
Andrew melemparkan bantal dengan kesal, karena kegiatannya terganggu akan kehadiran Alex.
Kali ini Alex tidak sempat menghindar dan otomatis mengenai kepalanya. Alex meringis kesakitan dan kesal atas perilaku Andrew.
"Hahaha….rasain! Abisnya ganggu orang saja sih, lo! Siapa suruh, lo dateng buru-buru,heh?" ucap Andrew menatap geram sahabatnya itu. Sementara Vivianne hanya tertunduk malu, dan kemudian mencubit lengan kanan Andrew.
" Aww..! Sakit, sayang. Kenapa aku dicubit sih?" ujar Andrew pura-pura sakit. Sementara Vivianne yang malu, karena dipanggil dengan sebutan sayang, malah kembali mencubit kembali.
" Ih, kok aku malah dicubit lagi,sih? Sakit beneran ini loh, sayang." ujar Andrew tak peduli dan menatap Vivianne bagaikan anak kecil yang manja.
Vivianne cemberut, " Kakak! Sudah, ah. Jangan panggil begitu. Aku malu,ih!"
"Malu? Malu sama siapa? Alex? Anggap saja, dia nggak ada! Patung atau apa, kek!" ujar Andrew sambil hendak merengkuh kembali Vivianne kedalam pelukannya namun ditolak oleh Vivianne.
" Wah, Lo bener-bener,dah, bro! Ini gue sahabat Lo,loh! Bahkan kita sudah layaknya saudara! Terus sekarang, lo, anggap gue patung? Wah, sudah nggak bener ini mah! Gue nggak terima ini! Siapa coba yang selalu berada disisi lo? Gue! Siapa yang selalu nolongin elo,Gue! Siapa coba yang berada disisi lo, saat lo sedih? Gue! Sekarang Lo dengan teganya, memperlakukan gue seperti ini? Hik Hik..sakit hati ini,bro!Sakit! Berdarah, namun tak terlihat!" Alex dengan tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan pura-pura terisak menahan tangis.
Vivianne yang polos merasa tak enak, lantas menatap Andrew, " Kak, jangan berbicara begitu,kasihan Kak Alex! Tuh, jadi sedih dia kan?"
" Kamu, bener, Vi. Cuma elo yang pengertian tidak seperti, Andrew! Boleh, kan pinjem bahu Lo,buat gue nangis?"ujar Alex dengan wajah sok sendunya.
Vivianne hanya mengangguk.
Alex hendak berjalan mendekati Vivianne tapi kembali Andrew melotot ke arahnya. Akhirnya dia berhenti.
" Nggak jadilah,Vi. Tuh! Lihat! Dia memelototi gue!" Alex malah mengadu, membuat Andrew kesal.
" Kakak! Jangan begitu!" Vivianne malah memperingati Andrew dan ketika Vivianne berpaling ke arah Andrew, sukses mendapat cibiran dari Alex. Andrew frustasi melihatnya, Vivianne memang polos dan baik hati jika sudah begini.
Namun ketika Vivianne beralih menatap Alex, Alex kembali memasang wajah sedih, sambil menganggukkan kepalanya tanda setuju akan perilaku Andrew yang menurut Vivianne kelewatan, padahal dalam hati Alex sangat senang luar biasa.
" Kapan lagi, coba ngerjain Andrew? Hahaha…Siapa suruh dia enak-enakan disini, sementara gue disuruh-suruh? Rasain,Lo!" pikirnya dalam hati.
Vivianne hendak menghampiri Alex karena merasa kasihan, tapi kembali tangannya digenggam sebelah tangan yang tak diinfus oleh Andrew sambil berujar, " Kamu mau kemana?"
" Aku cuma mau membantu Kak Alex,Kak! Kasihan dia sampai sesedih,itu!" ujar Vivianne.
Alex hampir saja tertawa tapi kemudian ditahannya ketika Vivianne menatapnya.
Andrew menghembuskan nafasnya melihat kepolosan calon kekasihnya itu, "Terus, kamu membantunya dengan apa? Dengan memberikan bahu kamu,gitu buat dia? Nggak! Nggak akan kubiarkan! Enak saja! Kamu lagi dikerjain sama dia tahu! Kamu terlalu polos buat penjahat seperti dia! Tolong ambilkan tas ransel aku!" ujar Andrew malah meminta Vivianne mengambilkan tasnya yang terletak tak jauh dari nakas tempat tidurnya.
" Buat apa,Kak?" ujar Vivianne bingung.
" Sudah, ambil saja! Kamu akan tahu, nanti!" ujar Andrew kembali. Akhirnya dengan patuh Vivianne mengambilkan tas Andrew dan menyerahkannya.
Andrew bersyukur tasnya tidaklah rusak karena tertutup jaketnya, sehingga barang-barangnya tidak hilang sama sekali saat kejadian kecelakaan itu.
Setelah mencari sesuatu yang dia cari, dia akhirnya menemukannya, membuka dompetnya dan menyerahkan sebuah kartu black card kepada Alex.
" Nih, Lo bisa pergi ke Bandung kek, kalau perlu beli hape apel digigit Pro max 14 yang Lo mau! Gih, sana! Jangan kembali, kalau perlu!" Andrew mengacungkan kartunya.
Alex melongo sambil menelan salivanya dengan susah, sedangkan Vivianne melihatnya dengan kebingungan. Tapi Alex tak ingin citranya jelek Dimata Vivianne, maka mulai bersama kembali.
" Yah, Drew! Lo pelit banget sih, masa nggak mau pinjamkan Vivi sebentar, sih? Wah, cemburu Lo, parah, Pak! Asli ini mah, bucin akut!" Alex menatap sambil menggelengkan kepalanya.
" Mau, nggak? Jangan banyak bacot,deh. Nggak mau? Ya sudah, kalau begitu…" Andrew hendak memasukkan kartunya kembali, tapi kemudian dengan sigap Alex berlari dan mengambil kartunya.
" Hehe…siapa yah nolak, coba? Asik! Lumayan. Gue bisa shopping nih, pake kartu ajaib ini! Thanks,bro! Thanks, Vi. Hehehe…kalian lanjutin dech! Gue janji nggak bakal kembali cepet! Besok Lah kalau perlu gue kembali, dan ini gue tinggalin makanan gue buat kalian! Heheh…" ujar Alex kegirangan dan menghapus sisa air mata palsunya sambil nyengir.
Sementara itu Vivianne melongo dan menatap ke arah Andrew kemudian meminta penjelasan.Andrew hanya menaikan bahunya dengan cuek.
" Sudah! Lo udah dapetin yang Lo,mau kan? Pergi sana!" usir Andrew.
" Heheh…you're my best friend lah pokoknya! Tau aja! Dari kemarin bokap lo janji mau beliin tapi, belum juga karena On Richard yang seharusnya menemani gue cari hape malah ribet ngurusin,Lo! Jadi ditunda,deh! Untung lo,pengertian!" ujar Alex panjang lebar.
Andrew yang jengah hanya melambaikan tangan mengusir Alex! Alex yang paham melangkah sangat bahagia, namun di depan pintu dia membalikkan badan ke arah Andrew.
" So, you guys, Official nih? Maksudnya jadian gitu? Heheh…selamat yah? Thank juga untuk traktiran jadiannya! Sering-seringlah banting barang gue! Biar gue dapet ganti yang baru!"ujar Alex sambil mengerlingkan matanya ke arah Vivianne.
" Kepo! Pergi nggak Lo, jangan sampai gue colok mata Lo pake pisau buah ini!" ujar Andrew kesal, sambil menunjuk pisau buah yang tak jauh dari tempat tidurnya itu.
" Heheh…Ok! Peace,man! Gampang marah banget sih, Lo! Lagi PMS yah?" sebelum dia dilempar bantal kembali, Alex buru-buru membuka pintu dan keluar dari sana.
Di belakang pintu Andrew masih mendengarkan bahwa Alex tertawa sangat keras.
Andrew cuma cemberut, karena suasana yang romantis rusak karena kehadiran Alex.
" Memang harus yah, Kak? Sampai segitunya ke sahabat,Kakak?" ujar Vivianne sambil menghampiri Andrew dan mengambil makanan dan menarik kursi mendekat ke Andrew.
" Kamu, nggak tahu sih, sayang. Bagaimana kelakuannya, jadi kamu yang polos ini, gampang diperdaya sama dia! Enak saja dia mau pinjem bahu kamu! Nggak! Aku nggak sudi, melihat cowok lain menyentuhmu!"dengan sewot Andrew berujar.
Vivianne hanya menggelengkan kepalanya, " Kan dia sahabat kakak,loh! Lagi pula cuma pinjem bahu,kak! Bukannya macam macam!"
Vivianne tersenyum, sambil membuka kotak makanan yang dibelikan oleh Alex, " Kakak se- cemburu itu kah? Dengan Kak Bryan? Hm? Sambil makan yah, aku suapi?"
Namun Andrew membuang wajahnya makin kesal. " Kenapa Vivianne jadi menyebut nama Bryan sih? Bikin Bete saja!" rutuk ya dalam hati.
" Kak…" ujar Vivianne.
Andrew malas membalikan wajahnya, " Kenapa memangnya kalau aku cemburu? Kamu suka kan, sama Bryan? Sampai segitunya merawat dia!"
" Hahaha…" Vivianne tertawa melihat tingkah Andrew.
" Kenapa tertawa? Bener,kan? Kamu suka sama dia! Sana temui dia!" ujar Andrew makin cemberut karena ditertawakan oleh Vivianne.
" Kakak tuh,lucu,masalahnya! Lihat wajah kakak kalau lagi cemburu! Bikin gemes, tau!" Vivianne yang gemas langsung mencubit kedua pipi Andrew.
Andrew malah menangkap kedua tangan Vivianne walau masih terasa sedikit sakit sebelah tangannya. " Vi, I'm serious! Tell me, apakah benar, kamu suka Bryan? Maka jika benar, aku akan…" Andrew menundukkan kemudian setelah mengumpulkan kekuatan dia menatap Vivianne.
Vivianne tersenyum manis, kemudian mengambil alih tangannya dan menggenggam tangan Andrew hangat, " Kenapa Kakak jadi insecure,sih? Kan kakak sudah tahu perasaan aku! Aku memang suka sama Kak Bryan.."
Andrew melepaskan genggaman tangan Vivianne dan hendak berpaling kembali, tapi kali ini ditahan oleh Vivianne. Vivianne menangkup wajah Andrew dengan kedua tangannya, " Aku memang suka sama Kak Bryan, sebagai seorang adik! Bukan seorang pria! Karena aku hanya suka dan jatuh cinta sama Kakak! Jadi, percaya sama aku yah?"
Andrew tersenyum lebar, dan mengambil jemari Vivianne dan menciumnya. " Kalau begitu, aku nggak mau kamu dekat-dekat lagi sama Bryan kayak kemarin dirumah sakit,yah? Aku cemburu! Aku ga bisa lihat kamu sedekat itu sama cowok,lain! Kamu ngerti kan?"
" Termasuk, Kak Alex?" tanya Vivianne nyengir.
" Siapapun itu!" ujar Andrew menekankan.
" Memangnya siapa kakak, berani melarang-larang aku? Kan aku bukan siapa-siapa kakak,loh!" Vivianne menaruh kembali makanan yang hendak disiapkan ke Andrew dan kemudian beranjak dari kursi hendak mengambil minuman. Dia bermaksud sedikit bercanda dengan Andrew kali ini.
" Loh? Kan kamu bilang tadi suka aku,cinta sama aku, dan aku juga suka suka dan cinta sama kamu! Jadi…berarti kita…" Andrew bingung dan ketar-ketir sekarang akan perilaku Vivianne.
Vivianne berjalan ke arahnya setelah meletakkan minuman yang baru di minumnya itu.
" Terus? Jadi kita, apa?" lanjut Vivianne menggoda Andrew.
" Oh, kamu perlu pernyataan, yah? Ok, Vivianne Bright, maukah kamu jadi pacarku? Kekasih hatiku?" ujar Andrew sambil menatap Vivianne dengan penuh cinta.
" Kakak tahu nama lengkap aku?" Vivianne malah mengalihkan pembicaraan karena hatinya sedang tidak baik-baik saja sekarang.
Andrew mengangguk, " Apa Sih, yang nggak aku tahu mengenai kamu?"
" Dih, gombal! Sudah berapa perempuan yang kakak gombal kan? Pasti banyak! Nggak mau ah!" Vivianne pura-pura merajuk sekarang.
Namun tangannya kembali di hentakkan oleh Andrew dengan kekuatan penuh sehingga Vivianne malah menabrak dada bidang Andrew.
" Nggak ada! Kemarin-kemarin aku hanya bersandiwara di depan kamu! Mereka semua aku bayar cuma buat panasi kamu! Habisnya aku kesal! Masa kebaikan aku mau kamu ganti dengan uang? Kamu nggak lihat apa kalau aku tulus,bantuin kamu? Aku cuma mau hati kamu! Bukan uang kamu,Vi!" ujar Andrew menyesali perbuatannya, dia bukan tidak tahu Vivianne sakit hati, tapi dia pun sakit karena perilaku Vivianne kemarin.
" Sst!" Vivianne menyentuh bibir Andrew agar diam dengan telunjuknya. " Sekarang dengerin aku yah?" ujarnya. Andrew hanya mengangguk.
" Aku minta maaf, kalau tindakan aku membuat kakak sudah sakit hati. Aku cuma tidak ingin bergantung dan hutang budi kepada orang lain,kak! Aku tak terbiasa! Aku tinggal di sebuah panti asuhan, dimana kami tidak bisa mengandalkan orang lain, kecuali bunda yang tulus memelihara kami tanpa imbalan apapun. Bunda mengajarkan kami untuk tidak meminta-minta ataupun bergantung serta hutang budi terhadap orang lain, karena suatu saat jika orang itu tidak sesuai ekspektasi kita, maka kita akan sakit hati! Dan aku tidak mau sakit hati! Aku terbiasa, mencari uang sendiri sejak aku SMP hingga SMA apa saja! Mulai dari memberikan les private,les taekwondo,bikin kue, sampai berjualan buket untuk parcel! Apapun itu!" Vivianne mulai tertunduk dan air matanya mulai mengalir.
" Jadi,ketika kakak membantu aku…aku bukannya tidak tahu berterima kasih! Tapi itu cara yang kutahu untuk berterima kasih, Kak! Jadi, maaf kan aku, yah? Kalau malah buat kakak sakit hati! Aku cuma tidak tahu harus bersikap bagaimana untuk membalas kebaikan kakak!" ujar Vivianne sambil menghapus air matanya dan mencoba tersenyum.
Andrew mendengarnya makin takjub dengan gadis ini. Hatinya bergetar di satu sisi, disisi lain…
" Vi, mulai sekarang, mau yah? Biarkan aku yang jadi perisaimu? Kamu tidak akan sendirian lagi menghadapi semuanya! Ada aku disini,boleh yah?"ujar Andrew.
Vivianne tak kuasa menahan tangisnya, dia menutup matanya dengan tangannya. Andrew menarik tangannya.
Vivianne masalah menabrak kembali dada bidang Andrew. Andrew menarik nafas lega. Namun tangisan Vivianne tidak juga berhenti hingga akhirnya dia berujar lirih, " Vi, Jadi kita…Jadian,kan?"
Vivi hanya mengangguk di dada Andrew. Suasana begitu romantis, Andrew pun mulai membelai rambut halus Vivianne. " Yang terjadi, terjadilah! Yang dia pikirkan sekarang,dia nyaman dan sangat cinta dengan Vivianne,itu saja!" batinnya.
Hingga akhirnya terdengar….
Kriuk…kriuk…
Vivianne mengerutkan keningnya dan mendongak ke wajah Andrew, " Kakak lapar?"
" Heheh…iya. Kamu sih, nggak jadi suapi aku, kan? Jadi bunyi deh drum diperut aku!"
" Astagfirullah! Aku lupa, maaf Kak!"
" Nggak apa-apa, sudah biasa!" sindirnya.
" Apa, sih! Nggak lucu, tau! Kesannya aku sering banget, bikin kakak lapar! Ya sudah yuk, Aak…" Vivianne kembali mengambil kotak makanan dan mulai menyuapi Vivianne.
Andrew menatap Vivianne yang lembut menyuapinya dan membatin, " Aku tidak akan membiarkan siapapun, mendekati kamu,Vi! Termasuk Bryan sekalipun! Karena kamu hanya punya aku!" Aku!" sambil mengunyah makanannya.
*****