
Vivianne memegang kepalanya dan melihat ke arah tangan kirinya yang terasa kaku,terasa sangat sakit. Kepalanya pun terasa sangat berat saat ini seakan berputar putar.
"Kenapa ada balutan infus? Pantas saja tanganku sangat sakit! Dimana aku? Aku kenapa yah?" begitu banyak pertanyaan di kepala dan hatinya saat ini.
Vivianne mencoba untuk bersandar pada sandaran tempat tidurnya. Dia mencoba melihat sekelilingnya. Putih. " Apa aku sudah di surga? Yang benar saja, kalau iya kenapa ada selang infus? Rumah sakit? Tapi kenapa?"
Vivianne terdiam sedikit memejamkan mata mencoba mengingat kejadian yang pernah dialaminya. Tapi hal ini membuat kepalanya semakin pusing, akhirnya dia pasrah. Ada terasa nyeri dibagian pinggang sebelah kanannya. Dia mencoba menyingkirkan selimut yang menutupinya dan membuka sedikit bajunya untuk melihat di bagian pinggangnya. Ada perban di sana yang menempel secara sempurna.
Kembali dia mencoba mengingat sesuatu terakhir yang dia tahu dia menolong seorang bapak setengah paruh baya yang katanya dompet majikannya diambil oleh pencuri lalu dia mengejarnya. Dan Vivianne berhasil mengalahkan orang tersebut dan menyerahkan kepada si Bapak paruh baya itu. Dan tidak ada yang kurang lantas…
" Kamu terluka! Jangan terlalu banyak bergerak! Lukamu masih basah. Untunglah tidak terlalu dalam tapi tetap mendapatkan beberapa jahitan." ujar seorang pria yang mulai memasuki ruangan Vivianne.
Pria ini berperawakan tinggi sangat tinggi, postur tubuhnya sangat ideal. Berkulit bersih putih kekuning-kuningan sepertinya campuran, atau paling tidak blasteran. Pakaiannya rapi, mengenakan setelah berbahan kain berwarna hitam dengan kemeja berwarna putih gading. Parasnya sangat tampan, dengan rambut depan seperti layer berponi terkesan berantakan kini tapi malah membuat terkesan macho. Hidungnya sangat tinggi dengan bibir yang cukup tebal, cipokable lah kalau kata anak jaman sekarang. Dia tersenyum dan ada lesung pipinya di sebelah kanan. Vivianne mengerjapkan matanya.
" Siapa dia? Aku sepertinya tidak mengenalnya?"kembali hanya dalam hati.
Pria tersebut tersenyum, dan itu menambah ketampanannya walaupun seperti dia jauh diatas Vivianne tapi masih sangat terlihat muda dan segar.
" Nona memang tidak mengenal saya..perkenalkan saya…" pria tersebut menyodorkan tangannya.
Tiba-tiba seseorang masuk dengan sembrono mendobrak pintu ruangan tersebut. Otomatis membuat Vivianne menolehkan kepalanya dan pria tampan tadi juga menoleh.
" Tuan. Saya sudah menebus obat dan membeli sedikit makanan untuk nona ini. Apakah dia sudah sadar?" ujar pria setengah paruh baya yang baru datang. Kemudian pria tampan itu memberikan kode dengan menolehkan kepalanya ke arah Vivianne. Vivianne pun melihat ke arah pria yang baru datang, sepertinya aku kenal wajah ini.
" Loh, Nona sudah sadar? Alhamdulillah, Nona! Tuan dan saya sangat kuatir ketika mendapatkan Nona terluka. Terutama Tuan, dia membawa dan membopong tubuh Nona dengan tangannya sendiri! Bahkan Tuan sampai berteriak-teriak di seantero rumah sakit agar cepat menangani Nona! Syukur Alhamdulillah akhirnya nona siuman juga setelah hampir semalaman tertidur, eh pingsan maksudnya! Hehehe…" ujar pria tersebut dengan semangat.
" Agus…!!" pria tampan itu menoleh dengan tatapan tajam kearah pria paruh baya yang baru saja datang.
" Ya,Tuan?" melihat raut wajah Tuannya yang tidak bersahabat pria paruh baya yang dipanggil Agus tadi mendadak terdiam. " Maaf,Tuan. Saya keceplosan!" ujarnya lugu.
Pria tampan yang selalu dipanggil Tuan itu melengos dengan kesal dan menepuk keningnya.
Vivianne yang kebingungan tidak memahami apa yang mereka bicarakan dan sedang mencoba mencernanya.
" Bukankah, Bapak yang bertemu saya sebelumnya yang kehilangan dompet bukan? Bagaimana dompetnya? Aman kan, Pak?" Vivianne bertanya dengan kuatir.
" Heran, bukannya bertanya dia dimana, kenapa dia disini, kenapa terluka, tapi malah menanyakan dompet! Lha, dompetnya kan aman banget tuh, sama pemiliknya! Benar-benar aneh, Nona satu ini!" ujar Bapak yang disebut namanya Agus itu.
" Saya masih disini,loh,Pak! Jadi saya masih dengar ucapan Bapak,baru saja.Saya hanya kepikiran terakhir soal dompet itu begitu saja, makanya saya tanyakan!" ujar Vivianne cemberut karena si Bapak memang bukan mengeluh dalam hati tapi terucap.
" Loh, Kok Nona dengar? Kan saya belum kasih tahu? Nona bisa membaca mata hati atau pikiran orang,gitu ya? Wah, Nona hebat! Sudah cantik, baik hati, pintar berkelahi, sekarang bisa memnaca mata batin,pula!" ujarnya dengan takjub.
Pria tampan tersebut kembali mendelik dan menepuk keningnya kembali sambil membelai kasar wajahnya saking kesalnya. " Loh, kenapa, memang benar kan, Tuan?"
Vivianne yang melihat hiburan di depannya tiba-tiba tertawa. " Hahaha…Bapak lucu! Auw..Auw!!" Vivi merasakan nyeri ketika tertawa di bagian pinggangnya.
Pria tampan yang ada di sebelah Vivianne mendekat tergesa-gesa, " Kamu tidak apa-apa bukan? Jangan tertawa lebih dulu atau bergerak terlalu banyak! Kan sudah saya bilang, lukamu masih basah! Keras kepala sekali!" tampa sadar mengecek kondisi tubuh Vivianne menyingkap lukanya.
Vivianne merona karena pria asing mencoba membuka bajunya, Vivianne mempertahankan pakaiannya dan malah melotot ke arahnya.
" Kenapa? Saya hanya ingin melihat lukanya! Mengeluarkan darah kembali atau tidak,itu saja!" ujarnya santai.
Vivianne kesal menatapnya dan kemudian menatap kearah Bapak yang disebut sebagai Bapak Agus yang malah tertawa.
" Kenapa kamu terlihat marah?" ujarnya santai.
" Hahaha…Tuan,Tuan. Tuan ini bagaimana sih? Ya jelaslah Nona ini marah dan malu, apa yang tadi Tuan coba lakukan? Hem? Mau menyingkap bajunya! Bagaimanapun juga dia seorang gadis,Tuan!" ujar Bapak Agus tertawa.
Vivianne menarik nafas lega, paling tidak ada seseorang yang sedikit waras memahami kemarahan dan rasa malunya.
Vivianne makin memerah menahan malu yang amat sangat dan kemarahan. " Ini orang dungu atau apa, sih? Tapi jika dilihat penampilannya, cukup terpelajar!"kesal hatinya.
" Ck! Dengan menyingkap bajunya, dari orang yang bahkan Nona ini tidak kenal?" kali ini yang menjawab Bapak Agus.
"Toh tadi juga disingkap oleh Dokter, Dokter juga orang asing bagi Nona ini,bukan? Apa bedanya coba?" dengan santai bertanya kepada Bapak Agus.
" Yah, bedalah..Tuan! Kalau Dokter kan.." Bapak Agus ingin menyelesaikan ucapannya.
" STOP! STOP!" Vivianne berteriak, dan kembali dia merasakan nyeri, dia hanya bisa mendesis menahannya.
Kedua orang dihadapannya menatapnya dengan melongo, terutama Bapak Agus sangat membuka lebar mulutnya.
" Mingkem,Pak!" ujar Vivianne memperingatkan Bapak Agus. Yang tanpa sadar diikuti.
" Hentikan pembicaraan tidak berfaedah ini! Anda…" menunjuk ke arah pria tampan tersebut. Dan pria tersebut menatapnya " Anda tidak berhak menyentuh saya, apapun kondisinya karena Anda bukan ahli medis! Jadi jangan sok dengan alasan mau cek kondisi saya!"
Pria tersebut menelan salivanya karena diomelin, sedangkan Bapak Agus hanya cekikikan tak kuasa menahan tawanya melihat paras majikannya memerah.
" Bapak juga! Jangan tertawa, saya mau tahu siapa yang membawa saya kesini?" tanya Vivianne dengan tegas.
" SAYA!" kedua orang tersebut keduanya menyahut.
Vivianne makin kebingungan. Dan lagi-lagi mereka berdua saling menatap. Pria tampan tersebut mengeraskan rahangnya.
" Agus…saya yang bawa dia ke Rumah Sakit Permata Ini…bukannya kamu!" serunya gemas.
" Tapi kan saya yang menyetir Tuan hingga kemari. Saya juga yang ikutan mendorong Brankar,Nona ini Tuan.." ujar Bapak Agus.
" Iya…tapi yang dimaksud Nona ini…." ucapan pria tersebut terputus.
" STOP!" Vivianne makin kesal menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Vivianne berpikir dengan tenang yang dilihat oleh kedua pria dihadapannya.
" Yang membopong saya kesini,siapa? Tadi Bapak bilang saya dibopong, bukan?" tanya Vivianne kepada Bapak Agus.
" Saya! Nama saya…" ujar orang tersebut menyodorkan tangannya.
" Nama Tuan ini Damian Mathews! Tuan ini majikan saya yang kemarin dompetnya dicuri dan yang Nona selamatkan hingga Nona masuk Rumah Sakit! Dia salah adalah CEO Mathews Construction. Salah satu konglomerat di Jakarta dan di Indonesia. Perusahaannya tersebar dimana-mana bahkan sampai keluar Negri. Sayangnya dia jomblo ditinggal meninggal dunia oleh istrinya dan hingga kini belum menikah menikah juga. Oh, ya Tuan..ini memiliki satu…" ujar Agus mempresentasikan majikannya.
Pria tersebut yang diketahui Vivianne namanya Damian Mathews mendorong sang bawahan keluar kedalam ruangan tersebut dan mengunci kamar tersebut.
Tok!!
Tok!!
" Tuan, Nona. kok saya malah dikunci, sih?" terus mengetuk ruang perawatan dari luar.
Damian tersenyum dengan rasa malu, " Sudah, abaikan saja Dia! Dia memang selalu begitu. Tapi dia salah satu ajudan terbaik saya, walau kadang kurang ajar seperti tadi. Sampai dimana tadi?"
Vivianne mematung dia menatap orang tersebut, " Damian Matthews?, Dimana aku pernah mendengar namanya, ya?"
Vivianne larut dalam lamunannya.
" Nona? Nona mendengarkan saya?"
*****