Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 15 Andrew Masuk Rumah Sakit dan Mau ditahan?



Vivianne dan Alex terpaksa masuk dan mengikuti mobil ambulance yang membawa Andrew ke Rumah Sakit yang tak jauh dari tempat mereka melakukan balapan liar yang dilakukan di kawasan  Bandara Adisucipto. Andrew dibawa kerumah sakit Rumah Sakit Hermina Jogja. Dan mereka juga dikawal oleh iringan polisi juga.


Vivianne terus-terusan menangis sambil memegang tangan Andrew. Alex yang melihatnya merasa kasihan dengan gadis tersebut. Dia baru tahu, Vivianne memang sebaik itu.


" Sudah, Vi! Andrew kuat,kok! Dia pasti akan selamat! Jangan menangis lagi,yah?" bujuk Alex.


" Tapi, Kak! Lihatlah, darahnya banyak sekali! Dan tadi,tadi aku lihat, kaki Kak Andrew tertimpa motornya!" Vivianne kembali menangis tersedu.


" Iya, gue tahu. Sudah! Tapi kita biasa,kok. Mengalami hal seperti ini. Dan yang gue tahu, Andrew kuat! Jadi Lo ga perlu kuatir! Yang perlu kita kuatirkan itu, noh! Polisi! Mereka mau menangkap Andrew!" ujar Alex.


" Tidak kuatir, bagaimana? Kamu gila, yah? Lihat! Orang separah ini kok! Tidak lihat apa, kakinya! Terus kamu bilang, aku tidak perlu kuatir?" maki Vivianne dengan penuh amarah.


" Eh, kenapa dia jadi marah sama gue,sih? Memangnya salah gue apa? Serem juga ini cewek kalau marah!" Alex membatin sambil menatap ngeri melihat reaksi Vivianne.


"Iya, gue tahu. Maksud gue tidak seperti itu. Lo tenang, dulu yah? Tarik nafas…buang nafas…tenang…" Alex yang tidak berpikiran panjang, malah meminta Vivianne menarik nafas dan membuangnya sambil memperagakannya.


" Aku lagi tidak mau lahiran,yah! Jadi tidak perlu tarik nafas dan buang napas!" ujar Vivianne malah emosi dan sedikit menatap tajam dan memukul Alex yang tak jauh darinya itu.


" Auw! Sakit,Vi! Jadi cewek bar-bar banget,sih! Kan gue hanya bermaksud membuat Lo, tenang! Ga ada maksud lain,kok! Ya kali, Lo sudah mau lahiran! Lha orang Lo aja baru kenal Andrew,kan? Memangnya kalian…"ucapan Alex terputus, lagi-lagi Vivianne memukulnya.


" Sembarangan saja! Kalau berbicara itu dipikirkan terlebih dahulu! Jangan asal bicara!" kesal Vivianne.


" Iya,iya maaf! Bercanda, Vi! Peace, okay?" Sambil menunjukan dua jari telunjuk dan tengahnya.


" Bercandanya Nggak lucu! Salah tempat! Salah waktu!" ujar Vivianne masih kesal.


" Iya, maaf deh!" 


" Iya, sudah aku maafin! Jangan diulang lagi!"


" Iya,iya. Senyum dong, Vi! Ngeri tahu gue lihat lo,marah begini!" dengan takut-takut Alex berujar.


" Hmm!" dengan sedikit menarik sudut bibirnya sehingga terlihat seperti memaksa untuk tersenyum.


"Heheh…lumayanlah!" 


" Sudah deh, jangan bercanda! Terus maksud kamu apa,tadi? Andrew mau ditahan polisi? Terus, bagaimana? Kan bukan hanya salah Kak Andrew saja, dong? Siapa kata kamu..Tom.." Vivi berusaha mengingat nama seseorang.


" Tommy!" sahut Alex.


" Iya, itu dia, bagaimana? Masa nggak ditangkap juga? Enak banget dong?"kesal Vivianne.


Alex menaikan bahunya, "Tommy gue yakin dia kabur, dan gue yakin dia juga yang ngelaporin Andrew ke polisi! Karena sepanjang kita balapan,nih! Baru kali ini ada polis yang mengejar kita! Siapa lagi kalau bukan Tommy pelakunya! Dasar itu anak! Lihat saja, kalau ketemu! Mampus itu anak!" Alex makin kesal.


" Terus gimana dong, dengan Kak Andrew? Masa Kak Andrew ditangkap!"terlihat jelas raut kuatir Vivianne.


" Hehehe…Lo kuatir yah, sama Andrew? Segitu kuatirnya Lo sama dia! Wah, memang Andrew selalu beruntung! Man! You're such a lucky boy!" Alex hendak memukul lengan Andrew malah sukses mendapat lemparan pulpen dari Vivianne.


" Vi! Cukup kali! Kalau kena mata gue kecolok gitu, bagaimana? Bahaya tahu!" sewot Alex.


" Makanya jangan bercanda! Aku serius! Jadi gimana ini dengan Kak Andrew? Kak! Serius dong! Kakak nggak bisa apa bantu Kak Andrew?" ujar Vivianne masih kuatir.


" Hehehe..iya,iya. Lo tenang saja! Gue nggak bisa, tapi ada orang yang bisa! Dan pastinya mampu melakukannya!" Nyengir Alex.


" Siapa? " tanya Vivianne.


" Adalah, yang jelas, dia pasti bisa bantuin Andrew!" ujar Alex kembali.


" Syukur Alhamdulillah kalau begitu,kak! Tapi siapa sih, orangnya? Bikin penasaran saja!"  Vivianne masih cemberut.


" Entar, Lo juga akan tahu! Dia pasti akan datang! Sayangnya kita harus bersabar sedikit sampai dia datang, dan apapun yang ditanyakan sama polis lo cukup diam saja,yah? Biar gue yang urus!" ujar Alex.


" Baik, Kak! Tapi siapa sih, orangnya? Kita aja yang ke rumahnya yuk, minta tolong! Setelah Andrew ditangani" bujuk Vivianne.


" Hahaha…mana bisa! Jauh, masalahnya! Orangnya ga ada di sini!" ujar Alex tertawa miris.


" Hah? Dimana?" Vivi kebingungan.


" Jakarta!" ujar Alex santai.


" Apa? Jakarta? Memang siapa sih,Kak! Orangnya? Sampai sejauh itu! Tidak bisa apa yang disini saja,begitu!" tanya Vivianne.


" Nggak bisa! Kita tidak punya saudara di sini! Lagi pula, dia pasti datang kok! Nggak mungkin nggak!" Alex tersenyum penuh rahasia.


" Memang siapa, Dia?" tanya Vivianne pantang menyerah.


" Papahnya!" ujar Alex santai, tapi sukses membuat Vivianne kaget.


" WHAT?? Pa-papanya, Kak Andrew?" 


" Yah, dia kaget deh tuh! Apa kubilang! Pasti kaget! Dia nggak tahu apa, apahnya Andrew orang Jakarta?" batin Alex.


Tak berapa lama percakapan mereka terputus, karena ambulance telah sampai di depan Rumah Sakit Hermina.


Para Dokter dan Suster berhamburan sambil menunggu brankar diturunkan. Paramedis keluar terlebih dahulu ambil mengeluarkan brankar diikuti oleh Alex dan kemudian baru Vivianne.


Dan dibelakang mereka terdapat iringan mobil polisi. Paramedis membawa Andrew ke ruang UGD untuk ditangani dan Vivianne serta Alex hanya bisa menunggu didepan.


Tak berapa lama beberapa polis menghampiri mereka meminta keterangan, namun dijawab oleh Alex tidak tahu dan tidak bisa memberikan pernyataan sebelum didampingi pengacara mereka yang akan datang sebentar lagi. 


Vivianne yang tidak tahu menahu menatap linglung keara Alex, dan Alex yang ditatap hanya tersenyum. " Siapa mereka sebenarnya?" lirih Vivianne.


Akhirnya polisi meminta mereka memberikan pernyataan setelah pengacara mereka datang, atau setelah urusan dengan Andrew selesai.


Andrew ternyata dipaksa di gips, karena ada tulang keringnya yang patah! Terpaksa Alex yang menjadi penanggung jawab hingga papanya Andrew tiba.


Setelah beberapa jam penanganan, Andrew akhirnya keluar dan dipindahkan ke ruang perawatan. Tak banyak luka yang membahayakan di wajah Andrew karena dia masih mengenakan helm ketika kejadian itu terjadi.Hanya luka-luka ringan saja.


Dan disinilah mereka, di ruangan rawat inap Andrew, menanti Andrew untuk sadar.


Sepanjang itu Vivianne tak lepas memegang jemari Andrew dengan erat hingga dia kelelahan dan sedikit tertidur disamping tempat tidur Andrew, karena dia memang belum beristirahat sejak tadi. Sedangkan saat ini sudah hampir menjelang pagi hari. Sehingga wajar jika Vivianne mengantuk dan tertidur tanpa sadar.


Andrew sejam kemudian tersadar, dia sempat kaget melihat jarinya dipegang erat Vivianne yang tertunduk tertidur. Akhirnya tanpa membangunkannya dengan sebelah tangannya yang tak disadarinya terdapat infus dibelainya lembut rambut Vivianne. Alex yang juga terjaga hendak menghampiri dan membangunkan Vivianne, namun diberi kode oleh Andrew agar tidak membangunkan Vivianne.


" Biar, dia tertidur! Dia pasti sangat lelah! Sepertinya dia belum tidur!" ujar Andrew lirih.


" Tumben, lo perhatian! Iya juga sih, tapi dia yang paling kuatir loh sejak tadi, sama Lo! Nggak pernah jauh dari Lo! Kayaknya dia, sayang beneran dech,Drew sama Lo!" ujar Alex pelan.


" Benarkah?" tanya Andrew penasaran.


" Bener! Bahkan dia sempat mati-matian ngelawan gue cuma karena pengen ikut mencari,Lo! Katanya dia khawatir dan merasa bersalah, sama Lo! Gila! Jurus Lo memang ampuh! Cewek se-dingin dan segalak dia bisa bertekuk-lutut sama Lo!" ujar Alex geleng-geleng kepala.


Andrew menghangat hatinya, "Perasaan apa ini? Kenapa dia tidak suka Alex menyebutnya seakan-akan mempermainkan dia? Walau memang itu yang terjadi,sih! Tapi dia tak senang ketika Alex membicarakannya."


" Woy! Malah bengong! Jangan bilang lo, jadi lembek, karena dia!" sambil menatap menyelidiki Andrew.


" Apaan, sih, Lo. Nggak Lah! Gue cuma kasihan aja, karena dia sudah bantuin gue!" Andrew membuang pandangannya dengan gugup.


" Yah, I hope so! Lo tahu, dia sampai berani maki-maki gue! Karena gue tenang saja lihat Lo, terluka tadi!Yah, gue kan terbiasa lihat Lo terluka kayak gini,Man! Jadi gue santai dong! Nggak tahu aja dia! Hahaha…tapi ada lucu juga sih!"ujar Alex.


Andrew kembali menatapnya, " Lucu kenapa?"


" Lucu, Drew! Baru kali ini nih gue,seorang Alex, dimaki-maki sama cewek! Sampe dipukul segala,loh! Ga ada takut-takutnya ini cewek!" ujar Alex terus mengingat sesuatu kejadian di dalam ambulance.


" Iya, gue tahu!" ujar Andrew menatap Vivianne yang masih terlelap.


" Hah? Maksud,lo?" Alex hendak mendekatinya tapi kemudian ponselnya berbunyi.


Alex mengambil ponselnya dan kemudian mengeluarkannya dari kantong celananya. Dan menatap layar dengan gelisah, serta menatap Andrew.


" Siapa?" tanya Andrew.


"Lo marah, nggak kalau gue bilang tadi gue menghubungi bokap Lo?" ujar Alex takut-takut.


" APA??" Andrew menatap kaget dan kecewa.


" Sorry, tapi dengerin dulu! Gue nggak ada pilihan lain selain menghubungi,Om Damian! Lo masalahnya mau ditangkap polisi,bro! Dan cuma bokap Lo yang bisa bantu, kali ini! Lo butuh pengacara! Polisi tahu Lo ikutan balapan liar! Pasti karena Tommy yang ngaduin! Sementara dia kabur! Sorry, Man! Bagaimanapun juga, bokap Lo, harus tahu mengenai hal ini! Jangan sampai dia tahu dari orang lain! Paham kan, maksud gue?" Alex menjelaskan panjang lebar.


" Iya, gue, paham! Mana siniin ponselnya! Biar gue yang ngomong sama bokap gue!" ujar Andrew pasrah akhirnya.


" Nih." Alex menyerahkan ponselnya.


Andrew menarik nafas dan menghembuskannya sebelum menerima telepon sang papah.


" Assalamualaikum,pah! Ini Andrew!" Ujar Andrew pelan.


("Waalaikumsalam! Andrew! Apa bener yang papah dengar? Kamu balapan liar lagi? Hah? Dan kali ini serius? Benar? Kamu mau jadi apa, sih, Nak! Kenapa selalu buat masalah! Hah? Pecah kepala papah setiap kali dengar kamu ada masalah, tahu nggak?")


Belum juga Andrew berbicara suara di seberang telah berbicara dengan amarah yang meledak-ledak.


" Iya, pah! Andrew juga tidak tahu kenapa ada polis,Pah! Biasanya juga nggak,kok! Ini karena ada yang isengin Andrew,Pah! Dia kalah tapi nggak terima, jadi begini,deh! Maaf pah!" Andrew hanya bisa pasrah sekarang.


("Kamu,tuh, yah! Kenapa sih, kamu selalu buat masalah sejak kematian ibu dan nenekmu,Nak! Kamu malah bikin papah makin susah, saja!")


" Pah! Ini juga semua karena papah, tahu nggak? Papah hampir tidak punya waktu buat aku! Papah selalu sibuk dengan kerjaan papah! Aku dirumah selalu menunggu papah, untuk sekedar makan malam bareng! Tapi itu pun tidak pernah terjadi! Sekarang terserah papah, saja! Kalau papah ingin aku mendekam di penjara, Fine! I'll do that!" Andrew mulai emosi.


(" Kamu ngancam papa,Drew? Kamu tahu itu nggak mungkin! Reputasi papah dan bisnis papah dipertaruhkan! Sudah kamu diam saja, buat papah yang atur semuanya! Papah akan bawa pengacara kita agar kamu bebas dengan jaminan! Om Richard akan datang sama papah! Pokoknya setelah ujian semester ini, papah nggak mau kamu kuliah disana lagi! Papah mau kamu kuliah di London di Oxford! Dan kali ini, you can 't say No! Kamu dengar itu?")


Terdengar hingga keluar suara sang papah menggelegar karena marah.


" Papah nggak bisa begitu…dong!" Andrew melihat ponselnya,tak ada suara.


" Sial! Ditutup! Dasar diktator! Yang dipikirkannya cuma reputasi dan bisnisnya! Shitt!" Andrew kesal membanting ponsel yang dipegangnya hingga jatuh dan hancur.


" Drew!" teriak Alex.


" Kenapa? Lo mau ikutan ngomelin gue juga? Seperti bokap gue? Hah?" hardik Andrew.


Alex menggeleng lemah dan raut wajah sedih.


" Terus?" tanya Andrew.


" I-itu,Drew!" dengan terbata Alex membuka suara.


" Itu, apa? Ngomong yang jelas!" Andrew masih sangat emosi.


" I-itu, kan ponsel gue, Drew!" ujarnya sambil menunjuk ke arah ponsel yang sudah hancur berantakan.


"WHAT??" 


****