
Vivi terkejut ketika melihat Andrew berada di depan, dia berpikir Andrew masih terlelap di kamarnya. Terlebih hari ini turun hujan. Vivi terlambat karena dia sempat terjebak hujan setelah mampir ke suatu tempat terlebih dahulu.
" Aku bertanya padamu! Kenapa kamu pulang terlambat,Hah?Sepertinya kamu menikmati pulang diantar oleh Bryan yah? Kemana saja kalian? Apa yang kalian lakukan? Hingga menjelang malam seperti ini? Lihatlah, bajumu sampai basah seperti ini! Oh,see…atau jangan-jangan kalian baru saja menghabiskan malam atau tepatnya sore panas bersama? Hah? Itu kan, yang kalian lakukan? Itu juga sebabnya kamu pulang dengan sembunyi-sembunyi,bukan? Mengendap-endap bagaikan maling!" Andrew tersulut emosi karena dia sempat mengintip dari apartemennya Bryan mengantar Vivi menggunakan motornya dan dengan romantisnya membantu Vivi turun dari motornya. Hal ini tentu saja membuat Andrew tersulut cemburu. Sehingga tanpa sadar, dia telah melukai perasaan Vivianne.
" Stop! Kamu boleh marah, memaki, tapi jangan pernah meremehkan aku! Apa aku serendah itu di hadapanmu? Hah? Jika aku mau aku bisa melakukannya denganmu! Toh, kita saat ini tinggal di apartemen yang sama dengan alasan membantumu! Jika dilihat, tentu kesempatannya jauh lebih besar, bukan? Dibandingkan dengan Bryan! Tapi tidak kulakukan! Karena aku punya harga diri! Dan Bryan pun tidak pernah menilai aku serendah itu, asal kamu tahu! Dia menghargai aku! Tak pernah sekalipun terlontar kata cacian seperti yang kau ungkapkan, betapa pun sakit hatinya dia padaku karena lebih memilihmu! Dan kenapa aku mengendap-endap, karena aku tidak ingin mengganggu waktu istirahatmu! Maaf kalau aku terlambat pulang, karena Bryan mengantarku ke suatu tempat. Untuk membeli ini! Untukmu! Tadinya aku ingin memberikan surprise buatmu! Karena hari ini ulang tahun tahunmu,bukan? Bryan yang kasih tau! Selamat Ulang Tahun! Semoga kamu sehat selalu dan bahagia! Puas?" Vivi melemparkan cake, small cake yang tadinya untuk kejutan buat Andrew. Karena dia hanya bisa membeli ini, dia tidak cukup banyak uang untuk membeli sebuah hadiah buat Andrew, yang bisa dia beri hanya sebuah cake. Meski Bryan menawarkan diri untuk membelinya tapi ditolaknya. Dia hanya tidak ingin menambah rasa sakit hati Bryan. Itu saja.
Dengan linangan air mata dia berlari ke arah kamar tamu, dan membanting pintunya serta menguncinya dari dalam. Dari luar masih terdengar isakan tangis Vivi. Dia kecewa! Sungguh kecewa dengan Andrew, dia bukannya tidak mengerti Andrew cemburu, tapi bukan begini seharusnya bersikap. Dia bisa menanyakan kepa Vivi secara baik-baik, seharusnya.
Melihat Vivi berlari sambil mengisi dan kemudian mengurung dirinya di dalam kamar yang ditempati saat ini membuat Andrew dihujani dengan perasaan bersalah.
Andrew terdiam dan melihat sebuah cake dibukanya dan benar saja ada ucapan diatasnya meski kini bentuknya sedikit hancur, namun Andrew masih bisa membacanya bahwa kue itu ditujukan untuk dirinya.
" Bodoh! Bodoh! Mengapa, aku jadi cemburuan seperti ini, sih? Kemana Andrew yang pintar dan cool? Dan lebih parahnya dia sudah menyakiti Vivi! Entah mengapa dia merasa jauh lebih sakit melihat air mata dan kekecewaan Dimata Vivi!
Dengan menggunakan kruk-nya dia berjalan sedikit tertatih menuju kamar Vivianne. Ketika sampai di depan pintunya dia terdiam.
Tok!
Tok!
" Vi! Apakah kamu sudah tidur?" tanya Andrew. Dan kemudian dia merutuki dirinya sendiri, "Kenapa juga aku bertanya dia sudah tidur atau belum? Tentu saja belum,bukan? Kan, Vivi baru masuk!"
Tidak ada sahutan, yang terdengar hanyalah suara Isak tangis Vivianne.
Andrew menghembuskan napas beratnya. " Vi, Hmm…Apakah kita bisa bicara? I'm sorry,Ok? I really do!" ujar Andrew menatap pintu kamar Vivianne seolah sedang berhadapan dengan Vivianne.
Kembali hening. Andrew sangat bingung harus bagaimana. Andrew tidak pernah menyukai seorang gadis seperti sedalam Vivianne sebenarnya, yang dia lakukan selama ini lebih kepada menerima perlakuan seorang gadis yang selalu mendekatinya dan herannya dia tidak pernah marah kepada gadis tersebut jika ternyata gadis tersebut kedapatan berjalan dengan pria lain! Justru mereka biasanya yang ketakutan Andrew marah dan beranjak pergi meninggalkan mereka. Tidak seperti saat ini. Ada rasa cemburu, kuatir dan takut kehilangan dirasakan oleh
Andrew saat ini terhadap Vivianne dan dia tidak tahu harus bersikap seperti apa menghadapi baik perasaan ataupun membujuk seorang gadis yang terluka!
Karena selama ini di sekelilingnya, mereka yang kuatir bukan dirinya,termasuk mama dan neneknya sekalipun selalu memanjakannya. Kehilangan mereka dalam waktu yang tidak terlalu jauh membuatnya kehilangan arah dan berlaku seenaknya. Terlebih tidak ada benar-benar seorang gadis yang tulus menyukainya dan dia pun menyukainya seperti Vivianne dan dirinya terhadap Vivianne.
Bisa dibilang dia sama sekali tidak memiliki pengalaman yang sesungguhnya mencintai seorang gadis sebagaimana mestinya, meski dia terkenal playboy!
Andrew kembali mengetuk pintu kamar Vivianne, " Vi? Please open the door! Tolong jangan marah seperti ini! Aku minta maaf!"
Tok!
Tok!
" Please go away,Drew! Biarkan aku sendiri! Aku butuh sendiri!" ujar Vivi dari dalam kamar.
Lagi-lagi Andrew menghembuskan nafasnya. Sepertinya dia harus rela memberikan ruang untuk Vivi kali ini. Dengan membawa kekecewaannya dia hendak kembali ke kamarnya. Namun dia teringat sesuatu.
" Ok! Take your time! But don't forget to change your cloth, aku nggak mau kamu sakit,Vi!" ujar Andrew dan kemudian dia memilih untuk pergi dari depan kamar Vivi dan menuju kamarnya kembali.
Di dalam kamarnya Andrew termenung, akhirnya memutuskan melakukan sesuatu. Dia berselancar di internet mencari hal-hal yang bisa dilakukannya agar bisa berbaikan kembali dengan Vivianne.
Semula Andrew hendak menghubungi Alex tapi tidak jadi, karena Alex pasti menertawakannya. Dan ini pasti akan membuat Alex bertambah curiga kepadanya. Akhirnya diurungkan niatnya tersebut. Menghubungi Bryan? Sudah pasti tidak! Karena dia terlalu gengsi untuk meminta bantuannya! Akhirnya satu-satunya cara adalah melalui berselancar.
Dan pencarian yang dilakukannya adalah, " Bagaimana berbaikan dengan pacar yang sedang marah!"
Ting!
Dan muncullah yang keluar adalah " 5 Cara agar pacar tidak ngambek!
1. Memberikan ruang untuk kekasihmu merenungkan diri- Andrew mengangguk ini sudah!
Katakan maaf dengan bersungguh-sungguh! Ok! Ini juga sudah!
Peluk Dia! Boro-boro dibukakan pintu saja tidak!
4.Melakukan Hal yang manis? Contohnya?
Memberikan pasangan kejutan kecil?" Andrew menatap artikel itu dan membacanya sekali lagi, " Ok fixed! Memberikan pasangan Kejutan Kecil dan ini bisa dibilang tindakan manis,bukan? Dan peluk Vivianne,deh!" batin Andrew.
Tiba tiba muncul ide di kepalanya, cara melakukannya dia pun tersenyum kecil. Dia mengambil ponselnya dan membeli beberapa perlengkapan yang dibutuhkannya.
" Vivianne pasti memaafkannya! Bahkan mungkin terharu kali ini!" pikir Andrew dengan senyum devil nya itu.
" Yes! Vivi here I come!"