Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 30 Rasanya Sakit, Sangat Sakit!!



Vivianne menarik nafas dalam dan menghembuskannya ketika pintu lift tertutup.


Tania hendak bertanya apa yang sebenarnya terjadi, meski dia dapat mengiranya. Namun dia ingin mendengar kebenarannya dari mulut Vivianne langsung. Tapi semua ditahannya, dia tahu waktunya tidak tepat. Akhirnya dia memilih diam.


Sepanjang perjalanan dari atas hingga kebawah di dalam lift tersebut, baik Tania dan Vivi memilih diam. Hingga akhirnya pintu lift terbuka.


Ting!


Tania mengajak Vivi menemui atasan mereka untuk meminta izin pulang lebih cepat meski sebenarnya hanya 30 menit saja lebih cepat. Namun mereka tetap harus melakukannya.


Diketuknya ruangan atasannya, mereka masuk setelah ada suara dari dalam mempersilahkan mereka masuk.


" Selamat pagi, pak!" ujar Tania sedangkan Vivianne lebih banyak diam.


" Oh, pagi,Tan! Vi! Ada apa yah?" ujar Bos mereka yang diketahui bernama Ridwan itu.


" Pak, boleh kami izin pulang lebih cepat? Memang seharusnya kamu pulang sekitar 30 menit lagi, sih…tapi Vivi kurang enak badan,pak! Dan saya kuatir dia pingsan dan saya juga mau mengantarnya pulang! Apa boleh, Pak?" tanya Tania kembali.


" Vivi sakit? Sakit apa?" Ridwan beranjak dari kursinya dan memegang kening Vivianne.


Tania dan Vivianne yang terkejut tak mengira gerakan tersebut, menjadi kaku. Tumben sekali Ridwan melakukannya. 


" Hmm…sedikit panas,sih..Kamu mau saya antar,Vi?" ujar Ridwan lembut.


Vivianne hanya menggelengkan kepalanya.


" Maaf,Pak! Biar Tania saja yang mengantarkan saya, Pak!" ujar Vivianne masih dengan sedikit lesu.


Ridwan kecewa, tawarannya ditolak kembali oleh Vivianne untuk kesekian kalinya. Ridwan sebenarnya menaruh hati pada Vivianne tapi sayang, Vivianne selalu menolaknya. Vivianne tidak ingin memberikan harapan palsu kepada pria baik hati itu. Sehingga sejak awal dia sudah menolaknya. 


Ridwan menghembuskan nafas panjang, " Baiklah, tapi bisakah kamu menghubungi saya, jika kamu butuh bantuan? Vi? Saya akan sangat senang membantumu!" dengan senyum pasrahnya.


Vivianne mengangguk dan mencoba tersenyum meski dengan sedikit kaku, " Terima Kasih ,Pak! Untuk tawarannya. Saya akan mengingatnya."


" Terima Kasih kembali! Jika demikian, pulanglah! Dan istirahat yang banyak,ya?" ujar Ridwan kembali.


" Terima Kasih,Pak! Kamu pamit dulu!" kali ini ujar Tania setelah sempat didiamkan oleh keduanya bagaikan nyamuk, saja!.


Ridwan mengangguk, dan mereka pun beranjak pergi keruangan loker mereka untuk berganti pakaian.


Tania sibuk mengganti pakaian, namun, lagi-lagi dia melihat Vivi malah asik termenung di kursi panjang besi dekat loker mereka. Tania yang telah berganti pakaian duduk disebelah Vivi sambil memijat bahu sahabatnya itu.


" Vi?" ujarnya.


Vivi yang merasakan seseorang memegang bahunya menoleh, " Eh, iya, Tan, kenapa?"


Tania menarik nafas panjang dan menghembuskannya. " Kamu tidak ingin berganti pakaian dan pulang? Aku antar ya?"


Vivianne menoleh," Tan, Aku tidak ingin pulang ke kosan! Boleh aku menginap di kosan mu,Tan?"masih dengan wajah sembab dan sayu itu.


" Tentu boleh, tapi ganti bajunya dulu,ya?" Tania kembali mengelus lengan Vivianne lembut.


" Ya, kali pulang pakai baju pelayan seperti ini,Vi? Heheh…malu,kan?" Tania mencoba bergurau.


Vivianne hanya diam membisu tak menanggapi ucapan Tania, dia berdiri dan mengambil bajunya di lokernya dan memakainya.


Sekali lagi, Tania menghembuskan nafas beratnya. Dia harus banyak bersabar menghadapi Vivianne jika sudah seperti ini.


Setelah berganti pakaian Vivianne dan Tania beranjak keluar dan menuju lobby. Namun langkahnya terhenti ketika melihat dari kejauhan di lobby tersebut seseorang mondar-mandir sambil melirik ke arah depan. Andrew!


Vivianne menoleh ke arah Tania, " Tan…"


Tania yang paham bahwa Vivianne sedang tak ingin melihat wajah Andrew menjadi paham, " Yuk, ikut gue! Gue tahu jalan dari belakang!"


Vivianne mengangguk, dia bersembunyi dibalik sebuah tembok besar hendak menuju tangga darurat. Dari tempat persembunyiannya dia mendengar suara seorang gadis memanggil nama seseorang yang sangat dicintainya itu.


" Drew! Tega bener sih,Lo, ninggalin gue dikamar sendirian! Sedang apa Lo disini,Drew? Bukannya Lo masih, sakit yah? Yuk, kita kekamar,yuk?" ajak seorang gadis dengan manja sambil mengelus tangan Andrew.


" Nggak! Diamlah,Val! Gue sedang menunggu seseorang! Jangan ganggu, gue!" hardik seorang pria yang masih celingak-celinguk kekiri dan kekanan.


" Ih, Lo kok tega bener sih, Drew!" ujarnya kembali manja dan tanpa sengaja mata gadis tersebut bertemu  dengan Vivianne. Dia tersenyum sinis sambil berucap, " Setelah apa yang terjadi semalam sama kita, Lo malah mau tinggalin gue? Lagian siapa sih, dia? Memangnya sepenting itu buat kamu? Heh?" Cewek,Lo?"


Vivianne yang sempat mendengarnya terkejut, demikian pula dengan Tania. Sepertinya gadis itu sengaja meninggikan ucapannya agar dapat didengar olehnya. Air mata Vivianne kembali mengalir untuk kesekian kali dalam kurun waktu kurang dari satu jam.


Di kejauhan tampak Andrew melengos menatap gadis disampingnya yang ternyata memegang lengan besarnya itu, " Maksud lo, apa? Lo tau bener apa yang terjadi semalam...Nothing! Dan mau penting atau tidak, itu urusan gue! Lo ga perlu ikut campur!"


" Tapi,Drew...." ujarnya kembali.


" Diam,Lo! Lebih baik Lo pergi dari sini sebelum gue marah, atau Lo tutup mulut Lo!" ujar sang pria mulai emosi.


Dan pada saat itulah Tania dan Vivianne berlari menuju lift darurat tanpa diketahui oleh Andrew. Dan tanpa mendengarkan kembali lanjutan pembicaraan mereka berdua.


Setelah mereka berhasil melalui tangga darurat, Tania turun menuju basement gedung tersebut, dan keluar dari pintu samping dibangunan tersebut, benar, ternyata pintu tersebut menuju pintu keluar samping.


Tak berapa lama sebuah taxi melintas dan diberhentikan oleh mereka. Mereka pun masuk dengan bergegas.


****


Setelah sempat kucing-kucingan dengan  Andrew tadi, kini Tania dan Vivianne sudah berada di kosan Tania.


" Vi,bersih-bersih dulu gih! Nanti aku pinjemin baju tidur aku biar kamu bisa istirahat!" ujar Tania kembali.


Vivianne hanya mengangguk. Dia memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.Tak berapa lama dia berganti pakaian dan mulai merebahkan diri di kasur kamar itu. Sementara Tania giliran mandi.


Tak selang berapa lama Tania keluar dari kamar mandi dengan wajah segarnya dia pun mengikuti rebahan di sebelah Vivianne tentu saja setelah sebelumnya dia terlebih dahulu mengganti pakaian dengan pakaian tidurnya.


Tak ada percakapan diantara mereka berdua, dan Tania tidak ingin memaksa Vivianne untuk bercerita atas apa yang terjadi.


Tania berbalik sekarang menatap Vivianne, " Hmm….,?"


" Thanks, yah?"'ujar Vivianne.


" Buat?"tanya Tania.


" Sudah menolong aku, tadi!"  Ujarnya


Tania mengangguk Vivianne menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.


" Vi?" panggil Tania lembut.


" Ya?" ujar Vivianne lembut.


" Boleh aku bertanya?" ucap Tania 


Vivi hanya mengangguk.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Tapi tidak masalah jika kamu belum bisa bercerita sekarang,padaku! Tidurlah!" tanya dan ujarnya kembali. Tania siap-siap membalikkan badannya kembali dan melanjutkan tidurnya, namun seseorang terdengar lirih berucap.


Vivianne menunduk sambil menghembuskan nafas panjangnya.


" Waktu itu…" Vivi mencoba mengingat kejadian dimana membuat perasaannya hancur berkeping- keping.


Flashback On


Vivianne menunggu Tania yang sedang menuntaskan hajatnya di toilet.


Vivianne yang semula duduk manis sambil menunggu Tania agar dapat pulang bersama menoleh ketika Chef memanggil -manggil nama seseorang yang dikenalnya.


" Tan! Tania! Dimana sih, anak itu!"umpat orang tersebut dengan kesal.


" Chef mencari Tania?" ujarnya sambil menghampiri orang tersebut.


" Hey, Vi! Iya, tadinya…tapi mumpung ada kamu,bisa tolong antarkan makanan ini ke kamar 502? Sepertinya mereka kelaparan! Sehingga jam segini memesan makanan! Tapi, bodo amat! Ini bukan urusanku! Buruan kamu antarkan!" ujar Tania kembali.


Akhirnya Vivi mendorong troli makanan menuju kamar 502! Vivi berjalan perlahan akhirnya sampai di kamar yang dimaksud.


Vivianne mencoba mengetuk pintu kamar, " Room service!" ujar Vivianne.


Tak berapa lama, pintu dibuka dan muncullah seorang gadis cantik membuka pintu dengan penampilan yang berantakan! Bajunya sedikit terbuka tapi pakaiannya turun dari bahunya menampakkan bahu yang mulus! Lipstiknya sudah belepotan, kemudian dengan rambut acak-acakan, serta mata yang masih mengantuk. Mulutnya pun menguap berkali-kali! Dan yang membuat Vivianne sedikit terkejut adalah dilehernya tampak merah-merah! Demikian pula di bahunya! Sepertinya..mereka..habis menghabiskan malam panas bersama! Entahlah, Vivi hanya bisa menduganya saja.


" Mau ditaruh dimana makanannya,mbak?" tanya Vivi ramah.


" Disana saja, mbak! Di pojok dekat kursi itu!" gadis tersebut menunjukkan ke arah sofa yang terletak tak jauh dari ranjangnya.


Vivianne mengangguk dan mendorong troli makanan tersebut ketempat yang diinginkan.


" Ada lagi yang dapat saya bantu,mbak?" ujar Vivianne ramah.


" Oh, tidak perlu. Ini yang tipsmu!" gadis cantik itu memberikan uang berwarna merah kepada Vivianne, Vivianne sangat senang dan menunduk untuk pamit.


" Kalau begitu saya permisi dulu, mbak! Jika ada yang dibutuhkan kembali, mbak bisa menghubungi kami melalui sambungan telepon tersebut. Terima Ka…" belum Vivi menyelesaikan ucapannya. Tiba-tiba seseorang dari arah kamar mandi berujar, " Siapa,Val?"


" Room service! Aku tadi sempat pesan makanan,buat kita! Kamu pasti juga lapar,bukan? Kita belum makan apapun sejak semalam,loh!" ujarnya sambil berteriak.


Tiba- tiba seorang pria hanya mengenakan handuk sebatas pinggang ke bawah keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan sebelah tangan yang lain.


" Syukurlah! Gue sudah lapar banget,tau!" ujarnya dan tampaklah tubuhnya sambil berjalan pelan sambil menunduk pandangannya tertutup handuk yang digunakan untuk mengeringkan rambutnya itu. 


Hingga akhirnya dia mendongak dan berujar, " Mana, maka…" tiba tiba diam ditempat menatap lurus ke arah Vivianne!


Vivianne pun mematung terdiam dihadapannya. Bibirnya melonggo dan terbuka karena terkejut. Matanya mulai perih melihat pria tampan di hadapannya. Tampilannya tampak segar, namun di dadanya begitu banyak bekas seperti kecupan? " Benarkah dia?" Vivi membatin.


" ****!!" tiba-tiba saja sang pria memaki.


Vivianne yang tidak sanggup menahan lelehan air matanya kemudian berbalik dan menuju pintu keluar sambil meneteskan air mata.


" Vi! Tunggu! ****!! Sial!! Kenapa dia ada disini,sih?" makinya kembali.


Dengan terburu-buru dia memakai celana panjangnya dan melupakan pakaiannya, dan bergegas mengejar seorang gadis yang telah berlari ke arah keluar.


" Vi! Tunggu!" 


Namun ketika dia hendak berlari tangannya ditahan seorang gadis.


" Siapa, Dia?" 


" My girlfriend!"


" What?? Kamu gila yah?" ujar gadis itu kembali.


 " Bukan urusanmu! Lepaskan! Vi Tunggu penjelasanku!" sambil berlari mengejar gadis dihadapannya.


Flashback Off


Tania hanya bisa menarik nafas panjang dan mengeluarkannya, mendengarkan cerita sahabatnya itu. Sambil kemudian memeluknya dan mengelus punggungnya.


Vivianne pun kini kembali menangis di pelukan Tania. Mengingat pahitnya sebuah pengkhianatan di depan matanya.


" Aku sakit,Tan! Rasanya sangat sakit! Bagai sebuah belati menancap didada ini! Hikhik..." dan Vivianne menanggis sambil mulai terisak tersedu-sedu...


******