Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 57 Vivianne dan Kenangan Bersama Andrew



Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Vivianne merasa gelisah. Bahkan ketika mereka sampai di depan pintu unitnya, Vivianne masih merasa cemas. Ketika berusaha memasukkan password, jari-jarinya gemetar dan ia terus melakukan kesalahan. Maya yang menyadari kegelisahan kakaknya, mengusulkan untuk membantu memasukkan password dan Vivianne mengungkapkan bahwa password-nya adalah tanggal lahir Avan. Dengan bantuan Maya, pintu akhirnya terbuka dan mereka masuk ke dalam apartemen. Avan yang kelelahan digendong oleh ibunya sementara Vivianne meminta Maya untuk memesan makanan.


Setelah Maya pergi, Vivianne masuk ke dalam kamarnya dan terisak-isak. Dia merasakan sakit yang sama seperti waktu luka itu pertama kali terjadi. Dia meratapi kenapa Tuhan masih mempertemukan dirinya dengan Drew. Dia terus menangis dan mengeluhkan kekecewaannya kepada Tuhan. Menyadari bahwa dia tidak sanggup lagi, Vivianne meminta bantuan Tuhan agar bisa melalui cobaan ini.


Saat Vivianne sedang menangis, dia melihat bayangan Andrew dan merasa takut dikhianati lagi. Dia melemparkan beberapa perlengkapan kecantikan ke lantai dan menimbulkan luka pada kakinya, namun dia tidak merasakan sakit karena pedih di hatinya lebih besar. Vivianne merasa bahwa luka itu mungkin tidak akan pernah sembuh dan bahkan setelah empat tahun berlalu, luka itu masih terbuka.


Beberapa jam kemudian, Vivianne masih terbaring di atas meja riasnya dengan darah yang mengalir dari kakinya. Dia merindukan sosok Andrew dan bermimpi tentangnya.


Flashback-nya membuatnya mengingat ketika Martha, kakak tingkatnya di kampus, memaki-makinya dengan kata-kata kasar ketika mereka mencari air bersih di hutan.


Martha cemburu karena Vivianne telah mengambil Andrew.


"Aku tidak tahu maksudmu apa? Denger, aku tidak pernah melakukan tindakan keji itu! Itu jelas dilarang agama! Aku tidak melakukannya!" ujar Vivianne tidak terima.


"Allah! Jangan sok polos! Seluruh kampus tahu! Aku sudah mendekati Andrew selama hampir dua atau tiga tahun! Lantas kamu datang dan sekarang dia bahkan tidak mau dekat-dekat lagi sama aku! Ini semua karena kamu! Kamu tahu kan? Kalau bukan pelet, berarti kamu sudah melakukan hal licik lainnya, seperti memberikan tubuh kurus mu kepada Andrew kan? You are a *****!" maki Martha kembali sambil menampar Vivianne.


Plak!


"Hey! Jaga mulut dan tanganmu! Aku bisa melakukan hal lebih dari yang kamu lakukan kepadaku!" ujar Vivianne mulai emosi karena ditampar, dia tidak menyangka Martha akan melakukannya.


Martha hendak menggunakan kekuatannya, tapi tiba-tiba dua pria besar muncul dan meringkusnya dengan menutupi wajahnya dengan sebuah kantong besar sehingga membuat Vivianne tidak bisa melihatnya.


"Lempar dia ke jurang! Biar dimakan serigala hutan! Makanya jangan macam-macam dengan Martha!" ujarnya pergi menjauh sementara dua pria itu membuang Vivianne.


Vivianne yang terlempar sangat kaget, badannya berguling-guling dan dia menangkap sebuah akar pohon untuk bisa bertahan agar tidak jatuh ke dalam hutan. Badan dan kakinya penuh luka, demikian pula wajah cantiknya ada goresan di wajahnya.


Malam itu sangat dingin dan gelap. Vivianne, yang terjatuh ke dalam sebuah jurang, masih berpegangan pada salah satu akar yang dia tidak yakin akan sampai kapan dia dapat menahan berat tubuhnya.


"Tolong! Tolong!! Tolong aku!!!" teriaknya pada kegelapan malam. Dia merutuki kebodohannya yang mau mendengarkan Martha yang membantunya mencari air bersama.


Vivianne mencoba mencari pijakan, tetapi dia jatuh lagi ke tanah ketika lereng tersebut runtuh. Akhirnya dia memilih untuk diam, berharap ada bantuan atau seseorang yang kehilangan dirinya.


Di tengah ketakutannya, dia teringat pada ibu dan adik-adiknya di Pantai.


"Ya Allah, jika ini memang sudah ketentuannya aku harus mati di sini, maka doaku hanya satu, berilah kesehatan dan kebahagiaan bagi ibu dan adik-adikku! Amin!" Vivianne menutup matanya sambil bertahan.


Dia tidak tahu berapa lama dia berada di posisi seperti ini, lolongan anjing malam mulai terdengar dan dia semakin ketakutan. Akhirnya dia mendengar sebuah suara.


Sayup-sayup dia mendengar suara kejauhan, "Vi!! Vivi…dimana kamu!!" suaranya sangat lantang memecah kesunyian.


"A-andrew?" lirihnya, suaranya tercekat.


"Aku di sini, Kak! Di bawah dekat jurang!" berusaha berteriak dengan kekuatan yang tersisa.


"Apa maksudmu? Ju-jurang?" Andrew berlari, dia gelisah setelah menunggu selama sejam Vivianne tidak kembali dan yang membuatnya curiga, Martha kembali tanpa Vivianne? Katanya mereka berpisah agar cepat mengambil air, dan Martha kembali lebih dulu.


Andrew menyusuri tepiannya dan dengan senter, dia melihat Vivi bergelantungan di jurang.


"Kak! Jangan tinggalkan aku! Aku takut! Tolong aku! Tapi jangan tinggalkan aku!" lirihnya mulai menangis.


Andrew menghentikan langkahnya, berpikir. Kemudian dia teringat sesuatu. Dia, yang mengenakan tas ransel, membukanya. Andrew mencium sesuatu.


"Alhamdulillah aku membawa ini! Untung si Alex mengingatkanku! Yah ini bisa!" ujar Andrew menatap tali yang cukup besar dan panjang.


"Vivi, bertahanlah, aku akan turun membantumu!" teriaknya.


"Cepat, Kak! Aku sudah mulai tidak kuat!!" teriak Vivianne.


Andrew bergerak cepat dia melihat sebuah pohon, kemudian berlari ke arah sana. Hanya pohon kecil ini yang terdekat. Dia mengikatnya dan mengikat ujungnya dengan dirinya.


Dan Andrew mulai perlahan turun masuk ke dalam jurang hendak membantu Vivianne.


"Pegang tanganku, Vi! Naik punggungku! Berpegangan erat kita akan naik!" ujar Andrew.


"Tapi, Kak…" ujar Vivianne ragu.


"Tidak ada 'tapi-tapian', waktu kita tidak banyak! Aku tidak tahu kapan pohon itu akan bertahan! Cepat, Vi!" ujar Andrew yang mencoba menggapai tangan Vivianne.


"Aku takut, Kak! Bagaimana kalau kita tidak selamat? Bagaimana kalau kakak tidak kuat? Bagaimana…" ujar Vivianne berulang kali.


"Stop! Tatap mataku, kamu percayakan dirimu sama aku?" ujar Andrew mencoba semakin mendekati Vivianne.


Vivianne hanya mengangguk dan menatap mata Andrew yang cokelat keindahan.


Dengan kekuatan yang dia miliki, Vivianne meraih tangan Andrew meski tipis. Dan Andrew menggenggamnya.


"Pada hitungan ketiga lompat ke punggungku! Satu, dua, tiga…" perintah Andrew.


Hub!


Vivianne melompat sedikit dan berhasil, dia sangat senang. "Kak! Aku berhasil!" teriaknya sambil bergoyang di punggung Andrew.


"Vi! Jangan banyak bergerak! Atau kalau tidak kita akan…jatuh!"


Tidak lama kemudian, terdengar patahan pohon.


Kre…aak!


Dan mereka merosot, jatuh!


"KAK!"


"VIVI!!!"