Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 24 Kejutan Manis untuk Vivianne



Dengan berbekal pencarian via internet Andrew mulai melancarkan aksinya. Dia mencari berbagai keperluan yang dibutuhkannya, mulai dari bunga mawar, karena katanya setiap perempuan pasti menyukai bunga, terutama bunga mawar merah yang katanya melambangkan cinta. 


Dia juga membeli keperluan lainnya seperti lilin, kartu-kartu, bahkan dia tidak lupa membeli beberapa hadiah kecil buat Vivianne. Baru kali ini dia bersusah payah demi seorang gadis. Dan gadis itu adalah Vivianne. Dan herannya lagi, padahal hari itu adalah hari ulang tahunnya. Yang seharusnya diberikan surprise tapi malah dia yang akan memberikan surprise!. Mungkin dia menjadi satu satunya pria yang memberikan surprise untuk orang lain dihari ulang tahunnya! Andrew tidak peduli, buatnya yang terpenting Vivi tidak marah dan bisa memaafkannya.


Andrew sudah menyiapkan semuanya termasuk candle light dinner di sebuah meja dan dua buah kursi makan yang disulapnya menjadi sangat romantis. Andrew tersenyum, dia sudah merencanakan semuanya, termasuk untuk melarang sahabatnya datang yang mau merayakan ulang tahunnya ke apartemen dengan alasan dia ingin beristirahat lebih cepat.


Dengan menghapus peluh di keningnya dia membuat sebuah kartu dan menyelipkannya di bawah daun pintu kamar Vivianne. Dia yakin cepat atau lambat Vivianne pasti akan keluar kamar. Dan dengan perlahan diketuknya kamar Vivianne.


Tok!


Tok!


Dan tanpa menunggu jawaban dari Vivianne Andrew meninggalkan kamar Vivianne. Menjauh  sesuai rencananya.


Sementara itu, Vivianne yang berada di dalam kamar sedang bersiap-siap pergi berangkat kerja, di sebuah hotel berbintang sebagai tukang bersih-bersih dan juga bantu-bantu di restaurant tempat hotel tersebut.


Vivianne mendengar ketukan di luar kamarnya tapi dia malas untuk membukanya. Dia tahu itu Andrew, dan dia sedang tidak ingin bertemu dengannya. Ketika ketukan tak terdengar dan langkah yang makin menjauh, Vivianne baru beranjak menuju kearah pintu.


Namun langkahnya terhenti ketika dia menginjak sesuatu, dia menunduk mengambil sesuatu di kakinya. " Sebuah kartu?"


Perlahan dibukanya kartu tersebut, cukup singkat namun membuatnya mengerutkan dahinya, "Please find Me!"


Dengan rasa penasaran, Vivianne bermaksud menanyakan langsung kepada Andrew, "Apa maksudnya? Menemukan dia? Memang Andrew kemana?Bukankah dia baru saja mengetuk pintu kamarnya? Apa dia pergi,ya?"


Namun dia akhirnya membuka pintu kamarnya setelah sebelumnya sempat berpikir sejenak. 


Ketika membuka pintu perlahan dia terkejut, ruangan sangat gelap. Dan yang membuatnya lebih terkejut adalah, disepanjang dari pintu kamarnya bertaburan bunga mawar di sisi kiri dan kanannya dan diantaranya ada beberapa lilin besar yang menerangi jalan dari kamarnya, Vivi masih menutup mulutnya, namun dia mengikuti jalan sepanjang mawar merah dibantu penerangan lilin. Baru beberapa langkah, dia kembali menemukan sebuah kartu. Diambil dan dibukanya, " I know…" dahi Vivianne mengerut penuh tanda tanya. Namun kembali Vivianne melangkah. Dia menemukan kembali sebuah kartu. Dibukanya kartu tersebut yang bertulisan, " That I Am…" dengan penasaran Vivianne melanjutkan langkahnya. Kartu berikutnya yang dia temukan kembali memiliki tulisan singkat, "Stupid!"


Vivianne mulai berpikir, " I know that I am stupid?" lirih Vivianne.


Vivianne kembali melangkah dan kembali menemukan kartu kembali dibuka dan dibacanya, "So, please…". Vivianne melangkah kembali ternyata sepertinya rangkaian bunga dan lilin mengarah ke arah kolam renang di apartemen tersebut. Akhirnya kartu kelima ditemukannya. Dibuka dan bertulisan " Forgive me.…"  Jika dirangkum semuanya menjadi sebuah kalimat yang cukup indah, " I know that I'm stupid.So, Please Forgive Me!" 


Vivianne tidak bisa berkata-kata, dia terharu saat ini, dan di ujung terdapat sebuah tulisan di samping kolam renang di dekat sebuah tembok bertuliskan, "Sorry". Tapi dia tak menemukan keberadaan Andrew namun dia menemukan kotak cukup besar diatasnya terdapat sebuah tulisan cukup besar, " Open Me". 


Vivianne tersenyum, mungkin Andrew pergi namun dia meninggalkan ini semua untuk dirinya. Dibukanya sebuah kado sangat besar dengan ditariknya pita tersebut. Tiba-tiba kado tersebut terbuka dan..


" Surprise!" 


Muncullah Andrew dari dalam jadi besar tersebut, Vivianne hampir terjungkal ke belakang saking kagetnya.


Andrew muncul dengan membawa sebuah cake bertulisan " Sorry" dan lilin yang menyala. Vivi melonggo beberapa saat.


Andrew menarik nafas dan membuangnya perlahan, "Apakah kamu masih lama terdiam seperti itu? Apakah kamu tidak mau membantuku, membawa kue ini?Hmm, kakiku sepertinya tidak cukup kuat untuk berdiri terlalu lama, terlebih tadi aku sedikit berjongkok di dalam kotak ini, Cukup melelahkan loh..Setidaknya jika kamu belum bisa memaafkan aku, kalau kamu tidak keberatan.. boleh aku duduk terlebih dahulu?"


Vivi mengerjapkan matanya. Matanya mulai berkaca kaca sekarang. Air matanya hendak tumpah. Diambilnya kue yang di genggaman Andrew menaruhnya di sebuah meja yang tak jauh dari sana. Yang disulap menjadi ruang makan dadakan dengan dua buah kursi dan lilin dan dua piring makanan. Ada sebuah bouquet bunga juga disana dan sekotak kecil yang dia tidak tahu apa.


 Vivianne menoleh ke arah Andrew. Tanpa berkata dia seakan bertanya, "This is for me?"


Andrew berujar, " Yes, for you!" 


Vivianne berlari kearah Andrew dan memeluknya dengan erat, " Thank You!" dan mulai menangis haru.


Mereka berpelukan cukup lama, hingga Andrew berujar secara perlahan. " Maafkan aku, aku rasa..aku terlalu cemburu, aku cemburu melihat kedekatan dirimu dan Bryan, membuatku tidak bisa berpikir jernih! Maaf sudah menyakiti hatimu! Maaf juga sudah berkata kasar kepadamu, maaf sudah membuat kue yang kau bawa rusak! Maaf sudah memakinya tadi..dan maaf.." Andrew hendak berujar kembali tapi, Vivi menghentikannya.


" Stop! Enough,Drew! Bisakah kita makan? Sepertinya makanan disana menggugah selera! Aku sangat lapar!"'ujar Vivianne.


Vivianne malah berjalan cuek dan duduk di sebuah meja yang disulap menjadi candle light dinner mereka. Vivienne pun menarik kursinya.


" Hmm, tergantung!" ujar Vivi santai.


" Hah? Tergantung? Tergantung apa? Please Vi, maafin aku! Aku sampai pusing ini membuat semua ini buat kamu! Bahkan aku sampai mencari di internet mengenai hal ini. Seumur hidup, aku baru pertama kali ini melakukannya!" ujar Andrew berjalan perlahan dengan kruk nya itu.


Vivi menoleh dengan santai, " Benarkah?" 


Andrew makin mendekat, dan akhirnya menarik kursi dihadapan Vivi. " Benar! Bahkan konsepnya aku sendiri yang memikirkan. Kepalaku mau pecah ini!"


" Baru mau,kan? Tapi belum,kan?" ujar Vivi santai.


" Maksud kamu? Kamu senang,ya, melihat aku menderita? Dihantui rasa bersalah itu beneran tidak enak! So,Please Vi, Forgive me! Aku janji tidak akan melakukannya lagi! I'm promise!" ujar Andrew sambil menunjukan kedua jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V.


" Really?" ucap Vivi dengan menatap Andrew.


Andrew mengangguk pasti.  " Iya!" 


Vivianne tersenyum, Andrew kini yang terbengong menatap senyum manis Vivianne.


Hingga suara lembut itu kembali melenyapkan lamunannya. " Ok! Kalau begitu makan yuk? Aku sudah sangat lapar!"


" Jadi, kamu beneran maafin aku?" tanya Andrew memastikan.


" Iya!" Vivianne hanya menjawab singkat.


" Thanks God!" Kemudian berhenti ngambil jemari Vivianne dan menciumnya dengan lembut dan Andrew kembali tegak sambil menyerahkan bunga dan sebuah kado untuk Vivi. " Buat kamu! Semoga kamu suka!" ujar Andrew.


" Buat aku? Kan kamu yang ulang tahun,Drew! Seharusnya aku yang kasih kamu kado! Bukannya kamu! Maaf,ya? Aku malah tidak punya sesuatu buat kamu…" Vivianne menunduk sedih.


" Hey! Aku tidak meminta kado apapun,kok! Buat aku kamu ada disisi aku membantu aku yang sedang sakit dan memaafkan aku, itu lebih dari kado buat aku!" ujar Andrew sambil kembali memeluk Vivianne. Vivianne terharu tanpa bisa berkata kata, namun air matanya kembali tumpah. Hari ini dia mudah sekali menumpahkannya. Tadi sore menangis karena sedih, sekarang menangis karena haru.


" Aku pasangin yah?" Andrew membuka kotak dan menunjukkan ke sebuah kalung emas putih dengan bandul berbentuk love.


Andrew memasangkan di leher jenjang Vivianne. Vivianne menatap takjub " Bagus."


" Cantik!"'jawab Andrew.


" Hah?" Vivianne bingung.


" Aku bilang kamu cantik!"


" Oh, makasih." Vivi tertunduk malu.


Andrew tersenyum, Vivi sangat menggemaskan jika sedang malu seperti ini. Tak kuasa menahan hasratnya, Andrew mendekat kearah Vivianne mendongakkan wajahnya dan mulai menciumnya.


Waktu tiba-tiba terasa terhenti, mereka larut dalam kebahagiaan dan kelegaan. Kaki ini ciuman mereka terkesan lembut dan memabukkan.


Hingga..akhirnya…


" Drew! Kok apartemen lo, mati lampu,sih?"


*****