
Sementara itu di sebuah kota besar Jakarta, seorang pria paruh baya yang masih terlihat tampan dan segar tidak fokus menjalani meetingnya. Dia sibuk mempermainkan ponselnya, mencoba menghubungi seseorang namun nihil.
Dia berkali-kali mencoba menghubungi orang tersebut yang telah memberikan informasi terpotong yang malah membuat hatinya bertambah gundah dan pusing.
Seharusnya informasi tersebut tidak mempengaruhinya,namun entah mengapa seluruh informasi mengenai gadis yang selalu terbayang baik dihati dan di pikirannya yang semula dia pendam dan coba dihilangkan kembali menyeruak kembali di hatinya bagaikan sebuah harapan.
" Sial! Kemana anak itu! Kenapa ponselnya menjadi tidak aktif,sekarang? Apakah benar yang kudengar tadi? Vivi hanya sebuah permainan untuk Andrew? Itu anak! Benar-benar! Tapi tunggu dulu, jika benar Andrew tidak berminat kepadanya, maka bukankah ini merupakan kesempatan emas, buat diriku? Tapi, apakah dia mau?Sial! Kau membuat aku pusing saja, Vivi! OMG! Kenapa di usiaku seperti ini aku malah menyukai seorang gadis belia,pula!"ujar Damian dalam hati. Pria tersebut adalah Damian, Duda mapan yang ditinggal meninggal oleh istrinya.
Pemilik kerajaan bisnis raksasa Matthews Construction, salah perusahaan terkemuka di Jakarta bahkan salah satu yang terbaik di Indonesia.
BRAK!!
Damian seketika berdiri dan menggebrak meja dihadapannya. Padahal saat itu mereka sedang membicarakan proyek baru di salah daerah Timur Indonesia, Papua. Resort yang terbilang cukup mewah mengakomodir pengunjung yang mulai ramai mengunjungi Raja Empat.
Semua yang hadir terkejut, tanpa terkecuali Sang Asisten Pribadi Damian tergopoh-gopoh menghampirinya dengan wajah pucatnya. Dia kuatir ada hal yang tidak berkenan kaki ini bagia Damian. Karena dia tahu Damian bukanlah orang yang mudah. Damian terkenal selain tampan,kaya raya, pintar, dia juga sangat disiplin,perfectionist, dan tidak pernah mentolerir jika terjadi kesalahan sedikit pun! Semua harus dilakukan secara sempurna, No excuse! Jika ada yang berbuat salah, maka dia tak segan-segan memecat karyawannya. Dia menjelma menjadi pribadi Dingin dan kejam dipekerjakannya semenjak kematian istri tercintanya. Namun berkat tangan dinginnya lah bisnisnya semakin berkembang pesat seperti sekarang ini.
" Tuan, maaf apakah ada sesuatu yang salah kali ini? Bukankah, ini sudah sesuai dengan prosedur dan instruksi yang tuan erintahkan? Maaf jika saya lancang," ujar seorang pria yang cukup berumur jauh dibandingkan dirinya. Pria itu adalah Pak Doni dia adalah salah satu orang kepercayaannya sejak dulu. Bahkan sejak ayahnya Damian.
Damian menatap ke sekeliling, dia baru tersadar sekarang ada di ruangan rapat. Karena sejak tadi dia tidak fokus, dia memikirkan hal lain, sebuah telepon yang dilakukannya sekitar satu 30 menit lalu yang hingga sebelum rapat dimulai dan hingga kini masih dipikirkannya.
" Ehem! Kamu lanjutkan saja Ronald, nanti laporkan ke saya hasilnya atau kirimkan email kepada saya laporannya. Saya sedikit kurang enak badan! Saya ingin pulang! Tolong kamu persiapkan mobil dan supir untuk menjemput saya di lobby kantor!"ujar Damian tergesa-gesa dan mengambil jas yang terlampir di kursi kebesarannya itu.
"Apa perlu, saya panggilkan dokter untuk kerumah, Tuan?" tanya Pak Doni kembali.
" Tidak perlu! Saya hanya butuh istirahat! Dan tolong batalkan semua schedule saya hari ini. Buat Reschedule lagi saja nanti. Saya harus pulang! Dan tolong kamu cari informasi seseorang aku akan kirimkan fotonya kepadamu! Cari informasi selengkapnya dan kirimkan kepadaku! Aku tunggu dirumah!" ujarnya kembali.
" Baik,Tuan!"'angguk Sang Asisten Pak Doni sambil menunduk dan sedikit kebingungan, " Informasi siapa yang dia maksud kaki ini?, Apakah penting? Siapa dia?"
Damian pun melesat meninggalkan rapat tersebut untuk turun kebawah, dan kembali ke rumahnya.
Sepeninggalan Damian karyawan sibuk bertanya-tanya, karena Damian yang terkenal workaholic baru kali ini meninggalkan rapat di tengah-tengah pembahasan, apalagi dengan alasan sakit! Damian sepanjang hidupnya hampir jarang sekali sakit! Dia selalu hidup sehat, makanan sehat, dan rajin berolahraga, bahkan di rumahnya dia memiliki koki ahli gizi! Itu sebabnya di usianya yang sudah kepala empat dia masih terlihat segar seperti umur tiga puluhan tidak terlalu jauh dari sang anak.
" Tumben si Bos, sakit? Biasanya juga kalau sakit dia masih masuk memaksakan diri ini lantas pulang? Ternyata bisa juga dia sakit!" demikian kurang lebih percakapan diantara karyawannya.
Setelah turun ke Lobby bawah sudah tersedia mobil dan sopirnya yang menunggu dengan senyumnya.
" Silahkan,Tuan!" sambil membungkukkan dirinya saat membuka pintu mobil untuk Damian.
Damian hanya menarik sudut bibirnya sekilas dan mulai masuk kedalam mobilnya. Setelah mobil melesat diikuti oleh beberapa pengawal rahasia yang selalu menjaga Damian. Yah, Damian tidak pernah pergi seorang diri dia selalu dikawal oleh pengawal bayangannya kemanapun dia pergi. Persaingan bisnis yang ketat dan terkadang kejam, membuatnya memutuskan memiliki pengawal pribadi.
" Kita pulang ke rumah,Tuan?" sapa sang sopir ketika mulai melajukan mobilnya.
"Ya,Pak!"jawab Damian singkat.
Dia ingin segera tiba dirumah, ada hal yang ingin dikerjakannya dengan segera.
Tak beberapa lama mereka tiba di sebuah mansion yang sangat besar dengan pilar-pilar putih nan megah. Rumah ini sangat besar, tapi sayang hanya dia seorang yang tinggal disini. Terkadang membuatnya sangat kesepian. Itulah sebabnya dia lebih baik menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bekerja. Karena tidak ada seorangpun yang menunggunya di rumah.
Damian menaiki tangga rumahnya dengan langkah tergesa gesa menuju kamarnya. Namun sebelum dia sampai di kamarnya dia menoleh ke arah ruangan yang tidak pernah disentuh sama sekali. Mini Bar.
Ditatapnya foto besar yang tergantung di kamarnya, fit sang istri.
" Shenice!" gumamnya lirih dan mulai meminum kembali minumannya.
" Kenapa kamu pergi Shenice? Aku sangat kesepian tanpamu!"ujar dengan sedikit mabuk. "Anak kita sudah sangat besar! Kamu tahu, dia sudah kuliah dan mungkin sebentar lagi akan tamat! Kamu tahu, aku kesulitan mendidiknya! Karena cuma kamu yang bisa melembutkan hatinya! Hahaha…dulu kamu pernah bilang, bukan? Bahwa dia mirip dengan aku? Mungkin kamu benar! Bahkan selera kita mengenai perempuan juga sama! Mulai dari overprotektifnya dia sama kamu bahkan aku sendiri saja dilarang dekat-dekat sama dia! Kadang membuatku bertanya sebenarnya kenapa dia lebih overprotektif ke kamu dibandingkan aku yang jelas-jelas suami kamu! Dan sekarang, juga! Aku rasa…aku menyukai kekasih anakmu! Apa kamu marah jika aku, menyukai orang lain selain dirimu? Jawab Shenice!" ujar Damian sambil berjalan mendekat ke sebuah figura berat diatas kepala tempat tidurnya.
Damian sempoyongan, dan melempar sepatunya kemudian naik ke atas tempat tidurnya dan menatap serta meraih foto istrinya. " Kamu marah,ya? Tapi aku tak bisa menahannya Shenice! Aku sudah berusaha! Ta-tapi bayangannya semakin kuat! Di-dia mirip sekali denganmu ketika kuliah dulu! Cantik dan lembut! Kamu pasti menyukainya! Tapi dia kekasih anakmu! Kekasih anakmu! Aku bisa apa Shenice? Kenapa kamu diam saja! "Damian mulai menutup wajahnya dan terisak dan kemudian melempar botol minum dan gelas yang dipegangnya.
Prang!
Hingga berhamburan di kamarnya yang besar itu. " Aku sudah berusaha! Menguburnya! Aku bahkan bekerja lebih giat agar melupakannya! Ketika aku merasa hampir melupakannya, kenyataan kuterima! Andrew hanya menjadikannya kekasih taruhan! Kau dengan itu Shenice? Kekasih taruhan! Anak kebanggaan mu itu, malah mau mempermainkannya! Apa aku salah? Jika aku merasa mungkin ini kesempatanku? Alex bilang Andrew tidak benaran menyukainya! Apa aku salah Shenice? Hik Hik…bilang, salahku dimana! Aku tidak minta perasaan ini! Aku merasa bahwa selamanya aku akan bersama kenanganmu! Tapi dia hadir! Tanpa aku minta! Aku tidak tahu harus bagaimana Shenice! Jawab aku! Aku harus bagaimana…" Damian terduduk di kasur empuk di kamarnya, sambil menutup wajahnya. Tak berapa lama dia seperti kelelahan dan terjatuh tak sadarkan diri.
Tak berapa lama ponselnya berbunyi, sebuah pesan yang ditunggunya masuk, tapi sayang Damian sudah tertidur karena kelelahan. Kelelahan akan pikiran dan hatinya yang tak sejalan.
****
Sementara itu di Jogja, Andrew terbatuk-batuk. Dia pun keluar sambil menatap jam dinding, sudah jam 17.00 sepertinya dia tertidur cukup lama kali ini. Dia terbangun karena batuk yang tiba-tiba mendera. Entah siapa yang membicarakannya sehingga dia bisa batuk seperti ini. Mungkin juga hanya dugaannya saja atau perasaannya saja yang tak beralasan
Andrew menyingkap jendela apartemennya, sepertinya hari mendung dan mau turun hujan, dan dia tak melihat keberadaan Vivi di apartemen ya kali ini. Dia mencoba mencari Vivianne di kamar tamu, tapi kamar itu masih rapih,kosong. Pertanda bahwa Vivianne belum kembali. Andrew mulai gelisah, dicobanya menghubungi Vivianne, tapi diluar jangkauan. Sepertinya ponselnya mati.
" Kemana dia? Apa yang dilakukannya dengan Bryan? Kenapa hingga sore belum juga kembali? Padahal dia sudah sejak siang tadi keluar dari kampus!" Andrew mendudukkan dirinya sambil dibantu dengan kruk perlahan menuju sofa ruang TV.
Andrew menunggu hingga satu jam lebih tapi Vivianne tak kunjung datang. Dia menimang-nimang ponselnya untuk menghubungi Bryan. Tapi, dia enggan melakukannya. " Nanti itu anak besar kepala! Kalau aku menghubungi dirinya! Dia pasti tertawa sekarang! Sial! Lihat saja kau Bryan! Jika kau berani macam-macam dengan Vivi!" makinya dalam hati.
Jengger!!
Petir menyambar dan membayangi kaca apartemen Andrew. Andrew mulai panik, dia khawatir terjadi sesuatu dengan Vivianne.
Diambilnya ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.
Sambungan tersambung.
" Dimana kau? Dimana Vivi?" Tanpa basa basi Andrew langsung bertanya.
Namun belum juga telepon di seberang sana menjawab Andrew melirik ketika seseorang sepertinya hendak membuka pintu apartemennya.
Ceklek!
Dan menyembullah seraut wajah masuk perlahan, mengendap-endap. Dan matanya bertemu dengan mata Andrew dia terkejut hingga hampir menjatuhkan bawaannya, wajahnya mulai ketakutan.
"Kamu? Kamu sedang apa disini?" ujarnya gugup.
" Oh, hebat sekali kau! Ini apartemenku! Tentu saja aku disini! Seharusnya aku yang bertanya, mengapa kamu masuk mengendap-endap! Heh? seperti maling saja!" maki Andrew.
" A-aku…"
*****