Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 70 ALEX VS VALERY



Alex yang kelaparan memilih mengendarai mobilnya menuju ke sebuah Restaurant yang tidak jauh dari apartemen Andrew.


Buat untuk mengajak Valery kencan, tapi dia hanya kelaparan dan dia hanya mencegah agar Valery tidak mengganggu Andrew itu saja. Andrew butuh sendiri sekarang ini memikirkan dengan kepala tenang apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Hanya ini yang bisa dia lakukan.


Alex memarkirkan mobilnya dan kemudian keluar dari mobilnya. Ketika dia hendak melangkah dia tidak melihat Valery keluar dari mobilnya.


Alex yang kesal karena menahan lapar mendekati pintu penumpang, " Lo mau keluar atau gue tinggalkan disini di dalam mobil?" ketusnya.


Valery bingung kenapa dia dibawa kesini, akhirnya memilih keluar untuk mencari tahu.


" Kenapa kita disini?" serunya juga tidak kalah kesal.


" Lo tidak lihat apa, tulisannya? Mau makanlah! Masa mau main bola?" Alex melengos kesal.


" Gue juga tahu ini tulisannya adalah Rumah makan! Maksudnya kenapa Lo bawa gue kesini?" Valery tidak kalah sengit.


" Gue lapar! Sebelum bicara gue harus makan dulu! Paham?" dengan santai Alex berjalan di depannya.


Alex mendorong pintu restoran,kemudian menoleh kebelakang. " Lo mau ikut secara sukarela atau harus gue seret seperti tadi?" 


" Idih! Maksa! Kan yang lapar dia! Tapi kenapa juga gue yang harus ikut dengan dia! Kalau mau bicara, ya bicara saja,bukan? Di Mobil pun bisa bicara! Buang-buang uang saja!" ujar Valery cemberut namun kakinya tetap melangkah.


" Gue dengar,yah! Lagipula ini gue yang bayar! Lo tidak perlu keluar uang sama sekali! Satu hal lagi, kalau lo tidak dipaksa maka akan merepotkan gue! Sudah buruan masuk! Pegal tangan gue memegang pintu ini!" ketusnya.


" Iya..iya! Dasar,Pria kasar!" sambil menatap sinis dan berjalan lebih dulu.


" Daripada Lo, cewek gatal!" Alex keceplosan menghina Valery.


Valery yang sudah berjalan di depannya menoleh kebelakang. Bukannya marah, atau membalas dia malah dengan santai berkata, " Terus kenapa Lo ajakin gue kesini? Ya udah gue pergi saja dari sini,Ok?" 


" E-eh enak saja! Tunggu dulu! Pokoknya Lo harus ikut!" tanpa sadar Alex malah menarik tangan Valery dan menghempaskannya di sebuah sofa di pojok dan Alex duduk disebelahnya. Itu dia lakukan agar Valery tidak kabur. Jika dia kabur, maka buyar sudah rencana Alex untuk menahannya agar tidak menemui Andrew.


Seorang Pelayan datang menghampiri mereka sambil membawa daftar menu  dan menunggu apa yang hendak dipesannya.


" Lo mau pesan apa? Kalau mau pesan pesan aja, biar gue yang bayar!" ujar Alex.


Valery menatapnya kesal, tiba tiba dia memiliki ide. "Mbak saya mau pesan ini, ini dan ini! Masing-masing tiga porsi yah, mbak! Tapi sajikan dulu satu porsi terlebih dahulu!" 


Alex melonggo dan menggelengkan kepalanya. " Lo punya perut karet yah? Memangnya sudah berapa lama Lo belum makan sih? Setahun?" 


" Terserah dong! Katanya boleh pilih apa saja, situ yang bayar,kan? Kenapa? Nggak sanggup bayar?" sindir Valery.


Alex mengedikan bahunya, " Bukannya ga sanggup bayar, Restaurant ini saja bisa gue beli kalau mau! Cuma bingung aja itu makanan lari kemana?!"sedangkan Alex hanya memesan SOP Iga lengkap dengan nasi serta orange jus.


Valery melengos ke arah berbeda, " Cih! Sombong bener!" 


" Bukannya sombong! Tapi memang kenyataan,Kok!" ujar Alex santai.


" Whatever!" 


Tak berapa lama sang pelayan yang telah mencatat menunduk pamit berlalu.


Setelah dipastikan hanya mereka berdua, Alex membuka suaranya. " Lo tadi ngapain di apartemen Andrew? Mau ketemu Andrew?"


Valery hendak menjawab tapi minuman dirinya dan Alex tiba, pelayan disana memang cukup cepat.


" Terima Kasih" ucap Valery. 


Alex menoleh, " Tumben ada orang dengan latar belakang cukup kaya raya tapi sikapnya ramah? Apakah ini sifat aslinya?" pikiran hatinya.


" Iya, gue mau ketemu Andrew!" sambil menyeruput minumannya sebentar, jus melon memang segar di tenggorokan.


" Buat apa?" tanya Alex kembali menoleh keperempuanan di sebelahnya yang ternyata sangat cantik.


" Haruslah! Karena gue temen Andrew! Jadi gue harus menyortir yang mau menemui Andrew saat ini!" ketus Alex.


" Kenapa?" tanya Valery menatap Alex.


Alex yang ditatap sejenak lingkung, karena posisi mereka sangat dekat, " Dia lagi nggak bisa ditemui! Lagi sakit! E-eh, Pokoknya gue bilang begitu, ya begitu! Ribet banget sih, lo jadi orang! tinggal bilang aja apa susahnya,sih!"


" Oh…Sakit apa Andrew?" tanya Valery penasaran.


" Sakit Hati! Maksud gue, Lo nggak perlu tahu! Jangan muter-muter! Gue tahu maksud Lo, biar gue keceplosan semuanya, kan? No way, Ferguson!" 


" Hahaha…" Valery tertawa renyah, Alex menatapnya " Cantik!" ujarnya pelan.


Valery menoleh, " Lo bilang sesuatu?" 


Alex kembali gugup, " Nggak, tuh! Jadi, apa urusan Lo kali ini cari Andrew? Bukannya Lo udah menghilang setelah..kejadian itu Lo menghilang selama tiga tahun lalu! Terus kenapa sekarang datang lagi? Kok Lo, tau kita balik ke Indonesia?" 


Makanan mereka datang, dan Valery tidak menjawab pertanyaan Alex. Tapi dia malah dengan tenang menyantap makanannya.


Alex yang kesal, menarik piringnya dan berujar. Valery mendelik, mata bulatnya bersinar, tapi malah semakin cantik terlihat. 


" Bilang dulu, Lo mau apa menemuki Andrew?" Alex bersikukuh tetap menarik piring Valery.


Valery menghembuskan nafasnya, " Mau minta maaf! Gue telah berbuat sesuatu yang tidak termaafkan!" 


" Minta maaf untuk?" tanya Alex penasaran.


" Untuk semua yang terjadi empat tahun lalu! Gue tau gue salah! Tapi gue punya alasan melakukannya. Dan gue sudah menerima ganjarannya! Tiga tahun lalu…gue memang sengaja menjebak Andrew dan membawanya ke kamar hotel itu yang gue pastikan Vivianne sengaja melihatnya!  Gue juga tahu jadwalnya dia kapan bekerja dan pulang jam berapa! Dan sengaja membuat dia berpikir bahwa..kami telah…Lo tahulah! Kelanjutannya!" ujar Valery dia menarik nafas sesak di dadanya dan menghembuskan nafasnya perlahan.


" APA?? Siapa yang nyuruh elo? Tidak mungkin kalau Lo nggak disuruh orang! Siapa? Jadi..Lo sama..Andrew…" Alex tidak meneruskannya.


" Maaf kalau itu gue nggak bisa bilang! Tapi, Yap! Kita tidak pernah melakukannya! Gue dibayar untuk menjebaknya! Tapi jujur gue memang suka sama Andrew! Tapi gue sadar kok, dia mencintai cewek itu! Apa mereka masih bersama?" tanya Valery.


Alex menggelengkan kepalanya, " Tidak pernah! Sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu hingga…hingga..kemarin! Andrew melihatnya bersama Papanya! Sepertinya Vivianne calon istri papa nya Andrew!" Alex berkata lirih.


" What?? Jadi Vivianne sama Papahnya Andrew? Om Damian?" Valery terkejut mendengarnya.


" Kok Lo kenal sama On Damian,sih?" Alex mulai curiga, " Siapa sebenarnya Lo itu?" 


" Hehehe..Lo lupa, kalau gue dan Andrew temen masa kecil ketika rumah kami sama-sama tidak jauh dengan Bryan juga! Dimana dia? Kok tidak terlihat bersama kalian? Biasanya kalian selalu bertiga kan?" Valery bertanya.


Alex terlihat sedih, " Sejak itu, Hubungan Andrew dan Bryan memburuk!" 


" APA???" Valery menarik nafas, " Terlalu banyak, yang dirugikan disini…terutama Andrew dan Vivienne!" dengan pelan berujar.


" Maksud Lo?" Alex mulai bingung melihat tingkah Valery.


" Lo akan tahu nanti, tapi gue cuma mau minta tolong! Kalau bisa, tolong dekatkan mereka kembali! Ini semua sebuah kesalahan! Please…" pinta Valery dengan tatapan menghiba dan tulus.


" Rasanya sudah tidak mungkin…" ujar Alex sedikit sedih.


" Semuanya sudah berakhir…" kembali ujar Alex.


" No! Semua belum berakhir…paling tidak kita usaha dulu!" ujar Valery penuh keyakinan.


" Kenapa jadi dia begitu yakin? Apa sebenarnya yang disembunyikannya?" Alex berkata dalam hati.


Akankah sebuah tabir akan terungkap setelah ini? Tidak ada yang pernah tahu. Namun yang pasti semua akan mengubah semuanya. Semuanya…


****