Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 74 Dimana Andrew? Kenapa Dia Tidak Pulang?



Damian pulang dengan diantar Jhon ke mansion nya. Damian membuka jas dan dasinya, ditaruhnya di tempat cucian kotor yang berada di pojok kamar mandi. Meski sudah sangat malam yaitu hampir tengah malam, sekitar 23.30 tapi Damian memaksakan diri untuk mandi dan bersih-bersih sebelum pergi tidur.


Dia tidak mungkin pergi tidur tanpa bersih-bersih dan mandi. Badannya sangat lengket dan yang pasti tidurnya tidak akan nyenyak. Sedangkan dia butuh tidur yang nyenyak, karena besok adalah hari yang sangat sibuk.


Setelah mandi dan berganti pakaian, ternyata Damian tidak langsung pergi tidur. Dia pergi ke Balkon kamarnya sekedar menghisap cerutu, karena pikirannya yang sedang ruwet saat ini. Dan dengan merokok bisa sedikit melupakan pikirannya saat ini. 


Dengan menghembuskan asap rokok ke udara Damian mulai memikirkan perkataan Jhon. 


"Apa aku harus mempertemukan mereka,ya? Sepertinya yang dibilang Jhon benar! Cepat atau lambat mereka bisa saja bertemu karena Andrew saat ini sedang berada di Jakarta. Terlebih dengan adanya Valery! Yang muncul kembali! Sial! Kenapa semuanya berantakan seperti ini sih?"sambil memukul tiang balkon di depannya. Dia sedikit mengeram.


Damian tahu, ini semua karena kesalahannya. Ingatannya terhempas beberapa tahun lalu. Saat itu dia melakukan yang seharusnya tidak dia lakukan.


Saat itu, ketika dia mendengarkan dari Alex yang keceplosan bahwa Vivianne saat itu hanyalah sebuah permainan bagi Andrew. 


Damian mengambil langkah menyelidikinya, sampai dia memutuskan mempercepat langkah Andrew dengan menghadirkan Valery. Dia meminta Valery tepatnya sedikit mengancam Valery yang kebetulan usaha bisnis ayahnya mengalami kebangkrutannya dan kemudian ayahnya shock dan jatuh sakit. 


Damian berjanji akan mengakuisisi perusahaan Ayahnya atau menginvestasikan sejumlah dana kepada perusahaan ayahnya dan juga membiayai pengobatan ayahnya Valery, dengan catatan Valery mau membantunya. Dia ingin memisahkan Andrew dan Vivianne. Dia tidak ingin Vivianne di sakiti oleh Andrew.


Dan usahanya berhasil, Valery membuat Vivianne kecewa, Vivianne melihat malam itu Andrew berselingkuh dengan Valery. 


Namun dia tidak menyangka, anaknya menambah luka hati Vivianne dengan tetap melakukan hal keji yaitu membuat malu Vivianne dihadapan semua orang di kampusnya.


Dan Damian menepati janjinya, dia mengakuisisi perusahaan ayahnya Valery dan membiayai biaya rumah sakit ayahnya. Tapi dia tidak menyangka, dia pikir Valery tetap berada di Australia untuk mendekati Andrew, siapa kira dia berbalik malah kabur?


Damian berpikir Valery telah berhasil, tapi kenyataannya tidak. Andrew kembali ke Indonesia dengan Alex tanpa Valery. Dan Valery kabur dari rumah sakit dengan membawa ayahnya. 


Damian curiga, Valery punya maksud dibalik itu semu. Jika tidak, untuk apa dia mencoba mendatangi apartemen Andrew,bukan?


" Tidak! Aku tidak bisa membiarkan dia membocorkan semuanya! Andrew ataupun Anne tidak boleh tahu yang sebenarnya!" pikir Damian.


Meskipun kalau dilihat tetap disini Andrew yang melakukan kesalahan lebih besar dibandingkan dirinya. Damian hanya mempercepat prosesnya! Itu saja.


Sejak dia datang dia tidak melihat, Andrew. Kamarnya pun sepi. " Apa Andrew sudah tidur? Lebih baik besok aku berbicara langsung dengan dia, pas sarapan pagi. Aku akan memintanya menyediakan waktu agar dapat bertemu Vivianne pada saat makan malam." Damian bergumam sambil membuang puntung rokoknya dan mematikannya ke dalam sebuah asbak.


 Tidak jauh dari balkon tersebut terdapat kursi dan meja dan sebuah asbak yang memang tersedia disana. Balkon adalah tempat favorit Damian jika ingin merenung atau berpikir sambil merokok.Itu sebabnya ada asbak disana.


Kemudian Damian membuka pintu geser menuju kamarnya. Dia mencoba merebahkan dirinya di tempat tidurnya. 


Namun dia teringat Vivianne. Diambilnya ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan kepada tunangannya tersebut.


" Apa kamu sudah tidur,sayang?"


Send!


Damian menunggu dengan gelisah. Tapi ponselnya tidak mendapat jawaban.


Tidak seperti gadis metropolitan ada umumnya yang kuat begadang bahkan mengisi waktunya dengan clubing! Memang tidak ada salahnya dengan clubing jika sekaki-sekali tapi Damian tidak suka,saja. Dan semuanya didapatkannya dari Vivianne. Hal ini yang membuatnya susah melepaskan Vivianne. Apapun alasannya.


Akhirnya Damian tidak mencoba kembali, dia mematikan ponselnya dan menaruhnya di atas meja nakas dan dia mencoba tidur. Hari ini adalah hari yang cukup berat, karena ada masalah Valery yang membuatnya seperti Bom yang siap kapan saja meledak! Dan ledakannya ini tentu saja merugikan dirinya.


Damian menarik selimutnya keatas dan dia mulai menguap, seiring ditutupnya matanya menemani kegelapan malam itu. Damian tertidur.


****


Cicitan burung mulai terdengar sayup sayup diiringi Kokok ayam menandakan hari sudah pagi.


Matahari pun cahayanya mulai memasuki celah celah gorden yang tidak tertutup sempurna itu. Damian mulai bangkit dari tidurnya secara perlahan dan menggeliat. Meregangkan otot-otot leher dan juga tangannya. Dengan sedikit menguap dia mulai berjalan kearah kamar mandi dan mulai memulai paginya dengan mandi.


Sebelumnya Damian sudah sholat subuh, tapi badannya yang lelah memaksanya untuk tidur sekedar 1-2 jam kedepan. Dan saat ini waktu telah menunjukkan pukul jam 6.30 artinya dia masih punya waktu sekitar 1 jam kedepan untuk pergi kekantor.


Setelah mandi dan berpakaian rapi, dia menenteng dasinya. Dia memiliki kebiasaan baru saat ini dia mulai membiasakan diri dasinya dikenakan oleh Vivianne di kantor atau biasanya Vivianne yang akan datang kerumahnya. " Bagaimanapun juga, dia akan menjadi istriku,bukan? Jadi paling tidak dia harus tahu tugasnya sejak dini agar tidak kaget ketika menjadi istrinya nanti!" demikian yang Damian pikirkan.


Dia menuju ke arah meja makan, tapi dia hanya melihat satu piring disana, artinya hanya untuk dirinya. Lalu dimana Andrew?


" Bik! Bik!" panggil Damian. Dengan menarik kursi meja makan.


" Iya, Tuan. Kenapa,Tuan?" seorang wanita tua menghampiri Damian sambil menunduk.


" Ini piring hanya satu, apakah Andrew tidak ikutan makan? Apa dia masih tidur, Bik?" tanya Andrew penasaran.


" Itu, Anu, Tuan…Tuan Muda..belum kembali sejak semalam,Tuan!" ujarnya takut-takut.


" Belum kembali? Apakah dia bilang sesuatu kepada Bibi,mungkin? Dia kemana, Bik?" tanya Damian mengerutkan keningnya, dia sebenarnya tahu dimana Andrew tapi dia pikir Andrew kembali. Karena memang apartemen itu jarang sekali ditempati oleh Andrew. Jika tidak dirumah ini, biasanya Andrew memilih tinggal di hotel. Dengan alasan lebih praktis dan mudah dijangkau jika ingin ke pusat kota Jakarta.


" Maaf, tidak,Tuan. Kemarin pagi Tuan Muda memang sarapan ditemani temannya, Tuan..Al..Al.." sang Bibi mencoba mengingat nama sahabat Andrew karena memang sudah lama tidak bertemu.


" Alex,maksudnya?" ujar Damian menebak.


" Nah, betul, itu Tuan." ujar sang Bibi nyengir.


" Apa mereka bilang mau kemana,Bik?" tanya Damian kembali sambil membuka piringnya untuk mulai sarapan.


" Maaf,tidak, Tuan! Tapi, tingkah mereka sedikit aneh Tuan. Mereka memakai topi dan jaket panjang, dan herannya tumben Tuan Andre tidak menggunakan mobilnya,Tuan!" seru pembantunya itu.


Damian menatapnya dengan binggung.


*****