,Bu?" dengan hati tulus Vivianne mendoakan sang penjaga warung tersebut.


" Amin. Ya sudah, mbaknya tunggu disitu dulu,yah?" ujar sang penjaga warung berlalu kedalam etalasenya kembali. 


Dan Vivianne kembali terduduk di tempat kursi kayu panjang menunggu sang pemilik warung memberikannya makanan yang dibelinya secara cuma-cuma. " Alhamdulillah,Ya Allah. Dibalik kejadian buruk ini ternyata masih banyak orang-orang baik yang kau kirimkan untuk menolongku. Paling tidak, aku bisa makan hari ini. Tapi bagaimana dengan esok hari? Dan aku harus menginap dimana, malam ini? Uangku sudah lenyap semuanya. Mungkin besok aku harus mencari pekerjaan. Tunggu, tapi  kartu identitasku ikut lenyap. Bagaimana ini? Apa aku bisa menggunakan kopiannya saja,yah? Yah, sementara begitu saja." 


" Mbak! Mbak!" ujar penjaga warung.


" E-eh, iya,Bu. Kenapa?" Lamunan Vivianne terputus karena panggilan dari penjaga warung.


" Ini,Mbak. Ini nasinya dan ini airnya." Ibu penjaga warung menyerahkan sebuah kantong kresek berwarna hitam kepada Vivianne.


" Terima Kasih, Bu. Hmm…Maaf,Bu. Apa Ibu bisa memberikan saya pekerjaan,Bu? Saya butuh pekerjaan agar saya bisa mencari tempat tinggal dan sekedar untuk makan. Apa Ibu bisa membantu, saya?" ujar Vivianne.


Penjaga warung menatapnya, " Ibu ingin sekali membantu dengan Mbak…maaf siapa nama mbaknya?"


Vivianne menjulurkan tangannya, " Saya Vi…maaf maksud saya Anne,Bu." Vivianne memutuskan dia tidak menggunakan nama depannya, setiap kali dia menyebutkan nama depannya maka setiap kali itu pula dia membencinya. Mengingatkannya kepada seseorang yang pernah mengkhianatinya. Dan itu dimulai dengan mengubah nama panggilannya.


" Oh, ya saya Ibu Ratna, Mbak Anne. Jadi, Ibu ingin sekali membantu. Tapi, Ibu juga bekerja disini,Nak. Boleh Ibu panggil kamu dengan sebutan Nak saja, Bukan? Tapi Ibu akan berjanji jika ada pekerjaan, Ibu akan segera kabari Nak Anne. Bagaimana? Nak Anne bisa tinggalkan nomor teleponnya kepada saya,yah? Maaf cuma ini yang bisa Ibu bantu." ujarnya dengan menatap sedih.


" Tidak masalah,Bu. Ini sudah lebih dari cukup. Ini nomor saya,Bu. Apa saja,ya Bu. Pekerjaan apa saja akan saya lakukan, Bu." ujar Vivianne dengan senyum ceria.


" Baiklah. Ibu akan simpan nomor kamu. Lantas Nak Anne mau kemana sekarang?" tanya sang penjaga warung setelah memasukkan nomor Vivianne kedalam sebuah dompet dan menaruhnya di kantong bajunya.


" Saya juga tidak tahu,Bu. Saya tidak memiliki saudara disini. Saya datang ke Jakarta ini karena ingin mencari pengalaman dan sekolah. Eh, belum juga sehari, saya benar-benar mendapatkan pengalaman,Bu. Hahaha.." Vivianne berusaha tertawa miris melihat nasib yang menimpanya.


" Oh..Yang sabar,yah, Nak. Yakin Gusti Allah tidak akan menguji diluar batas kemampuan kita. Kita harus berbaik sangka terus kepada Gusti Allah,yah?" dengan memberikan wejangan.


" Ya, Bu. Saya Ikhlas kok, Bu." jawab Vivianne sopan.


" Kalau begitu saya permisi,ya Bu. Saya mau cari pekerjaan dulu. Semoga saya juga dapat tempat untuk berteduh malam ini. Terima Kasih untuk nasinya,Bu!" Vivianne mengangkat kantong kresek hitamnya.


" Sama-sama. Hati-hati ya, Nak! Sing sering mampir kesini, yo?" sang penjaga warung kemudian keluar dari etalasenya kembali dan menghampiri Vivianne dan mengelus rambut panjangnya.


" Iya,Bu. Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum,Bu!" pamit Vivianne.


" Waalaikumsalam." 


Vivianne pun beranjak pergi dari tempat tersebut dan mencoba berjalan kemanapun kakinya melangkah. 


Vivianne mencari pekerjaan sepanjang hari ini, hingga hari menjelang malam. Kakinya lelah, lecet-lecet dan sedikit bengkak. Vivianne mendudukkan bokongnya disalah satu sudut pasar yang terdapat kursi plastik sambil memberikan pijatan di kakinya yang sakit. 


" Tapi tidak! Kalau aku ke Jogja aku akan bertemu dengan si brengs*k Andrew! Tidak! Aku tidak ingin melihatnya lagi! Kalau perlu selamanya! Aku harus bertahan di Jakarta! Ya,Harus!" kali ini Vivianne memantapkan hatinya.


Dia beranjak pergi dari sana. Berjalan perlahan. Malam semakin larut di sepanjang jalan dia melihat banyak sekali orang-orang yang tidur di emperan toko. 


Vivianne menarik nafas panjang. " Aku sepertinya bisa tidur di pelataran seperti mereka. Terima Kasih Ya Allah!" 


Vivianne mengambil tempat di pinggiran tersebut, tapi baru saja dia hendak membersihkan pelataran toko dengan sebuah kardus yang  ia temukan tidak jauh dari tempat sampah di sebuah toko besar. Seseorang berteriak kepadanya.


" Hey! Orang baru yah? Minggir kamu! Itu tempat kami!" ujar seorang pria muda bertato.


" Hah? Maksudnya tempat kamu,apa yah? Sepertinya ditempat ini tidak ada bertuliskan nama kamu, bukan? Jadi sah-sah saja bukan, jika saya yang melihatnya lebih dulu, menempatinya!" ujar Vivianne kesal.


" Kamu! Berani kamu yah? Boleh juga nih, cukup cantik! Boleh..boleh…dengan catatan…kamu menemani kami, bagaimana? Hahaha….kita dapat jackpot ini teman-teman!" ujar pria bertato dan muncullah tiga orang lainnya dengan berbadan besar-besar.


Vivianne tidak merasa takut, karena sepertinya dia bisa menghadapi mereka.


" Mulut kalian sangat kotor! Kalau aku tidak mau, bagaimana? Kalian mau apa?" tantang Vivianne.


" Kamu? Mau apa?...Haha…kamu mau kamu!" ujar salah seorang mencoba menyentuh pipi Vivianne.


Tapi mereka salah, Vivianne tidak selemah itu dia menarik jarinya ke belakang sehingga orang tersebut mengaduh kesakitan.


" Auw..Auw..cewek sial*n! Lepaskan! Patah hati aku ini." ujarnya kesakitan.


Teman-temannya yang lain melihatnya, " Masa Lo, sama cewek lemah gitu aja keok,sih? Cemen,Lo!"


" Jangan banyak bacot kalau Lo sanggup coba Lo tolongin gue!" ujar pria yang sedang dipiting bahkan kedua tangannya itu.


Buru-buru ketiganya salah satu dari mereka menyerang Vivianne namun dapat dielak oleh Vivianne bahkan menendang mereka dengan keras dan menendang juga orang yang tangannya dipelintir ya tadi sehingga tersungkur dengan orang yang tadi mau menolongnya.


Dua orang lainnya menghentikan tawanya dan saling menatap. Akhirnya mereka memberi kode.


" Serang!"


Mereka menyerang Vivianne dari dua arah yang berbeda di sisi kanan dan kiri Vivianne, tapi Vivianne malah mundur, dan alhasil mereka membenturkan diri mereka kedua kening mereka saling bertemu dengan keras.


" Lo, gimana sih! Lihat lihat dong! Benjol,nih!" ujar seseorang dari yang sebelah kanan.


" Ye, Lo pikir gue, kagak! Sudah kita keroyok lagi saja, ya kali kita kalah sama seorang perempuan sih?" ujar seorang sebelah kiri sambil berbisik.


" Ayolah, gas keun!" ujar keduanya.


Dan mereka kini ingin menyerang dari arah depan. Terlihat mereka mulai kewalahan, hingga orang yang tersungkur di tanah tadi membantu mereka. Jadilah tiga orang sekarang mengeroyoknya. Vivianne tampak santai, dan mulai menguasai keadaan. Hingga seorang yang tangannya sakit sebelah itu mengeluarkan sesuatu.


Tempat itu mulai ramai dilihat orang-orang yang lalu lalang tapi tak satupun yang berani membelanya. Hingga seorang berteriak.


" Polisi! Polisi! Bubar! Bubar!" teriaknya.


" Hah? Po-polisi? Hey! Sudah! Tinggalkan saja! Kita kabur!" 


Empat orang tersebut pun melihat kebelakang dan mereka sempat melihat  ada mobil polis yang melintas dari kejauhan. Tidak mau mengambil resiko akhirnya mereka mencoba untuk kabur.


" Awas cewek sial*n! Tunggu pembalasan kami!" Ancam mereka sebelum mereka berlari menjauh dari tempat itu.


Vivianne menarik nafas lega dadanya masih naik turun karena kelelahan. Tidak mudah menghadapi empat orang pria meski dia memiliki keahlian taekwondo tapi dia kelelahan juga karena belum menyantap apapun sejak siang.


" Kak! Gak gratis yah!" seorang anak kecil menghampirinya sambil menadahkan tangannya. Usianya mungkin sekitar 10-11 tahun.


" Heh? Maksudnya?" 


******