Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 87 Kecurigaan Damian



Alex menatap Damian dengan bingung.


" Kenapa Diam? Kita sudah sampai rumah, So, katakan apa yang terjadi dengan Andrew,Alex!" dengan sedikit penasaran dan kesal Damian berujar.


Alex menghela nafasnya dan membuangnya dengan perlahan, " Sabar,Om! Paling tidak biarkan saya duduk dulu, minum kek, satu apa gitu, baru kita bicara!" 


" Maaf, Silahkan duduk. Bik! Bibi tolong buatkan minuman dua yah!" teriak Damian. Untung saja asisten rumah tangganya memang muncul membuka pintu rumah.


Tidak berapa lama, minuman hangat pun datang, perlahan Alex menyeruputnya. Sementara Damian memperhatikan gerak-gerik Alex dengan tidak sabaran.


" Ah, segarnya…." seru Alex tanpa peduli orang didepannya menatapnya dengan tatapan tajam mematikan.


Damian yang duduk menyilangkan kakinya mulai mengguncangkan kakinya dengan gelisah.


" Jadi Om, saya mau tanya, sebenarnya apa yang terjadi?"ujar Alex memecah keheningan mereka.


Damian memicingkan matanya, " Maksud kamu? Bukannya kembali yah, saya yang seharusnya bertanya, ada apa sebenarnya? Bukannya kamu disini mau memberitahu saya,bukan? Kenapa malah bertanya?" 


" Iya, sih, Om. Maksud saya, apakah batu-baru ini terjadi sesuatu mungkin, diantara kalian?" tanya Alex mencoba tenang. Dia tidak ingin sandiwaranya diketahui oleh Damian.


" Maksudnya terjadi sesuatu dengan kamu itu apa? Jelaskan dengan saya, jangan hanya mutar-mutar! Ada apa sebenarnya dengan Andrew?" tanya Damian mulai kesal dengan tingkah Alex.


" Itulah, Om. Saya juga bingung! Andrew tidak seperti biasanya! Kemarin malam kamu ada janjian dia mau main ketempat saya, Om…tapi entah kenapa tidak jadi! Eh, tiba-tiba tadi pagi saya dapat pesan dari Andrew! Dia kembali ke Australia mendadak! Padahal kami masih ada bisnis yang harus kami selesaikan disini! Saya diminta mengurusnya! Dia hilang, dia tidak sanggup! Aneh,bukan?" seru Alex perlahan sambil mencuri pandang ke arah Damian.


" Apa? Alex kembali ke Australia? Kenapa dia tidak pamitan kepada saya? Apakah benar? Kamu tidak bohong?" Damian Tegal dari tempat duduknya menatap tajam kearah Alex.


Alex yang ditatap sedikit ngeri dengan tatapan Damian. " I-iya Om! Masa saya bohong,sih? Makanya saya kemari, saya mau tanya sama Om! Apa terjadi sesuatu? Kata Andrew kemarin malam sebelum pergi, katanya dia mau makan malam sama Om! Setelah itu tidak ada kabar, hingga…pesan tadi pagi." Alex kebingungan.


Damian kembali duduk dan sedikit merenung, ' Apakah karena pertemuannya dengan Anne? Yang membuat dia bertindak seperti ini? Apakah dia kecewa? Sakit hati? Tapi kenapa? Bukankah mereka sudah tidak ada apa-apa bukan? Atau aku salah?'


Alex yang melihat Damian linglung, merekam dalam ingatannya. ' Sepertinya Dia percaya akan ucapanku,syukurlah! Andrew! Lo harus bayar mahal untuk ini!' 


" Om! Om Damian? Om kenapa? Apakah terjadi sesuatu dengan kalian di pertemuan itu?" tanya Alex pura pura tidak tahu.


Damian terkejut dan tersadar dari lamunannya. " Ah, tidak! Makan malamnya berjalan lancar, memang kamu pulang masing-masing karena..Andrew katanya ada janjian sama kamu! Om pikir…kalian sudah bertemu malam itu!" 


Alex menggelengkan kepalanya, " Tidak,Om! Makanya saya kemari, apa mungkin Om tahu sesuatu? Atau ada tingkah Andrew yang aneh,mungkin?" 


Damian sedikit gugup namun dia kembali tenang, " Setahu Om, tidak sih…tapi..memang dia sedikit terkejut saat mengetahui calon istri Om!" 


Alex mengangguk-angguk, " Oh begitu…Ngomong-ngomong tadi Om bilang Andrew terkejut ketika melihat calon istri,Om? Apakah Andrew mengenalnya? Atau saya juga mengenalnya,Om?" Alex bertanya penasaran.


Damian tergagap, " Hmm…maksud Om, mungkin dia terkejut karena calon istri Om lebih muda dari kalian! Mungkin itu sebabnya!" 


" Oh…daun muda dong, ya Om?" ledek Alex keceplosan.


" Yah, bisa dibilang begitu…Nanti kamu juga akan tahu ketika hari pernikahan kami. Kamu nanti Om undang,Okay?" seru Damian kembali.


" Sip! Saya tunggu ya Om!Hmm…kalau begitu saya pamit ya,Om! Ada yang harus saya kerjakan terlebih dahulu…karena kan Andrew sedang tidak ada nih, jadi yah…saya harus menghandle pekerjaan disini,Om!" seru Alex sambil berdiri.


" Kamu tidak mau makan malam dulu mungkin disini Alex?" tawar Damian.


" Tidak,Om! Terima kasih. Alex kangen berburu kuliner di Jakarta Om! Mumpung lagi disini…kan, sudah lama juga Om Alex baru kembali kesini!" tolak halus Alex.


" Baiklah, kalau begitu. Selamat berburu makanan,yah? Sampaikan salam Om buat keluarga kamu,ya?" seru Damian sambil mengantarkan Alex ke pintu rumahnya.


" Baik,Om.Akan Alex sampaikan nanti,Om! Kalau begitu saya pergi dulu,ya Om.Assalamualaikum!" pamit Alex sambil mencium tangan Damian.


" Waalaikumsalam"


Damian menatap Alex yang berjalan menuju mobilnya dan melambaikan tangannya ketika Alex berpamitan sambil membuka kaca mobilnya sebelum benar-benar menghilang dari pandangannya.


Setelah peninggalan Alex Damian kembali ke dalam rumahnya. Damian kemudian menuju kamarnya yang terasa sepi. Damian memutuskan mandi sebelum beranjak ke tempat tidur. Beristirahat dia lelah hari ini. Mungkin karena memikirkan keberadaan Anne, ditambah lagi kepergian Andrew yang mendadak. 


Damian merebahkan tubuhnya dia mencari ponselnya dan kembali menghubungi Vivianne, tapi tetap tidak aktif dia mencobanya hingga beberapa kali namun tetap sama. ' Kemana kamu Anne? Kenapa kamu menghilang tiba-tiba? Begitu pula dengan Andrew!'


Damian tiba-tiba bangkit dari tidurnya terduduk termenung dan kemudian bangkut dari tempat tidurnya. ' Tidak mungkin! Kenapa kebetulan sekali? Anne menghilang dan Andrew juga menghilang! Apakah mereka…Tidak! Tidak mungkin! Dan Alex, kenapa dia tiba-tiba kesini? Benarkah Andrew kembali ke Australia? But why?'


Damian mondar-mandir di kamarnya yang luas itu. 


' Sebentar-sebentar ada yang mengganjal disini! Alex tidak akan mungkin pergi tanpa Andrew! Begitu pula sebaliknya! Tapi…Aku harus cari tahu!' ujarnya dalam hati.


Damian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang disana. " Ya, Damian disini! Aku punya tugas buat kamu! Selidiki Alex! Ikuti semua gerak-geriknya laporkan kepadaku setiap hari! Dan Oh,ya, cari tahu di seluruh maskapai penerbangan dengan tujuan Melbourne-Australia, apakah ada keberangkatan atas nama Andrew! Kemarin dan hari ini dan beberapa hari kedepan! Kamu paham?"


Kemudian Damian menutup ponselnya dan menaruhnya di meja dekat tempat tidurnya, dan kemudian merebahkan dirinya di kasur. 


'Kita lihat,Drew! Permainan apa yang sedang kamu permainkan saat ini! Kita lihat seberapa jauh kamu melangkah! Apakah dugaanku salah, atau benar?' dengan tatapan nyalangnya.


"Semoga kamu tidak melakukan tindakan bodoh kali ini! Terutama terkait Vivianne! Jika benar, aku tidak akan mengalah, Drew! Meskipun kamu anakku sekalipun!" ucap Damian dengan geram.


Malam itu dilalui Damian dengan tidak tenang, dia hampir tidak bisa menutup matanya. Damian baru bisa tidur menjelang dini hari. Malam itu terasa sangat panjang buat Damian.


****