Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 40 Vivianne Pergi



BRAK!!


Viviane dan Tania yang berpelukan sambil menangis  terkejut dan mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu yang terbuka secara paksa.


" Vi? Are you Okay? Aku tadi mendengar keributan di depan pintu kamar kamu. Apakah Itu Andrew? Benar,Dia? Dia tidak menyakiti kamu kan?" Bryan yang panik dan khawatir menelisik ke tubuh Vivianne.


Vivianne hanya menggelengkan kepalanya, dan pelukan mereka terlepas.


" Syukurlah! Alhamdulillah. Aku pikir Andrew kesini meminta maaf atas perbuatan, ternyata dia malah membuat keributan. Tau begini aku tidak akan memberitahukan kamu dimana!"dengan sorot kekesalan Bryan mengepalkan kedua tangannya.


" Tan, maaf bisa kamu keluar sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan dengan Kak Bryan. Hanya sebentar,Kok!" ujar Vivianne tanpa menanggapi keluhan Bryan.


Tania, mendekat dan dengan lirih sedikit pelan berujar, " Vi? Kamu yakin? Tolong kontrol emosi kamu,Vi! Kasihan bayi didalam perut kamu,jika kamu terus seperti ini." 


Vivianne tersenyum menatap sahabatnya dan berkata lirih pula, " I know what I'm doing. Don't worry!" 


" Ok! I'm trust you!" ujarnya kembali sambil memeluknya sekali lagi dan berjalan ke arah pintu.


Bryan sepertinya bingung melihat kepergian Tania dan menatap kearah Vivianne.


" Apa yang mau kamu bicarakan,Vi?" Bryan mendekat ke arah ranjang Vivi.


Vivianne kembali tersenyum, " Kak, mendekat lah."


Bryan kembali mendekat sesuai keinginan Vivianne dan mencondongkan tubuhnya ke arah Vivianne.


" Apa yang mau kamu kata.." 


PLAK!!


Vivianne menampar pipi Bryan. Bryan yang tidak siap terkejut dan menyentuh pipinya dengan salah satu tangannya.


" Apa yang kamu lakukan,Vi?" ujar Bryan dengan suara sedikit keras.


" Apa Kakak bilang? Aku rasa itu pantas Kakak dapatkan! Teganya kamu,Kak! Kakak tahu semua ini bukan? Dan Kakak menyetujuinya? Kakak tidak lebih baik dari Andrew!" Vivianne berhenti kemudian menarik nafas panjang.


"Aku pikir kakak berbeda! Aku pikir, Kakak teman aku! Sahabat aku! Tapi tidak! Kalian sama saja! Kalian anak orang kaya yang hobi mempermainkan gadis miskin dan lugu seperti aku! Apa yang kalian dapatkan dari hasil taruhan ini, hah? Kepuasan?"ujarnya kembali. 


Vivianne mulai sedikit terisak, dia hampir tidak bisa menyelesaikan ucapannya. Namun dengan menatap kearah langit langit dia kembali berujar.


"Kakak lebih kejam daripada Andrew! Setidaknya dia tidak berpura-pura! Dia mengakui semuanya meski itu sakit buatku! Tapi,kakak…Kakak temanku! Tapi kakak pula menutup mata kakak dan ikut dalam taruhan itu? Hah! Betapa menyedihkannya kamu Vivianne! Sangat menyedihkan! Hahaha…" Vivianne menggelengkan kepalanya sambil tertawa penuh kesedihan.


" Vi! Dengarkan dulu, penjelasanku. Bukan seperti itu kejadian yang sebenarnya, Vi!" Bryan hendak menggenggam jemari Vivianne, tapi keburu diangkatnya tangan Vivianne sehingga Bryan kembali menarik tangannya.


Bryan menarik nafas dan menghembuskannya. 


" Aku memang tahu dan salah dalam hal ini. Tapi percayalah,Vi! Dari awal aku menolak tegas Andrew dan Alex menjadikanmu targetnya. Aku bahkan membujuk Andrew untuk melepaskan mu! Dengan memberinya pengertian agar dia dapat memilih yang sesuai kata hatinya. Aku salah! Tadinya kupikir Andrew akan menyerah, dan mengungkapkan perasaannya kepadamu! Tapi ternyata, dia lebih memilih membohongi hatinya. Aku tidak tahu dia akan berbuat sejauh ini.Vi, percayalah, kalau aku tahu Andrew akan seperti ini, sudah sejak lama aku menghentikannya dan tidak memilih mundur!" ujar Bryan dengan tatapan penyesalannya.


" Mundur?" Vivianne bingung atas ucapan Bryan.


" Yah, mundur untuk mendekatimu. Mundur untuk mengejar mu! Mundur agar tidak menjadikanmu kekasihku dan merebut kamu dari Andrew! Apa kamu tidak tahu? Jika aku sangat menyukaimu,Vi! Aku cinta sama kamu,Vi! Tapi aku tahu, hati kamu memilih Andrew dan kupikir Andrew juga mencintai kamu! Jadi aku mundur demi kebahagian kalian! Tapi kenyataannya…aku salah! Aku salah,Vi!" Bryan menggelengkan kepalanya. Tatapannya penuh penyesalan mendalam.


" Kenapa Kakak tidak bilang dari awal? Kenapa kakak tidak bilang mengenai taruhan ini? Kenapa?" ujar Vivianne kembali.


" Karena aku sahabat Andrew,Vi! Bagaimanapun juga dia teman aku! Kamu sudah berteman sejak kecil! Tidak mungkin aku mengkhianatinya!" ujar Bryan sedikit berteriak.


Bryan sedikit kaget, dia mundur beberapa langkah.


Bryan tertunduk. Menatap lantai dibawahnya. Satu air matanya menetes. Dia sepertinya tahu kalau dirinya salah.


" Maafkan Kakak,Vi! Maafkan.." Bryan mulai meneteskan kembali air matanya sambil menatap sedih.


"Sudahlah! Terima kasih untuk pertemanan palsu,Kakak! Aku cukup senang saat itu. Sayangnya semuanya hanya ilusi. Sebuah kebohongan semata! Pergilah,Kak! Aku tidak membutuhkan bantuan Kakak! Aku tidak ingin melihat Andrew,Kakak ataupun Alex! Kalian semua sama saja! Dan terima kasih atas bantuannya. Tapi cukup sampai disini! Aku tidak punya urusan lagi dengan kalian!"ujar Vivi dengan terluka.


" Tapi, Vi? Tolong jangan putuskan pertemanan kita. Kakak tidak mau! Setidaknya biarkan kakak membantumu, berada di sisimu. Mungkin hanya ini yang bisa Kakak lakukan untuk menebus semua kesalahan kakak kepada kamu! Please..tolong kasih kesempatan kakak menebusnya!"ujar Bryan sambil mengambil jemari Vivianne paksa meski Vivianne berontak dan membawanya ke arah dadanya, memohon.


Vivianne yang terus berontak menarik nafas panjang berkali-kali, " Lepaskan,Kak! Jangan buat aku membenci Kakak!"


Bryan yang mendengarnya melepaskan genggamannya.


" Please Vi, kamu bisa maafkan Kakak,bukan?" Bryan terus mencoba, memohon dengan mata yang semakin memerah menahan lajunya air mata.


" Aku tidak tahu! Aku tidak bisa saat ini! Hatiku terlalu sakit! Aku percaya sama Kakak! Tapi kakak mengkhianati aku! Dengan membiarkan ini semua terjadi, artinya sama saja kakak sudah menyakiti aku! Tapi suatu saat aku akan mencobanya! Pergilah,Kak! Biarkan aku sendiri!" ujar Tania enggan menatap kearah Bryan.


" Vi…" 


" Pergi,Kak! Tidak ada lagi yang bisa kita bicarakan. Semuanya sudah berakhir. Pertemanan kita berakhir ketika kakak menyakitiku." ujar Vivi tanpa menoleh.


" Baiklah,Vi! Aku cuma bisa berharap suatu saat kamu bisa memaafkan kesalahanku ini! Jaga diri kamu baik-baik! Karena aku sudah tidak bisa menjagamu! Aku akan mendoakan kamu dari jauh! Sekali lagi maafkan aku,Vi! Semoga kamu akan menemukan kebahagiaan kamu. Aku pamit. Assalamualaikum!" ujar Bryan lesu.


" Waalaikumsalam!" jawab Vivi tanpa menoleh ke arah Bryan.


Tak lama terdengar suara langkah berat seorang melangkah. Berhenti sesaat, dan kembali terdengar suara langkah semakin menjauh.


Dan suara pintu tertutup pun terdengar.


Vivi menangis, menangisi nasib yang menimpanya. Dikhianati kekasihnya, bahkan seseorang yang dia kagumi, seseorang yang dia percaya. Seseorang yang membuatnya nyaman berbicara apapun. Sahabat,kakaknya, Bryan.


" Kenapa tega, kakak membohongi aku? Kak! Hik Hik…salah aku apa sama kalian? Karena aku cuma gadis miskin? Gadis polos? Sehingga dengan mudahnya kalian mempermainkan perasaanku? Apakah aku sedemikian rendah dan tidak berharga Dimata kalian? Ya Allah…kenapa? Kenapa harus aku yang harus menerima semua ini? Tidak kasihan kah dengan diriku yang hanya anak Yatim Piatu ini, Ya Allah?" Vivi menangis semakin kencang badannya bergetar sangat hebat.


Tania masuk dan melihat temannya yang menangis sesenggukan dan menghampirinya sambil mengelus punggungnya.


" Vi? Everything gonna be Ok! Kamu masih punya aku,Vi! Menangislah kalau itu membuatmu tenang!" ujar Tania yang ikutan sedih.


" Mereka semua jahat,Tan! Mereka jahat! Tidak Andrew,Bryan,Alex! Semuanya jahat sama aku! Aku kecewa Tan! Aku tidak mau disini,Tan! Aku mau pulang! Aku mau pulang!" ujar Vivianne yang mulai mencabut selang infusnya dan meringis sejenak dan mulai turun ke bawah tempat tidurnya.


" Vi, tapi kamu masih lemah,Vi! Kamu masih sakit!" ujar Tania panik dan memeluk bahu temannya yang hampir sedikit goyah.


" Aku tidak sakit,Tan! Tubuhku tidak sakit! Hatiku yang sakit! Kalau kamu tidak mau mengantarku! Biar aku pulang sendiri!" ujar Vivianne mulai tak sabaran.


" Ok! Kita akan pulang! Pulang ke kosan aku atau kamu?" Tania menyerah dia memakaikan Vivianne jaketnya dan membereskan perlengkapannya. Sepertinya mereka harus pulang dengan diam-diam kali ini.


Vivianne menggelengkan kepalanya. " Aku mau pulang ke panti asuhan,Tan! Aku kangen Bunda!"


"What?"


****