Between You and Your Father

Between You and Your Father
Bab 17 You the First and the Second Of My Kiss



Alex tertunduk setelah dia bertemu papanya Andrew di depan rumah sakit. Namun dia tak menyadari Vivianne yang keluar karena Vivianne juga terus menundukkan kepalanya. Dan Alex sempat sibuk dengan pak satpam Rumah Sakit yang hampir melarangnya masuk karena dikira pengunjung dan ini belum waktunya jam besuk. Sehingga tak melihat Vivianne yang melewatinya itu.


" Om, Maafkan Alex,Om! Kita kecolongan! Alex tidak menjaga Andrew! Karena kebetulan Bryan juga sedang tertimpa musibah, jadi saat ini Bryan sedang dirawat di rumah sakit di kawasan Depok,Om! Dia kecelakaan, jadi pas Alex jagain Bryan,Andrew…" ujar Alex merasa bersalah. Saat ini Alex sedang berbicara dengan papanya Andrew yang baru saja tiba dan langsung dari Bandara Adisucipto langsung ke Rumah Sakit Hermina ini yang memang jaraknya tidak terlalu jauh.


" Tidak, apa-apa, Lex! Om tahu, Andrew kadang memang susah diatur. Tadi kamu bilang apa? Bryan dirawat? Dimana? Nanti Om coba mampir,yah? Kalian sudah beritahukan papah dan mamahnya Bryan?" ujar Papah Damian.


Alex menggelengkan kepalanya. " Tidak, Om, Bryan melarang saya,om! Dia takut, papah dan mamahnya kuatir. Om kan tahu sendiri bagaimana, keluarganya, Bryan? Bryan pasti habis kena omel,Om! Makanya dia melarang saya! Om jangan kasih tahu mereka, yah? Kasihan Bryan,Om!" Alex memohon sambil menangkupkan kedua tangannya di dadanya.


" Hm, Maaf Om tidak bisa janji! Tapi begini, jika mereka tidak tanya, maka Om Tidak akan bilang, Okay? Bagaimanapun mereka orang tua Bryan, mereka harus tahu keadaan anaknya! Apapun itu! Masalah Bryan nanti dimarahi, itu sudah menjadi resiko Bryan! Biarkan itu menjadi urusan keluarga mereka,Okay? Kita tidak perlu ikut campur. Kamu paham?" ujar Om Damian  dengan bijak. " Memangnya apa yang terjadi sebenarnya dengan Bryan?" tanyanya kembali.


Alex menceritakan kejadiannya namun tanpa menginformasikan perkelahian antara Andrew dan Bryan, dia tak mau memperuncing keadaan. Cukuplah mereka bertiga yang tahu.


" Oh, begitu. Yang bisa Om lakukan adalah Om akan mencoba menenangkan Patrick (papahnya Bryan) dan Lidia. Bagaimana?" ujar Damian.


" Begitu, juga boleh,Om! Terima Kasih!" Wajah Alex berbinar kali ini.


" Yah, sudah kalau begitu." sambil menepuk bahu Alex yang juga sudah dianggapnya anak itu. Damian tahu mereka bertiga bagaikan saudara yang saling melindungi. Dan Damian bersyukur Andrew memiliki mereka ketika Andrew sempat terpuruk kehilangan sang Mama dan kemudian kehilangan sang nenek yang merawatnya menggantikan sang mama. Andrew praktis jarang sekali tinggal bersama dirinya. Andrew tinggal bersamanya ketika hampir menyelesaikan SMA-nya di Jakarta dan kemudian harus berpisah ketika Andrew memutuskan kuliah bersama teman-temannya di UGM.


Wajah senang Alex berubah pucat berganti ketika Papah Damian bertanya, " Sekarang ceritakan apa yang terjadi dengan Andrew. Tanpa ditutup-tutupi sekecil apapun itu! Kamu tahukan, tuduhan Andrew kali ini tidak main-main! Andrew pasti akan ditahan! Makanya, Om bawa pengacara Om, Om Richard ini!" 


" Baik,Om!" Alex tertunduk.


"Lebih baik kita bicara di kursi tersebut, agar kamu bisa cerita dengan tenang atau kamu mau sarapan,dulu? Kita bisa ke kantin? Kebetulan Om belum sarapan atau sekedar minum kopi" tawar Om Damian.


" Baiklah,Om! Tadinya aku mau ngasih sarapan titipan Andrew ini,Om!" sambil menunjukan bungkusan bubur ayam.


" Nanti saja, kita bicara dulu. Toh, tidak akan lama. Bagaimana?" ujar Om Damian.


Akhirnya untuk menghemat waktu, Damian,Alex, dan pengacara Damian,Richard menuju Kafe Kantin rumah Sakit tersebut.


Damian hanya memesan Kopi dan roti,demikian pula dengan Richard. Sedangkan Alex hanya memilih minuman segar, agar otaknya bisa berpikir secara jernih.


" So,ceritakan. Apa yang terjadi?" tanya papah Damian tegas.


Alex menceritakan apa yang terjadi tanpa ditutupi apapun juga.


" Jadi begitu,Om ceritanya…" Alex menunduk.


" Richard, kamu sudah catat dan dengar apa yang dibilang, Alex, baru saja?" ujar papah Damian.


" Siap Tuan, setelah ini saya akan langsung ke kantor polisi di Adi Sucipto,Tuan! Tapi saya butuh nomor telepon Anton, dia bisa dijadikan saksi mata untuk kasus ini! Dan saya harap bisa meringankan hukuman bahkan membebaskan Tuan Muda Andrew,Tuan."ujar pria gembul yang dikenal sebagai pengacara keluarga Damian. Dia sengaja datang dengan membawanya.


" Ada, Om. Nanti saya juga akan bantu. Agar dia mau memberikan kesaksian, Om!Tapi.." ujar Alex semangat tapi dia teringat sesuatu.


" Tapi, apa?" tanya Damian mengerutkan dahinya.


" Hape saya rusak,Om! Sama Andrew! Hehehe…Andrew sih, katanya mau ganti sih,Om dengan yang baru! Apel digigit Pro Max 14 itu loh, Om!" ujar Alex nyengir sambil menunjukan kantong plastik tempat ponselnya yang hancur lebur itu.


" Hah? Kok bisa, seperti ini, memangnya diapakan Andrew?" Damian menatap ponsel yang berada di kantong plastik itu.


" Yah, dia lupa apa, kalau dia marahin Andrew dengan hapeku dan otomatis Andrew marah juga dan berujung dengan membanting ponsel ku?" lirih Alex dengan suara yang sangat pelan.


" Kamu bilang apa?" tanya Damian kemudian.


" Eh, nggak Om! Maksud saya ponselnya jatuh sama Andrew,Om! Nggak sengaja, pas Om telepon kemarin!" ujar Alex sempat tergagap mencari alasan.


" Oh, ya sudah! Nanti kamu pergi sama Om Richard sekalian cari ponsel, dan ke kantor polisi buat kasih keterangan yah? Kamu akan ditemani Om Richard, biar beliau yang handel. Bagaimana Richard, bisa kan?" tanya Damian.


" Bisa,Tuan.Biar saya yang urus,semuanya setelah ini,"ujarnya dengan mantap.


" Good! Sekarang mari kita kembali ke kamar Andrew, saya mau lihat keadaannya! Kamu perlu pernyataan dari Andrew juga bukan, Richard?" sambil menepuk bahu pengacaranya.


" Iya,Tuan. Butuh, cuma buat konfirmasi,Tuan."


" Ok! Mari, jika demikian!"


Akhirnya mereka bertiga meninggalkan kantin tersebut dan pergi kekamar Andrew.


Ketika didepan kamar Andrew, masih terdapat polisi yang berjaga-jaga, dan polisi tersebut diurus oleh Richard sebagai kuasa hukum dari Andrew. 


Sementara mereka berbincang-bincang, papah Damian masuk ditemani Alex ke Kamar Andrew.


" Hi, Son! Assalamualaikum! Bagaimana, kabarmu,son?" tanya Damian sambil mengambil kursi dan duduk di sebelah tempat tidur Andrew.


" Papah? Kapan Datang?" tanya Andrew sambil menegakkan dirinya yang kemudian dibantu oleh papah Damian.


" Baru, saja! Dan ketemu Alex didepan.Om Richard, sedang mengurus dan berbicara dengan polisi di depan. Lex! Duduklah! Kenapa kamu jadi bingung seperti itu? Kamu sedang mencari siapa?" tanya Damian.


Alex menggaruk kepalanya.  " Eh, itu Om. Hmm, Vivi…"tapi kemudian dihentikannya ketika Andrew menggelengkan kepalanya.


" Siapa tadi kamu bilang? Vi..?" Damian sambil mengerutkan keningnya.


" Itu Om, Davian! Kita manggilnya Vi! Yah, Vi! Teman kita di kampus! Tadi sih, sepertinya kesini tapi mungkin sudah pulang!" ujar Alex grogi,namun dicoba menenangkan dirinya.


" Iya, pah! Dia sudah pulang,tadi! Habisnya, Lo kelamaan sih, beli sarapannya! Mana sarapan gue? Laper,nih!" ujar Andrew kemudian.


Damian menatap Alex dan memberi kode kepadanya. Dan Alex memahami maksudnya.


" Hm, terima kasih,Lex!" jawab Andrew.


" Kok, kamu beli, banyak banget,Lex! Kan, kalian cuma berdua,kan? Sini, biar papah suapin,yah? tangan kamu masih sakit, kan?" ujar Damian.


" Thanks,Pah. But, I can do that!" tolak Andrew.


" Sudah! Biar papah saja!" akhirnya Andrew cuma bisa pasrah. Sementara Alex yang melihatnya cekikikan. Menahan tawa. Dan sukses terdiam ketika melotot kearah Andrew.


Andrew makan dengan lahap baru kali ini setelah hampir 22 tahun, inilah dia disuapi oleh papanya itu. Tanpa sadar dia merasakan haru. Dia jadi teringat masa kecilnya ketika masih ada sang mama, papa dan dirinya. Sayang hal itu tak berlangsung lama. Dia hanya merasakan hingga Sekolah Dasar saja. Ketika hendak SMP dia telah ditinggalkan oleh sang mama. 


Sang nenek yang merasa kasihan cucunya seorang diri dirumah hanya dirawat oleh pembantu, memboyongnya setahun kemudian dan merawatnya. Namun lagi-lagi dia harus ditinggalkan kembali ketika di SMA. Dia sempat kembali ke rumah sang papah, namun sang papah yang sibuk bekerja praktis hampir tak punya waktu untuk dirinya. Membuatnya kesepian, dan memutuskan bersama teman-temannya sekolah ke UGM sebagai bentuk kekecewaannya sebenarnya terhadap sang papah.


Setelah menyelesaikan makannya, tak berapa lama, beberapa polisi dan Om Richard masuk dan meminta keterangan yang tentu saja semua jawaban dipantau oleh Om Richard. Om Richard juga membatasi pertanyaan yang tidak perlu dijawab oleh Andrew bahkan Alex pun dimintai keterangan juga.


" Terima Kasih atas kerjasamanya, kami akan menyelidiki kasus ini.Dan menemukan terutama saksi mata yang dimaksud! Jika demikian kami permisi dulu!" ujar salah seorang polisi yang berjaga sejak awal menunggu Andrew siuman dan memberi keterangan, setelah sang pengacara datang. Hal ini yang disampaikan pesan oleh Damian kepada Alex sehingga sejak tadi mereka menunggu pengacara Om Richard untuk didampingi.


"Terima kasih, juga,Pak! Terus anak saya tidak ditahan, bukan?" tanya papah Damian.


" Kalau mengenai itu saya akan ikut mereka untuk mengurus semuanya di kantor polisi,Tuan! Terkait yang jaminan. Jadi Andrew bisa bebas dengan uang Jaminan, bukan begitu Pak Polisi? Sekalian Saya mohon izin,Tuan! Untuk mengurusnya!" ujar Om Richard.


" Oh, OK! Pergilah, Richard! Kabari saya perkembangannya!" ujar Papah Damian.


Tak beberapa lama mereka pun pergi dan tersisa Om Damian, Alex dan Andrew.


Namun itupun tak bertahan lama, Damian izin meninggalkan mereka saat menjelang sore hari setelah mendapatkan kabar bahagia dari Om Richard bahwa anaknya bisa dibebaskan dengan Uang Jaminan saja, namun motornya disita sebagai barang bukti dan kali ini pengejaran berpindah kepada Tommy yang ternyata sudah menjadi incaran polisi sejak lama. Karena polisi mendapatkan laporan, mereka tidak hanya balapan liar, tapi ada hal lainnya yang terkait pengedaran narkoba. Untung saja, Andrew dan teman-teman tidak pernah bahkan menyentuh hal terlarang tersebut. 


Menjelang sore Damian pulang ke hotel untuk sekedar beristirahat di hotel yang telah dia sewa tak jauh dari bandara.


Tinggallah mereka berdua, saat menjelang malam, Alex pergi sebentar untuk mencari makan.


Tok!


Tok!


Andrew menoleh, " Pasti Alex! Syukurlah aku sudah sangat lapar!" mendesah lirih.


" Lex, masuk aja, aku sudah…" Andrew menatap terkejut mendapati seseorang berdiri di sana dengan menenteng makanan sepertinya.


Sejenak mereka saling tatap-tatapan. Andrew duluan yang memutuskan pandangannya.


" Apa yang kamu lakukan disini? Kalau kedatangan kamu cuma hanya mau bilang kamu membawa makanan untuk aku! Cuankss! Sudah basi! Aku tidak butuh, perhatian palsu mu itu! Itu malah membuat hatiku sakit! Terima kasih! Aku masih bisa mengurus diriku sendiri! Jadi kamu tidak perlu repot-repot!" ujar Andrew ketus.


Namun yang diterimanya lagi-lagi, gadis itu menabraknya dan memeluknya, " Maafkan aku! Maafkan aku! Tolong jangan memintaku pergi, Jangan! Aku tidak bisa! Tidak bisa!" sambil menggelengkan kepalanya dan menangis di dada Andrew.


Andrew mendongakkan kepalanya, menangkap wajah cantik dan lembut gadis di depannya, " Kenapa? Kenapa kamu tidak bisa? Please jangan membuatku berharap kembali dan menghempaskannya! Sakit! Sakit disini!" Andrew menunjuk hatinya sambil matanya pun mulai berkaca-kaca.


" Tidak! Kali ini tidak! Aku tidak bisa jauh darimu! A-aku sayang! Aku Cinta sama kamu!" gadis itu menggelengkan kepala sambil mulai menangis.


Andrew terkaget, hatinya gembira dan menghangat sekarang, "Benarkah?" 


Sang gadis hanya mengangguk saja sambil menunduk. Andrew kembali menegakkan kepala sang gadis untuk menatapnya.


" Gadis bodoh! Kenapa harus kamu duluan sih, yang bilang? Sejak kemarin aku sudah tahu, tapi kamu terlalu keras kepala! Aku hanya ingin melihat kesungguhanmu, kupikir..kau…lebih menyukainya! Kupikir kau tidak menyukaiku! Padahal kamu tahu, aku menyukaimu! Aku sangat menyukaimu! Aku mencintaimu! Aku bahkan…" ujar Andrew.


" Kak!" ujar sang gadis.


" Yah?" ujar Andrew menatap wajah cantik dihadapannya sangat dekat. 


" Can you stop it!" ujar gadis itu malu-malu.


" Of course, " Andrew tersenyum bahagia dan menangkup wajah cantik di depannya dan menyatukan bibir keduanya.


Kali ini kecupan semula singkat menjadi mendalam seakan sebagai penghilang dahaga keduanya. Meski ini bukanlah ciuman pertama mereka namun kali, ini lebih lembut dan lebih dalam. Tidak seperti ciuman pertama mereka Andrew yang lebih memaksakan, kali ini meski kaku, gadis itu membalasnya dengan lembut.


Disela ciuman mereka Andrew berujar,  "First kiss,heh?" 


" Nop! The second ones!" ujarnya, Andrew sempat menariknya kemudian menatapnya dengan sedikit kecemburuan. " Whose the first…" 


" You!!" ujarnya masih menunduk.


" What? Jadi…kemarin…Oh, by the way, sebelum aku mabuk dan lupa, kamu harus tau! I'm free now! Aku ga jadi ditahan! Aku bebas! Meski dengan jaminan sih! Tapi well…" ucapannya Andrew terputus.


Sekali lagi dia terkejut kali ini gadis itu yang menciumnya membabi buta, " I'm Happy for you! Really!" 


Andrew menatapnya dan tatapan mereka mengunci dan kembali mereka berciuman, cukup lama kali ini mereka saling berbagi kebahagiaan.


Hingga….


BRAK!


" Wow! Wow!! Guys! Vi, Drew! Come on! Get a room! Masih jomblo nih!" 


******