
Tania menengok kiri dan kanan, kemudian dia mencari di seluruh restaurant, Nihil. Tidak ditemukannya sosok yang dicarinya.
Tania pun mulai melangkahkan kaki menyusuri lorong diluar restaurant, namun tetap tidak ditemukan siapapun disana. Tania mengecek kearah jam tangan disebelah kiri tangannya, baru jam 06:00 masih ada sekitar 30-1 jam lagi! Baru jam shift mereka akan berakhir.
Tania menggaruk kepalanya, " Dimana dia? Apakah dia pulang duluan? Tidak mungkin! Ini belum waktunya! Lantas kemana dia?" kebingungan melanda Tania sekarang. Padahal dia hanya meninggalkan sebentar, tapi seseorang yang dicarinya tak juga ditemukannya.
Akhirnya dengan langkah gontai Tania, melangkah kembali kedalam restaurant menyelesaikan pekerjaannya.
Tiba-tiba seorang dari dapur muncul dan berjalan, Tania buru-buru menghentikannya. " Ton, apa kamu melihat Vivi? Padahal tadi dia baru saja duduk sejenak di depan, sekarang sudah tidak ada! Apa kamu melihatnya?" tanya Tania.
" Vivi? Bukannya dia tadi disuruh chef untuk mengantarkan pesanan dari kamar 502 deh, tadi chef mencarimu tapi karena tidak ada, jadi meminta Vivi untuk mengantarkannya! Memangnya kamu dari mana saja,sih,Tan?" ujar asisten koki yang bernama Toni itu.
" A-apa? Ka-kamar 502?" Tania merenung sejenak berpikir dia sepertinya mengenal kamar itu dimana yah?" Tunggu, Bukankah itu…kamarnya…" batinnya.
" Iya, Kamar 502 sepertinya mereka sangat kelaparan! Mungkin habis bertempur, jadinya kelaparan deh! Hehehe…Kenapa memangnya?" ujar Toni sambil tertawa.
" Ka-kalau begitu, Aku susul Vivi dulu,yah? Tolong bilangin chef aku ke atas menyusul Vivi!" Setelahnya tanpa menunggu persetujuan dan jawaban Toni Tania melesat menuju kamar yang dimaksud.
" Hey! Tan! Ada apa?" teriak Toni.
Tania berlari sangat kencang tanpa menghiraukan panggilan Toni, dia sampai tidak menghiraukan apapun, tujuannya hanya satu, 'Menghentikan Tania!'.
Dadanya berdetak dengan sangat kencang, pikirannya sudah melanglang buana kemana-mana saat ini. Dia tidak ingin hal buruk menimpa Vivianne.
" Tidak! Tidak! Semoga Vivi tidak sampai di kamar itu! Dia harus menghentikannya! Ini bahaya!" pekik Tania dalam hatinya.
Tania terus memencet tombol lift keatas dengan gusar, dan gelisah. Tangannya mulai terasa dingin dan berkeringat. Keningnya pun kini mulai mengeluarkan butiran keringat. Tiba-tiba dia merasa lift yang dinantinya sangat lama.
" Sial! Seandainya saja ku tidak pergi ke toilet! Tentu hal seperti ini tidak akan terjadi! Ya Allah, mengapa cepat engkau melakukan apa yang aku kuatirkan?" dia terus mondar mandir di depan lift. Tidak mungkin dia menaiki tangga, karena kamar yang dituju berada di lantai 5 cukup tinggi dan dia tidak yakin akan sampai pada waktunya jika memilih tangga. Jadi, jalan satu-satunya adalah Lift.
" Kenapa juga lift ini jadi lama ketika, diperlukan sih? Ayolah…!" Tania terus menerus memencet tombol naik. Dia mulai menggenggam kedua tangannya dengan gelisah menatap lift.
Ting!
Hingga akhirnya lift tersebut terbuka setelah beberapa saat. Tania langsung melesat ke dalam dan memencet tombol menutup dan tak lupa lantai yang hendak dituju.
Tania terus menatap atas lift lantai demi lantai dilalui dia mondar mandir di dalam lift. Untung saja dia sendirian jika ada tamu lainnya mungkin dia sudah dianggap kurang waras karena terus mondar-mandir di dalam lift.
Tania berulang-ulang kali berdoa, agar dia cepat sampai ke lantai yang dituju dan dapat segera menghentikan Vivianne.
Ting!
Dia buru-buru menekan tombol membuka lift dengan tak sabaran, dan ketika posisi pintu lift terbuka belum sempurna dia berlari dan sedikit melompat keluar dari dalam lift.
Tapi kakinya lemas ketika melihat seseorang di depannya menunduk sambil berlari. Dan menangis. Dia hafal betul siapa orang yang baru keluar dari salah satu kamar.Vivianne. " Apa aku terlambat?"
Seseorang yang dikenalnya Vivianne itu Bahkan tidak melihatnya. Dengan buru buru dia menghampiri sambil berteriak!
" Vi! Vivianne!" teriaknya.
Tapi sepertinya orang tersebut tidak menghiraukan panggilannya. Hingga pada akhirnya dengan sengaja dia menghadang Vivianne. Tapi Vivianne yang berlari kencang malah menabraknya.Mereka berdua terjatuh dilantai yang dingin itu, sempat bergulingan sebentar. Hingga akhirnya dengan kekuatan yang tersisa Tania memeluk Vivianne.
" Ma-maaf! A-aku tidak sengaja! Aku harus pergi sekarang!" Vivianne yang tidak menyadari siapa gerangan yang ditabraknya mencoba bangkit dari lantai.
Vivianne yang tertunduk mengangkat kepalanya, wajahnya pucat bibirnya membiru, matanya memerah karena sepertinya karena menangis. Masih terlihat jejak air mata, di kedua pipinya. Rambut panjangnya yang digelung anggun mulai terlepas ikatannya, menampilkan rambutnya yang hitam indah itu berantakan dan sebagian menutupi wajahnya.
Tania tak kuasa melihat pemandangan di hadapannya. Dia sudah mengiranya, Vivianne terluka.
" Tan…An..Andrew…Tan…" Vivianne mulai mencoba berbicara namun bibirnya Kelu, hanya isakan yang makin keluar dari bibirnya.
" I Know! Tenangkan dirimu,Vi! Kita pergi dari sini,ya?" ujar Tania yang memapah Vivianne yang terlihat lemah. Vivianne menyusupkan wajahnya ke pelukan sahabatnya Tania. Dia tidak ingin orang lain melihat kondisinya yang mengenaskan saat ini.
Tapi dia tetap menatap mata sahabatnya dengan tangis kepiluan, " You know?"
Tania menghembuskan nafas panjangnya, dan mengangguk.
" How?" tanya Vivianne kembali.
" Aku tidak yakin sebenarnya tadi, tapi melihatmu seperti itu…berarti pandanganku tadi, berarti tidaklah salah!" sambil memapah Vivianne.
" Kenapa kamu tidak cerita? Kenapa dia sangat tega sama aku,Tan? Salah aku, apa? Ku-kukira…dia mencintaiku,Tan! Tapi…dia tidak lebih dari seorang pengkhianat! Bajingan! A-aku menyesal telah menyerahkan..hatiku….padanya! Bahkan….bahkan…Hik Hik!" tangis Vivianne terdengar sangat pilu.
" Sudah, Vi! Kamu nggak salah,Vi! Dia yang tidak bisa melihat berlian berharga seperti kamu! Dia yang salah! Bukan kamu! Kita pulang,yah?Kita minta izin pulang cepat. Biar aku yang mengantarmu!" ujar Tania sambil terus mengelus punggung Vivianne mencoba memberikan ketenangan kepadanya.
Tania memencet tombol lift dan menunggunya.
Di Kejauhan seorang pria berteriak dan memanggil nama Vivianne.
" Vi! Vivi! Berhenti!" seorang pria yang bahkan belum mengenakan atasan mencoba untuk mengejar Vivianne dibelakangnya ada seorang wanita cantik yang juga ikutan mengejar.
Dengan tatapan bengis Tania menatap kearah pria tersebut sambil memberikan tatapan tajam dan memberikan perintah seakan pria tersebut berhenti dengan sebelah tangannya.
Vivianne yang berada dipelukan Tania menoleh, namun kemudian membuang wajahnya setelah menatap penuh kebencian.
" Bawa aku pergi dari sini, Tan! Bawa aku! Aku muak melihatnya! Aku tidak ingin bertemu dengannya!" ujar Vivianne memohon dengan lelehan air matanya.
Beruntung tak berapa lama lift tersebut terbuka dan buru-buru Tania yang memapah Vivianne masuk.
Sementara di depan merek terdapat seorang pria dan seorang gadis cantik memegang tangan pria tersebut mencoba menahannya. Dan mereka seperti cekcok, hingga akhirnya sang pria tersadar dan menepis tangannya yang digenggam oleh gadis itu.
" Lepaskan! Vi! Vivi! Tunggu! Tunggu penjelasanku!"
Sebelum akhirnya lift menutup sebelum pria tersebut dapat menghentikannya dan dengan tatapan pria tersebut yang tak karuan.
Sedangkan Vivi mendongak, menatap pria tersebut dengan penuh kebencian dan sakit hati!
" How Could you do this to me,Drew!"
(Teganya kamu melakukan ini padaku,Drew!)
Setelah mengucapkannya lirih dia membuang mukanya dan pintu lift menutup. Membawa serta pergi Vivianne dengan kepedihan hatinya.
*****