Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 34 Pengecut,Pengkhianat Memang Cocoknya Sama Pecundang!



" Kenalkan, aku Valery!" seorang gadis cantik menyodorkan tangannya ke arah Vivianne.


Vivianne menatapnya dengan dengan kebingungan. Menelisik penampilan gadis trendi di hadapannya, wajah yang cantik, pakaian sedikit terbuka diatas lutut berwarna merah tanpa lengan yang sepertinya mahal, kacamata yang disampirkan ya keatas layaknya sebuah bando. Dan jangan lupakan sepatu boots yang dipakainya hingga selutut, menambah penampilan tak biasanya. Belum lagi bibir merahnya yang menantang tersenyum dengan ramah. Sungguh berbanding terbalik dengan penampilan Vivianne, yang hanya menggunakan jeans biasa dengan kemeja warna biru dan tas yang terbuat dari kain dengan sepatu kets yang tidak lebih dari puluhan ribu. Mereka bagaikan bumi dan langit. Princess dan si buruk rupa!


" Ehem..Maaf apa aku mengenalmu? Apa kita saling mengenal,mungkin?" Vivianne mencoba mengingat dibalik insecure dirinya dibandingkan gadis dihadapannya ini.


Gadis tersebut tertawa, " Hahaha…Kamu mungkin tidak mengenalku, tapi aku mengenalmu!" 


" Mengenalku? Maksudnya,Nona?" Vivianne mulai mengerutkan keningnya, "Sepertinya wajahnya familiar tapi dimana aku pernah melihatnya,ya?" pikirnya dalam hati.


" Oh, maksudku adalah…Hmm…aku mengenalmu dari…Andrew!" tuturnya kembali.


" Andrew? Kamu mengenalnya?" Vivianne merasa aneh, atas apa yang diucapkan oleh gadis tersebut.


" Ehem…Sangat…Kami.." Valery berujar santai.


Tania yang melihat interaksi keduanya, tiba-tiba timbul kemarahannya.


" Kamu! Ka-kamu…Kamu kan, gadis itu! Gadis yang di hotel kemarin! Mau apa kau kesini? Heh? Belum cukup apa yang kalian lakukan minggu lalu,Heh?" Tania menghadang gadis itu dan berdiri dihadapan Vivianne.


Vivianne yang di belakang punggung Tania mulai mengingatnya. Dia menutup mulutnya. Hatinya seakan teriris kembali. " Mau apa gadis ini menemuinya? Mau menghinanya?" 


" Hahaha….Bagus juga ingatanmu! Minggir kau gadis buluk! Aku tidak ada urusan denganmu! Aku ada urusan dengan,Dia!" gadis itu mendorong Tania, Tania yang sempat bergeser sangat marah dan hendak berbicara kembali. Namun ditahan oleh Vivianne.


" Sudah,Tan! Biarkan dia berbicara! Aku bisa menghadapinya! Aku juga penasaran apa sebenarnya yang hendak dia ucapkan kepadaku!" ujar Vivianne memberikan ketenangan kepada sahabatnya dan memintanya menyingkir sebentar.


" Tapi,Vi…gadis ini ular berbisa!" ujar Tania kesal.


" Hey! Dasar gadis buluk! Kampungan! Pantas saja, mulutmu kasar! Kamu yang berbisa!" gadis tersebut emosi dan mulai berdiri dihadapan Tania.


" Kamu yang berbisa! Gadis murahan! Lihatlah pakaian murahanmu! Hello ini tuh, masih siang hari, memang sudah jualan apa,siang hari! Sana ke Klub jika mau jualan! Bukan disini!" Tania penuh emosi.


" Dasar gadis kampung! Tidak tahu mode! Ini sedang model,tau! Kamu mana tahu!" dia mulai menjambak rambut Tania dengan kasar.


" Auww!! Dasar perempuan sund*l! Rasakan pembalasanku!" Tania kali ini juga menjambak rambut perempuan itu bahkan lebih keras.


Jadilah tarik menarik dengan diantara keduanya. Vivianne yang melihatnya hanya kebingungan. Akhirnya dia memutuskan untuk memisahkan mereka. Tetapi usahanya sia-sia mereka tidak peduli. 


Vivianne menarik nafas dan mengisi rongga udara di dadanya sebelum akhirnya di berdiri menjauh dan sedikit berteriak.


" STOP!!!!" 


" BERHENTI!!"


Teriaknya sambil terengah-engah. Tetapi dia puas melihat kearah keduanya yang mulai berhenti. Bahkan dia tidak peduli, ketika beberapa orang memperhatikan mereka anak kos yang baru saja hendak keluar.


" Bagus! Akhirnya kalian berhenti.Tania, kamu menjauhkan, aku bisa jaga diriku sendiri. Kamu lupa aku pelatih taekwondo,Heh? Sedangkan Kamu..Siapa namamu? Valery,benar? Kita bicara disana!" Vivianne melangkahkan kakinya menuju sebuah kursi yang tak jauh dari sana. Namun kemudian dia berbalik ketika Tak seorang pun mengikutinya.


" Halo,Nona? Kamu mau bicara atau tidak? Aku tidak punya banyak waktu! Aku harus ke kampus,dan waktumu hanya tidak lebih dari 10 menit." ujar Vivianne sambil menatap jam tangannya.


Akhirnya gadis itu merapikan dandanannya dan mengikuti langkah Vivianne dibelakangnya. Namun tidak lupa dia sempat mengejek Tania.


Tania yang geram hendak menerjangnya kembali, Vivianne menoleh.


" Dan kamu,Tania! Tunggu aku disini! Jangan kemana-mana! Aku akan kembali! Ini tidak akan lama!" ujar Vivianne sambil memberikan peringatan.


Gadis itu hendak menertawakan Tania, namun Vivi menatapnya tajam, " Anda mau berbicara dengan saya, atau anda ingin melanjutkan kegiatan anda dengan teman saya, dan lupakan jika ingin berbicara dengan saya!" 


" Tentu aku kesini karena ingin menemui mu! Bukan temanmu yang tidak penting itu!" kesalnya dan mulai mengikuti langkah Vivianne.


Vivianne duduk dengan tenang. Tepatnya mencoba dengan tenang meski hatinya kini tidak karuan. Tapi dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan gadis ini. Vivianne mengambil nafas panjang saat melihatnya duduk disebelahnya dengan jarak yang tidak terlalu dekat.


" Katakan, apa yang hendak Nona sampaikan, waktu Nona kurang dari sepuluh menit. Maaf saya juga harus ke kampus setelah ini!" ujar Vivianne sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


" Aku cuma mau meminta maaf, atas apa yang terjadi seminggu yang lalu." ujar gadis itu seakan menyesal. Tapi Vivi membuang wajahnya malas, dia memang polos tapi dia tidak sepolos itu. Dia tahu gadis dihadapannya hanya berpura-pura.


" Minta maaf untuk apa,ya Nona? Apa Nona punya salah sama saya? Rasanya,tidak! Kenal pun, kita baru sekarang,bukan?" Vivianne mencoba tersenyum manis. Dia mencoba mengikuti permainan gadis di depannya itu. "Kalau dia ingin berpura-pura, maka aku pun bisa! Kita lihat permainanmu,Nona!" geramnya dalam hati.


" Kamu tahulah, apa yang terjadi…ka-kami…" ujar Valery sedikit ragu, karena dugaannya salah gadis ini tidak terlihat sakit  hati. Menangis ataupun rapuh.


" Langsung 'to the point' saja, Nona! Waktu anda tersisa lima menit lagi!" Vivianne menatap jam tangannya.


" Gadis sombong!" kesalnya lirih.


" Anda berbicara sesuatu,Nona?" Vivianne bertanya meyakinkan pendengarannya.


" Ah, tidak. Ok! Maksud saya, kami saling mencintai dan seminggu lalu adalah pembuktian dari rasa cinta kami. Kamu sudah melakukannya! Toh, kupikir karena kami sudah dijodohkan oleh orang tua kamu,jadi yah..apa salahnya,bukan? Keluarga Andrew meminta kami bertunangan secepatnya. Jadi…saya harap kamu tidak usah berharap banyak terhadap Andrew! Bagaimanapun kami akan menikah nantinya!" ujar gadis itu dengan meremehkan Vivianne.


" Hahaha…." Vivianne tertawa kencang.


Gadis itu menatapnya dengan heran, " Apa ucapanku terlalu keras,ya? Sehingga dia kehilangan kewarasannya sekarang? Hii..ngeri!" 


Gadis ini menaikan bahunya seakan ngeri melihat Vivianne tertawa.


" Kenapa? Nona pikir saya gila?" tanya Vivianne menatap gadis di hadapannya itu.


Gadis itu entah mengapa seakan mengangguk perlahan.


" Saya tidak gila,Nona! Saya cuma merasa lucu! Kenapa harus Nona yang bersusah payah menghampiri saya seakan mencoba meyakinkan sesuatu? Kenapa bukan Andrew? Saya tidak ada urusan dengan Nona! Tapi saya ada urusan dengan Andrew! Suruh dia datang kepada saya dan menjelaskan seperti Nona menjelaskan kepada saya! Jika tidak ada hal lain yang ingin Nona bicarakan, maaf saya harus pergi! Dan silahkan Nona pergi dari sini! Jangan sampai orang-orang disini malah mengeroyok Nona karena dianggap mengganggu ketenangan!" ujar Vivianne sambil berdiri.


" KAU! Gadis tidak tahu malu! Sudah tahu dicampakkan oleh Andrew, malah masih saja menempel bagaikan lintah! Apa karena Andrew kaya,Hah? Jadi gadis kampung sepertimu rela menjeratnya! Jangan-jangan kamu juga sudah sukarela menyerahkan tubuhmu itu kepada Andrew! Jadi jangan sok suci di hadapanku! Posisi kita sama tahu! Bedanya Andrew lebih memilih diriku dibandingkan dengan dirimu,yang cuma gadis kampung!" Valery mulai emosi karena merasa direndahkan.


PLAK!!


Vivianne menampar wajah cantik di hadapannya dengan keras.


Valery memegang wajahnya dan menatap sangar kepada Vivianne.


" Dasar sial*n! Cewek murah*n! Kau berani menam.." ujarnya geram.


PLAK!!


PLAK!!


Vivianne menamparnya dua kali di pipi kiri dan kanan.


Valery meradang matanya memerah dan pipinya juga memerah tercetak tangan Vivianne. Valery menerjang ke arah Vivianne. Vivianne menghindarinya, sehingga gadis itu tersungkur menyentuh tanah. Dengan wajah mencium tanah.


Vivianne berlalu dan menghampiri Tania, namun baru beberapa langkah Vivianne berjalan terdengar suara Tania, " Vivi! Awas!" 


Vivi bukannya tidak tahu bahwa Valery bangkit dan kemudian hendak memukulnya dari belakang, tanpa berbalik Vivi menangkap tangannya dan memotongnya sehingga kini Valery berada di depannya Vivianne dengan tangan Vivianne memiting lehernya.


" Hep..hep..Lepaskan!" Valery berusaha berbicara dengan tenggorokan yang sakit karena masih dipiting oleh Vivianne.


" Oh, apa, Nona? Saya kurang dengar!" ujar Vivianne malah pura-pura tak mendengarnya.


" Lepaskan! Cewek bar-bar!" ujar Valery masih memakinya.


Vivianne semakin mempererat memiting nya. " Tidak begitu caranya memohon,cantik! Bilang yang sopan!"


Valery hampir kehilangan suaranya. " Ma-maaf!" 


Vivianne akhirnya melepaskannya sambil mendorongnya ke depan.


Valery terbatuk-batuk!, " Dasar cewek jadi-jadian! Pantas saja Andrew meninggalkanmu! Mana mau Andrew sama cewek tukang pukul seperti kamu ini! Dasar! Seperti kataku! Tinggalkan Andrew!" Valery tidak menyerah.


" Oh, kamu mau lagi, kah?" Vivianne mulai menggulung lengan kemejanya.


Valery ketakutan, dia pun hendak berlari menuju mobilnya. Tapi didengarnya suara Vivianne.


" Bilang Andrew! Tidak usah menyuruh orang lain jika ingin berbicara kepadaku! Jangan jadi pengecut! Ambil pecundang itu buatmu! Aku sudah tidak butuh! Pengecut,penghianat memang cocoknya dengan pecundang sepertimu!" Vivianne berteriak penuh emosi.


Valery melotot dengan emosi namun dia terus berlari kearah mobilnya dan kemudian memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Vivianne luruh ke tanah ketika mobil Valery menghilang dari pandangan matanya.


BUGH!


" VI!" Teriak Tania. Dia berlari ke arah Vivianne.


Vivianne menangis sejadi-jadinya. Dadanya naik turun menahan sesak di dadanya. Tania memeluknya dan mencoba menarik tubuh lemah Vivianne.


" Andrew…Andrew..Tan! Dia..dia…berbohong! Dia-dia..pengkhianat! Aku benci Andrew!"


Vivianne terus menangis didalam pelukan sahabatnya itu.


" Sst…! Sudah Vi! Sudah! Jangan dipikirkan,lagi ya? Memangnya siapa cewek itu? Apa yang dia bilang?" tanya Tania sambil membopong Vivianne yang ternyata terlalu lemah, dia hanya mencoba bertahan di depan gadis itu.


" Di-dia…Tunangannya Andrew!" ujar Vivianne lirih dengan lelehan air mata yang terus membasahi pipinya tanpa berhenti. 


" APA? TUNANGAN ANDREW?" 


****