Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 8 Bryan dan Kebimbangannya



Vivianne tanpa sadar tiba-tiba memeluk Bryan saking kesenangan, karena Briyan akan membantunya. Bryan yang dipeluk oleh Vivianne terdiam dan menjadi kaku, dia tak menyangka akan mendapatkan perlakukan seperti saat ini.


Mendapati tubuh Bryan yang kaku dan tidak meresponsnya, membuat Vivianne tersadar atas perlakuannya saat ini.


" Ma-maaf,Kak! Aku tak sengaja. Sungguh! Maaf kalau sudah membuat kakak tidak nyaman." Vivianne mulai tertunduk malu. "Rasanya kalau bisa dia bersembunyi dibawah kolong meja. Tapi sayang, di Kampus saat ini mana ada meja seperti itu bukan? Yang ada bukannya bersembunyi, tapi malah terlihat aneh!"


" Tenang, saja Vi. Tidak masalah kok! Aku tadi kaget saja, mimpi apa, aku semalam dipeluk sama bidadari secantik kamu! Hehe...seperti ketiban durian runtuh, gitu.Atau berasa seperti menang lotre ini mah aku!" ujar Bryan cengengesan. Agar Vivianne tak merasa malu.


" Ih, kakak bisa aja! Mana ada bidadari kampungan kayak aku gini, Kak!"sambil memajukan bibirnya beberapa Senti itu.


" Hush! Siapa memangnya yang bilang kamu kampungan, Vi? Siapa? Biar sini orangnya kakak hajar!"ujar Briyan dengan mengepalkan tangannya.


" Hmm...Hahahah...Kaka lucu ih! Alay banget deh jatuhnya. Santai aja kak, Vivi masih bisa ngurusnya kok, kalau ada yang macam-macam sama Vivi. Biar rasain bogem mentah Vivi!" ujar Vivi dengan santai.


" Oh, iya lupa kakak. Jangan-jangan jagoan kamu sih, hehehe, yang ada koit itu Vi anak orang kalau kamu ngamuk mah! Gimana nggak? Lha wong yang hajar juara taekwondo gitu loh!" Ujarnya kembali.


" Hehehe...bisa aja, sih, Kakak! Muji terus, bisa melayang nih, aku kayak kapas melayang di udara! Dipuji-puji terus!" ujar Vivianne malu-malu.


" Yah, melayang doang. Dikira anaknya langsung naksir! Yah, nggak jadi deh, mujinya!"raut wajah Bryan pura-pura cemberut.


" Ih, Kakak! Bikin aku malu! Udah ah, bercanda melulu. Kak, beneran yah, bantuin aku! Aku beneran tidak enak ini sama kak Andrew." ujar Vivianne kemudian.


" Iya,iya. Ga percayaan banget sih, kamu. Hmm, ngomong-ngomong, kamu kenapa sih, cari Andrew? Kalau boleh tau, sih..nggak juga nggak kenapa-kenapa,sih. Wait, jangan-jangan kamu mau nagih hutang, yah?" tebak Bryan asal.


" Ih! Kakak! Nggak lah, mana ada dia berhutang! Yang ada juga aku berhutang sama dia!" ucap Vivianne lagi.


" Oh, yah? Hutang apa? Berapa?" ujar Briyan penasaran, karena yang dia tahu Andrew dan Vivianne sebelumnya saling bermusuhan, bukan? Bagaimana bisa Vivianne berhutang sama Andrew, coba? Jika benar, maka Briyan bersedia membantu melunasinya kalau perlu.


" Bukan hutang uang, Kak!"


" Lantas? Kalau bukan uang, apa dong?"


" Hutang budi!"ujar Vivianne.


" Hah? Bagaimana bisa?" ujar Briyan penasaran, "Dia hanya tahu Andrew sempat bilang bahwa dia sudah menemukan cara untuk meluluhkan hati Vivianne apakah ini salah satunya? Membuat Vivianne sengaja berhutang budi? Awas saja kalau dia sengaja melakukannya! Aku tak akan tinggal diam," batin Bryan kesal.


" Hmm, jadi begini ceritanya kak.." Vivianne pun mulai bercerita mengenai pengalaman naas dia yang berujung ditolong oleh Andrew tersebut.


Briyan mendengarkan secar seksama apa yang diceritakan Vivianne.


" Kok, bisa sih, kamu pulang malam-malam seperti itu? Memangnya kamu habis pulang dari mana?" tanya Bryan penasaran.


" Itu,Kak, aku kan ambil pekerjaan part time di sebuah restaurant disebuah hotel ternama, Kak! Tapi hari ini aku yang minta izin pulang cepat. Biasanya aku pulang pagi hari, tapi karena hari itu aku kurang enak badan, aku pamitan pulang."


" Oh, wah kamu kenapa harus part timer di sebuah hotel, pula!" Bryan sedikit menahan amarahnya.


" Lumayan kak, uangnya buat menyambung hidup, buat bayar kost,makan dan buku ,Kak! Kalau tidak begitu, aku dari mana?Aku kan anak yatim piatu, Kak! Jadi aku harus berjuang menghidupi diriku sendiri. Aku tidak tega minta terus-terusan sama bunda. Bunda itu kepala panti tempat aku dirawat, Kak. Bunda juga pasti banyak kebutuhan buat adik-adik disana. Makanya aku harus cari kerja. Gitu,sih." ujar Vivianne santai.


Inilah yang membuat Briyan makin kagum terhadap Vivianne, dia tipe pekerja keras,baik hati tidak hanya sekedar pinter saja.


Makin hari kekaguman Briyan makin berkembang.Dia tahu tak seharusnya dia memiliki perasaan ini.


"Tapi, hatinya tidak bisa disetir, bukan? Dia menyesal sekarang, karena tak melarang teman-temannya mempertaruhkan Vivianne yang polos serta hidupnya yang sudah susah." hatinya makin tersentuh saja.


" Kak! Woy! Kok malah melamun? So, kakak tetap mau bantuin aku, kan?" Vivi menatap mata Bryan.


Bryan enggan menatap mata bening nan jernih itu, dia tak sanggup. Jika dia menolongnya saat ini, sama saja dia memberi umpan singa yang kelaparan, karena ini yang di tunggu oleh Andrew.


Beberapa hari yang lalu Andrew sempat, senyum kegirangan karena mendapatkan cara mendekati Vivianne dan dia sudah memastikan kali ini pasti berhasil! Bryan dan Alex bertanya saat itu tapi Andrew bilang rahasia! Kuatir malah bocor karena ulah mereka terus gagal, rencananya. Andrew tak mau hal itu terjadi.


Kini Briyan yang diujung tanduk maju membantu Vivianne salah, karena dia tahu rencana busuk Andrew. Tidak maju dia kasihan dan tidak tega terhadap Vivianne, karena dia pasti akan terus mencari jalan untuk bisa menemui Andrew karena kepolosan dan kebaikan hatinya itu. Sedangkan Andrew sengaja menghindarinya, semua bagian dari triknya.


"Tapi jika dia tidak maju, Vivianne makin terjerumus, apa yang harus aku lakukan yah?


Apa aku tidak usah saja menyampaikan pesannya? Dan bilang sudah menyampaikannya? Tapi Andrew yang menolaknya? Jika seperti ini dia telah membohongi Vivianne dong? Arrghhh!! Aku makin pusing saja!" Maki Briyan tentu saja didalam hati.


" Kak? jadi,kan? Kakak tidak berubah pikiran, bukan? Sekali ini saja, Kak! Tolongin aku?" Vivianne memohon dengan puppy eyes nya.


" Puff!' Bryan menghembuskan napas berat, bagaikan ujian tengah semester di kampusnya itu terutama mata pelajaran si Killer Statistik!.


" Iya." Akhirnya kalimat pendek ini yang diucapkan ke Vivianne atas kesanggupannya menolong Vivianne agar bisa bertemu dengan Andrew.


" Really? Yeach! Makasih kakak, baik,tampan, baik hati!"ujar Vivianne melonjak kegirangan dari kursinya.


Kemudian dia berbalik dan hendak seakan memeluk, Bryan mulai was-was jangan-jangan dia mau memeluk lagi! tapi beberapa menit kemudian dia berujar, " Ga jadi! Hehehe pokoknya kakak is the best-lah!"


Bryan hanya tersenyum simpul melihat keluguan dan kelucuan gadis itu. "Yang sayangnya sebentar lagi akan dihadapkan oleh Singa yang siap menyantapnya," pikir Bryan.


"Sial! Tapi tentu saja tak akan kubiarkan semudah itu!"


"Tentu saja, aku harus bicara dengan Andrew!" dia harus melindungi Vivianne.


"Yah, harus! Paling tidak cuma ini yang bisa kulakukan untuk Vivianne."