Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 44 Ketegangan Terjadi



Vivianne menggandeng sang Bunda dengan tangannya sebelah yang bebas, dan mulai berjalan. Terlihat wajah sang bunda yang masih dengan raut kebingungan. Seperti banyak pertanyaan yang ingin dilontarkannya kepada Vivianne namun ditahannya melihat kondisinya tidak memungkinkan.


Melihat Vivianne yang kepayahan, Damian menghadangnya didepan dan membuat Vivianne menghentikan langkahnya. 


Damian tersenyum dan berujar, " Hi,Boy. Mau ikut sama uncle? Auntie sepertinya kesusahan deh, gendong kamu yang cabi ini! Mau?" sambil mencubit dengan gemas pipi Avan.Entah mengapa baru bertemu dengannya Damian sudah sangat menyukainya. Mungkin karena dia sudah lama tidak melihat anak kecil disisinya.


" Eh, Mas. Jangan! Tidak usah, Anne kuat kok! Lagi pula cuma sampai mobil kok,Mas." ujar Vivianne yang sedikit menolak.


" Sudah tidak apa-apa! Lagian kasihan kamunya, pasti berat gendong adikmu itu! Sini,biar Mas saja. Jadi kamu bisa temani Bunda kamu. Sudah, jangan menolak!" ujar Damian tidak ingin dibantah.


Vivianne sempat tersenyum miris setiap kali orang menyebutnya sebagai Auntie untuk anaknya sendiri, disaat itulah hatinya selalu merasa tidak nyaman. Hatinya bagaikan teriris sebilah pisau yang tajam. Tapi luka itu enggan dia tunjukkan.


Vivianne merubah wajahnya dan tersenyum, " Ya sudah, terima kasih,ya Mas!" 


" Iya, sama-sama, Dear." Damian mengambil alih Avan dari gendongan Vivianne dan menggendongnya. Tangannya tidak kagok sama sekali meski dia sudah sangat lama tidak melakukannya.


" Kita mau kemana dulu, Dear? Ke apartemen langsung, atau mau makan dulu?" ujar Damian berjalan di samping Vivianne.


" Hmm…tadinya Anne sih, mau ajak Bunda dan adik-adik makan dulu,Mas di restoran. Sebelum ke apartemen. Menurut Mas, bagaimana?" ujarnya Kelu karena harus menyebut anaknya sebagai adiknya. Dan karena usia mereka berdua jauh, maka Avan terbiasa memanggilnya dengan sebutan Auntie dibandingkan Kakak.


" Yah, terserah kamulah, masa terserah Mas sih? Kan yang punya acara,kan kalian,ya tidak Bunda?" tanya kepada Bunda yang masih terdiam sedikit termenung.


" Kalau Bunda? Bagaimana? Kita makan diluar seperti rencana semula atau…" Vivianne bertanya kepada Bundanya yang masih termenung, sepertinya Bundanya sedikit kecewa dengan kenyataan yang baru diketahuinya, sehingga membuatnya murung dan terdiam.


" Eh, Apa,Nak? Hmm…Bagaimana kalau kita langsung istirahat saja, Nak? Bunda sedikit lelah sepertinya. Jalan-jalannya, bisa besok-besok saja." ujar sang Bunda.


" Tapi tadi kata Maya dan Avan, mereka…lapar,Bun." Vivianne tahu sang Bunda sedang tidak baik-baik saja tapi, dia tidak ingin mengecewakan anaknya sendiri, Avan. Dia berjanji membawanya ke Taman bermain tadi.


" Ya sudah, kalau begitu kamu antar mereka saja makan. Bunda biar tetap kembali ke apartemen kamu." tegas Bunda dengan wajah kencang. Ketegangan pun mulai terjadi dan sangat terasa, betapa Bunda sedang marah kali ini.


Vivianne menarik nafas panjang. Dan sedikit dengan raut wajah sedih. Damian yang melihat perubahan kekasihnya, lantas paham sepertinya ada yang disembunyikan oleh calon Ibu mertuanya itu.


" Sudah, tidak apa-apa. Kita bisa kembali ke apartemen dulu, biarkan mereka beristirahat. Nanti kamu kan bisa pesan makan, Dear. Sama saja kan? Lagian kasihan adik-adikmu sepertinya mereka kelelahan. Lihatlah, adikmu mulai memejamkan matanya. Nanti weekend saja kita ajak mereka jalan-jalan,yah? Sudah jangan diributkan,yah?" Damian membelai lembut lengan atas Vivianne.


Inilah salah satu alasannya Vivianne akhirnya luluh dan mau menerima Damian, Damian sangat memahami dirinya dan selalu sabar dan pengertian menghadapi tingkahnya yang kadang masih labil bahkan kekanak-kanakan. Vivianne nyaman bersamanya, dia seperti menemukan figur seorang teman sekaligus ayah. Meski kalau mau jujur, belum ada cinta dari Vivianne untuk Damian. Vivianne masih berusaha untuk bisa dapat mencintainya sebagai seorang wanita dan bukan menghormatinya sebagai sosok seorang ayah,ataupun Atasan.


Vivianne mengangguk, dia tersenyum Avan terlihat nyaman dalam gendongan Damian bahkan mulai terlelap sepertinya. Dia tersenyum, "Bolehkah aku berharap, Damian bisa sebagai Daddy sang anak? Bolehkah?"


" Iya, Mbak! Kita istirahat saja dulu, benar kata..Hm….Om,..Eh..Pak..Eh,Mas..ini!" Maya sedikit ragu harus menyebut Damian dengan apa sepertinya.


Damian tersenyum, dia tidak tampak tersinggung sama sekali. " Panggil saja, sesuka hati Maya,yah? Benar,kan ini Maya? Saya Damain, Maya. Maaf tadi belum berkenalan yah, sama kamu!" Damian tersenyum sangat hangat dan ramah menampilkan jejeran giginya yang putih bersih tanpa cela.


Sejenak, Mata terbengong. " Woy! Uncle mirip opa-opa Korea kalau lagi tersenyum lebar! Mana ada lesung pipinya,pula! Wah..Mbak sangat beruntung sekali! Bisa dapat opa-opa Korea!" 


" Hush! Kamu kok! Nggak sopan, sama sekali sih?" sejenak Vivianne malu dengan tingkah adik Pantinya itu.


" Hah? Jinja?" ujar Damian dengan menggoda.


" Wah, Uncle bisa juga, bahasa Korea? Wah keren-keren, aku seperti lagi nonton drama Korea ini!" ujar Maya malah bertepuk tangan.


" Maya! Kamu bikin malu mbak aja,sih! Mas Damian ini Atasannya Mbak,loh!" dengan muka memerahnya menahan malu.


" Sudah, tidak apa-apa,Anne. Tapi maaf yah, Mata, Uncle hanya tahu itu saja dan sarangheyo, Hahaha…maaf yah, mengecewakan kamu!" Damian malah sedikit tertawa.


" Yah…kirain…! Sudah senang saja, nih, aku ketemu opa-opa beneran!" Maya sambil sedikit kecewa.


" Maaf, Ya, sekali lagi mengecewakan kamu!" ujar Damian sangat ramah.


" Yah, sudahlah, tidak jadi nge-fans kalau begitu!" Maya sangat lucu membuat suasana sedikit segar karena kejadian tadi. Vivianne pun senang sang Bunda wajahnya mulai bisa sedikit tersenyum, meski sangat tipis.


" Kamu ini! Korea..terus! Bunda sampai pusing kalau kamu lagi Dateng kumatnya nonton Korea terus! Opo iku namane? Dra-dra…" ujar sang Bunda yang mulai nimbrung.


" Drakor,Bunda." timbal Vivianne.


" Dek? Bener kata Bunda? Nanti jatah uang jajan kamu kakak tarik loh, kalau tidak mau bantuin Bunda!" ujar Vivianne kembali.


" Iya,Mbak…cuma sekali kok, waktu itu Mbak! Please jangan ditarik,yah jatah jajannya Maya,Mbak?" dengan tatapan memohon.


Vivianne hanya menyilangkan kedua tangannya di dadanya dengan sedikit marah menatap Maya.


" Sudah, jika Mbak mu tidak mau kasih, biar Uncle saja yang kasih uang jajannya,yah?" tiba-tiba Damian menimpali.


" Yeah! Thanks a lot Uncle!" Maya kegirangan karena mendapatkan dukungan.


" Mas! Mas apa-apa an, sih? Nanti Maya- nya tambah manja,Mas! Lagi pula siapa nanti yang bantuin Bunda kalau bukan dia, Dia anak tertua sekarang disana selain aku! Lagi pula ini bukan tanggung jawab Mas,loh!" Vivianne menatap Damian dengan sorot mata kesal. Damian pasti selalu begitu, dia rela melakukan apapun demi kebahagiaan dirinya dan orang-orang yang penting didalam hidup Vivianne.


" Eh, jangan Marah,Honey! Hmm..Maya, maaf yah? Uncle lebih baik mundur, daripada Mbak mu marah sama Uncle,yah? Runyam urusannya. Coba kamu bujuk mbak mu saja,yah?" Damian menatap sambil meminta maaf kepada Maya, tapi dia juga seperti memberikan kode kepada Maya agar tidak membahasnya.


" Yah, Uncle, nggak seru!" cemberut Maya karena keinginannya terhempas kembali.


" Maya…" ujar sang Bunda.


" Iya, Bunda. Maya minta maaf, ya Bun. Mbak, Maya minta maaf,yah? Janji besok-besok tidak begitu lagi deh! Tapi jangan ditarik yah, jatah jajan Maya,Mbak! Please?" ujar Maya memohon kembali.


" Kita lihat saja,nanti. Yuk kita masuk itu mobilnya sudah didepan." ujar Vivianne kembali masih dengan menggandeng sang Bunda.


" Yah, kok gitu sih? Uncle…" Maya meminta perlindungan. 


Damian hanya menaikan bahunya, " Kali ini Uncle tidak ikut-ikutan,ah! Terserah Mbakmu!"


Dan Damian kembali mengejar langkah kaki Vivianne yang lebih dulu melangkah kearah mobil yang sudah terbuka pintunya.


Bunda masuk terlebih dahulu dan kemudian Maya yang memilih duduk di kursi belakang sambil masih dengan raut wajah cemberutnya. Kemudian Damian perlahan-lahan memasukkan Avan yang masih tertidur dengan lembut. Kemudian Bunda menarik Avan dengan kepala bertumpu di pahanya.


Vivianne hendak masuk tapi tangannya ditahan oleh Damian.


" Bun, Maaf, Anne saya pinjam sebentar yah,Bun? Ada yang saya mau bicarakan mengenai pekerjaan," izin Damian dengan lembut.


Bunda hanya mengangguk dalam diam.


Dan Damian kemudian menggenggam tangannya sedikit menjauh dari mobil kantornya itu.


" Ann, Mas salah yah? Tadi bilang seperti itu? Bunda pasti kecewa,yah? Suasananya sempat tegang jadi tidak nyaman,tadi. Mungkin dipikirnya kita tidak minta izin terlebih dahulu kepada beliau? Maafkan,Mas,yah? Apa perlu Mas jelaskan kepada Bunda? Bahwa pertunangan itu memang baru kita bicarakan diantara kita saja,begitu?" ujar Damian. Dia merasa resah sejak tadi. Dia tahu sepertinya dia membuat kesalahan kali ini.


Vivianne hanya menarik nafas panjang, " Mas,sih! Kan aku sudah bilang,Mas yang sabar…Jangan terburu-buru. Bunda itu sensitif Mas, setelah kejadian yang pernah ku alami dulu. Dia kuatir aku kembali disakiti dan merusak masa depan aku." 


" Iya. Mas tahu, Mas sudah salah, tapi tadi Mas keceplosan! Mas pikir kamu sudah cerita tentang hubungan kita, sama Bunda. Ternyata belum," ujar Damian dengan sedikit kecewa.


" Mas…bukannya tidak mau, tapi aku sengaja memilih waktu yang pas biar Bunda bisa menerimanya. Aku baru mau bilang Bunda setelah wisuda nanti! Maksudku begitu,loh…Ini Mas malah nyolong start duluan! Lagian Mas, baru lamar aku Minggu lalu loh! Kan aku belum jawab juga, aku bilang akan jawab setelah wisuda,kan? Ih, nggak sabaran, banget sih!" ujar Vivianne cemberut.


" Iya,iya Mas salah! Lagian mau sekarang ataupun besok jawabannya tetap sama,kan? Kamu tetap akan menerima Mas,kan? Kamu nggak ada niat berubah pikiran,kan?" tanya Damian.


" Yah, mana aku tahu! Bisa aja,kan. Aku berubah pikiran besok, bagaimana?" goda Vivianne sambil sok cuek.


" Anne!" sedikit kencang memanggil Vivianne.


" Apa?" dengan cuek menatapnya.


Tiba-tiba Damian menyentuh jantungnya, dan sedikit mengeluh dengan raut kesakitan.


Vivianne panik dan buru-buru menyentuh dada kekasihnya itu.


" Mas! Mas! Mas tidak kenapa-kenapa, kan? Jangan bikin Anne panik ih! Mas bawa obat, kan?" teriak Anne bermaksud memapahnya.


******