Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 46 Penjelasan Vivianne



Mobil yang ditumpangi Anne melaju dengan kecepatan sedang, dan sepanjang perjalanan Anne hanya bisa terdiam menunduk malu. Malu akan tingkah kekasihnya yang gegabah itu.


Semenjak mereka makin dekat dan setelah akhirnya Vivianne menyerah menerima ungkapan sayang dan cinta Damian, terlihat jelas banyak perubahan di raut wajahnya. Damian jadi lebih sering tersenyum, bahkan terkadang tertawa. Dan buntutnya Damian jadi lebih bucin terhadap dirinya. Damian sering sekali mengirimkan ia bunga dan berbagai hadiah lainnya. Atau mengumbar kemesraan seperti layaknya ABG yang sedang kasmaran. 


Vivianne tidak jarang jengah karena tingkahnya. Vivianne sering memperingatinya karena tidak ingin banyaknya gossip yang semakin kian merebak di perusahaan tersebut. Tapi, lagi-lagi Damian tidak peduli. Dia bahkan pernah memberikan peringatan kepada karyawannya yang ketahuan bergosip di belakangnya. Dan Damian memang memiliki kekuasaan itu. Dan dia sangat keras kepala, akhirnya Vivianne tidak jarang mengancamnya jika terus melakukannya barulah Damian akan berhenti.


Vivianne menghembuskan nafas panjang, mengingat kejadian tadi.


" Sepertinya hubungan kalian sangat dekat,yah? Bunda baru tahu…" sang Bunda berujar pelan tapi tetap terasa ada sedikit kekecewaan didalamnya.


" Hmm..sebenarnya kamu baru dekat beberapa bulan ini,Bunda…dan alasan Anne belum pernah memberitahukannya adalah…karena menurut Anne terlalu dini, memperkenalkan Mas Damian kepada Bunda.Maaf ya, Bunda, bukan maksud Anne menyembunyikan hubungan kami. Tapi, Anne ingin berjalan apa adanya saja dulu,Bun. Anne tidak ingin terburu-buru. Anne ingin Bunda kenalan dulu dengan Mas Damian. Dan mengenai lamaran atau tunangan itu..sebenarnya…Mas Damian yang baru mengajukan lamaran ke Anne tapi, Anne belum menjawabnya sih Bunda sebenarnya, karena ingin bicara sama Bunda terlebih dahulu. Tapi, ya begitulah, Mas Damian dia suka keceplosan. Dia juga tadi tidak enak, Bun. Dan mau bicara mengenai hal ini dan meminta maaf sama Bunda. Tapi Anne larang. Anne mau Bunda dengar dulu dari Anne." Anne menghembuskan nafasnya. Penjelasan panjangnya cukup melelahkan.


Vivianne melirik ke arah sang Bunda, tapi raut wajah Bunda tidak terbaca. Akhirnya Vivianne memilih diam kembali. Hingga akhirnya sang Bunda bicara.


" Kita bicarakan lagi nanti di rumah kamu,Nak! Bunda mau dengar seluruh ceritanya. Jangan ada yang kamu tutup-tutupi. Baru Bunda kan memberikan tanggapan Bunda." ujar Bunda tenang.


" Baik,Bunda" hanya kalimat ini yang bisa diucapkan oleh Vivianne. Jika Bunda sudah berbicara seperti itu tandanya pembicaraan mereka telah selesai. Dan tidak ada pembicaraan lebih lanjut lagi.


Namun hal ini justru membuat hatinya tidak tenang, dia tidak tahu apa yang dipikirkan Bundanya saat ini. Apakah bisa menerimanya atau tidak. Sungguh sebuah misteri.


Sekali lagi Vivianne menghembuskan nafasnya, berusaha mengurangi ketenangan diantara mereka. 


Dan mobil pun berjalan terasa sangat lama buat Vivianne, karena sepanjang perjalanan setelah percakapan mereka hanyalah kebisuan yang ada dan keheningan. 


Setelah menempuh perjalanan cukup lama akhirnya mereka sampai di kawasan Senayan tempat Apartemen Vivianne berada.Apartemen ini sebenarnya merupakan salah satu pemberian Damian untuknya. Damian tidak tega melihat sang kekasih tinggal indekost. Padahal indekos Vivianne di Jakarta sudah terbilang bagus. Dibandingkan indekos dia di Yogya jauh lebih bagus malah. Tapi, Damian tetaplah Damian, sang pemaksa. Damian kekeh memberikannya dan meminta Vivianne pindah dengan alasan keamanan dan lebih mudah ke kantor mereka di bilangan Sudirman. Tapi Vivianne tetap tidak ingin menerimanya dia tetep kekeh untuk mencicil dari sebagian gaji nya walau Damian keberatan sebelumnya akhirnya diterima dengan potongan sangat besar. Win-win solution, bukan? 


Jadi disinilah mereka, Vivianne membangunkan Maya dan menggendong Avan, dan mempersilahkan mereka masuk setelah membuka pintu apartemennya.


" Silahkan Bunda, Maya, masuk! Kebetulan apartemen ini ada dua kamar, dan dua kamar mandi. Satu kamar mandi dikamar Anne, dan satu kamar mandi dibelakang. Jadi Maya bisa pilih tidur di kamar itu atau tidur bareng sama Bunda dan Mbak,ya?" tanya Vivianne.


" Aku tidur sendiri saja dengan Avan, Mbak, Bun. Aku masuk duluan ya, Mbak? Mau istirahat dulu sebentar. Lelah dan mengantuk sekali Mbak aku" ujar Maya sambil menguap.


" Baiklah.Nanti Mbak bangunkan kalau makanannya sudah datang, yah?" ujar Vivianne.


" Iya,Mbak. Mbak jangan lupa pizza ya? Maya kepingin makan pizza, Mbak, boleh?" tanya Maya.


" Hmm..boleh, dong. Kalau Bunda, mau apa?" tanya Vivianne.


" Bunda apa saja,Nak! Kamu kan tahu selera Bunda. Kenapa kamu tidak masak,sih,Nak? Kan boros kalau harus jajan diluar." ujar sang Bunda.


" Tidak sering kok, Bunda kebetulan kan Bunda datang, biasanya Anne suka masak kok,Bunda. Kita masak bareng selama Bunda disini,ya? Nanti kita beli kebutuhan ke supermarket,yah? Kebetulan kebutuhan Anne di kulkas juga sudah mulai menipis." ujar Vivianne lembut sambil mengambil jemari tua Bundanya itu.


" Baiklah. Bunda masuk ke kamar duluan, yah? bunda mau bersih-bersih,dahulu. Oh ya, kamu terus saja dulu Avan dikamar bersama Maya,yah?" ucap Bunda.


Vivianne kearah kamar mengikuti langkah Maya dan menaruh Avan yang berada di gendongannya dan perlahan-lahan menaruhnya di tempat tidur yang cukup besar. Dan mengecup keningnya perlahan, sebelum beranjak pergi.


" Tolong jagain Avan,ya May. Mbak keluar dulu, mau pesan makanan dan membantu Bunda dikamar. Kamu taruh saja pakaian kamu di lemari itu dan pakaian Avan juga,yah?" ujar Vivianne kembali.


" Iya,Mbak. Tenang saja, anak Mbak, aman bersamaku. Ups! Maaf aku keceplosan,Mbak." Maya tertunduk merasa bersalah.


Vivianne menepuk bahunya, " Tidak apa-apa,May! Hanya kita berdua disini dan Bunda, tapi Mbak mohon tahan mulut kamu untuk tidak mengatakannya selain di hadapan Mbak dan Bunda yah? Paham,kan? Mbak hanya tidak ingin orang lain banyak yang tahu mengenai rahasia ini. Terutama bisa saja orang dimasa lalu Mbak tahu dan merebut Avan dari Mbak! Mbak tidak mau itu terjadi, May! Mbak bisa mati jika harus kehilangan Avan!" Vivianne menahan kesedihan sambil menatap sang buah hati.


Maya bergerak memeluk Vivianne, " Maya tahu, Mbak. Maafkan Maya,yah? Maya akan lebih berhati-hati lagi lain kali." ujar Maya memeluk sangat erat Mbaknya itu.


" Sudah, Mbak tinggal biar kamu bisa beristirahat yah? Nyalakan saja AC nya yah? Jika kamu kegerahan." ujar Vivianne.


Vivianne beranjak ke arah meja makan dan memesan makan dengan online.


Dia pun beranjak ke kamarnya, untuk mengecek keadaan Bunda. Dia mendorong pintu yang tidak terkunci itu. Tapi ternyata Bundanya tidak ada, " Ah mungkin Bunda di kamar Mandi!" Pikirnya.


Dia pun memainkan ponselnya dan sekedar memberikan kabar bahwa dirinya telah sampai di apartemen. Jika tidak maka dia akan direpotkan sendiri oleh banyaknya pesan yang akan masuk oleh kekasihnya tersebut.


" Mas, Aku sudah sampai di apartemen yah, dan lagi pesan makanan."


Send.


Vivianne pun mengirimkan pesannya. Tak berapa lama pesan pun centang biru tanda telah dibaca. Vivianne hendak menaruhnya di atas meja nakas dikamarnya. Namun tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dengan tersenyum dia menerimanya.


" Assalamualaikum,Mas." ujar Vivianne sambil pergi keluar kamar akan tidak mengganggu istirahat sang Bunda.


(" Waalaikumsalam, Dear. Kamu sudah sampai? Sudah makan?"). 


Suara Damian terdengar  seperti di ruangan dengan banyak orang, entahlah Vivianne tidak tahu. Karena terdengar seperti cukup ramai.


Diliriknya jam tangan di pergelangan tangan kirinya, " Bukankah, dia masih meeting,ya?" 


" Mas, kan tadi Anne sudah bilang, baru pesan makan,Mas. Mungkin masih dalam perjalanan makanannya. Mas bukannya sedang meeting, yah? Kok, malah telponan sih?" ujar Vivianne sambil menatap jendela dekat ruang makannya.


(" Hehehe…Iya,Honey. Kangen!" )


Vivianne menghembuskan nafasnya kesal. Damian selalu seperti ini. 


" Lha, tadi kan sudah ketemu,Mas! Baru beberapa jam kita berpisah,loh!" ujar Vivian mulai jengah.


(" Iya, mana Mas tau. Bawaannya tidak melihat kamu selalu kangen!")


Lagi-lagi Vivianne menghembuskan nafasnya. Damian kalau sudah begini manjanya pasti keluar. Kadang Vivianne suka bertanya sendiri, sepertinya yang lebih muda itu bukan dirinya tapi Damian. Karena tingkahnya mirip remaja saja. Padahal sudah hampir kepala lima,bukan?


" Mas…! Aku cuma cuti sehari loh, bagaimana jika aku cutinya lama, coba? Dan itu tolong kondisikan yah, sedang meeting juga,kan?" ujar Vivianne menahan kekesalannya.


("Yah, makanya kamunya cutinya jangan lama-lama,dong! Lagian kalau kamu cuti lama juga tidak akan Mas setujui, loh! Kamu jangan kuatir, yah? Tadi Mas keluar sebentar mau telpon kamu. Kangen denger suara kamu!")


" Gombal! Sudah kembali kesana lanjutkan meeting nya! Itu yang nungguin kasihan loh,sayang…!" Akhirnya Vivianne mengeluarkan jurus andalannya.


("Hah? Kamu bilang apa? Coba ulangi sekali lagi?")


" Nggak mau! Sudah ah, Anne tutup yah, Mas! Assalamualaikum!" ujar Vivianne tanpa mengindahkan panggilan sang kekasih dan menutup teleponnya dan mematikannya sebentar.


" Aman..kalau sudah begini!" ujarnya setelah melakukannya.


" Apanya yang Aman?" tanya seseorang.


Vivianne terkejut dan berbalik menatap seseorang dibelakangnya.


****