
Tania menutup mulutnya dan kemudian menatap kearah Vivianne. Vivianne tidak kalah terkejut melihat kedatangan pria didepan mereka.
Pria tersebut terlihat sedikit berantakan, rambutnya dan wajahnya terlihat sangat suram. Pria tersebut berjalan perlahan memasuki ruangan tersebut. Vianne membuang mukanya ke arah berbeda seperti enggan menatapnya.
" Ma-maaf pintunya tadi terkunci, jadi aku masuk! Bagaimana keadaan kamu, Vi?" ujarnya perlahan.
Vivi berbalik, menatap pria tersebut dengan emosi yang memuncak, matanya kembali memerah.
"Heh! Seperti yang kamu lihat. Sayang sekali aku masih hidup,bukan? Aku paling tidak belum meninggal! Maaf mengecewakanmu! Tapi aku baik-baik saja!" dengan sinis Vivianne berujar.
Pria tersebut menghembuskan nafas beratnya.
" Tidak ada yang menginginkan kamu meninggal,Vi! A-aku kesini mau melihat keadaan kamu. Syukur Alhamdulillah kamu baik-baik saja. Apakah kamu terluka? I-itu kepalamu…" ujar pria itu kembali.
" Enough,Drew! Stop pura-pura! Stop seakan kamu peduli! Kenyataannya tidak! Aku tidaklah bodoh,Drew! Mungkin kemarin iya, tapi sekarang, tidak! Aku tidak butuh belas kasihan dari kamu! Dan silahkan tinggalkan ruangan ini! Aku butuh istirahat!" ujar Vivi dan kembali berbaring ditempat tidur sambil menutup matanya.
Ternyata pria tersebut Andrew. Vivi tidak menyangka Andrew akan datang sekedar melihat keadaannya.
" Apakah dia masih peduli? Tidak! Jangan bodoh Vi, dia hanya ingin melihat bahwa aku masih hidup! Mungkin agar dia lega! Paling tidak dia tidak akan bermasalah kalau aku masih hidup! Yah, itu hanya itu alasannya." Vivi berpikir di dalam benaknya.
Begitu banyak yang dipikirkannya saat ini. Tapi hatinya sudah terluka terlanjur sakit hati terhadap perbuatan Andrew. Dia tidak bisa memaafkannya. Tidak akan pernah! Dan dia tidak boleh tahu mengenai kehamilannya! Apapun keputusan Vivi nantinya, Andrew tidak akan pernah tahu.
Andrew kembali mendekat perlahan, matanya memerah entah kenapa dan wajahnya seperti terluka. Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan oleh pria itu.
" Vi..ak-aku…" Andrew terbata.
" Pergilah, Drew! Aku tidak ingin melihatmu kembali! Jika kamu tanpa sengaja melihatku, menghindar lah!" ujar Vivi tanpa menoleh dan membuka matanya.
" Aku hanya ingin minta maaf,Vi! A-aku…salah! A-aku menyesal…sangat menyesal! A-aku, aku rasa aku kecewa…kamu…kenapa berubah menjadi kasar…dan kamu…melukai Valery? Untuk apa? Aku yang salah! Bukan Dia! Dan…a-aku cemburu..melihat kamu berdekatan dengan Bryan! Kenapa harus dia,Vi! Kenapa? Apakah dia lebih baik dibandingkan aku? Aku akui aku memang salah, aku salah awalnya…aku memang mendekatimu demi sebuah taruhan! Bryan dan Alex tahu kok, mengenai hal ini! Taruhannya, teramat besar Vi! Mobil, dan mo-motor.." ujar Andrew dia mulai meracau tidak karuan.
" Hahahah….Demi sebuah motor,mobil? Wah, wah…seharusnya aku sudah kaya bukan? Apa aku harus merasa bangga, sekarang? Karena taruhan kalian yang besar? Kalian pikir aku apa? Sampah?! Hah? Sehingga seenaknya buat kalian taruhan? Hah? Kalian memang keterlaluan! Aku masih punya hati! Dan itu tidak akan sanggup kalian beli! Dan mengenai Valery, sebegitu rendahnya kah, kepercayaanmu kepadaku,Drew? Iya? Hanya karena sebuah Video editan? Kamu tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya! Kamu pikir pakai otak kamu yang pintar itu, kenapa aku bertemu dengannya? Apa aku mengenalnya? Tidak! Lantas dari mana aku bertemu dengannya? Kamu tahu itu kejadiannya di Kosan aku!" ujar Vivianne kembali meledak-ledak. Menatap dengan hati terluka kearah Andrew tapi dia tahan, dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan pria yang sudah menyakitkan nya. Paling tidak ini perjuangan terakhirnya.
Andrew terkejut mendapati ungkapan dari Vivianne.
" Kenapa? Terkejut? Lihatlah kembali video itu dimana! Kamu akan tahu itu di kosan aku! Jadi kamu pikir, apa aku sebodoh itu membawa seseorang ke kosan aku hanya untuk aku aniaya? Hah? Bodoh! Setidaknya jika aku ingin memberi pelajaran kepadanya,tidak juga di kosan aku! Dimana semua orang disana mengenalku! Aku bisa bawa dia ke gudang,kek! Atau dimana lah! Yang jelas aku bisa terhindar dari orang-orang yang akan mengabadikannya! Dan jika aku mau, aku bisa membuatnya lebih parah! Karena aku pemegang Ban Hitam taekwondo,bukan? Membuatnya hancur dihadapanku lebih dari kecil,buat aku!" ujar Vivi penuh amarah tak disangka dia malah dituding oleh kekasihnya sendiri, mantan kekasih tepatnya.
" Ta-tapi kenapa di-dia datang? Tidak mungkin, Vi! Valery tidak kenal dirimu! Untuk apa dia datang?" tanya Andrew kembali.
" Hah? Aku muak sebenarnya dengan semua ini! Kamu yang selingkuh! Kenapa aku yang kamu tuduh,hah? Kamu yang mempermainkan ku,kenapa sekarang kamu seakan yang menuduh aku mempermainkan mu? Apa kamu sudah gila? Keluarlah,Drew! KELUAR!" ujar Vivianne dengan marah matanya mulai berkaca-kaca. "Sebegitu rendahnya kah aku Dimata kamu,Drew? Sehingga sedikitpun kamu tidak mempercayaiku?" Lirih batin Vivianne.
" Bilang padaku, apa maunya dia menemui mu,Vi? Ma-malam..itu…a-aku mabuk! Aku pusing memikirkan tentang hubungan kita dan aku bertemu Valery, dia teman kecilku. Dia, dia hanya menolongku, kami tidak…" Andrew mencoba memberi penjelasan sambil mencoba memegang tangan Vivianne.
" LET GO! DON'T TOUCH ME WITH YOUR DIRTY HAND!! AND GET OUT! GET OUT!" Vivianne berteriak-teriak tidak karuan.
(Lepaskan! Jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu! Keluar! Keluar!")
Tania yang melihat Vivianne mulai histeris menatap marah ke arah Andrew.
" Keluarlah! Sudah cukup! Jangan sakiti Vivianne lagi!" ujar Tania mencoba mendorong tubuh besar Andrew.
" Hey! Kamu siapa yang mencoba mengusir-usir aku? Dan jangan sentuh aku! Aku hanya ingin tanya, apa yang dibilang Valery? Setelah itu, aku akan pergi! Aku tidak ingin mengganggu, aku hanya butuh jawaban dan Vivianne harus tahu yang sebenarnya bahwa tidak.." Andrew mencoba kembali mendekati Vivianne, sehingga membuat Tania terjungkal dan terjatuh.
Andrew kembali mendekati Vivianne mencoba bertanya kembali, " Apa yang dia bilang,Vi? Tolong kasih tahu aku, ini penting! Tolong!"
Vivi makin histeris dia terguncang bahkan tubuhnya bergetar dengan hebat dan air mata mulai keluar tak tertahankan.
Tak berapa lama Tania datang dengan Dokter dan Satpam bersamanya.
" Maaf,Mas! Silahkan Masnya pergi dari sini! Jangan membuat keributan dirumah sakit ini! Pasien baru saja habis ditangani! Pasien tidak boleh stress atau terluka kembali! Tolong…tolong!" ujar seorang Dokter yang menangani Vivianne.
" Dok! Biarkan saya bicara sebentar dengan kekasih saya, sebentar,saja. Saya tidak ingin mengganggu! Please?" Andrew memohon.
Terdengar kembali suara Vivianne yang kini sudah dipeluk oleh Tania.
" Bawa dia pergi dari sini,Dok! Bawa pergi! Dan saya bukanlah kekasih,Dia! Tolong bawa, Dia pergi! Saya tidak ingin bertemu dengan Dia kembali! Apapun alasannya!" Vivi berujar sambil menatap nanar ke arah Andrew.
" Mas? Mas dengar sendiri bukan? Pasien tidak ingin bertemu dengan Mas. Tolong hargai keputusan pasien. Pasien saat ini sedang tidak baik-baik saja! Dan tolong ini rumah sakit! Pak! Tolong bawa anak muda ini keluar dari ruangan ini!" ujar Dokter tersebut.
" Siap,Dok! Ayo!" ujar salah seorang Satpam yang merupakan penjaga keamanan Rumah Sakit itu.
" Jangan pegang-pegang! Saya bisa jalan sendiri!" ujar Andrew marah.
" Vi! Aku akan cari tahu, kebenarannya. Tenanglah! Aku akan selesaikan semuanya!" usai berkata demikian Andrew hendak keluar ke arah pintu kamar rawat inap itu.
" Tunggu!" ujar suara Vivi dari tempat tidurnya.
" Vi?" Tania menatap Vivianne dengan kuatir.
" Tenanglah, Tan! Aku baik-baik saja!" ujar Vivianne.
Andrew berbalik dan menatap Vivianne dengan kelegaan di wajahnya.
" Aku sudah tidak peduli lagi, apa yang kamu mau lakukan! Jadi menjauh dariku dan bawa serta tunangan kamu itu bersamamu! Jangan pernah datangi aku lagi!" ujar Vivianne dengan tatapan penuh luka namun berusaha tetap tegar.
Andrew membeku di tempatnya. Dan Vivi kembali berbaring dan membalikkan tubuhnya memunggungi Andrew.
" Bawa dia pergi,Pak!" ujar Vivianne yang masih memunggungi Andrew.
" Vi? Ma-maksud kamu tunangan apa? Jelaskan Vi! Jelaskan!" Andrew mulai berteriak.
Vivianne menutup kedua kupingnya tanda tidak peduli.
" VI! JELASKAN!" teriakan Andrew makin kencang.
Pak Satpam akhirnya menyeret tangan Andrew untuk keluar, tapi Andrew terlalu kuat dia meronta. Ketika berhasil dia hendak ke arah Vivi tapi kembali ditangkap oleh Satpam tersebut dan beberapa Dokter pria yang juga menyeretnya. Dan kemudian datanglah dua orang Satpam kembali untuk menyeret Andrew dan mengangkatnya keluar karena Andrew enggan untuk keluar dia masih kekeh berteriak.
" Lepaskan aku! Vi! Apa maksudnya,Vi! Jelaskan! Vi!! VIVI…..!!!"
Hingga akhirnya suaranya menghilang di balik pintu.
Vivianne dan Tania saling berpelukan dan sambil menangis kembali, mereka terisak bersama hingga ketika pintu kamar kembali terbuka dengan kasar.
BRAK!!
****