Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 33 Kenalkan Aku Valery!



Bryan terpekik kaget, Andrew memukul dinding di belakangnya. Bahkan tidak merasakan perihnya darah yang mulai keluar dari kepalan tangannya tersebut. Andrew terlihat sangat berantakan dan penuh penyesalan. " Ada apa sebenarnya dengan Andrew? Dan kenapa dia mencari Vivianne? Apa yang terjadi?" lirih bisikan hati Bryan.


Tiba-tiba Andrew luruh ke lantai, tubuhnya bergetar dan menahan tangis yang mulai keluar. Dia tidak bisa membendungnya lagi. Bryan makin terkejut, seorang Andrew bisa gelisah seperti ini. Vivianne sepertinya memberikan pengaruh besar untuk seorang Andrew.


Bryan menghembuskan nafas kasarnya, dan mulai berjongkok di hadapan Andrew. Dia mengangkat tubuhnya. 


" Drew? Bangun yuk? Ada apa sebenarnya? Kenapa dengan kalian? Cerita sama gue, siapa tahu gue bisa bantu! Yuk kita duduk di sofa!" Bryan yang mengetahui kondisi Andrew sedang tidak baik-baik saja, sedikit menurunkan egonya untuk menolong sahabatnya itu. 


Meski dia tidak menyukai beberapa sifat Andrew, tapi Andrew tetaplah temannya. Dan dia berdiri disini sebagai seorang teman. Bukan seseorang yang sama-sama menyukai bahkan mencintai gadis yang sama. Bryan tahu, Andrew sebenarnya menyukai Vivianne bahkan mencintainya dengan alasan ini dia memilih mundur tapi Andrew terlalu arogan untuk mengakuinya.


Setelah Andrew terduduk di sofa dia menatap kedepan dengan tatapan kosong. Sepertinya dia sangat terpukul. 


" Lo, tunggu sebentar, luka Lo harus segera diobati jika tidak ingin infeksi!" ujarnya kembali dan kemudian berlalu kedalam.


Tak berapa lama dia kembali dengan sebuah kotak obat-obatan. Dia mulai membersihkan luka Andrew dan kemudian membalutnya. Andrew bahkan tidak merasakan sakit atau nyeri ketika jarinya diobati. Bryan mengobatinya dengan penuh perhatian dan perlahan. 


Andrew menatapnya setelah Bryan mengucapkan " Sudah! Syukur Alhamdulillah lukanya tidak terlalu parah!"dengan senyuman dia menatap Andrew. 


Andrew yang kedapatan memperhatikan sahabatnya itu gugup seketika dan membuang wajahnya ke arah berbeda.


" Drew? Lo kenapa?" tanyanya perlahan.


Andrew menarik nafas dan menghembuskannya secara kasar, melepaskan beban di hatinya.


" Vivianne menghilang, Bry! Gue nggak tau harus cari dia kemana! Gue bingung! Semua tempat sudah gue datangi, tapi tetap tidak ketemu! Ini salah gue,Bry! Salah gue!" Andrew menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Bryan menepuk bahu temannya untuk menenangkannya.


 " Sabar,Drew! Memangnya apa yang terjadi? Sehingga Vivianne menghilang?" tanya Bryan penasaran.


Andrew menoleh dan menatapnya, dia sedikit ragu, apakah harus bercerita kepada Bryan atau tidak. Andrew menyerah, akhirnya dia memutuskan untuk menceritakannya.


BRAK!


Bryan menggebrak meja yang ada di depannya.


" Apa yang Lo lakuin, Drew! You are so stupid! Kenapa Lo lakuin itu? Dan kenapa bisa dengan Valery? Kenapa harus dia,Drew? Valery itu Sahabat kita! Dan Lo tau dia suka sama lo dari dulu! Sekarang Lo malah sudah membuat dua wanita terluka sekaligus! Terutama Vivianne!" maki Bryan penuh emosi sambil berdiri.


" Kok, Lo jadi malah maki-maki dan marahin gue,sih?" ujar Andrew yang juga tersulut emosinya.


" Sadar, Drew! Karena Lo yang salah disini! Terang saja Vivi marah! Gue aja yang cowok aja, emosi sama Lo! Apalagi Vivianne yang hatinya lembut! Lo terlalu,Drew! Lo tau gue sengaja, mengalah demi Lo dan Vivi! Tapi kalau Lo terus seperti ini, jangan salahkan gue, kalau gue mulai mengejar Vivianne kembali!" ujar Bryan dengan emosi.


" Sial*n! Lo nantang gue,Bry?" Andrew yang tersulut emosinya mulai menatap tajam kearah Bryan.


Bryan menaikan kembali bahunya. " Terserah, apa pendapat Lo!" 


" Mending gue pergi! Lo bikin gue emosi aja! Bukannya kasih gue solusi, malah bikin emosi! Gue juga tau gue salah,Bry! Makanya gue minta saran Lo! Bukannya minta hujatan Lo! Jangan sampai gue lupa kalau Lo itu sahabat gue! Sebelum Lo nanti gue bikin mati, lebih baik gue kabur dari sini! Gue harus cari Vivianne!" Andrew lelah, lelah bertengkar dengan Bryan. Bagaimanapun Bryan sahabatnya. Sudah dia hampir kehilangan Vivianne jangan sampai dia kehilangan sahabat juga.


Andrew beranjak dari sofa yang ditempati dan bergerak ke arah luar,tapi tangannya ditangkap oleh Bryan.


" Lo, mau cari Vivi kemana?" tanya Bryan kuatir.


" Bukan urusan,Lo! Ke ujung dunia sekalipun gue akan mencarinya!" ketus Andrew.


Tapi setelah beberapa langkah dia kembali menoleh ke arah Bryan.


" Bry? Beneran Lo nggak tahu Vivianne dimana? Kalian kan akrab sebelumnya! Barangkali ada teman Vivi yang Lo kenal,mungkin?" tanya Andrew penuh harap.


" Nanti gue cari tahu! Nanti gue hubungin Lo!" ucap Bryan memahami kegelisahan Andrew.


" Makasih,Bry! Gue cabut duluan, ya?" Andrew kembali melangkah setelah melihat Bryan mengangguk.


Andrew berjalan dan hampir sampai di depan pintu apartemen Bryan.Tapi kembali berbalik.


" Bry, Lo beneran tidak menyembunyikan Vivianne, kan?" cengir Andrew walau hatinya pedih.


" Bangs*t! Pergi Lo dari sini! Lo pikir gue bohong, Hah?" sambil melemparkan bantal kursinya ke arah Andrew.


Sepeninggalan Andrew, Bryan terduduk di sofanya dan mulai berpikir kita-kira siapa yang bisa dihubungi untuk cari keberadaan Vivianne.


Bryan mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi orang yang mungkin saja tahu keberadaan Vivianne. Meski pun pada akhirnya tidak membuahkan hasil.


****


Sementara baik Andrew dan Bryan sibuk mencari keberadaan Vivianne. Orang yang dicari malah sedang beristirahat setelah sebelumnya Tania yang kaget melihat Vivi terduduk lemas di lantai kamar mandi.


Tania menggiring Vivi untuk duduk dan dia memberikan teh hangat dan makanan yang dibawanya.


Tania juga memaksa Vivi agar berobat kerumah sakit atau sekedar memanggil Dokter untuk mengecek keadaannya, namun Vivi menolaknya. Dia merasa hanya butuh istirahat,minum teh madu hangat buatan Tania dan makan maka dia akan baik-baik saja.


Tania menghembuskan nafasnya berat, dia tidak dapat memaksakan kehendaknya terhadap Vivianne. Bagaimanapun juga hanya Vivi yang tahu kondisi tubuhnya. 


Meski Tania kuatir dia tidak dapat berbuat apa-apa selain menjaganya. Karena Vivi menolak keras untuk diobati oleh Dokter.


Malam itu Vivianne memutuskan beristirahat di kosan Tania, tanpa tahu setiap orang sibuk dan kelimpungan mencari Vivianne. 


Seminggu berlalu


" Vi? Kamu yakin akan tetap ke kampus dengan kondisi kamu, yang masih pucat dan masih lemah ini, Vi? Atau paling tidak kita ke Dokter dulu,yuk?" tanya Tania kuatir.


" Aku tidak kenapa-kenapa kok,Tan! Aku cuma kelelahan. Dan aku memang harus ke kampus,Tan! Tidak mungkin meninggalkan aku meninggalkan ujian ini,Tan! Sayang! Dan hari ini ujian!" ujar Vivianne.


" Tapi…Lo yakin, bakal balik ke kosan dulu? Bagaimana kalau Andrew tahu? Dan menunggu kamu disana? Apa yang akan Lo lakuin?" tanya kembali Tania.


" Biar saja, dia tahu. Cepat atau lambat, aku memang harus menghadapinya,Tan! Kamu harus bicara dan menyelesaikan semuanya! Aku tidak mau dia meneror kamu untuk menanyakan keberadaan ku! Aku sudah terlalu banyak merepotkan kamu,Tan! Maaf, ya? Dan terima kasih untuk semuanya."ujar Tania sambil menggenggam jemari sahabatnya itu.


Memang beberapa hari yang lalu Tania sempat didatangi oleh Andrew, dia baru ingat ternyata Tania salah satu teman Vivianne dan mereka satu kerjaan. Tidak mungkin jika Tania tidak tahu, mungkin ini yang dipikirkan oleh Andrew. Tapi Tania selalu mengatakan bahwa dia tidak tahu akan keberadaan Vivianne. Bahkan Tania juga menghindar ketika dia tahu Andrew mengikutinya setelah pulang kerja.Untung saja, Tania yang diikuti Andrew menyadarinya hingga dia sengaja pulang bukan ke kosannya tapi ke kosan temannya. Baru setelah Andrew pergi dia pulang ke kosannya. 


Semua dilakukan agar Andrew tidak mengetahui keberadaan Vivianne yang waktu itu masih belum mau menemui Andrew.


Tania menghembuskan nafasnya," Vi, kamu sahabat aku, jadi tidak perlu berterima kasih. Apapun akan aku lakukan agar bisa membantumu! Bahkan kalau perlu, aku akan temani kamu ujian,ya? Aku kuatir! Atau aku jemput kamu,ya?" ucap Tania.


" Hm…tidak perlu,Tan! Aku bisa sendiri,kok! Kamu tidak perlu kuatir! Aku bisa kok, melakukannya." ujar Vivianne dengan tersenyum lembut.


" Ya sudah terserah kamu! Tapi boleh kan aku antar ke kosan mu? Sebelum ke kampus? Kebetulan aku hari ini sedang cuti!" tanya Tania.


Vivianne mengangguk. Dan akhirnya mereka memutuskan kekosan Vivi dengan mengendarai motor Tania.


Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit. Mereka tiba di kosan Vivi, Vivi membuka maskernya. Dan masuk buru-buru ke kamar kosan yang sudah ditinggalkannya selama seminggu itu ditemani Tania. Tania memaksa untuk tetap menemani Vivi kekosan. Setelah mengganti pakaiannya dan mengambil bukunya memasukkannya kedalam tas, mereka kembali keluar dari kosan Vivi dengan menoleh kekiri dan kekanan.Vivi tidak ingin membuat keributan disini jika dia bertemu Andrew yang berujung pertengkaran.


Setelah siap, Tania kembali menuju parkiran motornya namun ketika Tania dan Vivi hendak melakukan motornya menuju kampus. Karena Tania tetap memaksa untuk mengantarnya ke kampus. Dan Vivi hanya bisa pasrah. Lagi pula dia hampir terlambat.


" Buruan,Tan! Aku mau terlambat,ini!"teriak Vivianne sambil melihat ke arah jamnya.


" Tunggu bentar Napa,Vi! Ini motor tumben, tidak hidup hidup!" ucap Tania.


" Apa, jangan-jangan,mogok lagi,Tan? Sudah aku jalan saja, toh, kampusku tidak jauh ini!" ujar Vivianne.


Tak berapa lama mesin motor pun berbunyi. " Alhamdulillah! Yuk Vi! Buruan!" Setu Tania tak sabaran.


Vivi baru hendak menaiki motor tersebut ketika dia mendengar seseorang memanggil namanya.


" Vivi,Kan?" ujar seorang dihadapan Vivi sambil mengatur nafasnya, sepertinya dia habis berlari.


Vivi mengerutkan keningnya menatap gadis cantik yang berdiri di hadapannya dengan paras yang sangat cantik dengan pakaian yang trendy namun sedikit terbuka itu.


" Maaf,siapa ya?" ujarnya Vivianne ragu. Dia tidak mengenalnya. Namun entah mengapa dia seperti pernah melihat wajah gadis ini, tapi dimana?


" Kenalkan aku Valery!"


*****