Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 45 Kehangatan Seorang Damian



Tania mulai terlihat panik dan memegang dada sebelah kiri sang kekasih hatinya. Wajahnya yang putih bersih mulai sedikit memucat. Dia mencoba mencari sesuatu di balik kantong jas Kekasihnya itu,tapi Nihil. Dia tidak menemukan apapun.


" Mas, Kok, tidak ada sih, obatnya? Di mobil yah? Anne papah ke mobil yah? Atau kita kerumah sakit yah? Anne kuatir!" Anne mengambil tangan besar sang kekasih hendak memapahnya.


Tapi kemudian gerakan tangannya terhenti karena melihat raut wajah Damian yang menahan tawa. 


" Mas, bercanda yah? Nggak lucu,tau!" sambil memukul dada Damian dengan kesal.


Damian menangkap tangan Vivianne dan mengecupnya serta memeluknya dengan erat sambil mengelus rambut Vivianne yang tidak terlalu panjang itu " Maaf! Habisnya, jawabnya bikin Mas jantungan beneran,loh honey!"


" Mas, Ih! Kebiasaan! Ini ditempat umum,loh! Udah,ah! Lepaskan. Itu tidak enak sama Bunda dan sama adikku loh!" sambil mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Damian.


" Oh, tidak enaknya sama Bunda dan sama Adik-adik saja kan? Bagaimana kalau Mas bilang mereka tidak peduli?" goda Damian.


" Apa sih,Mas! Tidak mungkinlah mereka tidak peduli! Pasti mereka sedang lihat ke arah kita ini. Lepaskan!" ujar Vivianne makin meronta.


Namun sayang tubuh besar Damian tidak semudah itu disingkirkan oleh Vivianne.


" Sudah sebentar saja! Tidak akan. Mas tadi sempat lihat adikmu Maya tertidur begitu masuk dan Avan juga serta Bunda sepertinya juga lelah pasti sekarang menutup mata." alibi Damian.


" Sok,tau! Udah,ah! Tapi kan dilihat orang banyak ini! Anne malu! Sudah, lepas,nggak! Kalau Mas nggak lepas, aku akan marah,nih selama seminggu sama,Mas!" ancam Vivianne.


" Eh, jangan dong! Iya,iya. Mas lepaskan! Pelit ih, Kamu!" dengan merajuk.


"Biarin! Abisnya suka kebiasaan! Suka tidak tahu tempat, Masnya!" cemberut Vivianne.


Beberapa detik Damian tidak kunjung melepaskan rangkulannya.


" Mas....!"


Damian yang baru ter-sadar sang kekasih tidak nyaman mulai melepaskannya dengan tidak rela.


" Ya, sudah. Kita balik,yuk? Nanti Bunda kamu cari kamu kalau kelamaan. Oh, ya, Honey, aku tidak ikut antar ke apartemen,yah? Tidak apa-apa,kan? Seperti aku harus ke kantor,deh! Masih banyak pekerjaan. Kan, kamunya tidak ada…jadinya numpuk deh pekerjaannya,Mas." dengan sedikit cemberut.


Vivianne yang gemas mulai mencubit pinggang Damian yang ternyata sangat keras itu karena olahraga yang rutin yang dilakukannya. 


" Auw! Sakit…Honey!" jerit kecil Damian yang pura-pura padahal sedikitpun cubitan Vivianne tidak berdampak padanya.


" Cih! Jangan ngarang! Mana ada sakit! Yang ada jari aku yang sakit cubit kamu barusan. Orang keras begitu kok! Itu pinggang atau batu,sih Mas? Lagian aku cuti cuma sehari loh, Mas! Dan pekerjaanku sudah ku selesaikan sampai hari ini loh! Karena aku punya Atasan yang sangat Galaknya minta ampun!" sindir Vivianne.


" Hehehe…masa sih? Siapa tuh, orangnya? Biar Mas hajar! Seenaknya saja menyiksa gadisku ini!" sambil mencubit pipi Vivianne.


" Idih! Suka nggak nyadar! Sudah, aku balik ya, Mas? Mas hati-hati dijalan, yah? Nggak bawa supir, kan? Lagian kenapa sih, pakai menyusul kesini,segala! Kan jadinya repot sendiri,Mas!" Vivianne yang kesal.


" Ya sudah sih, jangan marah. Mas cuma mau terlihat baik Dimata Bunda, Anne. Jadi Mas pikir apa salahnya Mas ikutan menyusul jemput kalian? Eh, bukannya terlihat baik, malah bikin Bunda kesal sepertinya! Maaf kan Mas sekali lagi,yah? Yakin kamu mau jelaskan sendiri? Tidak perlu bantuan,Mas?" tanya Damian masih merasa bersalah dan sedikit tidak rela kekasihnya mungkin saja menghadapi kemarahan dari orang yang paling penting dalam hidupnya itu, sang Bunda.


" Iya, Mas…Biar Anne yang jelaskan sendiri dulu,yah? Nanti baru kita ngomong sama-sama, setelah Bunda bisa menerima penjelasan Anne. Anne yang paling tahu seperti apa,Bunda. Jadi Mas jangan kuatir yah? Tapi jangan diulangi lagi! Lain kali jangan ambil keputusan sendiri! Terlebih menyangkut Bunda,Ok? Mending Mas kembali ke kantor. Pekerjaan Mas masih, banyak,Kan?" dengan bergelayut manja sambil merangkul lengan kekar Damian.


Vivianne mengikuti arah pandangan sang kekasih dan tersadar. Dengan reflek langsung melepaskan rangkulannya.  Dan kemudian pura-pura merapihkan bajunya dan rambutnya demi menutupi kegugupannya itu. Padahal wajahnya mulai memerah bak memakai pemerah pipi kini.


" Hahaha…kamu tuh lucu tau nggak? Kalau sedang panik, Mas jadi mau…..." ujar Damian menggantung dengan menggoda Vivianne.


Vivianne buru-buru menghindar dan mendorong dada kekasihnya sedikit menjauh, " Awas yah, Mas. Jangan Macam-macam!"mengancam dan dengan raut wajah yang semakin memerah.


" Ya sudah, Mas duluan yah? Yuk, Mas Antar ke mobil sekalian Mas pamitan sama Bunda!" ujar Damian kembali menggenggam tangan Vivianne tanpa peduli.


Pintu mobil pun terbuka dan Vivianne mulai melangkah masuk kedalamnya.


" Bunda, Maaf saya harus kembali ke kantor.Ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan. Jadi saya hanya bisa antar sampai sini tidak apa-apa,kan Bunda? Insyaallah jika ada waktu saya akan datang ke apartemen dan ngobrol dengan Bunda. Senang berkenalan dengan Bunda" ujar Damian sangat sopan.


" Oh iya, tidak apa-apa,Nak! Terima Kasih sudah ikut menjemput kami walau Nak Damian sangat sibuk." tutur Bunda.


" Tidak sibuk, kok Bunda, kalau buat Anne saya pasti usahakan menyempatkan waktu. Kalau begitu saya pamit dulu yah, Bunda. Assalamualaikum!" sambil mengangguk ke arah Bunda.


" Waalaikumsalam. Terima Kasih sekali lagi." Bunda membalas salam Damian dan juga mengangguk.


" Ann, Besok kabari yah? Mau dijemput jam berapa? Ke acara wisudanya. Nanti biar Mas jemput ke apartemen." tutur Damian.


" Ya, Mas. Nanti Anne kabari lagi. Hati-hati, Mas!" tutur lembut Vivianne.


" Kamu juga,yah? Pak, bawanya jangan ngebut,yah? Hati-hati yah? Kasihan ada anak kecil yang tertidur." ujar Damian sambil memberi perintah ke supir ya.


" Siap,Tuan." ujar sang supir.


" Hati-hati yah, Dear!" 


Cup!


Damian memberi kecupan lembut di pipi Vivianne, Vivianne mendelik karena disana pastinya masih ada Bunda. Dan dia sangat malu! " Duh, Mas Damian ini! Kadang suka tidak bisa lihat tempat!" batinnya kesal.


Damian hanya nyengir melihat sang kekasih mendelik.


" Bye..Honey! Pak jalan,Pak!" perintah Damian tanpa menghiraukan tatapan kekasihnya yang pastinya sedang marah itu.


Damian pun berjalan setelah mobil yang digunakan oleh Vivianne berlalu dari pandangannya.


Damian berjalan menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana dengan hati riang.


" Ah, menggoda Anne selalu menyenangkan! Rasanya tidak sabar menjadikannya istriku!" ujarnya sambil senyum-senyum sendiri.


*****