
Andrew menyelesaikan makannya dengan sangat cepat, karena memang dia sangat lapar sejak tadi. Makanan tersebut habis tak tersisa.
Vivianne melihat sudut mulut Andrew terdapat sisa-sisa makanan. Dia tersenyum sambil mengeluarkan tisu dari tasnya dan dengan lembut membersihkannya sambil berujar, " Makannya seperti anak kecil,ih. Berantakan ini,Kak!"
Andrew terdiam, pandangannya terus menatap kearah Vivianne yang telaten membersihkannya. Dia tak pernah mendapatkan perhatian seperti ini sebelumnya, hatinya sangat bergetar. Ada perasaan bahagia,terharu yang menyeruak dihatinya.
" Vi…" panggil Andrew.
" Hmm?" Vivianne mendongak menatap Andrew dan sedikit terkejut dengan cara menatap Andrew.
" Kakak kenapa melihatku seperti itu, sih? Maaf! Maaf! Aku lancang yah,Kak?" Vivianne hendak menarik tangannya dari wajah Andrew.
Namun Andrew menangkap cepat tangannya, " Nggak kok! Aku malah senang, sama perhatian kamu ini. Terima Kasih, yah.Terima kasih sudah mau menerima aku" Andrew menatapnya dengan sorot mata yang tulus. Dia tak bisa membohongi hatinya, dia mulai tertarik sama Vivianne.
" Apa sih, Kak! Kok jadi Mello begini, sih? Katanya jagoan,jagoan kok cengeng,sih?" Vivi hanya tersenyum geli.
Andrew membuang nafas kesalnya, " Vi, bisa nggak kamu tidak merusaknya? Lagi romantis ini…"
" Hahaha….maaf,Kak! Habisnya, muka kakak tuh, nggak cocok,tau! Buat romantis-romantisan!" Vivi terus tersenyum sambil tertawa.
Andrew menatapnya, " Cantik!" Vivi terlihat lebih cantik ketika tersenyum dan tertawa bahagia seperti ini.
" Kakak bilang, apa?" Vivianne tiba-tiba berhenti tertawa.
" Hah? Apa? Nggak bilang apa-apa,Kok!" Andrew gelagapan dan menyangkalnya.
" Oh, hmm..aku mungkin salah dengar, aku seperti mendengar seseorang berkata, 'cantik'!" Vivianne menatapnya dengan tersenyum.
" Siapa? Kamu salah dengar,mungkin!" Andrew membuang muka sambil mencoba merebahkan dirinya.
Vivianne terkekeh pelan, "Baiklah. Aku bersihkan rantang yang berantakan di depan itu, yah?"
Vivi hendak beranjak, tapi kemudian ditahan Andrew. "Tidak perlu, biar dibersihkan sama cleaning service saja.Cukup panggil saja, coba kamu pencet tombol disana"
Vivianne pun mengikuti arah yang ditunjukkan kemudian menekan tombol yang dimaksud. Tidak berapa lama cleaning service pun datang dan dengan sigap membersihkan makanan yang berserakan karena Vivianne tak sengaja menjatuhkannya.
Vivianne menatapnya dengan sedih. Andrew menoleh dan mengerutkan keningnya, " Kamu kenapa lagi? Kamu terlihat sedih?"
" Ah, tidak,Kak! Aku hanya sedikit merasa sayang, padahal aku sudah sengaja memasaknya buat kakak, tapi jadi hancur berantakan karena aku. Maaf ya, Kak?" Vivianne menunduk sedih.
Andrew tersenyum, "Sini!" panggilnya.
Dengan perasaan masih sedikit sedih, Vivianne kembali beranjak ke arahnya.
" Kenapa, Kak?" ujarnya ketika mendekat.
" Lebih mendekat, Vi! Aku mau bilang sesuatu" ujarnya kembali.
Akhirnya Vivianne pun lebih mendekatkan diri sambil sedikit menunduk. " Apa yang…"
Cup!
Andrew mengecup pipinya, " Terima kasih,ya? Sudah mau memasak buatku?" dengan senyuman hangat.
" Eh,hmm ..i-itu, tadinya tak sengaja, aku tidak tahu harus bawa apa sebagai permintaan maafku, jadi kupikir… Tapi, jadi hancur..." ujar Vivianne gugup sambil memegang sebelah pipinya.
" Tidak masalah, toh, masih banyak waktu…kamu bisa masak nanti. Pokoknya aku pulang ke apartemen, aku mau kamu yang masak buat aku! Setiap hari! Sehari tiga kali!" ujar Andrew sambil mencoba merebahkan dirinya kembali dan menggeser tubuhnya.
" Hah? Tiap hari, aku kan harus kerja kak, bagaimana bisa masak tiga kali sehari? Kalau seperti itu, berarti aku tidak pulang, dong?" ujar Vivianne tapi langsung dibekapnya mulutnya, karena sudah memberikan ide buruk buatnya.
Andrew menoleh dengan seringainya, " Wah, ide bagus itu! Ya sudah, kamu tinggal di apartemen aku saja,sampai aku sembuh, Ok? Deal!"ujarnya dengan kerlingan devilnya.
" Eh, bukan begitu maksudku,Kak! Maksud aku.." ujar Vivianne menyesali ucapannya.
" Kan kamu sendiri yang bilang,kan? Tidak perlu pulang? Apa artinya kalau bukan tinggal di apartemen coba? Lagi pula, apa yang kamu takutkan, sih? Toh, juga kemarin kamu sudah pernah tinggal di apartemen aku pas kamu sakit,kan? Jadi, apa masalahnya? Sudah! Jangan ngebantah, pokoknya aku mau kamu yang merawat aku nanti di apartemen! Titik! Lagi pula, kamu ngapain kerja, sih? Kalau sekedar untuk makan, dan keperluan kamu, aku masih sanggup biayai kamu,tau! Kamu tidak tahu apa, kekasihmu ini lebih dari sanggup,heh?" ujar Andrew tidak ingin dibantah.
Vivianne menggelengkan kepalanya, " Baiklah, tapi hanya sampai kakak sembuh! Tidak lebih! Tapi, aku tidak mau berhenti kerja, Kak! Ini hidupku, dan aku tidak mau bergantung terhadap siapapun. Apalagi kakak bukan keluarga atau suami aku! Kakak tidak punya tanggung jawab apapun terhadapku, jadi aku tidak mau!" ujar Vivianne.
" Oh, jadi kamu mau kita menikah? Ok, nggak masalah! Ayo, kita menikah!" ujar Andrew.
" Kak! Maksud aku bukan begitu! Lagi pula kita masih terlalu muda, masih banyak cita-cita aku yang hendak dicapai! Aku tidak mau menikah muda sebelum semua itu tercapai!" ujar Vivianne.
Andrew menatap sambil tersenyum ke arah Vivianne, " Aku hanya bercanda. Ok! Ok! Kamu boleh bekerja tapi hanya jika diantar aku atau Alex! Tapi kamu tetap harus tinggal di apartemen! Aku mau kamu yang merawat aku! Dan ini ga bisa dibantah!"
" Baiklah!" Vivianne menyerah, Andrew memang sangat keras kepala jika sudah menginginkan sesuatu. Suatu hal yang mulai Vivianne ketahui.
Andrew tersenyum bahagia, "Kamu malam ini temani aku disini,yah? Sini, tidur di sebelahku, Vi!"
" Hah? Yang benar saja! Aku rasa itu kurang pantas, dan lagi nanti Kak Alex…" ujar Vivianne dengan ragu.
" Loh, kan kita nggak ngapa-ngapain,Vi! Memang kamu pikir aku sanggup melakukan sesuatu dengan kaki aku yang patah ini? Menggerakkannya saja aku susah,Vi! Atau kamu berharap aku apa-apain, yah? Hayo? Wah pikiranmu kotor sekali,Vi!" ujar Andrew mengerlingkan matanya.
" Apa sih, kak! Nggak ada, yah! Aku hanya merasa tidak pantas dan tidak seharusnya kita berada dalam satu ranjang! Itu saja, bagaimana kalau dilihat orang? Apa yang dipikiran mereka? Walaupun kita tidak ngapa-ngapain! Apa kakak tidak malu? Aku ga mau, ah! Belum lagi teman Kakak, lihat, bagaimana?" ujar Vivi kekeh menolak.
" Paling tidak temani aku sampai tidur,Vi. Aku ga bisa tidur. Malu? Sama siapa? Alex? Dia nggak akan kembali malam ini paling besok pagi! Sedangkan Kalau jam segini, baik Suster ataupun Dokter jaga sudah tidak akan berkunjung! Jadi kamu tidak perlu kuatir! Aku janji tidak akan ngapa-ngapain kamu ,kok! Lagi pula, aku nggak bisa ngapa-ngapain juga,kan? Tanganku saja sebelah diinfus! Jadi praktis, aku nggak bisa melakukan apapun! Kalau itu yang kamu takutkan! Mau yah, please?" Andrew memohon.
" Iya, aku janji!" ujar Andrew.
" Ya sudah, geser kalau gitu!" ujar Vivi yang berpindah ke arah sisi kanan tempat tidur Andrew, karena sisi sebelah tangan kiri Andrew terdapat infus.
Vivianne merebahkan dirinya terlentang dengan sangat kaku, Andrew tersenyum," Kita seperti dua orang yang bermusuhan,Vi. Bisa kamu menatap ke arahku,Vi?"
" Sudahlah, Kak! Jangan macem-macem deh! Katanya cuma nemenin,kan? Ini sudah loh! Sudah tidur! Atau nggak sama sekali,nih! Aku turun yah?" ancam Vivianne.
" Eh, jangan! Iya, iya. Begini saja sudah cukup! Kamu pelit banget, sih? Kan aku mau tidur sambil menatap wajah cantik kamu,Vi!" ujar Andrew merajuk.
" Sudah,lah,Kak! Tidur! Jangan lebay! Jangan sok ngerayu! Nggak mempan!" ujar Vivianne kembali.
" Hahaha…. Siapa yang ngerayu sih? Kan nggak enak aja, aku mau ngobrol serius, kamunya malah seperti buang muka!" ujar Andrew.
" Memangnya mau ngobrol mengenai apa sih, Kak?" Vivi tanpa sadar memiringkan badannya ke arah Andrew sehingga mereka kini berhadap-hadapan.
Andrew menyembunyikan senyumnya, " Aku cuma mau tahu, memang cita-cita kamu apa sih?"
Vivianne kembali merebahkan dirinya dengan lurus menatap langit langit rumah sakit.
" Simple,sih,Kak. Aku cuma anak panti asuhan yang tidak memiliki ayah dan ibu. Tapi aku punya bunda Fatma, dia yang merawat aku sejak bayi ketika menemukanku di depan pintu rumahnya. Entah siapa yang menaruhnya. Mungkin kedua orang tuaku yang membuangku! Aku tidak tahu! Tidak ada pesan atau apapun! Aku adalah anak pertama panti asuhan itu! Bunda Fatma merawatku kayaknya anaknya sendiri, bahkan dia menolak setiap orang yang hendak mengadopsiku! Kecintaannya melebihi ibu kandungku,mungkin.Padahal kami tidak memiliki hubungan apapun, apalagi pertalian darah. Cita-citaku satu membahagiakan bunda dan adik-adik panti yang lainnya. Hidup kami tidaklah mudah, kadang kami harus membantu bunda tanpa bunda ketahui agar bebannya tidak terlalu berat. Itulah sebabnya dari SMP aku sudah terbiasa memberikan les private, membuat kue, parcel atau bouquet,les taekwondo, apapun itu. Itulah sebabnya, aku harus jadi orang sukses! Karena aku ingin membantu meringankan beban bunda Fatma!" ujar Vivianne sambil menghapus butiran halus di sudut matanya yang mulai keluar.
Andrew menatap sedih wajah Vivianne, "Apa aku sanggup mematahkan hati gadis malang ini? Hidupnya sudah sangat terlalu sulit!"bisik hatinya.
Tiba-tiba Vivianne kembali berbalik, Andrew memasang wajah biasa kembali.
" Kakak tau?" ujarnya sambil menatap Andrew
" Mana aku tahu,jika kamu tidak memberitahukannya?" ujarnya terdengar merajuk.
" Heheh…maksudku bukan itu, lagi aku belum melanjutkannya kakak main sambar, saja sih! Maksudku, kakak,tau? Aku hampir saja tidak jadi kuliah di Jogja, meskipun aku ini dapat beasiswa, loh!" ujar Vivianne.
" Oh, ya? Kenapa?" tanya Andrew penasaran meski dia tahu Vivianne salah satu penerima beasiswa di kampusnya.
Vivianne kembali merebahkan tubuhnya, "Yah, itu karena, aku tidak cukup punya uang untuk sekedar kost disini, dan untuk biaya hidup disini. Kan mahal,loh! Tapi bunda merelakan sebagian perhiasannya untuk aku jual atau gadaikan untuk biaya hidup aku disini. Tapi aku tidak jadi menjualnya, aku hanya menggadaikan nya. Itulah sebabnya aku harus bekerja disini, agar dapat menebus perhiasan bunda dan agar tidak merepotkan bunda untuk mengirimkan uang setiap bulannya. Karena adik-adik di panti, pasti lebih membutuhkannya! Aku hanya tidak mau egois." Vivianne tiba tiba teringat bunda Fatma, dia kangen sekali.
Glek!
Andrew menahan air liurnya, bibirnya terasa kaku, tenggorokan kering.
Hidup Vivi memang sedemikian getirnya. Berbanding terbalik dengan Andrew yang bergelimang harta, apartemen ada, bulanan ada, bahkan berlebih tapi masih tetap mengeluh. Terutama jika sang papah tidak mau membelikan barang atau mobil, atau bahkan sepeda motor baru yang harganya fantastis. Bisa dibilang Andrew hidup berkecukupan.
Andrew sedikit lebih beruntung dibandingkan Vivianne. Andrew pernah merasakan kasih sayang orang tua yang lengkap sejak kecil tidak seperti Vivianne. Paling tidak dia masih memiliki papah orang tua yang masih ada, meski sang mama telah tiada. Itu pun terkadang Andrew masih mengeluh,karena sang papah hampir tidak punya waktu untuknya. Andrew marah! Dan akhirnya memutuskan memilih kuliah di Jogja dibandingkan di Jakarta yang dekat sang papah.
"Ternyata, aku masih beruntung dibandingkan kamu, Vi! Kupikir, hidupku sudah menderita, tapi kami lebih menderita dibandingkan aku!" Andrew menatap sendu.
" Kak! Kak? Kok kakak malah bengong, sih?" tegur Vivi membuyarkan lamunan Andrew.
" Hah? Apa? Siapa yang benggong, itu kakak lagi menyimak cerita kamu! Heheh…" ujarnya sambil nyengir.
" Oh…Kalau kakak, apa cita-citanya?" tanya Vivianne menatap kembali Andrew.
Andrew mengambil rambut yang menutupi wajah Vivianne dan menaruhnya di sebelah kupingnya. Kemudian tersenyum, " Jadi pacar kamu!"
" Ish! Apa sih! Kakak! Aku serius,loh!" sambil memukul dadanya.
" Heheh…beneran! Kamu hobi banget sih, mukul aku? Jangan-jangan sebentar lagi aku si Smack down lagi sama kamu! Secara juara taekwondo! Jadi ngeri-ngeri juga aku ini! Mana lagi nggak bisa ngelawan lagi,aku!" ujar Andrew bercanda.
" Nggak ada yah! Lagian aku nggak akan melakukan itu kalau nggak kakak duluan yang nakal! Sudah! Katanya mau tidur? Kok nggak tidur-tidur,sih?" ujarnya cemberut.
" Ih, jadi takut aku! Iya, nggak akan! Lagian gimana mau tidur,coba? Orang kamu nyerocos melulu! Sudah kamu tidur juga!" ujarnya sambil mengelus rambut halus Vivi.
Vivi kemudian memejamkan matanya, " Vi? Vi?" Tak ada sahutan apapun.
" Yah sepertinya dia sudah tertidur! Cepat sekali!" ujarnya ketika mendengarkan dengkuran halus Vivianne.
Diapun memajukan tubuhnya dan mengecup lembut kening Vivi dan kemudian menatapnya dengan lembut, " Sepertinya aku mulai jatuh cinta sama kamu,Vi! Bolehkah?"
Andrew membetulkan kepala Vivi agar tangganya menjadi bantalan kepalanya, dan mendekatkan dirinya sambil memeluknya dengan tangan kanannya yang menjadi bantalannya.
Tanpa Andrew dan Vivi ketahui seorang pria memperhatikan sejak tadi interaksi keduanya. Hatinya entah mengapa sakit! Gadis yang ditemuinya, tanpa sengaja sekarang ternyata menjadi kekasih anaknya sendiri. Dia kira dia mulai bisa melupakan mendiang istrinya 'Shenice'.
Tingkah laku dan wajah gadis ini mengingatkannya kepada istrinya. Dia berpikir setelah usianya kepala empat ini dia mulai jatuh cinta kepada seorang gadis tanpa dia duga. Selama ini tak seorang pun yang bisa mendekati atau menarik hatinya, Damian Matthews. Dan Damian memang tidak ingin mencari pengganti sang istri, karena dia pikir tidak akan ada yang bisa yang menggantikannya.
Hingga kemarin….
Tapi mungkin dia harus menguburnya, tidak mungkin dia merebut sesuatu yang dimiliki anaknya. Damian memutuskan malam ini dia kembali ke hotel agar besok pagi dia harus kembali ke Jakarta, dan menyerahkan semuanya mengenai urusan disini kepada pengacaranya saja. Dia tidak akan sanggup menatap mata indah gadis yang tidak bisa dimilikinya.
Dengan langkah cepat dia kembali keluar Rumah Sakit membawa sakit hatinya dan meninggalkan kedua anak manusia yang mulai tertidur itu.
*****