
Vivianne menatap kesal pria yang sedang berada disampingnya itu, ' Kenapa dia menjadi sangat keras kepala sekali?' Dan kemudian membuang tatapannya ketika pria tersebut menatapnya yang justru dengan senyuman.
" Kenapa? Kamu sedang memakiku, kah, di otak kecilmu itu?" seringainya.
" Siapa, yang memaki kamu? Jangan asal menuduh! Itu namanya pencemaran nama baik namanya, jika asal menuduh!" sewot Vivianne yang berusaha sekuat tenaga agar tidak kembali terpengaruh akan pesonanya.
" Hahaha….Silahkan saja! Tapi aku tahu kamu,Vi! Aku bahkan tahu seluruh tubuh kamu! Apa kamu melupakan itu?" seringai pria itu kembali dengan kemenangan.
" Kamu…? Mesum!" dengan gusar membuang wajahnya ke samping dadanya mulai naik turun menahan kemarahan.
" Yah, yah! Terserah apa katamu! Asal kamu tahu…." pria tersebut meraih wajah Vivianne. Vivianne berusaha sekuat tenaga melupakannya, tapi cengkraman pria itu terlalu kuat.
Pria tersebut mendekat, Vivianne menahan nafasnya. Dan reflek memejamkan matanya karena ketakutan yang dipikirkannya. Yang kemudian dilakukannya adalah diluar dugaannya. Pria tersebut berbisik dengan suara dalam, " Kamu tahu, aku hanya bisa mesum kepadamu!" kemudian melepaskannya.
Vivianne sempat terhuyung ke belakang karena hentakan keras Andrew. Yah, pria yang saat ini memaksa paksa Vivianne ke mobilnya adalah Andrew. Ternyata Andrew mengikutinya setelah mengelabui papanya memutar mobilnya dengan kecepatan kencang ketika mobil sang papa tidak membuntutinya dibelakangnya. Dia beralasan ingin ke apartemen Alex dan ada janji dengannya, yang terjadi adalah, dia membuntuti Vivianne. Untunglah mobil yang naikinya, adalah mobil sport keluaran terbaru sehingga dengan mudah mengejar keberadaan Vivianne.
Vivianne membuka matanya dan menarik nafas lega, ketakutan dan kekuatirannya tadi seakan lenyap. Dia sudah berpikiran buruk, bahwa Andrew akan melakukan lebih dari ini. Menciumnya itu adalah pemikiran logis Vivianne di posisi saat itu. ' Syukurlah, tidak!' batinya lega.
" Jangan merasa lega terlebih dahulu! Kamu tidak akan tahu apa yang akan aku lakukan nanti!" sambar Andrew kembali dengan seringainya.
Vivianne mematung di kursi penumpangnya. Rahangnya kembali mengeras! Dia merasa diremehkan,dilecehkan saat ini secara verbal tentu saja oleh Andrew.
" Jangan harap! Aku bukan Vivianne empat tahun lalu yang dengan bodohnya kamu tipu!" amarah Vivianne memuncak.
Andrew terdiam, Vivianne menunggu. Tapi kemudian terdengar helaan nafas dari seorang Andrew.
Dengan tatapan yang sulit dimengerti dia menatap Vivianne.
" Itu benar! Kamu tidak sama! Seorang Vivianne yang kukenal, tidak akan mungkin berbuat sejauh ini!" sindir Andrew kembali.
" Apa maksud ucapanmu itu? Jelaskan!" Vivianne merasa ada makna yang pastinya tidak baik di balik ucapan Andrew kepadanya. Seakan memiliki makna ganda.
" Tidak ada! Kamu tidak bodoh,Vi. Kamu tahu pasti maksudku!" Andrew menatapnya dengan tatapan sedih.
Vivianne tidak suka ditatap seperti itu. 'Ada apa memang, dengan dirinya?'
Dia tidak ingin di tatapan sarat akan rasa kasihan yang dilakukan Andrew saat ini.
" Turunkan aku! Aku mau kembali!" seru Vivianne enggan membahas tatapan Andrew dan pemikirannya. Dia tidak peduli! Bahkan jika Andrew menganggapnya dia perempuan 'nakal' pun dia sudah tidak peduli!
" Tidak sebelum kita bicara!" tak terbantahkan Andrew.
" Kalau mau bicara, bicara saja sekarang! Mau kemana kamu membawaku? Ini penculikan namanya! Aku bisa laporkan kamu ke polisi!" dengan gusar Vivianne berteriak.
" Silahkan saja! Aku tidak takut! Tidak akan ada yang mempercayaimu! Bukankah kita pasangan suami istri bukan?" muncul senyum iblisnya.
" Kamu gila! Kamu tidak waras! Kamu sinting!" Vivianne memaki dengan dada yang kembali naik turun.
" Maki lah sepuasnya! Kalau itu membuatmu senang! Tapi yang pasti , aku tidak akan menurunkan kamu!" ujar Andrew santai dan kembali menatap kedepan.
Vivianne membuang wajahnya dengan emosi. Dia tidak tahu apalagi yang akan dia lakukan kepada Andrew, 'Apakah ini watak asli Andrew? Dia seperti tidak mengenal watak Andrew yang ini!'
Sifat kerasnya hanyalah pembungkus hatinya saja yang sebenarnya rapuh. Rapuh karena ditinggalkan oleh orang kesayangannya. Ibu dan neneknya. Dan membungkusnya dengan sifat kasarnya itu.
Tapi sifat yang ditunjukkannya kali ini, lebih mengerikan. Vivianne merasakan hal berbeda, 'Andrew seperti, kecewa? Tapi kecewa kepada siapa? Dirinya kah? Untuk apa? Bukankah seharusnya dia senang terlepas dari Vivianne? Seperti yang pernah diucapkannya empat tahun lalu? Lantas ini apa?'
Semua pertanyaan itu terus berputar-putar dibenak Vivianne. Tidak satupun dia menemukan jawabannya!
'Fokus Vivianne jangan menjadi lemah! Dia masa lalu kamu yang sudah tidak berarti!' Kembali Vivianne berkata kepada dirinya sendiri untuk memberikan dukungan.
Vivianne kembali menatap Andrew dengan diam-diam. 'Aku tidak bisa seperti ini lagi! Aku tidak mau dikendalikannya dan menjadi permainannya! Jangan terperosok ke lubang yang sama,Vi!'
Dengan perlahan Vivi melihat kesempatan itu, Andrew fokus menatap jalanan dengan kecepatan yang masih tinggi kini. Sepertinya Andrew ingin cepat sampai ke tujuannya yang entah kemana.
Perlahan Vivianne melepaskan seatbeltnya. Dan menarik tuas mobil Andrew kebelakang dan membuka pintu mobil Andrew dengan menarik kendali di kursi Andrew. Andrew yang kaget tidak sempat menghentikannya.
Vivianne hendak loncat dari mobil tersebut. Dia tidak peduli walau harus terluka atau lebih parah dari itu, asalkan dia tidak mengikuti kemauan Andrew.
Mobil Andrew oleng ke belakang tapi dia masih bisa mengendalikannya. Dia sudah terbiasa mengendalikan mobil dalam kecepatan tinggi sejak kuliah di Jogja dan bahkan di Australia tidak jarang sesekali dia malah ikut balapan. Jika hatinya sedang gundah.
Vivianne terlempar keluar mobil. Bergulingan di jalanan beraspal tangannya lecet-lecet, dan dan kepalanya sedikit memar karena sempat menghantam ruas jalanan. Sebelum akhirnya dia menahannya dengan sebelah tangannya.
Andrew yang berhasil menghentikan mobil, keluar dari mobilnya dan berlari ke arah Vivianne dengan panik.
Dia memeluk Vivianne dengan erat dan mulai meneteskan air mata di ujung matanya, " Sial! Vi! Apa kamu mau mati, Hah? What are you doing?"
Andrew memaki Vivianne. Dan menatap panik berbalut kemarahan kearah Vivianne.
Vivianne mencoba tersenyum pedih menahan sakit, " Bukankah kamu akan senang kalau aku mati,bukan?"
Andrew menggelengkan kepalanya, " Kamu salah,Vi! Kamu salah! Aku memang membencimu karena tindakanmu! Aku marah! Aku kecewa! Kenapa harus papaku? Why,Vi? Aku tidak bisa kehilanganmu! Tidak bisa! Tidak bisa lagi!"
Andrew mulai terisak, sambil memeluk Vivianne.
" Apakah kamu tidak sadar, kalau aku…Aku menyukaimu! Sangat! Bahkan setelah empat tahun! Empat tahun rasa itu tidak pernah hilang! Meski aku mencoba menepisnya! Aku menjauh! Tapi rasa itu semakin mengakar! Aku menghukum diriku sendiri dengan menjauhi kamu! Dan akan datang mempersembahkan diriku setelah puas menyiksa diriku sebagai bentuk penyesalanku kepadamu! I'm Sorry!" Andrew semakin menangis.
Vivianne yang mulai pusing, tidak sanggup mendengar semua ucapan Andrew.
Vivianne menggelengkan kepalanya yang mulai terasa berat, " Aku ti-tidak mengerti ucapanmu, kamu ngomong apa?"
Andrew menatapnya sedih, kesedihan yang sangat mendalam serta penyesalan. 'Benarkah itu Penyesalan? Tidak! Tidak mungkin! Andrew tidak pernah menyukaiku!' Vivianne kembali menolak kata hatinya dan menggelengkan kepalanya.
" Yah, Vi! Aku mencintaimu! Hanya kamu!"ujar Andrew sambil terus menatap mata Vivianne yang mulai tertutup bahkan mungkin tidak mendengar.
Sayup-sayup yang didengarnya hanyalah, " Vi! Oh,My God! Wake Up! Vi! Please Don't Leave Me alone!Tidakkkkkk……!"
Vivianne pun pingsan di pelukan Andrew.
****