Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 26 Di Persimpangan Jalan!



5 Bulan Kemudian


Kaki Andrew makin membaik setiap harinya, bahkan dia sudah dapat berjalan secara normal tanpa menggunakan alat bantu. Tapi tentu saja belumlah 100% seperti sedia kala. Andrew masih terus melatih kakinya dan dia melakukan terapi setiap seminggu dua hingga tiga kali dalam seminggu. Dan pasti selalu ditemani oleh Vivianne.  Semenjak kaki Andrew membaik Vivianne telah kembali ke Kostnya, sebagaimana janjinya, membantu merawat Andrew ketika Andrew sudah lebih baik dan tidak menggunakan alat bantu kembali.


Kisah percintaan antara Andrew dan Vivianne pun makin hari semakin lengket. Dimana ada Vivianne pasti disana ada Andrew. Demikian pula sebaliknya. Sehingga tak jarang banyak teman kampus terutama para perempuan membenci Vivianne, puncaknya adalah beberapa Minggu lalu dimana Vivianne harus mengalami hal buruk saat bakti sosial yang diadakan kampusnya. Dia jatuh dari tebing yang cukup curam, dan semua hal ini dilakukan oleh Martha. 


Martha yang telah lama menaruh hati kepada Andrew merasa sakit hati kepada Vivianne, sehingga dengan rencana liciknya dia membuat seakan akan kecelakaan. Untunglah ada Andrew yang kuatir mencari dan menemukan Vivianne dan menolongnya.Dan akhirnya Martha ketahuan dan dikeluarkan dari kampusnya. 


Setelah kejadian tersebut mereka makin lengket setiap harinya. Vivianne pun tidak ingin berpisah dari Andrew demikian sebaliknya. Sayangnya kedekatan mereka membuat Andrew kadang melupakan para sahabatnya.


Tidak hanya Bryan yang sejak mengetahui mereka telah menjadi sepasang kekasih, lebih menjaga diri agar tidak terlalu dekat dengan Vivianne. Bryan tidak ingin Andrew makin membencinya atau karena hal ini mereka ribut.


Demikian pula dengan Alex, Alex merasa kecewa karena terkadang Andrew meninggalkan mereka demi bisa bersama Vivianne. Padahal Vivianne tidak pernah melarangnya untuk sekedar kumpul-kumpul seperti biasa dengan mereka. Vivianne membebaskannya. Namun Alex yang merasa ditinggalkan oleh sahabatnya sejak dekat dengan Vivianne, sedikit banyak menyalahkan Vivianne dan mulai tidak menyukainya.


Terlebih mendekati ujian seperti saat ini mereka biasanya berkumpul untuk belajar namun, hanya Alex dan Bryan yang lebih terlihat banyak bersama.


Hari ini Vivianne tidak masuk kampus, karena dia membantu Tante Catherine, sang Ibu Kost. Membuat beberapa pesanan kue dan kebetulan Vivianne tidak ada jadwal, sehingga Andrew ke kampus sendirian dia mencari kedua temannya di perpustakaan, biasanya jika mendekati atau sedang ujian seperti saat ini mereka pasti belajar bersama disana. Atau sekedar membaca buku.


"Hey! Ternyata benar, kalian ada disini! Sedang apa? Pasti pada belajar!" tepuk Andrew di bahu kedua sahabatnya itu.


Alex melengos sedangkan Bryan hanya diam sibuk kembali membaca bukunya yang tertunda karena sedikit terkejut tadi.


" Kalian kenapa? Sariawan? Tumben, tidak ada yang berbicara ketika disapa?" ujar Andrew yang tampak kebingungan.


" Lo aja yang ngomong,Bry sama dia! Males gue ngomong sama dia! Terlebih ada pawangnya! Capek deh, paling kalau nggak ditinggalin, dicuekin!" ujar Alex kesal. Diantara mereka berdua, hanya Alex yang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap hubungan Andrew dan Vivianne.


" Kenapa harus gue? Gue nggak ikut-ikutan yah!" ujar Bryan dengan santai dan tetap fokus dengan bukunya.


" Dih, nggak setia kawan,Lo!" cibir Alex kesal menutup bukunya dan beranjak hendak keluar dari perpustakaan.


" Lo mau ikutan nggak? Belajar di ruangan senat aja! Daripada disini, malah bikin gue bete!" ajak Alex kepada Bryan. Andrew seakan tidak terlihat baginya.


" Yakin Lo, mau ke ruangan senat? Tumben! Ya, udah, ayo!" Bryan pun beranjak dari duduknya dan meninggalkan Andrew menyusul Alex.


Andrew yang mendapatkan perlakuan tersebut hanya bisa bengong dan terdiam. " Kenapa dengan mereka?" pikirnya dalam hati.


Alex dan Bryan berjalan berdampingan menuju ruangan senat dengan Andrew yang kebingungan mengikuti mereka di belakang. Namun karena ruangan senat sedang digunakan untuk rapat akhirnya Alex dan Bryan kelapangan basket, tempat biasa mereka bermain. Dan karena sedang menghadapi ujian semester, baik latihan ataupun kompetisi ditiadakan. Sehingga ruangan tersebut praktis kosong,tidak digunakan.


Andrew merasa bingung harus mulai berbicara dari mana, akhirnya dia memilih cara yang bisa memecahkan keheningan mereka.


" Guys main three point shoot, yuk?" meski kakinya belum sembuh benar, tapi cuma dengan cara begini dia bisa mengorek dan memecah keheningan diantara mereka.


" Memangnya kaki lo, sudah sembuh benar? Pakai ngajakin main basket,lagi!" cibir Alex.


Andrew hanya menghembuskan nafasnya.


" Kan nggak main, hanya shooting aja! Masih bisa lah gue! Siapa yang paling banyak masukin dalam waktu dua menit atau masing masing punya kesempatan 5 kali shoot! Yang paling banyak masukin bola, dia yang menang! Dan yang menang boleh minta apapun!" Andrew sengaja memancing dengan hal seperti ini, karena dia tahu kalau dia bisa yang menang boleh minta yang lain bercerita  atau bertanya apapun pasti mereka akan malas dan tidak ingin melakukannya. Sedangkan Andrew yakin dia pasti menang! 


" Beneran, boleh minta apa aja? Yakin Lo?" tanya Alex memastikan.


" Iya! Masa gue bohong!" ujar Andrew kembali.


" Nah itu masalahnya, Lo sering bohong sekarang! Males,ah gue!" ujar Alex dia terlalu kecewa sama Andrew tapi Andrew tidak paham kenapa Alex kecewa kepadanya. Dia bahkan juga tidak sadar terkadang membuat janji dengan Alex tapi kemudian diabaikannya dengan alasan, Vivi sedang butuh kesini, Lagi nemenin Vivi, atau lagi bantuin Vivi di konstannya! Selalu mengenai Vivi, dan Vivi lagi! Alex jadi muak!


" Ayolah, Lo rekam deh! Kalau gue bohong, Lo tinggal puter! Kan, ada buktinya tuh! Atau lo langsung minta saat ini juga boleh! Gue turutin!" tawar Andrew. Dia tidak ingin rencananya gagal kali ini.


" Okelah! Lo gimana,Bry? Ikut kan?" tanya Alex kepada Bryan.


" Ayolah! Lagian sudah lama juga kita nggak latihan,kan? Hitung-hitung cari keringet lah!"ujar Bryan menaruh bukunya dan mulai turun kelapangan.


" Ya udah! Kalau Bryan ikut, gue ikut!" ujar Alex akhirnya.


Andrew tersenyum dalam hati. Akhirnya dia bisa membujuk mereka meski kali ini dia sedikit menurunkan egonya membujuk mereka.


Kelelahan masih tampak di wajah ketiga sahabat tersebut.


" Gila,Lo yah! Kaki masih sakit, nggak pernah latihan! Masih aja tembakan lo, masih luar biasa, Man!" ujar Alex yang masih berkeringat.


Andrew tersenyum, rencananya berhasil.


" Berarti gue menang,dong? Kalau gitu gue boleh minta apapun dong, sama kalian!" ujar Andrew memastikan.


" Iya, boleh! Tapi jangan yang mahal! Gue lagi mau berhemat nih! Gue mau beli sesuatu, masalahnya!" ujar Alex.


" Iya! Nggak! Hmm..gue cuma minta satu hal!" ujar Andrew.


" Apaan?" Sambil menenggak minuman yang disodorkan Bryan.


" Kenapa kalian menghindari,gue? Kalau gue ada salah, bilang ke gue! Biar gue perbaiki!" ujar Andrew pelan.


"Burr!! " Alex menyemburkan minumannya


" Uhuk! Uhuk!" Bryan ikutan terbatuk-batuk mendengarkannya.


" Serius, Lo mau denger? Nggak salah,tuh? Bukannya Eli yang selalu menghindari kita?" ujar Alex kembali.


" Hah? Gue menghindari kalian? Kapan?" Andrew tampak kebinggungan.


" Yah, dia nggak sadar,Bry!" ujar Alex menepuk Bryan disebelahnya.


Andrew mulai kesal. " Mendingan Lo,bilang deh! Jangan muter-muter! Gue pusing!" tutur Andrew sambil memijat keningnya yang mulai pening.


" Ok! Gue akan jujur sama Lo! Menurut lo, kita yang menghindari Lo! Bukannya kita! Tapi Lo! Lo yang sibuk dengan diri sendiri dan Vivianne! Sekarang gue tanya, kapan terakhir kita kongkow-kongkow seperti ini? Dan kapan kita sekedar santai ngobrol atau ke cari sesuatu, atau kapan terakhir kali Lo main ke apartemen gue atau Bryan? Sedangkan kita setiap kali mau main, Lo selalu bilang, eh…gue lagi sama Vivi nih, eh lagi nemenin Vivi nih, atau, Vivi lagi minta tolong ini, nih! Selalu Vivi dan Vivi! Gue jadi bertanya-tanya, sama Lo, Bryan bilang Lo beneran suka sama Vivi! Bener Lo suka beneran sama Vivi? Itu juga sebabnya Bryan nggak mau ganggu!" Alex menarik nafas sebentar.


Andrew menatap Bryan. Bryan hanya tersenyum dalam diam.


" Tapi gue bilang! Masa, sih? Gue nggak percaya! Tapi setelah gue pikir-pikir kayaknya apa kata Bryan bener, deh! Lo sudah lupa kan, taruhan kita? Karena keasikan pacaran sama Vivianne? Heh? Dan Lo lupa juga, kalau waktunya pas enam bulan adalah bulan ini! Tepatnya setelah ujian semester! Mendingan lo kasih tau kita deh, kalau lo nyerah! Dan ternyata lo kalah taruhan sama kita! Serahin itu motor dan mobil kesayangan lo! Satu lagi, perjanjian tambahan kita, lo masih ingat kan? Jangan bilang, kalau itu pun lo lupa?"ujar Alex sambil menatap sahabatnya.


" Perjanjian tambahan?" ujar Andrew tertegun dan mulai membeku. Wajahnya sedikit pucat sekarang.


" Iya perjanjian tambahan kita! Kalau lo beneran jatuh cinta sama Vivianne lo sendiri yang bilang, 'gue rela deh,teriak di tengah lapangan kampus dan mengakui kalau gue kalah dan cinta sama Vivianne!'Lupa,Lo?"ujar Alex emosi.


Andrew terdiam dia ingat sekarang, perjanjian itu dia yang menambahkan sendiri karena dia yakin tidak akan pernah menyukai Vivianne. Andrew menelan air liurnya sendiri. Menatap Alex dan Bryan.


" Sudahlah! Lupakan saja! Kan gue bilang, lo mulai jadi tukang bohong! Dan itu semenjak kenal Vivianne!" Ketus Alex.


" Lex!" Bryan berteriak memperingatkan Alex.


" Kenapa? Lo masih suka juga, kan? Sama itu anak? Gabung Lah Kalian sesama tukang bohong! Gue cuma nggak menyangka pertemanan kita yang bertahun-tahun pecah karena seorang gadis! Yang kampungan pula!" Alex mulai marah.


" Alex!" tanpa sengaja mereka berbarengan memanggil Alex! Andrew dan Bryan saling menoleh. Kemudian keduanya membuang muka.


" See? Sekarang kalian kompakan kalau menyangkut Vivianne! Muak gue sama kalian! Pokoknya, kalau Lo masih tetap sama dia dan melupakan pertemanan kita, jangan cari gue lagi! Lupakan kalau gue pernah jadi teman Lo! Lo juga Bry! Gue cabut! Thanks untuk minumnya!" Alex mulai beranjak dan pergi tanpa menoleh ke arah kedua sahabatnya itu.


Andrew tertunduk bimbang, " Apa iya, dia tergila-gila sama Vivianne hingga melupakan sahabatnya?" pikirnya.


Tiba-tiba Bryan berdiri dan menepuk bahu sahabatnya itu, Andrew mendongak menatap Bryan, " Lo juga berpikiran begitu,Bry?" tanya Andrew lirih.


Bryan menaikan bahunya, " Entahlah, gue nggak akan menghakimi lo, gue tahu Lo suka beneran sama Vivianne! Gue bisa rasain itu! Tapi Alex benar,Man! Lo mulai jauh dari kita, mungkin dia kangen sama lo! Lo pikirin baik-baik apa yang terbaik yang harus lo lakuin! Tapi saran gue, lo harus jujur sama hati lo! Jangan sampai Lo menyesal! Itu saja!" ujar Bryan dan kemudian pergi menjauh.


" Argh! Kenapa jadi begini, sih?!" teriaknya sambil menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal itu.


Dengan hati gundah dia melangkah, menuju parkiran tempat dia memarkirkan mobilnya, menuju ke suatu tempat yang hampir enam bulan terakhir tidak pernah dia kunjungi lagi.


****