Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 55 Pria Dari Masa Lalu



Vivianne terus melangkahkan kakinya menuju keluar Mall, tak dihiraukannya meski kakinya terasa lemas dan hampir goyah. Berkali kali Vivianne terhuyung dan berakhir menabrak orang di sepanjang perjalanannya. Dia juga sempat hampir jatuh karena tersandung, entah tersandung oleh apa. Dia pun tidak yakin. 


Dia tidak peduli, bahkan ketika Avan mulai merasa tidak nyaman, Vivianne mengabaikannya. Tujuannya hanya satu, pergi dari sana secepatnya. Dia tidak ingin bertemu seseorang dari masa lalunya. Dia sudah merubah semua penampilannya, tapi entah kenapa seseorang masih mengenalinya. 


Vivianne memanggil taxi dengan gusar, dan menghentakkan kaki karena mulai tidak sabaran. 


Vivianne mulai berpikir yang tidak-tidak.


Jika dia ada disini, pasti temannya itu juga ada disini. Ya Tuhan, ada apa ini? Mengapa setelah sekian lama dia di Jakarta , kenapa baru sekarang dia bertemu dengan Alex? Yah, orang yang ditabraknya adalah Alex sahabat terdekat dari Andrew. Seseorang yang ingin dia lupakan, dia lenyapkan dari pikiran dan hatinya. 


Terakhir yang dia tahu mereka pindah ke Luar Negeri. Ke Melbourne melanjutkan kuliahnya.


Dan kenapa Vivianne bisa tahu? Itu karena sang Bunda pernah memaksanya untuk mencari Andrew untuk meminta pertanggung jawaban Andrew beberapa Minggu setelah Vivianne bisa menceritakan dengan tenang kepada sang Bunda. Dan Sang Bunda telah memaafkannya. Dan ketika Vivianne sampai di Kampusnya berita menakutkan terjadi.


Andrew telah pergi dari sana bersama teman-temannya ke Luar Negri. Dan ini yang membuat sang Bunda sempat jatuh sakit, dan Vivianne makin terluka. Bisa bisanya mereka meninggalkan Vivianne tanpa beban.


"Kenapa dia ada disini,sekarang? Jika Alex ada disini,maka berarti…Andrew pun ada disini!  Apa mereka sudah kembali ke Jakarta? Ya Tuhan, jangan sampai aku bertemu dengan mereka. Terutama dengan Andrew! Tidak! Aku akan menghindarinya jika bertemu dengannya. Tapi Aku berharap semoga saja tidak!" tak berapa lama Maya dan Bunda muncul di samping Vivianne dengan memegang dadanya. 


" Mbak! Hosh! Hosh! Ada apa sih? Kenapa kita tidak jadi belanja?" ujar Maya yang masih terengah karena dia sempat berlari mengejar sang kakak karena takut kehilangan jejaknya di Mall tersebut yang sangat luas.


" Hmm…Tidak ada apa-apa. Mbak lelah,May! Besok,kan Mbak harus bangun pagi-pagi karena harus menghadiri wisuda Mbak bersama Bunda! Bunda juga pasti lelah, lebih baik kita pulang. Besok atau lusa kita bisa berbelanja lagi." ujar Vivianne tanpa menatap Maya karena taxi yang dipanggilnya telah sampai didepan lobi.


" Oh…! Ya, sudah terserah kakak aja." ujar Maya yang sedikit kecewa.


Sedangkan sang Bunda hanya menatap anaknya dengan raut wajah curiga.


" May, kamu masuk dulu, Bunda juga, yah? Biar Mbak di depan," ujar Vivianne sambil membuka pintu taxi tersebut.


Satu persatu pun dari mereka mulai masuk, diawali dengan Maya, kemudian sang Bunda. Tapi ketika sang Bunda hendak masuk dia menatap Vivianne sambil berbisik, " Kamu harus menjelaskannya sama Bunda nanti malam! Ada apa sebenarnya! Sini biar Avan bunda yang gendong."


" Tidak perlu, Bun. Avan sepertinya kelelahan, di tertidur, " tolak Vivianne halus 


" Baiklah.Ingat pesan Bunda tadi!" ujar sang Bunda.


Vivianne hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya. Bundanya memang peka, dia paling mengenal Vivianne. Tentu saja dia tahu, ada sesuatu yang mengganggu Vivianne.


Setelah sang Bunda masuk secara sempurna Vivianne menutup pintu taxi untuk penumpang belakang secara sempurna. Vivianne bergegas untuk membuka pintu taxi depan. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara seseorang, seseorang yang ingin dihindarinya.


"Tidak! Ini pasti hanyalah sebuah ilusi!, Ya kali aku mendengar suaranya disini, Hahaha…" tawanya lirih.


Tapi suara itu semakin terdengar jelas, seperti berbicara dengan ponselnya.


" Ya, Lex? Lo, gue baru sampai nih! Lo  dimana? Jangan bilang Lo sama cewek itu! Males tau gue bertemu dengan dia! Cewek munafik!And, please tell me this is important! Otherwise, I will be mad at you! I'm in the middle of a meeting when you call me!" ujar orang tersebut.


Vivianne menoleh ke arah kanan dan betapa terkejutnya dia ketika melihat seseorang dari masa lalunya itu. Dia menaikan maskernya lebih tinggi saking gugupnya dia tidak ingin orang tersebut mengenalinya.


" Di-dia?" lirih Vivianne. Dia masih terlihat sangat tampan dan lebih dewasa sekarang. 


"Tapi, benarkah itu dia? Andrew?" ujar Vivianne pelan dengan bibir yang terasa bergetar.


Sedangkan pria yang ditakutinya semakin mendekat sedangkan kaki Vivianne bagaikan mati rasa sekarang, kaku tidak bisa digerakkan. 


Dia berusaha sekuat tenaga untuk bisa bergerak. Langkah kakinya tertahan. Dia berusaha menggapai gagang pintu mobil depan, tapi dia selip sepertinya sendalnya terlalu licin. Vivianne pun limbung ke belakang dia memegang erat sekali Avan ketika dia akan jatuh terjerembab. Dia hanya berharap Avan tidak akan sakit karena dia tidak akan membiarkannya.


Bunda pun keluar dari pintu penumpang belakang karena mendengar teriakan anaknya. Dia  terdiam membeku dan hanya bisa melihat kejadian yang sangat cepat itu terjadi. Anaknya di pertaruhkan nyawanya.


" Loh, aku tidak terluka? Ya Allah, terima kasih. Aku selamat! Terima Kasih ya Allah." Vivianne bergumam pelan.


" Nyonya, nyonya tidak apa-apa,Kan? Anda baik-baik saja?" seseorang berbicara di belakangnya.


Dan dia menoleh sekilas melihat tangan besar memeluk bahunya agar tidak terjatuh. Itu sebabnya dia tadi tidak merasakan sakit.


Pria tersebut membantunya berdiri dan berdiri di sampingnya. Vivianne berusaha menunduk. Tapi pria itu malah ikut menunduk seperti mencari wajahnya.


" Nyonya? Anda dengar yang saya bilang?" ujarnya kembali.


" Ah, Ya! Sa-saya baik baik saja. Terima Kasih!" dengan terburu-buru Vivianne langsung membuka pintu mobil dan masuk tanpa memberikan kesempatan orang tersebut berbicara.


" Terima Kasih ya,Nak. Maaf kami terburu-buru!" ujar Bunda mengangguk dan masuk kedalam mobil.


" Sama-sama." ucapnya terputus.


Sedangkan Vivianne terus menunduk sambil memeluk erat Anaknya didalam mobil tubuhnya bergetar. Air matanya mulai mengalir dia mulai terisak dalam diam.


" Pak! Jalan, secepatnya,Pak!" ujar Vivianne Kelu.


" Kamu baik baik saja, Nak? Tidak ada yang terluka,kan?" Bunda berujar dengan kuatir.


Vivianne hanya menganggukkan kepalanya, tapi kemudian menggelengkan kepalanya.


Bunda semakin kuatir dan mencoba memajukan tubuhnya ke arah Vivianne yang duduk di depan. Dan memeluk bahunya, dan pecahlah tangis Vivianne. Avan yang terbangun menatap Auntie-nya yang memeluknya dengan erat.


" Avan duduk sama kakak Maya dulu yah? Pak, tolong berhenti sebentar." ujar sang Bunda sangat kuatir.


" Baik,Bu!" ujar sang Supir yang telah jauh melajukan mobilnya meninggalkan Mall tersebut itu pun akhirnya berhenti menepi.


" May, Kamu didepan sama Avan. Vivi kamu pindah ke belakang sama Bunda!" ujar sang Bunda memerintahkan.


Maya hanya mengangguk dengan Avan di gendongannya dan Vivi pun dengan lemah keluar dan berpindah tempat duduk dengan Maya.


Setelah mereka berpindah tempat duduk, Vivianne memeluk Bundanya sangat erat.


"Kamu kenapa,Nak? Kamu tidak pernah seperti ini setelah-setelah kejadian itu. Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi? Kamu mengenal pria itu,Nak?" tanya Bunda yang mulai curiga.


Vivianne mengangguk dalam pelukan sang Bunda. Dan Bunda memberikan kekuatan dengan memberikan belaian lembut di punggungnya.


" Boleh, Bunda tahu itu siapa?" tanya Bunda pelan  yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.


" Di-dia…Andrew,Bun."


Bunda menegang di dalam pelukan Vivianne. " A-andrew? Pria yang pernah menghamili, kamu?"


Vivianne kembali mengangguk lemah.


*******