
Saat Andrew sedang mengurung dirinya di sebuah apartemen. Dan disaat Alex sedang membicarakan mengenai kesedihan Andrew. Disana seorang pria paruh baya sedang menemani kekasihnya yang sedang bermain dengan anak kecil.
Hari ini Vivianne memang sengaja mengajak Avan anaknya untuk bermain di pusat perbelanjaan yang cukup besar di pusat kota Jakarta. Dia sudah berjanji untuk mengajaknya, dia sengaja mengajukan cuti setengah hati dan berniat ingin mengajak Avan bersama Maya dan juga Bunda, tapi sayang Bunda dan Maya tidak bisa Ikut. Mereka harus packing, karena dalam beberapa besok atau lusa mereka akan kembali ke Jogja.
Semula Vivianne yang akan menjemput Avan langsung di apartemen tapi Damian yang mengetahuinya malah ingin ikut menemani Vivianne. Vivianne semula menolaknya, dia tidak ingin hanya karena menemaninya mengganggu jadwal Damian yang padat. Tapi Damian tetaplah Damian dia memaksa. Bahkan ia sengaja mengirim supirnya untuk menjemput Avan di apartemen.
Dan disinilah mereka bertiga layaknya sebuah keluarga, mereka makan siang bersama yang kemudian diakhiri bermain di pusat permainan anak-anak.
Saat ini Avan dan Damian sedang bermain bersama bermain basket, balapan mobil dan entah apa lagi. Dan Vivianne hanya kebagian mengabadikannya.
Hingga seorang ibu pengunjung mengajaknya berbicara.
" Wah suami dan anaknya sangat lucu yah? Mereka sangat mirip,pula! Kamu beruntung memiliki mereka berdua!" ujarnya.
" Mirip? Tapi mereka..bukan…" Vivianne hendak meluruskan masalah ini tapi teralihkan oleh ucapan sang Ibu kembali.
" Iya. Mirip! Apakah Mbak tidak memperhatikan wajah keduanya? Tapi perbedaan mereka cukup jauh,ya? Mbak juga sepertinya masih sangat muda. Sepertinya, kalian menikah beda usia yang cukup jauh,ya? Atau Mbaknya istri keduanya,mungkin? Karena tidak mungkin jika istri pertamanya bukan? Pria setampan dan sedewasa itu tidak mungkin baru menikah, bukan?" ujar sang Ibu kembali sambil melihat penampilan Vivianne.
Vivianne mulai berpikir fixed Ibu ini sepertinya Ibu-ibu komplek yang suka bergosip. Dan Vivianne malas melayaninya. Dan kebetulan saat itu Damian melambaikan tangannya.
Vivianne buru-buru menggunakan kesempatan ini untuk menjawab Ibu-ibu penggosip ini. Dia tidak punya waktu.
" Maaf,Bu. Sepertinya saya harus kesana terlebih dahulu.Saya permisi duluan,ya?" ujar Vivianne menghindar.
" Eh, tapi…" ujar Sang Ibu yang terputus karena Vivianne langsung berlari menghampiri Damian.
" Menyebalkan!" ketus Vivianne saat mendekati Damian.
" Siapa yang menyebalkan, Honey? Kenapa wajahmu jadi cemberut seperti itu,sih?" tanya Damian sambil mencium pipi Vivianne.
Plak!
Vivianne meninju lengan atas Damian sambil berujar, " Mas,Ih! Ada Avan! Malu tau!"
" Nggak lihat dia, Honey! Tuh dia lagi asik sama mainannya." ujar Damian sambil menunjuk Avan yang kini sedang focus bermain dengan fokus pukulan buayanya itu. Jadi permainan itu adalah memukul kepala buaya yang muncul tiba-tiba dengan cepat dan makin banyak yang dipukul maka akan mendapatkan nilai yang bagus.
" So, siapa yang menyebalkan?" tanya Damian penasaran.
Vivianne menarik nafasnya, dan menghembuskannya perlahan. " Itu loh, ibu-ibu penggosip ,Mas. Masa dia bilang Mas mirip sama Avan,sih? Dia juga menebak sembarangan, kalau Mas itu suami aku.Pakai bilang aku istri keduanya, Mas pula! Duh, menyebalkan banget sih, itu ibu! Kepo Nya itu loh…" Vivianne berbicara tanpa jeda.
Damian tertawa melihat wajah Vivianne yang cemberut namun malah lebih cantik dan menggemaskan, " Hahaha…Kenapa harus marah sih? Kan benar yang dia bilang,bukan?"
Damian memencet hidup Vivianne saking gemesnya.
" Auw!!! Sakit,Mas! Kenapa dicubit sih?"seru Vivianne kesal.
" Karena kamu menggemaskan!" ujar Damian cepat.
" Dan untuk yang aku bilang benar itu…kamu kan memang akan jadi istri kedua saya loh…setelah Ibunya Andrew. Maaf, saya jadi membicarakan mengenai masa lalu saya." Damian menunduk tidak enak, tiba-tiba dia teringat Andrew. Dan mereka berdua belum pernah bertemu. Bagaimana tanggapan keduanya yah? Damian cukup penasaran.
Vivianne mengambil jemari Damian, " Tidak apa-apa,Mas. Itu tandanya Mas percaya sama aku!" ujar Vivianne. " Yah tidak seperti diriku yang belum siap untuk bercerita mengenai siapa sesungguhnya Avan kepadamu,Mas! Mungkin suatu saat nanti!" batin Vivianne. " Apa kamu masih bisa menerima aku dan masa laluku,Mas? Masih bisa menerima aku?" kembali Vivianne berpikir.
" Iya, kamu benar. Buat aku Mamanya Andrew adalah masa lalu, memiliki tempat tersendiri di hati Mas. Akan selalu ada ruang khusus untuk Mamanya Andrew! Sedangkan kamu, adalah masa depan,Mas! Mas tidak pernah berpikir akan jatuh cinta lagi setelah bertahun-tahun ditinggal meninggal oleh Mamanya Andrew. Mas pikir Mas akan berakhir sendirian hingga nanti!" Damian membalas memegang erat tangan Vivianne.
Vivianne tersenyum kecil, " Mas belum pernah bercerita mengenai istri,Mas terdahulu. Seperti apa dia? Apakah cantik?"
" Benarkah? Well kami bertemu ketika kuliah, dan setelah kamu lulus Mas menikahinya setahun kemudian Andrew lahir.Yah, dia cantik. Seperti…Kamu! Kalian mirip, kalian sama sama lembut, wanita tegar, baik hati, sederhana, dan..wajah kalian!" Damian berhenti dia menatap wajah Vivianne. Yah wajahnya sangat mirip bahkan, mungkin itu salah satu alasannya jatuh cinta dengan Vivianne.
" Benarkah? Wah, aku tidak menyangkanya,Mas! Terus apa yang terjadi dengannya Mas?" tanya Vivianne sangat berhati hati.
" Dia didiagnosa mengidap kanker serviks, kejadiannya sangat cepat hingga akhirnya meninggalkan aku dan Andrew yang saat itu masih SMP. Itu sebabnya mungkin Andrew nakal! Aku menenggelamkan diriku dalam pekerjaan ketika istriku meninggal dunia, sehingga aku lupa masih punya Andrew! Dia kesepian dan padahal dia butuh perhatianku juga!" Damian menatap lurus seakan mengingat sesuatu.
" Maaf, Mas. Maafkan Anne kalau malah membuat Mas bersedih karena mengorek masa lalu." ujar Vivianne makin mengeratkan genggamannya.
Damian menggelengkan kepalanya, " Tidak masalah, itu sudah lama berlalu lebih dari sepuluh tahun lalu. Bahkan kalau dipikir-pikir kamu memang harus tahu, bukan? Aku tidak ingin ada kebohongan diantara kita!" senyum Damian, tapi malah membuat Vivianne seakan tersindir.
" Ah, baiklah. Terus bagaimana dengan …anak,Mas?" tanya Vivianne hati-hati.
" Andrew?" tanya Damian. Vivianne mengangguk. " Kenapa dengan Dia?" tanya Damian sedikit tidak suka di nada suaranya yang berusaha ditutupinya itu.
" Nggak ada sih, cuma Mas belum pernah kenalkan dia sama aku,Kan? Paling tidak dia harus tahu,Kan? Dan dengar pendapatnya, mungkin?" seru Vivianne.
Damian menatap Vivianne tidak suka, " Kenapa kamu ingin mengenalnya?" tanyanya.
" Hahaha…Mas ini lucu ih,yah karena dia anak Mas,kan? Tidak mungkin bukan, aku tahunya setelah menikah? Kalau dia marah bagaimana?" Vivianne tertawa.
" Yah, dia anakku! Dan Sanggupkah aku memperkenalkan dan mempertemukan kalian? Siapkah aku? Aku bahkan tidak peduli jika dia marah, yang aku takutkan adalah; apakah kamu akan kembali kepadanya, Vivianne? Bagaimana jika hal itu terjadi? Sanggupkah aku menerimanya?"
Damian membatin sambil menatap wajah cantik Vivianne yang masih tertawa.
*****