
Keduanya menoleh, Vivianne langsung mendorong tubuh Andrew menjauh. Vivianne membuang wajahnya dan menghapus sisa-sisa ciuman mereka di bibirnya dengan kasar.
Andrew yang terdorong oleh Vivianne segera mengendalikan dirinya dan menoleh ke arah datangnya suara.
" Sorry, apa gue ganggu kalian?" tanya seorang pria muda tampan yang masuk secara perlahan, namun tentu saja lebih tampan Andrew jika dibandingkan.
" Nggak bisa apa, ketuk pintu dulu,ya Lex?" seru Andrew kesal sambil membenahi dirinya dan berjalan menuju sofa yang ada di ruangan tersebut.
Alex membuang nafas kasarnya, " Gue sudah ketuk berapa kali,tapi tidak ada sahutan dari dalam, yah gue pikir…"
" Apa yang Lo pikir, salah! Seharusnya, Lo tetap tunggu jawaban dari dalam! Ngapain Lo kesini?" ketus Andrew dengan raut wajah masih kesal.
" Kan tadi gue udah minta maaf, Drew! Hai, Vi! Bagaimana kabarmu? Apa yang terjadi? Kok bisa luka seperti ini sih?" Alex mendekat kearah Vivianne dia hendak memegang Vivianne tapi kemudian sebuah tangan besar menarik kerahnya.
" Jangan dekat-dekat! Vivi masih sakit! Kakinya masih luka. Lagian, ngapain sih, Lo disini?" tanya Andrew tidak suka.
Alex terdorong beberapa langkah mundur karena tarikan kencang Andrew di kerah bajunya.
" Ya ampun, Drew! Masih aja sikap Lo kayak dulu! Cemburuan! Gue cuma mau lihat kondisi Vivi aja kok, masa nggak boleh, sih? Oh, ya Vi, aku bawa buah-buahan buat kamu, habis kata Andrew kamu dirawat. Sorry cuma buah yang bisa aku bawa, nggak masalah,kan?" tanya Alex ramah.
Vivianne yang ditanya sedikit gugup karena ucapan Alex. Dia mencoba menenangkan dirinya, " Ga papa Lex, makasih yah, sudah datang. Tidak perlu repot-repot Lex, pakai bawa buah segala…" ucap Vivianne mencoba ramah.
" Nggak repot kok! Sebenarnya apa yang terjadi sih, dengan kalian? Vivi Lo apa-in,Drew? Jangan bilang ini semua karena elo!"Alex menoleh ke arah temannya dengan raut wajah curiga.
" Sebenarnya…" Vivi hendak mengungkapkan sesuatu tetapi ucapannya terpatahkan oleh jawaban dari Andrew.
" Hmm…Iya gue yang kurang hati-hati pas nyetir kemarin. Jadi begini deh! Makanya gue minta sama Lo, untuk mengurus bisnis kita sementara waktu pas gue nggak ada. Terus ngapain Lo kesini? Nggak mungkin kan, hanya jenguk Vivi?" Andrew menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
" Wah Lo, parah Lo! Buat anak orang celaka! Seingat gue, setelah di Aussie lo ga pernah lagi balapan liar! Ternyata, masih aja Lo nyetir ugal-ugalan? Nggak nyangka gue! Bukankah waktu itu lo bilang, sudah insaf yah? Terus kenapa sekarang…" Alex berbicara tanpa jeda.
Vivianne yang mendengarkan ucapan mereka sedikit kaget, 'Jadi, Andrew sudah tidak pernah balapan lagi? Kenapa?'
" Berisik! Buruan Lo bilang kesini mau apa?" ketus Andrew yang tidak suka dengan ucapan temannya yang terkadang suka ember itu.
" Oh, itu..Lo masih ingat kan, Mr.Smith mau ketemu Lo bahas project kita di Indonesia? Dia telepon gue setelah menghubungi Lo nggak bisa katanya. Dia bilang mau bahas mengenai project tersebut. Jadi, bagaimana? Kapan Lo bisa? Tadinya dia minta ketemu sama Lo malam ini! Tapi…" Alex menahan ucapannya dan menatap Andrew kemudian menatap Vivi.
Vivi yang semula melihat interaksi keduanya pura pura kembali makan pudingnya meski dengan sangat pelan.
" Tunda semuanya. Gue nggak bisa! Kalau dia masih mau, suruh tunggu! Kalau nggak lupakan!" Setu Andrew santai sambil duduk dan menyilangkan kedua kakinya disofa.
" Tapi,Drew! Lo tau kan, dia nggak punya banyak waktu di Indonesia! Dia akan ke Paris setelah itu! Dia hanya punya waktu seminggu disini! Kalau kita nunggu dia balik dari Paris, bakalan lebih lama lagi,bro! Bisa dua bulan lagi! Kan Lo tau bisnis ini penting buat kita! Yang penting dia setuju dan tanda tangan agreement kita. Hampir setahun kita mencurahkan energi kita disini! Ini kesempatan kita, karena dia mau menemui kita! Bukankah, salah satu tujuan kita kesini adalah untuk mengejar dia, Drew?" dengan panjang lebar dan raut wajah kesal Alex duduk di hadapan temannya itu.
" Gue tahu! Tapi gue nggak bisa.." Andrew dengan gelisah menatap Vivianne yang berbaring disana dan kebetulan juga menatapnya, pandangan mata mereka bertemu. Tapi Vivianne duluan yang mengalihkan tatapannya.
" Pergi saja! Aku bisa kok mengurus diriku sendiri! Aku akan telepon seseorang untuk menemaniku, malam ini." ujar Vivianne santai.
Andrew memicingkan matanya dengan curiga, dan menatap ke arah tempat tidur Vivianne.
" Siapa? Papah? Jangan sekali-kali kamu menghubunginya tanpa persetujuanku,Vi!" dengan sedikit marah Andrew menatapnya tajam.
" Loh? Kenapa? Wajar dong, kalau aku menghubunginya? Bagaimanapun juga dia adalah tunangan ku!" dengan santai dan tenang tanpa menatap Andrew. Vivianne berujar sambil meneruskan memakan kembali pudingnya tanpa merasa terganggu.
Andrew menatap Vivianne dengan mata memerah menahan emosinya. Dadanya mulai naik turun. Tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya.
BRAK!
Vivianne terkejut dan mendongakkan kepalanya menatap lurus ke arah Andrew.
Vivianne memang terkejut atas reaksi yang ditunjukkan oleh Andrew tapi dia tidak takut sama sekali dia malah menantang tatapan Andrew.
Meja didepan sofa itu telah retak bahkan ada bagian kacanya pecah dan darah mulai mengalir di tangan Andrew. Tapi Andrew tidak peduli, dia menatap penuh kemarahan ke arah Vivianne yang malah menantang tatapannya.
Alex pun kaget dengan tindakannya. Baru kali ini setelah sekian lama dia tidak melihat Andrew yang penuh dengan amarah. Rasanya sudah bertahun-tahun lalu lamanya. Mungkin ketika mereka SMA atau pas ketika kuliah di Jogja.
" Wow! Come down,bro! Bagaimana kalau kita bicarakan di luar dengan kepala dingin, Ok?" ujar Alex ketika melihat suasana panas dan tatapan keduanya yang saling menatap dengan kemarahan.
" Kamu…! Jangan sekali-kali, menghubunginya! Dengarkan itu, Vi! Aku tidak main-main!" seru Andrew marah.
Vivianne hanya menaikan bahunya dengan cuek. Dia tidak peduli dengan ancaman Andrew ataupun takut. Dia bukanlah Vivianne yang dikenal Andrew empat tahun lalu. Tidak ada alasan dia takut terhadap Andrew, kecuali satu hal.
Andrew tidak boleh tahu mengenai AVAN! Anak mereka. Itu sebabnya Vivianne memutuskan hendak menghubungi Damian, agar dia bisa pergi dari sini dan tidak berdekatan dengan Andrew. Ada kekuatiran sendiri di hatinya jika berdekatan dengan Andrew! Dia tidak ingin luluh dan kembali kepelukan Andrew! Tidak! Terlebih dirinya saat ini sudah menjadi tunangan Damian. Papanya Andrew.
Andrew diseret oleh Alex keluar meski Andrew sempat melawannya tapi dengan susah payah akhirnya Andrew dapat berhasil ditariknya keluar dari ruangan rawat inap kamar tersebut.
Andrew mondar-mandir di depan kamar rawat inap Vivianne.
Kemudian menatap Alex dengan penuh emosi, " Ngapain Lo tarik gue keluar,Lex! Lo lihat kan, perilakunya dia?"
Kemudian Andrew menggebrak pintu kamar ruangan Vivianne sambil berteriak.
BRAK!!
" Dengar, Vi! Tidak ada siapapun yang bisa membawa kamu dari sini,kecuali aku! Aku! Apalagi papaku! Tidak akan pernah!" teriaknya.
BRAK!
" Drew! Tenang! Lo ga akan bisa menutup mata atas kenyataan yang ada, kalau apa yang dibilang Vivi adalah benar! Dia tunangan Papah Lo!" ujar Alex mencoba menarik tangan besar Andrew.
Andrew malah berbalik mencengkram kemeja yang dikenakan oleh Alex bahkan darah mulai menetes di kemeja biru muda Alex.
Alex hanya menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar, " Bukan gue musuh Lo, Drew! Lo nggak akan dapat apa-apa kalau tingkah Lo masih begini! Lo harus tenang dan berpikiran jernih kalau mau menarik hati Vivianne! Tapi bukan begini caranya! Tenang ..bro!" seru Alex kembali sambil menatap sahabatnya itu.
Andrew melepaskan kerah sahabatnya dengan gusar, dan kemudian mengusap rambutnya kebelakang dengan gelisah.
" Lantas, apa yang harus gue lakuin,Lex? Apa? Lo tau kan, gue nggak bisa kehilangan Vivi sekarang! Tidak lagi,Lex! Lo juga tau kan, salah satu alasan gue kembali ke Indonesia buat dia! Gue mau minta maaf atas semua kesalahan apa yang sudah pernah gue perbuat sama dia! Gue mau benahi semuanya,Lex! Tapi lihat! Dia sedikitpun tidak mau melihat itu! Dia ga mau kasih kesempatan gue,Lex! Bagaimana gue bisa tenang!" seru Andrew kembali sambil menghantam dinding di sebelahnya, darah makin mengalir lebih deras saat ini.
Alex menatapnya dengan sedikit ngeri, kali ini sepertinya Andrew tidak main-main.
Tiba-tiba Andrew berbalik dan menatap kearah Alex.
" Gue butuh bantuan Lo, Lex!" ucap Andrew menatap Alex dengan mata nanarnya.
Alex yang mendengarnya lemas, dia terduduk di kursi panjang di depan kamar rawat inap Vivianne. Alex yakin apa yang diminta Andrew kali ini bukanlah sesuatu yang mudah.
" Apa yang lo mau gue lakukan?" lirih Alex berujar.
******