
Andrew dirawat di Rumah Sakit selama hampir dua minggu, semenjak dirawat di Rumah Sakit hingga keluar Andrew dan Vivianne makin dekat. Bahkan Andrew makin manja dan menempel terus di dekat Vivianne. Hubungan mereka sudah menginjak hampir dua bulan.
Sepanjang itu pula, Vivianne harus banyak bersabar menghadapi tingkah laku, Andrew. Termasuk orang-orang juga tidak lepas dari direpotkan dengan tingkah lakunya, termasuk Alex dan Bryan. Terutama Alex. Alex yang sering dimintai tolong untuk mengantar jemput Vivianne. Andrew tidak membiarkan Vivianne jalan sendiri kembali. Terlebih Vivianne pernah mengalami kejadian buruk ketika pulang kantor yang berujung ditolong Andrew.
Hari ini pun, demikian pelajaran belum selesai untuk kelas Vivianne, tapi Andrew telah menunggu didepan kelas beserta Alex. Andrew memaksa Alex untuk menemaninya, karena Andrew masih masa pemulihan masih harus menggunakan kursi roda atau kruk untuk beberapa bulan kedepan.
" Drew, Vivi belum keluar,loh! Ini masih 30 menit lagi. Lo nggak malu apa, lihat sekeliling kita hampir seluruh mahasiswa dan mahasiswi melihat kita! Lo nggak tahu apa, Lo dan Vivi viral,tau! Banyak yang sakit hati dan menatap sinis ke arah Vivi, eh Lo malah makin menjadi-jadi lagi! Pakai antar jemput dan nongkrong di depan kelasnya padahal kelas belum berakhir! Padahal kalian ketemu juga kan nanti di apartemen? Heran gue mah sama Lo! Jangan-jangan Lo beneran suka lagi sama dia!" Alex sambil menatap penuh menyelidik kepada Andrew.
Andrew sedikit gugup kini, namun dia cepat dapat menguasai dirinya kembali, " Diem deh, Lo! Lo nggak percaya gue, apa? Mengenai hubungan gue dengan Vivi itu urusan gue. Urusan lo, cukup ikutin gue aja dan ga perlu banyak bacot. Pokoknya yang lo tau, gue masih punya waktu 4 bulan lagi, kan? Jadi Lo ga perlu ingetin gue terus-terusan. Bete gue! Lo ngerusak mood gue aja!" kesal Andrew mencoba menutupi perasaan yang sebenarnya. Mereka mulai nyaman satu sama lain, bahwa bisa dibilang Andrew mulai bucin terhadap Vivianne.
" Syukur deh, kalau lo inget! Masalahnya gelagat lo ini yang buat gue kuatir,Drew! Lo seperti orang yang kasmaran tau,nggak? Lo, bahkan bucin banget! Lihat aja sekarang! Bayangin, mana ada, cowok nungguin cewek di depan kelasnya 30 menit? Kalau bukan karena suka banget? Lo yakin,nggak beneran suka sama dia kan, Drew? Buat gue nggak masalah sih, tapi lo harus siap-siap kehilangan mobil dan motor kesayangan Lo, eh,iya. Motor Lo ditahan,yah? Yah rugi dong gue! Tapi lumayan sih, mobil Ferrari lo. Hehehe…" ujar Alex.
" Sial! Kenapa gue bisa lupa sih, sama taruhan itu! Berabe ini kalau Alex tahu gue suka beneran! Mana banyak pula taruhan gue kali ini! Sial! Alex nggak boleh tahu perasaan gue yang sebenarnya ini!" batin Andrew.
" Woy! Malah bengong! Jadi, Lo suka beneran sama dia? Wah, nggak nyangka gue! Lo bisa suka sama orang kayak dia! Cantik sih, tapi bukan selera banget itu! Tapi cinta memang nggak memandang apapun sih ..hehe…wah, gue bakal hoki berat ini!" ujar Alex sambil nyengir.
" Apaan sih, Lo! Sok tau! Sudah pokoknya Lo lihat aja nanti! Lo mana tau yang beginian! Ini sebagian dari taktik gue, tahu! Udah, sana. Lo kalau bete mendingan nungguin gue di parkiran gih, deh!" usir Andrew karena dia enggan ditongkrongin Alex jika bertemu Vivianne masalahnya. Dia tidak leluasa karenanya.
" Iya,ya. Gue percaya! Jangan lama-lama pacarannya! Gue bete nungguin Lo di parkiran.Mana nanti gue di mobil jadi kambing congek,pula! Lihat lo asik berduaan!" ketus Alex sambil berjalan menyusuri lorong kampus menuju ke parkiran. Seperti biasa dia harus menjadi sopir pribadi Andrew selama Andrew belum sembuh benar.
Andrew lega, melihat kepergian Alex dia dapat menunggu Vivianne bebas sekarang.
"Andrew!" seorang gadis cantik dengan gaya pakaian cukup berani berjalan, menghampirinya.
Andrew menoleh dan raut wajahnya terlihat tidak suka, Martha. Cewek yang selalu mengejar-ngejarnya menghampirinya kini yang sedang berdiri bersandar dinding kelas Vivianne.
" Drew, kok kamu disini,sih? Sedang apa?" tanya Martha dengan tidak suka.
Andrew menghembuskan nafasnya, "Suka-suka gue dong, gue mau dimana,kek! Urusannya sama lo apa? Memang gue mesti laporan ke elo apa, kalau gue pergi kemanapun? Kan nggak! Ingat ya, Lo bukan siapa-siapa gue!" ketus Andrew.
" Kok Lo jadi ketus gini sih, Drew? Kan gue nanya baik-baik!" kesal Martha.
" Bodo amat!" Andrew membuang wajahnya.
Martha menarik nafas dan menghembuskannya, " Lo berubah, yah Drew! Sejak kenal cewek kampung itu! Gila itu cewek pakai pelet apaan coba sama Lo, sehingga Lo berubah seperti ini!"
" Jangan sembarangan kalau ngomong,yah? Gue robek mulut Lo, baru tau rasa!" ujar Andrew marah.
Lagi-lagi Martha menghembuskan nafasnya, " Apakah benar, gosip yang beredar,Drew dikampus ini? Kalau elo jadian sama dia? Cih! Lo nggak malu apa, reputasi Lo tercemar kalau Lo jadian sama anak nggak jelas kayak dia! Lihat saja belum jadian Lo sudah ditimpa kesialan! Lo kecelakaan pas balapan! Padahal sebelumnya, mana pernah! Sadar,Drew! Dia ga baik buat Lo!" emosi Martha.
Andrew yang tersulut emosinya, menangkup rahang Martha dengan keras.
" Auw! Sakit, Drew! Lepasin!" ujar Martha berusa melepaskan cengkeraman Andrew diwajahnya.
" Bagus, kalau Lo tau sakit! Gue bisa lakuin lebih dari ini! Sekali lagi Lo ngomong sesuatu nggak bener mengenai Vivi, gue nggak akan segen-segen melakukan sesuatu tanpa Mandang Lo seorang cewek! Lo paham?" Andrew menatapnya dengan marah. Dan sedikit mendorongnya perlahan dan melepaskan genggamannya. Martha terhuyung beberapa langkah ke belakang.
" Satu hal lagi, tau apa Lo yang terbaik buat gue? Heh? Maksudnya yang terbaik buat gue siapa, elo? Hahaha…Lo ngelawak! Justru Lo, yang ga pantes buat gue! Lo ga lebih dari seorang cewek yang hobi dijamah sama pria manapun! Jadi jangan mimpi,Lo! Gue tau siapa Lo sebenarnya!" ujar Andrew.
" Lo kok, tega bener Drew, ngomong sama gue seperti itu?" Martha mengeluarkan air matanya dan mulai terisak. " Setelah kebersamaan kita? Gue…gue…hik hik.."
" Kebersamaan mana maksud, Lo? Selama ini bukannya Lo yang selalu berusaha menjerat gue,ngerayu gue,yah? Dan gue juga sudah berkali-kali menolak Lo, tapi Lo-nya aja yang bebal! Ga tau malu!" Andrew makin kesal.
" Tapi, Drew! Wa-waktu itu pas ulang tahun gue…Lo.. .Lo…memapah gue ke kamar gue dan kita….kita melakukannya, Drew!" Martha mulai berlinangan air mata dan berjalan menghampiri Andrew mencoba mengambil tangannya.
" Apa? Melakukan apa? Lo terlalu mabuk waktu itu, makanya gue memapah Lo, ke kamar Lo! That's it! Not more! Setelahnya gue pulang, gue ngantuk! Jadi jangan mengada-ada…Lo yah!" ujar Andrew memerah menahan kemarahan yang memuncak.
" Tapi beneran, malam itu, gue…gue..menghabiskan malam panjang…" ujar Marta terputus terisak-isak.
" Mana gue tau Lo menghabiskan malam sama siapa! Gue nggak peduli! Yang jelas bukan gue! Lo cek noh, sama si Tommy atau Anton! Pas gue pergi gue lihat mereka menyusul ke kamar Lo! Hahaha…kali aja Lo digarap sama mereka! Makanya gue bilang! Lo jangan mabuk! Lo jadi cewek gampangan,sih! So, jangan samain lo sama Vivi! Kalau jauh! Vivi itu cewek terhormat, nggak kayak Lo!" ketus Andrew.
Martha menggelengkan kepalanya, " Nggak mungkin! Ini pasti bohong, kan, Drew? Lo lagi nge-prank gue, kan?"
" Terserah! Yang jelas bukan gue! Kalau Lo nggak percaya, lo bisa cek, kamera CCTVnya! Sudah pergi Lo sana! Gue muak liat muka, Lo!" ketus Andrew.
Martha menatap Andrew dengan penuh dendam, " Lo lihat, Drew! Gue bakal balas rasa sakit hati ini sama Lo! Atau Vivi sekalian! Gue nggak peduli! Yang jelas dia sudah merebut Lo, dari gue! ujar hatinya.
Dan dia pun berlari entah kemana, bertepatan dengan Vivi muncul keluar dari kelasnya, Andrew pun tersenyum melihat wajah Vivi,sang kekasih.
" Aku kan, mau jemput kekasihku! Lumayanlah sejak 30 menit lalu! Martha? Nggak tau dan nggak mau tahu! Yuk ah,sayang, kita balik, aku kangen masakanmu! Aku lapar!" ujar Andrew sambil sedikit manja.
Vivi tersenyum, Andrew memang jauh lebih manja dengan dirinya sekarang. Terkadang hal ini membuatnya malu, dihadapan teman sekelas bahkan teman sekampusnya yang telah tahu bahwa mereka sepasang kekasih.
" Ayo!" Vivi berjalan didepan Andrew, kemudian menoleh ketika Andrew tak ada disisinya.
" Loh, Kak? Katanya lapar, kok masih disana?" Vivi kebingungan.
" Kamu lupa ya, sayang kaki aku sakit?papah dong! Dipeluk gitu,loh!" ujar Andrew manja.
Vivi hanya menggelengkan kepala dengan pipi yang merona, " Ya ampun! Kakak bikin malu aja, deh!" Namun tak urung dia menghampiri Andrew juga dan menaruh sebelah tangannya di bahunya dan Andrew malah memeluk erat pinggang Vivianne. Vivianne terkejut, " Kak!"pekiknya.
" Apa? Kan aku memang susah jalannya,Vi! Sudah yuk, Alex sudah menunggu di parkiran! Nanti kelamaan kita!"ujar Andrew santai.
Vivi pun hanya bisa pasrah, mengikuti kemauan Andrew meski setiap pandangan mata tertuju ke arah mereka.
******
Sementara Alex yang menunggu di parkiran, sangat kesal karena Andrew tak kunjung datang.
" Sial! Kemana anak itu! Kok lama bener! Gue udah kering ini di parkiran dia belum nongol juga!" sungutnya.
Tak berapa lama ponselnya berbunyi, diambilnya dan ditatapnya si penelpon yang hendak melakukan video call, " Om Damian?" dengan menoleh kekiri dan kekanan Alex mengangkat teleponnya.
" Hallo,Om! Pa khabar,Om?" sapanya.
("Sehat,kamu bagaimana? Sehat juga sepertinya yah? Kamu lagi dikampus yah?")
"Heheh…sehat berkat sogokkan laptop Om kasih, kemarin!"
(" Kamu bisa saja. Itu tidak seberapa dibandingkan kamu merawat dan menjaga Andrew selama ini Kamu belum jawab pertanyaan ,Om! Kamu di kampus yah? Lo, Andrew mana,Lex?")
" Hehehe…maaf,Om! Iya saya lagi di kampus,Om! Andrew biasa, lagi pacaran sama Vivi,Om! Mungkin sebentar lagi nongol orangnya! Yah, saya ini cuma supir buat mereka yang sibuk antar mereka kemanapun yang mereka mau! Kasihan, kan Om?"
("Pacaran? Vivi? Bener yang kamu bilang? Andrew sudah punya pacar disana? Padahal Om sudah peringatkan dia jangan macam-macam! Terlebih pacaran! Fokusnya belajar! Om nggak mau kuliahnya terganggu dengan hal yang tidak penting!")
" Tenang saja, Om! Vivi itu yang kemarin jagain Andrew itu,loh,Om!" ujar Alex.
(" Ya terus? Mereka pacaran gitu? Sepertinya Om harus bicara sama Andrew!")
" Eh, jangan,Om. Nggak perlu kayaknya,Om! Orang Andrew nggak sungguh-sungguh sama Vivi kok,Om! Vivi itu taruhan iseng-iseng kita kok,Om! Jadi kita bertaruh kita akan memberikan barang kesayangan kita mobil,motor, kalau Andrew berhasil menaklukkan Vivi selama 6 bulan! Hehehe….biasalah, anak muda,Om!" ujar Alex panjang lebar.
(" Apa? Taruhan? Bohong-bohongan?")
Alex yang tersadar menutup layar ponselnya, " Mati, gue! Bisa ngamuk nih, Andrew kalau tahu gue ember sama bokapnya! Aduh ini mulut kenapa tidak bisa distop,sih!"
("Lex! Lex! Kamu masih disana? Maksud kamu apa tadi? Jelaskan sama Om!")
Glek!
Alex menelan salivanya ketika mendengar sahutan dari ponselnya.
" Eh,iya sudah dulu yah, Om! Andrewnya sudah sampai nih, sepertinya! Aku pamit dulu yah, Om! Bye Om!"
Tut!
" Alhamdulillah! Mendingan gue matiin ponsel gue, kuatir om Damian telepon kembali!" batinnya dan mematikan ponselnya.
Alex terus mencoba mematikan ponselnya ketika tepukan di bahu nya mengagetkannya.
" Hey! Ngapain Lo?"
*****