
Vivianne tersenyum manis dengan rasa malu yang terlihat jelas saat Andrew mengucapkan kata-katanya. Andrew merasa geram melihatnya.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu, sih? Apa aku setampan itu? Heh?" Goda Andrew pada Vivianne.
"Idih! Apa sih! Bukan itu maksudku, Kak!" Ucap Vivianne sambil merasa malu.
"Ya terus, terima kasih untuk apa?" Tanya Andrew penasaran.
Vivianne menundukkan kepalanya sambil merasa malu.
"Terima kasih untuk sudah mencari dan mengkhawatirkan aku!" Kata Vivianne lembut sambil memakan sisa biskuitnya dan tidak menatap Andrew.
Andrew tersenyum lebar sambil mengacak rambut Vivianne, "Tentu saja aku khawatir, kamu adalah kekasihku, pacarku! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu bisa berada di bawah sana? Bukankah kamu hanya ditugaskan mencari air di aliran atas sana? Kenapa sampai jatuh ke jurang?" Tanya Andrew penasaran.
"Aku didorong Martha! Dia cemburu! Dia pikir aku mencuri Kakak dari dirinya! Apakah hubungan kalian sedekat itu?" ujar Vivianne.
"Apa? Martha? Dasar gila, anak itu! Tentu saja tidak! Aku tidak tertarik padanya! Dia memang sudah lama jatuh hati kepadaku, sejak kami pertama kali bertemu! Tapi aku tidak pernah memberi respon pada perasaannya! Setelah kita keluar dari sini, aku akan membicarakannya dengan dia!" Kata Andrew sambil mengepalkan tangannya.
"Hmm… Kak, aku merasa mengantuk! Tetapi, kemana baju Kakak?" Tanya Vivianne sambil menguap.
"Bajuku rusak ketika kita jatuh. Jadi, maaf ya, aku harus melepaskannya. Tidak apa-apa, kan?" Kata Andrew sedikit berbohong, sementara Vivianne masih belum menyadari lukanya yang dibalut oleh kaos Andrew.
Vivianne menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa, selama itu tidak lebih dari itu, Kak! Hehehe… Auw…"
"Ada apa? Apa kamu merasa sakit?" Tanya Andrew panik.
"Kakiku terasa sulit digerakkan, Kak! Terasa kaku. Apa yang…" Vivianne baru menyadari lukanya yang terbalut seperti potongan kain. Dia menatap Andrew sambil menutup mulutnya.
"Oh iya, sudah kuletakkan kain di atas sana. Biarlah aku balut kakimu dengan kaosku. Aku akan mencarikan sesuatu untuk dipakai sebagai alas, tunggu sebentar." Kata Andrew sambil mengambil tasnya, untunglah dia membawa tas anti air. Setelah itu, dia mengambil sebuah atasan kaos.
"Ganti pakaianmu dengan ini! Agar kering dan kita bisa mengeringkan bajumu di atas api unggun." Kata Andrew.
"Di sini, Kak?" Tanya Vivianne ragu.
"Iya, di sini. Mau ke mana lagi?" Kata Andrew.
"Tapi..."
"Tapi apa? Oh, aku mengerti. Aku akan berbalik, kamu bisa menggantinya dan aku tidak akan mengintip, OK?" kata Andrew dengan mengejek sambil mengerlingkan matanya.
Vivianne menelan ludahnya. "Janji, jangan mengintip! Awas saja!"
"Iya, iya! Buruan ganti!" Kata Andrew.
Setelah itu, Andrew berbalik, dan Vivianne buru-buru mengganti seluruh pakaiannya, bahkan celananya yang basah. Dia bingung harus tetap memakainya atau melepasnya.
"Sudah belum, Vi? Lama sekali!" Kata Andrew.
"E-eh, iya, Kak! Tunggu sebentar." Kata Vivianne sambil kembali merasa malu.
"Sudah, Kak!" Ucap Vivianne sambil menyembunyikan dalaman atas di belakang tubuhnya.
"Sudah? Di mana bajumu? Biarkan aku mengeringkannya!" Pinta Andrew.
Vivianne menyerahkan kaosnya, dan Andrew menaruhnya tidak jauh dari api unggun yang dibuatnya. Dia membuat seperti gantungan dari ranting dan dahan untuk mengeringkan bajunya.
"Tidurlah…" Ucap Andrew.
Vivianne kembali merasa nyaman dan tidur meski tidak dalam keadaan yang nyaman. Andrew tetap terjaga dan menjaga agar api unggun tetap menyala. Karena itu hutan, dia butuh penerangan jika tidak ingin ada binatang buas yang melintas. Terdengar dengkuran halus berasal dari Vivianne. Andrew tersenyum, "Cepat juga dia tertidur. Syukurlah."
Namun, belum lama setelah itu, dia mendengar gerakan gelisah di sebelahnya. Andrew terbangun dan bertanya, "Vi! Vivi, apa kamu baik-baik saja?" Tetapi, Vivianne tidak menjawab dan hanya bergumam.
"Di-dingin…dingin…" Ujar Vivianne.
Andrew mengerutkan keningnya, "Dingin? Jangan-jangan, Vivi…Oh tidak, dia demam!" Sambil memegang kening Vivianne yang sangat panas.
"Di-dingin…dingin…" Ujar Vivianne kembali.
Andrew tidak tahu harus berbuat apa. Dia teringat sebuah artikel yang pernah dia baca. Jika seseorang terluka dan mengalami kedinginan dalam suhu yang sangat dingin, satu-satunya cara adalah memberikan kehangatan melalui suhu tubuh manusia dengan cara primitif.
Andrew mulai bimbang dan menelan ludahnya. Suhu tubuh Vivianne tidak menurun setelah diompres dan bahkan semakin memburuk. Semua tubuhnya dingin seperti es.
Akhirnya, Andrew menutup matanya sejenak dan kemudian membuka celananya perlahan-lahan. Dia memberikan jaketnya yang tersisa di dalam tasnya untuk menutupi paha mulus Vivianne yang terbuka.
Andrew memegang kepala Vivianne. Dia mencoba keluar dan merendam sebagian kain bajunya yang tersisa ke dalam aliran sungai. Setelah itu kembali ke dalam goa dan menempelkan kain tersebut di dahi dan kening Vivianne.
"Di-dingin, Kak! Dingin…" Ucap Vivianne sambil bergumam.
"Ya Tuhan, aku harus berbuat apa?" Gumam Andrew gelisah.
Dalam kondisi seperti ini, dengan luka dan adanya kedinginan yang sangat membahayakan bagi kesehatan Vivianne, satu-satunya jalan adalah memberikan kehangatan melalui suhu tubuh manusia. Andrew berpikir enakan dia daripada orang lain.
Andrew mulai meraba-raba ke dalam baju Vivianne, dan dia terkejut ketika Vivianne tidak mengenakan dalaman di dalam baju yang dia berikan. Dia merasa bingung harus berbuat apa lagi.
Andrew menelan ludahnya, lalu memeluk Vivianne dan menciumnya. Vivianne membalas tanpa sadar. Namun, hal itu membuat Andrew semakin bergairah dan membabi buta, sampai akhirnya melepaskan pakaian mereka. Mereka mulai berciuman, termasuk di kedua payudara Vivianne yang menyebabkan Vivianne melenguh tidak sadar. Andrew kemudian merapat ke bawah dan semakin dekat dengan tubuh Vivianne. Vivianne menggeliat dan akhirnya mereka melakukan hubungan ****.
Namun, ini adalah sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Andrew merenggut kesucian Vivianne di malam itu. Mereka berdua saling berbagi peluh dan kehangatan tubuh. Andrew tidak bisa mengingat semuanya ketika semuanya berakhir, meskipun mereka berdua menikmati momen tersebut meski kondisinya tidak sempurna.
Ketika suhu tubuh Vivianne kembali normal, Andrew merasa sedih dan lega di saat yang bersamaan. "Aku tidak berniat melakukan ini, Vi! Tapi ... Maafkan aku!" ujarnya sembari mencium kening Vivianne dan memeluknya erat. "Sampai saat ini, aku tidak akan pernah menyesalinya. Kamu sempurna untukku! Kamu indah!" Mereka berpelukan tanpa busana sampai mereka lelah dan akhirnya terlelap.
Keesokan paginya, Vivianne bangun dan merasa bahwa tubuhnya basah dan dingin. Dia terkejut saat menyadari bahwa dia tidak mengenakan pakaian apa pun dan meringkuk di pelukan seorang pria yang bukan muhrimnya. "Kak Andrew? Apa yang terjadi? Hiks ... Kak! Mengapa kamu melakukan ini?" Vivianne menangis.
Andrew terbangun dan menyadari apa yang terjadi. "Maafkan aku, Vi. Kemarin malam, kamu sakit dan dingin seperti es ... Aku tidak tahu harus melakukan apa selain ..."
"Argh !!! Oh Tuhan ... Tolong ampuni aku!" ucap Vivianne menangis pilu. Andrew hanya bisa memeluknya dan merasakan kesedihannya tanpa bisa mengatakan apa-apa.