
Andrew tersenyum melihat tingkah Vivianne yang seperti ketakutan terhadap dirinya. Entah kenapa, dia malah menyukainya. Itu tandanya paling tidak Vivianne masih bereaksi terhadap sentuhannya,bukan?
"Kamu jangan macam-macam,yah? Ingat! Aku ini calon istri papa kamu!"ancam Vivianne dengan gusar.
Andrew yang semula senang raut wajahnya menjadi berubah masam.
" Aku tahu! Kamu tidak perlu mengingatkanku berulang-ulang kali! Sepertinya kamu sangat senang sekali, menjadi calon istri papaku!" ketus Andrew.
Andrew kesal, namun dia tetap melakukan sesuatu yang diinginkannya. Dia mengangkat bantal di belakang Vivianne lebih tinggi agar Vivianne duduk dengan bersandar lebih nyaman.
Vivianne yang semula waspada, menjadi tidak enak karena ternyata dugaannya salah, Andrew bukannya hendak mengambil kesempatan tapi malah melakukan sesuatu diluar dugaan nya. Bahkan Andrew melakukan hal kecil yang tidak diduganya. Andrew juga membantu dirinya dengan menarik kedua bahunya, mengangkatnya agar bisa bersandar lebih nyaman.
'Begitu perhatiannya kah dirinya padaku?'
Melihat Vivianne yang terdiam, Andrew berujar kembali.
" Aku bukan pria yang dengan sengaja memanfaatkan keadaan,Vi! Kamu paling tahu,itu! Tapi mungkin kamu sudah melupakannya bukan? Buktinya, kamu dengan mudahnya berpaling!" dengan ketus Andrew menatap sinis pujaan hatinya itu.
Vivianne terdiam dia malas berdebat kali ini dengan Andrew. Dia masih terlalu lemah untuk sekedar melakukannya.
" Kenapa,diam? Benar,kan apa yang aku ucapkan?" tantang Andrew kembali.
" Aku tidak mengerti apa yang kamu ucapkan!" seru Vivianne tidak kalah ketus.
" Come on, Vi! Kamu tidak sebodoh itu untuk tidak mengerti apa yang aku ucapkan!" kesal Andrew.
" Kalau kamu maksud aku salah paham atas tindakan kamu tadi,yah, aku salah. Maaf! Dan terima kasih sudah membantuku!" Vivianne mulai meninggikan suaranya.
" Aku tidak butuh permintaan maaf kamu,Vi! Jangan mengelak dari pertanyaan ku! Tapi terserah kepadamu, aku tidak akan memaksamu untuk menjawab sesuatu yang kamu tidak bisa jawab!" Setu Andrew geram.
" Maksudmu?" Vivianne menatap Andrew tidak suka.
" Ssst! Diamlah! Biarkan aku bicara!" seru Andrew tidak ingin di sela pembicaraan nya atau dibantah.
Vivianne hanya menghembuskan nafas mendengarnya. Vivianne memilih diam, bukan karena takut, tapi dia ingin tahu apa yang mau diucapkan Andrew selanjutnya.
" Good! Satu hal, kalau untuk membantumu, itu sudah kewajiban ku, bagaimanapun aku yang telah membuat kamu seperti ini. Seharusnya aku yang meminta maaf. So, Maaf! Maaf aku terlalu memaksamu! Maaf karena aku kamu terluka! Tapi Please, Vi! Jangan bertindak bodoh seperti kemarin!" dengan gelisah Andrew berkata.
" Kenapa?" Vivianne yang penasaran ketelepasan bicara.
Andrew menatap Vivianne dengan tatapan berbeda, dan Vivianne menyesal telah bertanya. Dia menghampirinya perlahan. Dan duduk ditempat tidur Vivianne sambil sedikit membungkukkan badannya mendekatkan wajahnya ke wajah Vivianne. Vivianne seakan menahan nafasnya kali ini.
" Yakin kamu tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu,hmm?" ujar Andrew tepat di wajahnya. Hembusan nafas Andrew yang hangat menerpa wajahnya. Vivianne mulai panik.
Kemudian dengan mengalihkan pandangannya dia berujar, " Hmm, aku lapar! Bisa tolong ambilkan makanan itu buatku?"
Andrew hendak tertawa melihat tingkah gugup Vivianne, tapi ditahannya. Dia tidak ingin membuat Vivianne makin tidak nyaman terhadap dirinya, bukan itu tujuannya.
" Baiklah! Biar aku suapin,yah?" Andrew berdiri kembali dan beranjak dari ranjang Vivianne mengambil meja makanan dan mendorongnya.
Vivianne sejenak merasa lega, seakan beban berat terhempas dari pundaknya. " Tidak perlu, aku bisa makan sendiri kok!"
Andrew menyerah, dia tahu Vivianne yang sekarang adalah Vivianne yang keras kepala dan kasar. Tapi dia tidak bisa menyalahkannya, sedikit banyak itu karena dirinya. Hanya saja, dia sedikit rindu dengan Vivianne yang lembut, dan tutur kata yang halus. Dia rindu Vivianne nya.
" Terserah!"
Andrew akhirnya mendorong meja makanan agar lebih dekat dengan Vivianne.
Vivianne berusaha menggerakkan tangan kanannya meski tangan kirinya yang diinfus tapi ternyata tangan kanannya kaku, dan sedikit sakit ketika digerakkan. Tapi dia tidak ingin menunjukkannya dihadapan Andrew. Jadi dia berusaha mengangkat sendok dihadapannya. Dan sendok tersebut terlepas. Jatuh ke lantai.
Ting!
Andrew menghembuskan nafas kesalnya. Dan memencet tombol darurat.
Vivianne tertunduk, dia merasa tidak enak sekarang. " Maaf! Aku….Aku rasa tanganku tadi terlalu kebas!" ucapnya pelan.
Seorang suster datang kedalam ruangan tersebut.
" Ada apa, Mas? Ada yang bisa saya bantu? Ada apa dengan istrinya?" ujar sang perawat tersebut yang menatap Andrew dengan sorot takjub karena terpesona akan ketampanannya.
" Aku..bukan….is.." Vivianne mencoba menyanggahnya.
Andrew yang cuek tidak menggubris kan Vivianne dan memotong ucapannya.
Bahkan tanpa menatap sang perawat dia berkata, " Tolong ambilkan sendok yang baru, istri saya tadi tidak sengaja menjatuhkannya!"
serunya santai.
" Baik, Mas! Akan segera saya ambilkan!" ujar sang suster yang mencoba mencuri pandang Andrew, Vivianne jengah menatap pandangan penuh minat sang suster yang dengan pakaian sedikit ketat itu.
" Tunggu!" ujar Andrew kemudian.
Beranjak dari posisinya sedikit menghampiri sang suster tersebut, raut wajah sang suster seketika gembira dihampiri pria tampan yang sudah menjadi gosip sejak kedatangannya kemarin malam itu dikalangan para suster dan dokter muda di rumah sakit ini.
" Iya, Mas? Ada yang bisa saya bantu lagi?" ujarnya dengan ucapan yang dibuat selembut mungkin.
" Ya, tolong jangan panggil saya dengan sebutan intim seperti Mas itu. Anda bisa memanggil saya dengan sebutan Tuan! Dan satu lagi, bisa tolong berikan sendoknya kepada perawat pria atau perawat lainnya yang lebih…'sopan' mungkin? Saya tidak ingin membuat istri saya cemburu! Dan mata saya sakit karena melihatnya!" dengan santai dan kemudian bergerak menjauh darinya.
Seketika wajahnya memucat! Ternyata tindakannya yang sudah direncanakannya sedikit membuka kancing baju atasannya dan pakaian sedikit sempitnya dapat menarik perhatian pria tampan di hadapannya, tapi siapa kira Andrew malah menjatuhkan harga dirinya, menolaknya mentah-mentah!
Vivianne hanya menahan senyumannya, melihat wajah pucat sang suster, meski tidak menyukainya, tapi dia tidak menyangkanya Andrew akan berucap demikian secara langsung kepadanya.
Suster tersebut menunduk dengan wajah pucat pasi nya dan mengangguk, " Ba-baik Tuan. "
Buru-buru dia keluar dari pintu tersebut dan menutupnya cukup keras.
BRAK!!
Vivianne tak kuasa menahan tawanya, " Hahaha….Kamu keterlaluan, ih! Kasihan loh, perawat itu…mukanya sampai pucat! Pasti kena mental dia!"
Andrew cuek, malah menaikan bahunya, " Aku tidak peduli! Siapa suruh dia bertindak murahan seperti itu? Cih! Melihatnya saja aku sudah jijik!"
" Jangan begitu, dia mungkin hanya kagum melihatmu yang ' tampan' itu!" seru Vivianne santai dan mulai mencoba memakan pudding strawberry dessert yang tersedia sambil menunggu sendoknya datang.Meski sedikit susah, tapi dia berusaha mencoba nya, karena sendok puding lebih ringan dia bisa melakukannya walau sangat perlahan.
Andrew yang tertarik ucapan Vivianne mendekat, " Jadi, kamu bilang aku taman?"
Vivianne yang perlahan memakan puding dengan potongan kecil tersedak, dan terbatuk.
" Uhuk! Uhuk!"
" Kamu kenapa harus keras kepala sih, kan sudah aku bilang biar aku saja yang menyuapi mu! Agar kamu tidak tersedak seperti ini! Minum dulu!" Andrew menyodorkan gelas yang terdapat sedotan.
" Maaf! Karena siapa coba aku tersedak?" Vivianne mencoba membela diri.
" Iya, aku tahu. Karena aku. Maaf! Tapi benarkah, menurut kamu aku tadi tampan?" ujar Andrew kembali.
Vivianne membuang mukanya, " Tidak! Siapa bilang?"
" Itu tadi, kamu yang bilang! Ayolah, Vi! Aku dengar dengan jelas kamu bilang aku tampan! Itu sebabnya suster tadi sibuk mencari perhatianku,bukan begitu?" Andrew tidak mau melepaskan Vivianne kali ini.
" Aish! Maksudku suster tadi berpikir kamu mungkin tampan! Makanya dia bertingkah aneh seperti tadi!" tegas Vivianne enggan mengakuinya.
" Oh…aku tidak peduli pendapatnya! Menurut kamu aku tampan, kan?" Andrew kembali mencecarnya.
Vivianne menarik nafas tak tenang. " Tidak! Siapa bilang! Kamu Geer banget,sih!"
Andrew mendekatinya menarik wajahnya, " Benarkah?"
Vivianne menelan air liurnya dengans usah ayah karena wajah Andrew kembali dekat dengannya.
" Benar!"'angguk Vivianne sambil menunduk.
Andrew kembali mengangkat wajahnya, " Kamu bohong! Kalau benar, tidak mungkin kamu dulu jatuh hati kepadaku! Kalau aku tidak tampan,bukan?"
Keduanya mematung, Andrew pun terkejut dengan ucapannya sendiri. Tangannya masih memegang wajah kecil Vivianne.
Vivianne menatapnya, dia larut dalam mata biru kehijauan Andrew. Tak dapat dipungkiri rasa yang sempat dikuburnya didasar hatinya kembali mencuat. Demikian pula dengan Andrew, dia semakin dekat-semakin dekat. Vivianne kembali merasa tidak baik-baik saja saat ini.
Andrew menunduk dan menciumnya dengan sangat lembut sangat berbeda dengan sebelumnya tidak ada kemarahan didalamnya, yang ada hanya rasa kerinduan yang sudah sejak lama ditahan.
Ternyata kerinduan itu sangat dalam, tidak cukup hanya bisa melihatnya.
Vivianne yang tidak menduganya hanya bisa melotot, matanya berkedip-kedip gelisah.
Ciuman tersebut cukup lama, hingga..
BRAK!
" Ehem! Apa aku mengganggu?"
***""