
Bunda menutup mulutnya ketika Vivianne baru selesai menceritakan kisahnya yang berakhir di rumah sakit. Dan kemudian keluar dari rumah sakit dengan sembunyi-sembunyi.
Bunda berdiri dari duduknya, " Ya Allah, Nak! Kenapa kamu tidak cerita? Jika kamu menderita di Jakarta kenapa tidak kembali? Bunda merasa bersalah, karena tidak tahu anaknya menderita," Bunda memeluk Vivianne.
Vivianne hanya bisa tertawa kecil, " Tidak salah Bunda kok,Bun. Lagi pula itu suda berlalu, buktinya aku sudah baik baik saja, bukan?"
" Tapi,Nak. Bunda tetap merasa bersalah. Seandainya bukan karena Bunda yang memaksa…." sang Bunda tertunduk sedih merasa bersalah.
" Maka aku tidak akan pernah berhasil seperti ini, bukan begitu Bunda?" Vivianne menyela ucapan sang Bunda dengan senyuman.
Dia memang tidak pernah menyesali jalan hidupnya. Meskipun terasa berat dan dia juga pernah merasakan titik terendah hidup di Jakarta ini.
Bunda mendongakkan kepalanya tersenyum sedikit ragu, " Apakah luka kamu sakit, Nak? Boleh Bunda melihatnya?"
" Sudah tidak sakit kok,Bun. Karena sudah lama berlalu, hmm…sudah hampir menghilang Kok Bun. Beneran,deh!" ujar Vivianne meyakinkan. Dia tidak ingin sang Bunda merasa bersalah lebih dalam.
" Iya, Bunda tahu. Tapi boleh,kan? Bunda melihatnya?" paksa Bunda.
Vivianne menghembuskan nafasnya, " Boleh, sih, Bun. Ini…"
Vivianne sedikit membuka bajunya dan memperlihatkan bekas luka yang hampir memudar dan menghilang di sebelah kanan pinggangnya.
Bunda berjongkok dan melihatnya, dia merabanya dengan penuh kasihan dan sedih.
Vivianne buru-buru menutupnya kembali, " bunda duduk lagi,yuk? Sudah hampir menghilangkan?"
Vivianne memegang kedua bahu Bundanya dan membawanya kembali duduk.
" Tapi pasti sakit waktu itu,ya? Dan kamu sendirian menghadapinya," ujar Bunda dengan senyuman sedihnya.
" Iya,Bun.Tapi Anne kan biasa terluka, kalau ikutan turnamen Taekwondo kan,Bun?" ujar Vivianne kembali.
" Iya, tapi kan bukan luka tusuk,Nak. Beda. Ini hampir saja bisa menghilangkan nyawa kamu, jika Pak Damian tidak cepat membawamu ke rumah sakit." ujar Sang Bunda tak mau kalah.
" Memang. Tapi buat Anne sama saja,Kok Bun. Sama-sama terluka." ujar Vivianne.
" Terus kok akhirnya kalian bisa dekat kembali? Kan kamu sudah pergi meninggalkan dia,toh? Kamu kenapa pergi,Nak dari Rumah Sakit? Kenapa kabur?" ujar Bunda penasaran.
" Oh…itu. Anne terpaksa Bunda, Anne kuatir tanpa sengaja Anne dengar tagihan Rumah Sakit Anne sekitar sepuluh juta. Anne takut harus menggantinya, sedangkan Anne tidak punya uang. Jadi Anne memilih pergi!" ujar Vivianne kembali.
" Kenapa? Bukankah Pak Damian bilang dia yang akan menanggungnya?" tanya Bunda kembali.
Anne menaikan bahunya, " Mungkin saat itu Anne takut Bunda. Anne tidak mau berhutang Budi lebih banyak kepada orang yang Anne bahkan tidak kenal baik." Vivianne menunduk, " Anne takut dikecewakan lagi,Bun! Anne pikir semua pria sama, berbuat baik lalu melukai dan meninggalkan perasaan sakit hati. Anne trauma. Anne mulai tidak bisa mempercayai pria yang mendekati Anne. Apapun alasannya" lanjutnya.
Sang Bunda menatap Vivianne dengan sedih dan kembali memeluknya, " Bunda tahu, Bunda tahu kamu terluka, sangat dalam,Nak." kemudian Bunda melanjutkan, " Lantas sekarang?"
" Maksud Bunda sekarang?" tanya Vivianne bingung.
" Maksud bunda, bagaimana perasaan kamu dengan Nak Damian, pandanganmu terhadap pria."tanya Bunda menegaskan kalimat pertanyaan sebelumnya.
" Entahlah Bunda. Mas Damian baik, sangat baik. Butuh bertahun-tahun Anne untuk bisa menerima dia di sisi Anne."
" Apa kamu mencintainya?" tanya Bunda sambil menatap anak angkatnya itu.
" Anne…" ucapan Vivianne terputus ketika mendengar suara dari arah depan.
Treet!!!
Treet!!!
" Ah, sepertinya itu makanan kita, Bunda. Bunda tunggu sebentar ya, Anne akan lihat." Vivianne bernafas dengan lega. Karena dia bisa menghindar dari pertanyaan yang belum bisa dia jawab itu. " Apakah Aku mencintai Mas Damian?"
Vivianne berlari ke pintu apartemennya dan sedikit mengintip di lubangnya. Benar makanannya telah tiba.
Dibukanya pintu secara perlahan. " Dengan Ibu Vivianne?"
" Ini pesanannya ,Bu. Silahkan diterima. " ujar sang kurir.
" Terima Kasih ya, Pak,"
" Sama-sama,Bu. Mati saya permisi."
" Silahkan."
Kemudian Vivianne menutup pintu rumahnya dan berjalan ke arah meja makan.
" Bun, ini makanannya. Sebentar Anne tata dulu,ya?" menaruh makanan diatas meja dan kemudian hendak beranjak ke dapur.
" Mau, Bunda bantu, Nak?" tanya sang Bunda.
Vivianne menoleh, " Tidak perlu, Bun. Anne bisa sendiri,Kok. Cuma menyiapkan piring, sendok dan air minum kok! Bunda mungkin bisa bantu buka makanannya saja,ya? Dan duduk manis di sana, biar Anne kali ini yang menjamu,Bunda. Bunda tamunya Anne loh!"
" Kamu bisa saja. Baiklah." kemudian sang Bunda tampak membuka makanannya.
Tidak beberapa lama, muncullah Maya dengan wajah bantalnya. " Makanannya sudah sampai,ya Kak? Aku lapar." serunya dan duduk disebelah Bunda.
Anne berjalan dengan menenteng peralatan makan. " Iya baru datang, adikmu sudah bangun,May?"
" Belum,Mbak. Biar saja, dulu Mbak. Nanti dia juga akan bangun kalau lapar. Kalau dibangunkan sekarang dia akan rewel nantinya, Mbak. Anakmu itu kan unik! Hehehe…." ujar Maya membantu sang Kakak.
" Ya, sudah. Kalau begitu kita makan duluan yuk? Nanti biar Mbak pisahkan buat Avan. Jangan lupa tapi nanti bangunkan dia yah? Mbak kuatir Avan masuk angin karena belum makan siang." ujar Vivianne.
" Siap,Mbak!" ujar Maya.
Tak berapa lama terdengar suara anak kecil, " Bunda…! Kakak Dimana kalian?"
" Nah,tuh. Anaknya bangun Mbak. Panjang umur banget sih, dia. Pasti dia lapar!" ujar Maya dengan tawa kecilnya.
" Biar, biar Mbak yang ke kamar. Bunda sama Maya lanjutkan saja makannya." ujar Vivianne.
Kemudian Vivianne beranjak dari kursinya berjalan perlahan menuju sebuah kamar yang terletak tidak jauh dari ruang makan. Pintunya berwarna putih bersih. Vivianne memang tidak terlalu suka ornamen atau warna warna yang rame. Dia menyukai warna pastel atau putih seperti apartemennya. Mungkin membosankan untuk sebagian orang.
Vivianne mendorong pintunya perlahan, " Hi,boy! Baru, bangun?"
Avan mengangguk, " Bunda Diman, Auntie? Kakak Maya juga gone by the wind!"
Vivianne tertawa kecil, mencubit pipi gembul anaknya terkadang ada perasaan nyeri seperti dicubit bahwa sang anak hanya mengenalnya sebagai Auntie. Dan bukan Mommy nya. Tapi dia harus bersabar, dia tidak ingin Avan bingung dengan status mereka dan malah menjauh darinya karena tidak nyaman.
Jadi, biarlah seperti ini saja.
" Not gone by the wind, sayang. Kan Kakak Maya bukan daun loh…Kamu ada ada saja! Gemes ih!" cubit Vivianne.
" Auw! Sakit Auntie! Auntie suka sekali cubit-cubit aku! Telus, kakak Maya dimana Auntie?"ujarnya. Avan termasuk anak yang pintar dia banyak belajar bahasa asing dari Mata yang rajin mengajarinya atas permintaan Vivianne. Tapi memang meski begitu cadelnya akan huruf 'R' terkadang suka timbul.
" Ada, diruang makan. Avan lapar? Makan bareng yuk?" ajak Vivianne.
" Ayuk!" Avan tersenyum. Vivianne membeku, senyum itu…senyum yang sama persis dengan pria 4 Tahun yang lalu yang telah menyakitinya.
Melihat Avan seperti melihat pria itu kembali. Pria yang tidak benar-benar Vivianne lupakan.
" Apakah dia masih menyukainya?" entahlah, dia tidak bisa menjawabnya.
" Lantas Damian? Apakah Aku mencintainya?"
Biarlah waktu yang menjawabnya. Namun satu hal yang pasti, dia hanya ingin bahagia.
***""