Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 12 Alex Menjenguk Bryan



Andrew, kesal dan merasa cemburu yang memuncak membuatnya tidak berlama-lama setelah menghukum Vivianne.


Meski begitu dia cukup bahagia, mengingat kejadian tadi di rumah sakit. "Dia sedikit tersenyum sambil menyentuh bibirnya," manis batinnya kali ini.


"Ah, tidak-tidak, jauhkan pikiranmu dari dia Andrew! sambil memaki di dalam hati. Dia sama saja dengan Lisa! Hanya sekedar mempermainkan perasaan Bryan dan aku!. Baru saja ku lihat dia habis merawat Bryan dengan lembut, bahkan mungkin saja bukan, dia habis mengecupnya! Argh! Kenapa harus jadi begini sih? Kenapa lagi-lagi kami harus bertengkar hanya karena seorang gadis? Kenapa pula Bryan mati-matian membelanya? Apa istimewanya gadis itu! Yah, ku akui dia memang cantik walau tanpa make up dan dengan wajah polosnya itu! Dia juga pintar, tidak seperti gadis-gadis yang tidak punya otak selalu menempel padaku. Dia juga lembut sepertinya, bibirnya. Dan mandiri tidak seperti gadis kebanyakan yang manja! Atau pura-pura manja! Tapi, No! Andrew wake up! Dia hanya sebatas taruhan! Yah, benar! Biar dia tahu rasa pembalasanku! Siapa suruh berani dekat-dekat dan mempermainkan kami! Aku dan Bryan! Dasar gadis kampung!"


Bug!


Dipukulnya dinding rumah sakit hingga berkali-kali tak dirasanya bahkan ketika tangannya mengeluarkan darah sekalipun.


Tiba-tiba ponselnya berdering, dia mengira Alex yang akan menghubunginya karena mereka janjian akan bertemu di rumah sakit. Tapi ternyata bukan.


Andrew menyipitkan matanya dan mengerutkan dahinya ketika melihat nama yang tercantum di layar ponselnya itu, Tommy? Mau apalagi anak itu?


" Ada, apa? Ngapain Lo hubungin gue?" tanpa basa basi dia berbicara ketika ponselnya tersambung.


("....")


" Apa? Apa Lo bilang? Gue curang? Hah! Kalah ya kalah aja! Berapa kali pun kita tanding, Lo tetep akan kalah, bro!" Andrew yang masih kesal dan marah terhadap Vivianne merasa makin kesal setelah berbicara dengan Tommy.


(".....")


" Eh, jangan banyak bacot,Lo! Lo dimana, sekarang? Tempat biasa? Ayo, siapa takut! Nggak kali ini gue datang sendiri! Awas Lo, jangan kabur! Gue meluncur!" ujar Andrew kesal.


Tut!


Diputuskannya sambungan telepon tersebut,dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, dan seakan melupakan janji dengan Alex dia pergi keluar dari rumah sakit dan ke arah parkiran untuk mengambil motornya tersebut.


Andrew memacu motornya sangat kencang menuju tempat yang disepakati dengan si penelpon yang ternyata Tommy itu.


******


Tak berapa lama Andrew pergi sekitar 30 menit kemudian Alex tiba dirumah sakit. Dia tergopoh-gopoh pergi ke lantai dua dengan lift dan kemudian dia mencari ruangan tempat Bryan dirawat.


" Kalau tidak salah, kata Vivi 205, bukan? Ah, sepertinya itu disana? Loh sedang apa kedua orang polisi itu keluar dari ruangan Bryan? Mau apa? Lebih baik ku hampiri" Alex bergegas menghampiri kamar yang diyakini ada Bryan disana. Dia sedikit menunduk dengan hormat ketika berpapasan dengan dia polisi yang sepertinya tergesa-gesa keluar.


Alex memutuskan lebih baik bertanya kepada Vivianne saja. Dia pun masuk keruangan, ternyata melihat Bryan yang telah siuman sedang ditemani Vivianne disampingnya dengan sepiring bubur ditangannya sepertinya hendak menyuapinya.


" Hi,bro! What's up, bro! Sudah siuman? Hi, Vi! Kok kalian bisa akrab sih? Gimana bisa, Vi? Lo ketemu Bryan? Cerita dong! Kepo nih, gue!" ujar Alex sambil menyalami temannya dan menunduk menyapa Vivianne.


" Berisik! Lo dateng-dateng bukannya tanya kabar gue, kek.Malah cari bahan ngegosip! Dasar! Ga setia kawan Lo!" ujar Bryan yah, yang tak berapa lama siuman setelah ditinggal pergi Andrew.


" Idih! Ngambek! Ini gue Dateng! Dan karena gue lihat lo sepertinya baik-baik saja, yah nggak perlulah gue tanyain! Cuma kepala doang kan dikit itu yang diperban besok atau lusa palingan juga sembuh dan boleh pulang kok, lo! Ya, kan? " tanya Alex.


" Kok, kamu tahu? Kamu kayak cenayang, deh! Iya tadi dokter bilang tidak ada hal yang serius yang perlu dikuatirkan. Hasil MRI bagus, mungkin karena Bryan tidak lepas helm kali yah?" Vivianne yang menjelaskan.


" Oh, good. Terus lo bisa ketemu Bryan? Dan dia polisi tadi, ngapain kesini?" tanya Alex kemudian.


" Vivianne yang menyelamatkan gue, pas dia mau bekerja abis ngasih les private, dia melihat gue terkapar di jalanan. Gue tidak sengaja nabrak tiang listrik karena menghindari pejalan kaki. Dia juga yang nemenin gue dan bawa gue pake ambulance kesini! Kalau dua polisi tadi sih, biasalah! Karena ada kecelakaan lalu lintas jadi bertanya-tanya pas gue siuman. Yah, gue bilang aja, kebenarannya. Kecelakaan tunggal ga sengaja nabrak tiang listrik.Vivi juga ditanya tadi,tapi ini murni kesalahan gue, jadi yah, mereka paham. Cuma paling Vivi besok harus kasih laporan sih. Gitu doang." ujar Bryan menjelaskan sambil memakan suapan yang diberikan Vivianne.


" Oh, gitu. Eh, ngomong-ngomong dimana Andrew? Bukannya seharusnya dia sudah sampai disini,bukan? Kita janjian tadi mau kesini!" ujar Alex.


Vivianne yang mendengar nama Andrew terkejut dan menjatuhkan sendoknya.


" Dia kenapa?" tanya Alex kemudian.


" Entahlah! Dari tadi dia juga lebih banyak diam, seperti ada yang di pikirin gitu. Memang Andrew kesini, Lex? Kok gue nggak lihat sih, entahlah pas gue tak sadarkan diri,tapi kalau pas itu seharusnya Vivi ketemu sih! Tapi itu anak nggak bilang apapun. Gue juga baru siuman ga sempet tanya." ujar Bryan menjelaskan.


" Apa, dia.." belum selesai dia menyelesaikan kalimatnya mengenai Andrew ponsel Alex berbunyi.


" Lebih baik Lo angkat dulu tuh! Siapa tahu Andrew!"ujar Bryan sambil merebahkan dirinya kembali.


" Bukan! Anto nih! Tumben itu anak hubungin gue?" dengan binggung Alex melihat ponselnya.


" Yah angkat saja lah! Penting kali!" ujar Bryan mulai menutup matanya.


Alex mengangguk dan memencet tombol terima telepon. Sambil sedikit menjauh sedikit.


" Kenapa to?Tumben, Lo hubungin gue?" tanya Alex tanpa basa basi.


("...")


" Hah? Yang bener, lo? Andrew, sudah disana? Dasar itu anak! Sial! Gue telat! Ya udah lo tolong lihat-lihatin Andrew yah? Gue nyusul kesana! Tempat biasa kan? Awas saja, kalau Tommy macam-macam sama Andrew! Mati, itu anak!" dengan kesal Alex berteriak.


Bryan yang mendengarkan mengernyitkan keningnya, "Kenapa lagi dengan Andrew? Itu anak nggak selesai-selesai cari masalah!"


namun demikian ada rasa kuatir dihati Bryan.


Tapi dia harus bersabar menunggu Alex menyelesaikan teleponnya.


"Ya sudah, terima kasih sudah kasih tahu gue! Bye!" Alex menutup teleponnya.


" Kenapa dengan Andrew, Lex?" tanya Bryan tak menahan rasa penasarannya.


" Biasalah! Dia Tommy nggak terima kalah sama Andrew balapan kemarin! Lo Taulah, gimana Tommy! Tapi kata Anto tadi dia sempet denger Tommy mau menjebak Andrew kali ini! Dia mau sabotase motornya dan.." Alex sedikit ragu menyampaikannya.


" Dan apa?" Bukan Bryan yang bertanya tapi Vivianne yang bertanya dia sedikit mendengar percakapan mereka sebelum masuk kedalam.


" Eh, Vivi…nggak penting kok, Vi! Eh, Bryan, gue pamit dulu yah? Lo nggak kenapa-kenapa gue tinggal,kan?" Alex memberi kode kepada Bryan dan Bryan memahaminya.


" Iya, santai aja! Tapi tolong rahasiakan ini dari orang tua gue yah? Lo tau, gimana mereka kuatirnya kan sama gue?" Pinta Bryan.


" Sip! Lo tenang aja! Kalau begitu gue balik duluan yah? Dan Vi, titip temen gue ini yah? Bye bro!" Alex kembali menyalami temannya itu.


" Hati-hati dijalan yah, Lex! Kabarin gue lagi kalau ada apa-apa!" ujar Bryan kemudian.


Alex hanya mengangguk saja dan hendak pergi berlalu keluar kamar rawat inap Bryan.


Dia mengangguk tanda pamit kepada Vivianne yang menatapnya. Ketika Alex hampir menyentuh pintu dan membukanya terdengar suara halus Vivianne.


" Tunggu! Berhenti disana!"


Alex pun kebingungan dan terdiam dan menoleh ke arah Vivi, "Kenapa dia menghentikan ku? Mau apa dia kali ini?" Alex membatin kebinggungan.


*****