Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 78 Lepaskan Aku! Aku Tidak Mencintaimu Lagi!



Letak toilet yang hendak dituju Vivianne kebetulan berada diluar ruangan dari Restaurant, yang menyatu dengan gedung perkantoran. 


Restaurant yang mereka sewa ada di sebuah gedung perkantoran yang terkenal dengan ketinggiannya lantainya dan restoran tersebut menyediakan makanan seperti makanan jepang, namun ada juga makanan western-nya.


Namanya restoran ya pun diambil memang dari nama Jepang, tempat asal Restaurant tersebut. Biasanya para eksekutif muda ataupun pengusaha mengadakan jamuan makan mereka sambil membicarakan bisnis disini. Karena suasananya yang tenang.


Vivianne masuk kedalam toilet wanita sekedar membasuh wajahnya dan memperbaiki riasannya.


" Tenang, Vivianne. Kamu harus tenang! Andrew hanyalah, masa lalu! Masa depan kamu adalah Damian! Tenang…Fokus saja Damian saja!" ujar Vivianne sambil bercermin menatap dirinya.


" Lagipula kamu sudah jauh berubah! Berbeda dengan Vivianne yang empat tahun lalu dia temui! Kamu tidak bisa ditindas lagi! Ingat kamu cantik,pintar,punya karir yang bagus dan calon suami yang sempurna! Ingat itu!" seru Vivianne terus memotivasi dirinya.


Tidak dapat dipungkiri, dia sangat terkejut, karena sepanjang yang dia tahu, Damian memang jarang sekali memasang foto Andrew di kantor, maupun di rumahnya. Tapi entah jika di kamarnya, karena Damian tidak pernah mengizinkannya untuk memasuki ruangan pribadi itu. 


Dan Vivianne juga tidak mau lancang! Karena memang mereka belum menikah dan belum memiliki hubungan sejauh sekarang waktu itu. Dan Vivianne juga tidak keberatan, karena sama halnya dengan dirinya, menurutnya kamar adalah ruangan private yang tidak boleh dimasuki siapapun kecuali keluarganya.


Selama ini Vivianne juga tidak pernah menanyakan detail mengenai anak Damian. Hingga ketika dia menerima tunangan dari Damian, Damian baru sedikit terbuka mengenai anaknya. Tapi tetap tidak memberikan detail apapun kecuali mengenai kuliahnya yang ada di Australia.


" Apa Damian tahu mengenai hubunganku dengan Andrew dulu? Dan anak kami?" ujar Vivianne dengan wajah ketakutan. Dia memang tidak pernah menceritakannya pada siapapun tentang masa lalunya, karena dia ingin menguburnya. Meskipun ada anak diantara mereka. Justru karena alasan terbesar inilah dia ingin menguburnya! Dia tidak ingin Andrew tahu mengenai anaknya, demikian juga dengan Damian dia tidak boleh tahu. Semula dia ingin mengungkapkan kepada Damian, dan mencari waktu yang tepat untuk bercerita. Tapi, setelah kejadian malam ini, dia membulatkan tekadnya untuk menyembunyikannya.


" Ah, Bunda harus tahu mengenai hal ini, dan jangan sampai Bunda ataupun Maya keceplosan karenanya!" keluh Vivianne. Dia memutuskan akan menghubungi Bundanya setelah dari sini.


Setelah suasana hatinya membaik Vivianne keluar dari toilet sambil membersihkan gaunnya. Tanpa disangka ketika dia berjalan melalui seseorang yang dia tidak perhatikan tangannya ditangkap oleh seseorang.


Dan seseorang itu membawanya berbalik membelakangi dinding di samping toilet tersebut. Dan mengunci pergerakan tangannya. Kedua tangannya di angkatnya keatas oleh orang tersebut.


Kebetulan toilet yang ada di sana memang tidak tampak secara langsung dari luar, toilet tersebut kebetulan seperti memiliki lorong dan pintunya menghadap ke arah lorong tersebut. Sehingga dari samping pun tidak akan terlalu jelas terlihat terlebih jika ditutupi badan seorang pria besar.


" Hey! Andrew? A-apa yang kamu lakukan disini? Lepaskan!" Vivianne meronta bergerak berusaha melepaskan kedua tangannya.


" Kenapa? Kaget? Tidak! Sebelum kamu menjelaskan apa yang kamu lakukan, hah?" ujarnya menahan amarah yang sejak tadi memuncak di dadanya.


" Kamu tidak berhak menanyakan itu! Memangnya apa yang harus aku jelaskan padamu, baj*ngan!" seru Vivianne kesal.


" Oh, aku berhak menanyakannya! Setelah apa..yang terjadi…dengan kita. Aku berhak menanyakannya! Karena lagipula dia Papaku! Apa yang coba kamu lakukan kepadanya,hah? Apa kamu mencoba membalas dendam melalui papaku? Darimana kalian saling mengenal? Jawab!" teriak Andrew.


" Cih!" Vivianne meludah tepat mengenai wajah Andrew. " Memangnya apa, yang terjadi dengan kita? Nothing! Itu sebuah kesalahan! Kesalahan yang tidak akan aku ulangi! Apa hak kamu menanyakan hal ini kepadaku? Kamu bukan siapa-siapa aku! Kita sudah berakhir,Drew! Empat tahun yang lalu! Kita sudah berakhir! Aku tidak perlu menjelaskan apapun kepadamu! Yang jelas aku mencintainya! Puas?" dengan amarah yang sama tingginya. Bahkan dadanya mulai naik turun karena kemarahannya. Dadanya mulai merasa sesak.


Andrew tampak gamang, dia menatap Vivianne seperti orang asing bahkan dia mulai mengendurkan pegangan kedua tangan Vivianne.


" Tidak mungkin! Kamu…tidak mungkin..mencintainya! Tidak! Aku tahu kamu tidak mudah jatuh cinta,Vi! Dan kamu hanya mencintaiku!" ujar Andrew mulai tertarik ke belakang dia mundur beberapa langkah. Dengan tatapan kecewa kearah Vivianne.


Vivianne memegang pergelangan tangannya yang terasa memerah, dia menatap Andrew dengan sorot kemarahan.


Andrew seperti terhempas dan menunduk, " Ta-tapi semua sebuah kesalahan Vi, a-aku benar-benar mencintaimu! Maafkan waktu itu…" ujar Andrew sambil tertunduk menyesali perbuatan beberapa tahun yang lalu.


Vivi berbalik ke arah Andrew yang menunduk,kemudian dengan mata berkaca-kaca mulai menatap Vivianne dengan hati terluka,sedih.


" STOP! Semua hanya masa lalu! Semua sudah berlalu sekarang! Kamu bukan siapa-siapa aku lagi! Oh, ya aku lupa! Memang tidak pernah menjadi siapa-siapa di hatimu! Aku pergi!" ujar Vivianne berbalik kembali merapikan rambutnya yang sempat berantakan dan berjalan.


" Itu tidak benar,Vi! Itu tidak benar…Kamu segalanya, buat aku! Bahkan kamu tidak akan pernah tahu apa yang kulakukan untuk melupakanmu selama empat tahun terakhir ini…"ujar Andrew dengan sorot mata kesedihan.


Vivianne menoleh, dan tertawa sumbang. " Itu urusanmu! Bukan urusanku! Buatku, itu masa lalu yang tidak berguna!" Vivianne kembali melangkah secara mantap.


Andrew yang tertunduk menatapnya dan berteriak, " Tunggu!"


Vivianne berhenti sesaat menoleh dengan kesal, " Apa lagi maumu sekarang?" 


" Buktikan! Buktikan kalau kamu memang tidak mencintaiku lagi!"ujar Andrew serak.


Vivianne mengerutkan keningnya, " Apa?" 


Andrew berjalan perlahan ke arah Vivianne dan mereka berhadapan lagi kini, " I said, prove it! if you don't love me anymore!" 


" What?" Tapi seketika Andrew mendorongnya kembali ke arah dinding dan memegang kedua pergelangan tangannya kembali sambil mencium secara kasar Vivianne meronta tapi kemudian Andrew menciumnya dengan lembut. Sejenak Vivianne terbawa suasana. Namun dia cepat tersadar dan dengan linangan air mata dia menggigit kuat bibir Andrew, sehingga terlepas lah ciuman mereka.


" Apa yang kau…" Andrew tidak bisa meneruskan ucapannya ketika sebuah tamparan kencang dilayangkan oleh Vivianne ke wajahnya.


PLAK!


Andrew menatap terkejut sekaligus bingung kearah Vivianne yang sangat marah dan terluka. Dia dapat melihat kesedihan yang tertutup oleh kemarahan gadis yang sangat dia cintai itu tapi yang juga dia lukai.


Dengan dada naik turun menatap Andrew dengan tajam.


" Kamu tidak berhak melakukan ini kepadaku! Kamu tidak berhak! Aku bukan wanita ja*ang yang seenaknya kau perlakukan! Aku tunangan Papamu! Yang artinya sebentar lagi kami akan menikah! Dengan demikian, aku akan menjadi Ibu tirimu! Sadari posisimu! Ku anggap kejadian ini tidak pernah terjadi! Dan Jangan pernah terjadi lagi!" dengan menghapus air matanya yang meleleh di pipinya Vivianne berjalan cepat setengah berlari meninggalkan tempat itu. 


Dia tidak ingin berada berlama-lama dengan Andrew. Dia tidak ingin hatinya bimbang dan akan terperosok dilubang yang sama, sekali lagi. Dia tidak mau ataupun tidak ingin selemah itu. Dia akan baik-baik saja! Meski hatinya akan sangat terluka, dia akan menahannya. Sama seperti empat tahun yang lalu. Dia Bisa dan dia Mampu melakukannya.


" Ya Tuhan…Beri aku kekuatan! Untuk melupakannya!"


*****