Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 35 Sebuah Video Pembawa Petaka!



"Apa? Nenek lampir itu tunangan Andrew? Kalau tahu begitu, sekalian aku habisi dia,Vi! Kenapa kamu tidak bilang sih,padaku?" ujar Tania kesal.


Vivi mencoba menghapus lelehan air matanya. Dengan mencoba tersenyum kaku Vivi berujar, " Aku juga baru tahu,Tan! Ini makanya aku bilang! Ternyata, Andrew sudah punya tunangan,Tan! Lantas, mengapa dia ngotot dekati aku? Mengapa dia memberikan harapan dan menghempaskan hatiku,Tan? Kenapa dia sangat kejam,Tan? Salah aku apa, kepadanya? Apa? Apa,Tan? Seumur hidupku baru kali ini aku merasakan jatuh cinta, a-aku baru tahu rasanya kangen, aku juga baru merasakan ada debaran aneh di dadaku ketika berdekatan dengan seorang pria dan ternyata itu tandanya rasa suka, melihatnya tersenyum aku bahagia, aku juga bisa sakit ketika dia sakit! Kenapa? Kenapa aku harus merasakan rasa ini jika pada akhirnya aku akan terluka,Tan? Kenapa? Aku tidak pernah mau rasa ini…rasanya sangat sakit…sakit sekali!" Vivianne mulai terisak kembali.


Tania menatap sedih sahabatnya itu, dipeluknya erat tubuh sahabatnya dan mencoba menenangkan dengan membelai punggungnya. Namun dia pun tak kuasa menahan tangisnya. Dan akhirnya mereka menangis bersama.


Vivianne mencoba tegar di hadapan setiap orang, tapi sebenarnya di dalam hatinya dia tetaplah seorang perempuan yang berhati lembut. Hatinya sangat rapuh. Vivianne tidak pernah merasakan jatuh cinta,baru kepada Andrew lah dia bisa merasakannya. Dia pikir Andrew dibalik tingkahnya yang urakan,berandalan, Andrew memiliki hati yang lembut,setia. Tapi dugaannya salah! Sangat salah! Tertangkapnya Andrew dengan wanita itu dengan alasan apapun itu, itu sudah merupakan pengkhianatan! Dia tidak setia! Vivianne mulai menyesali tidak pernah mendengarkan ucapan teman-teman di kampusnya, ataupun Tania yang pernah memperingatkannya untuk berhati-hati! Tapi dia terlalu keras kepala! Terlalu mempercayai Andrew! Matanya buta tertutup oleh cinta yang ternyata semu! Dia tak yakin Andrew memiliki perasaan yang tulus untuknya. Semua ini palsu.


Vivianne terus terisak matanya memerah mengerikan karena banyak menangis. Belum lagi mata panda nya hilang karena seminggu penuh dia meratapi kesedihan hatinya. Meratapi kebodohan dirinya! Tapi waktu tidak bisa diputar kembali. Dan penyesalan selalu diakhir dan bukan didepan. Tak ada yang bisa dia lakukan selain menghadapinya, dan mencoba tegar. Yah, hanya mencoba.


" Vi, apa kamu tetap mau ke kampus,Vi? Apa tidak sebaiknya kamu cuti dan izin ke kampus, kan ujian bisa susulan,Vi!" ucap Tania pelan.


" Nggak perlu,Tan! Itu malah membuat hatiku makin kacau,Tan! Aku butuh pengalihan! Mungkin ujian salah satunya." ucap Vivianne masih dengan wajah sembabnya itu.


" Ok! Tapi aku yang antar dan aku akan menunggu kamu hingga kelar ujian. Jangan menolak,Vi! Aku cuma tidak mau sesuatu hal terjadi lagi dengan kamu! Atau kamu bertemu kembali dengan Nenek lampir itu! Aku tidak mau hal buruk terjadi padamu,Vi!" ungkap Tania.


"Baiklah, Oh Shi*t! Maki Vivianne ketika melihat jam tangan di pergelangan tangannya itu. Aku sudah mau telat,Tan! Kurang dari lima menit,Tan! Bagaimana ini?" Vivianne mulai panik.


"Sudah! Jangan kuatir seperti itu,Yuk ikut aku! Untung saja, kosan mu ini tidak jauh dari kampus kamu! Kita ngebut,OK?" Tania pun mulai panik mendengar ucapannya.


Tak berapa lama mereka telah naik keatas motor Tania. Tania menjalankannya dengan kecepatan tinggi hingga bahkan masuk kedalam parkiran kampus.


Vivianne melirik jamnya kembali tinggal satu menit! Dia pun berlari menuju ruangan ujiannya.


Vivi sedikit bingung sebenarnya sepanjang perjalanannya menuju ruangan ujian, orang-orang yang berpapasan dengannya melihatnya dengan sorot mata kebencian dan ada juga yang menatap dengan sorot mata kasihan kepadanya. Vivianne sedikit bingung, tapi tidak diindahkannya. Yang dipikirkannya saat ini adalah bagaimana dia bisa sampai ke tempat ujian dengan secepatnya.


Vivianne semat ditegur karena terlambat lima menit setelah meminta izin dia diperkenankan untuk mengikuti ujian dengan memberikan alasan bahwa sebelumnya dia sempat sakit dan itu sebabnya dia terlambat. " Aku kan, tidak bohong,bukan? Aku memang sakit. Sakit hati tepatnya!" lirih Vivianne.


Meski terlambat, namun Vivianne dapat menyelesaikan seluruh isi ujian dengan sangat baik. Tidak diragukan lagi Vivi memang memiliki otak yang encer! Padahal hampir seminggu kalau dia tidak sempat belajar sama sekali. Tapi dia memang selalu menyimak jika Dos n menerangkan di kelas,ini yang membuatnya mudah mengingat pelajaran meski tidak belajar sama sekali. Karena pemahaman materinya dalam mencerna pelajaran luar biasa bagus.


Setelah hampir satu jam setengah Vivianne menyelesaikan ujiannya. Dan tak lama kemudian waktu ujian pun berakhir.


Vivianne melihat kerumunan orang-orang di tengah lapangan, dan ketika dia kebingungan seorang mahasiswi dengan sengaja menyenggol lengannya.


" Dasar! Gadis bar-bar! Tidak menyangka, wajahnya saja yang terlihat sok ayu! Padahal tingkahnya tidak lebih dari seekor binatang! Heran, kok bisa orang seperti dia kuliah di kampus yang terkenal akan kita pelajarnya dan dapat beasiswa,pula! Begini,nih! Kalau berasal dari latar belakang keluarga tidak jelas! Dengar-dengar sih, dia anak pungut,kan? Mungkin saja kan, orang tua aslinya penjahat?" sindir seorang mahasiswi dan beberapa temannya pun menganggukkan kepalanya.


" Benar…benar! Dasar gadis kampung!" ujar seorang gadis lainnya.


" Hey! Sudah cukup yah,kalian menghinaku! Dari tadi aku sudah diam saja loh,ini! Ada apa sih, dengan kalian?" ujar Vivianne mulai sewot.


" Cih! Pura-pura tidak tahu! Sok polos! Padahal mah …dia hampir membuat seorang gadis celaka!" ujar mereka kembali.


" Hey! Jangan bermain teka-teki kepadaku! Siapa yang membuat orang celaka? Aku? Kapan? Dimana?" ujar Vivianne mulai marah karena mereka seakan menuduhnya.


" VIVI!" belum juga mereka menjawab pertanyaan Vivianne seseorang berlari tergopoh-gopoh menghampirinya.


" Bryan?" Vivianne mengerutkan keningnya.


" Kenapa kalian malah berkumpul disini? Heh? Apa yang kalian lihat! Pergi!" ketus Bryan.


Akhirnya dengan sedikit terpaksa gerombolan mahasiswi itu pun meninggalkan tempat tersebut dan tersisa hanya Bryan dan Vivianne saja.


" Kak! Ini sebenarnya ada apa, sih? Dari tadi aku melihat tatapan mereka tidak bersahabat kepadaku? Memangnya aku salah apa sih, sama mereka?" ujar Vivianne gusar.


Bryan menarik nafas panjang, " Memangnya kamu tidak melihat ponselmu,Vi, sejak pagi? Lagi rame itu di grup Mahasiswa!" ujar Bryan dengan wajah kuatir.


" Ponsel? Group Mahasiswa? Ya Allah, gara-gara Nenek lampir aku jadi lupa buka ponsel,Kak! Memangnya ada apa?" tanya Vivi kebingungan.


Vivi yang makin penasaran akan ucapan Bryan langsung mencari ponselnya ditanya, dia mencarinya kesana kemari tapi tidak ditemukannya. " Kemana,ya ponselku? Kok,tidak ada?" ucapnya dengan lirih.


" Kenapa,Vi?" Bryan yang menangkap kebingungan Vivi pun bertanya.


" I-itu loh, Kak! Ponsel aku…" ucapnya terputus ketika didengarnya dari arah samping seseorang menghampirinya dan berkata.


" Kamu, mencari ini,Vi?" ucap Tania sambil mengatur nafasnya. Rupanya dia berlari tadi dari parkiran demi menyerahkan ponsel Vivianne.


" Alhamdulillah! Makasih ya,Tan! Untung ada sama kamu! Tapi kok, bisa ada sama kamu sih?" tanya Vivianne.


" Sepertinya jatuh ketika..Nenek lampir tadi datang!" ungkapnya.


" Nenek lampir? Siapa,Vi?" tanya Bryan.


" Oh, tidak penting Bry! Oh ya kenalkan ini teman satu kerjaan aku, Namanya Tania, dan Tania ini sahabat aku di kampus, Kak Bryan!" Vivianne mengenalkan mereka berdua.


" Salam kenal,Kak! Aku Tania!" Tania menyodorkan jemarinya. 


" Bryan!" Bryan menerima uluran perkenalan Tania.


Tanpa sadar Tania terus menggenggam tangan Bryan. Bryan yang mulai risih hendak melepaskannya.


" Ya Ampun,Tan! Ojo,toh! Itu kasihan Karo Kak Bryan! Salaman lama benar,toh!" 


Tania yang malu gelagapan dan akhirnya buru-buru melepaskan genggamannya dan menunduk malu.


Vivianne mendekatkan bibirnya ke kuping Tania, " Kenapa? Kak Bryan ganteng banget ya? Kamu naksir yah? Hehehe.." Sambil tertawa pelan.


Tania cemberut, dan berbisik, " Ojo ngeledek,toh,Vi! Iki malu tenan akune! Piye Iki!" 


" Hahaha…" Vivi tertawa mendengar ucapan Tania.


Sementara Bryan bingung menatap keduanya.


" Oh iya, aku jadi lupa, sini ponselku!" Vivianne merebut ponselnya dan membuka yang ada di Group Mahasiswa.


Karena saking banyaknya pesan yang masuk, dan hampir seluruhnya berisikan caci maki yang ditujukan kepada dirinya. 


" Apa-apaan ini mereka?" Vivianne geram membaca pesan di dalam grup itu.


" Kenapa sih, Vi?" Tania mencondongkan tubuhnya ikutan melihat dan membaca dia pun terkejut.


" Coba scroll ke atas Vi! Siapa tau,ketemu akar permasalahannya!" ujar Tania.


Vivianne pun melakukan yang dibilang Tania, dia men-scroll ke atas hingga akhirnya menemukan salah satu file berupa video. Dengan buru-buru diputarnya video durasi pendek itu.


Vivianne melonggo demikian pula dengan Tania.


" I-inikan…Video…" mereka saling menatap satu sama lain dan menutup mulut mereka.


Bryan hanya menghembuskan nafas panjangnya, " Akhirnya, kamu tahu Vi! Tapi mengapa kamu melakukannya?" Ini yang membuat Bryan tak habis pikir.


******