
*
*
π΄π΄π΄
*
Hari ini Devan mengosongkan jadwalnya khusus untuk menemani istrinya memeriksakan kandungan ke dokter, usia kandungan Delisha sudah memasuki 9 bulan hanya tinggal menunggu beberapa saat lagi anak kedua mereka akan lahir.
Devan dan Delisha sepakat untuk tidak bertanya jenis kelamin sang anak pada dokter yang menangani Delisha padahal dokter sudah menawarkannya namun Devan dan Delisha menolak, biarlah menjadi rahasia Tuhan dan menjadi kejutan untuk mereka ketika bayi itu lahir.
Senyum Devan tak pernah luntur sedari tadi, bahkan ia menyetir sambil mesam-mesem tak jelas. Devan seperti menemukan mata air di tengah gurun pasir.
Selama kehamilan istrinya Devan jarang mendapatkan jatah dengan alasan takut akan membahayakan bayi yang di kandung Delisha, namun mulai hari ini itu tidak berlaku lagi karena sang dokter menyarankan mereka untuk melakukan hubungan secara teratur dan aman. Otot-otot dasar panggul akan kencang dan terlatih sehingga mampu menghadapi proses persalinan normal lebih mudah.
Delisha menatap Devan dengan dahi berkerut, tangannya terangkat untuk memeriksa dahi Devan. "Nggak panas kok." gumamnya.
Devan melirik sesaat ke arah Delisha kemudian menatap lurus kedepan. "Ada apa mom? Aku sehat."
"Tapi sedari tadi aku lihat kamu senyum terus, aku takutnya kamu---" Delisha menutup mulutnya. "Upss..."
"Kamu mau bilang aku gila??!!"
"Aku nggak bilang gitu!!"
"Tapi hampir!!" cibir Devan.
Devan mematikan mesin mobilnya, mereka telah sampai di rumah. Devan melepas seatbelt nya kemudian mencondongkan tubuhnya pada Delisha. "Ayo turun, kita langsung praktek saran dari dokter."
Delisha mencubit lengan Devan. "Dasar mesum!!!"
Devan meringis sembari mengusap lengan bekas cubitan Delisha kemudian ia menggigit pipi Delisha yang semakin cubby. "Tapi kamu suka kan?"
Delisha mengalungkan kedua tangannya di leher Devan. "Apapun yang ada di diri kamu aku suka."
Devan melepas seatbelt istrinya kemudian menarik tubuh Delisha supaya semakin rapat, ia menarik kepala Delisha lalu memagut bibirnya, tidak ada istilah bosan bagi Devan, bibir itu selalu menjadi candu baginya di setiap ada kesempatan ia pasti akan mencuri-curi cium.
Delisha menarik wajahnya, ia sadar dimana mereka saat ini kalau ada yang melihat mereka bagaimana. "Kamu tuh kebiasaan!!!"
Devan terkekeh ia selalu lupa tempat ketika bersama Delisha. "Kita lanjut di dalam."
Devan dan Delisha turun dari mobil kemudian memasuki rumah.
Devan ikut tersenyum kemudian mereka melanjutkan langkahnya sampai di kamar sebelah kamar mereka, Devan membuka pintu kamar tersebut, kamar yang akan menjadi kamar anak kedua mereka, kamar bernuansa biru muda yang cocok jika tempati bayi laki-laki maupun perempuan.
Devan dan Delisha sepakat untuk tidak membahas jenis kelamin anak mereka, karena jika membahas itu ujung-ujungnya pasti akan membuat hubungan mereka merenggang jadi mereka lebih memilih pasrah mau laki-laki maupun perempuan mereka akan menerimanya, meskipun Devan masih tetap dalam pendiriannya dan Delisha juga tetap dalam pendiriannya.
"Ayo ke kamar kita." Devan berujar sembari menutup pintu kamar calon anaknya.
Devan dan Delisha memasuki kamar mereka, Delisha duduk di kursi depan meja rias kemudian melepas sepatunya. "Kamu nggak ke kantor lagi dad?"
Devan duduk di tepi ranjang, ia juga melepas sepatunya. "Nanggung udah jam segini, biar papi aja yang handle."
Delisha telah selesai melepas sepatunya kemudian menaruhnya pada tempatnya lalu ia melangkah sampai di depan Devan. "Kalau kamu nggak ke kantor lagi terus kamu mau ngapain? Tidur siang?"
Devan menarik pinggang Delisha yang berada di depannya, ia mencium perut gendut istrinya dengan gemas, ia seakan tidak rela masa-masa ini terlewatkan, ia masih ingin melihat perut gendut itu namun ia juga sudah tidak sabar ingin melihat anak keduanya lahir ke dunia.
Delisha masih tetap berdiri, ia mengusap lembut rambut Devan.
Devan melepaskan tangannya di pinggang Delisha kemudian menarik tangan Delisha sampai terduduk di pangkuannya. "Kok tidur siang sih? Kapan prakteknya??!!"
Delisha mencubit pipi Devan gemas. "Kamu tuh kalau menyangkut si emprit inget mulu!!"
"Sekarang ya???"
"Kamu nggak capek? Kamu tadi kerja terus pulang, jemput aku terus nganter periksa kandungan."
Devan meletakkan dagunya di bahu Delisha. "Yang seharusnya nanya capek atau enggak tuh aku, kamu capek nggak tadi habis periksa kandungan?"
Delisha terkekeh. "Ya enggak lah dad, deket ini."
Seperti mendapatkan lampu hijau, Devan mengangkat tubuh Delisha kemudian membaringkannya di ranjang, ia mulai menciumi setiap inci wajah Delisha.
Delisha pun tidak menolaknya karena ia juga merindukan sentuhan itu, sentuhan dari pria yang selalu membuatnya merasa melayang tinggi dan lupa segalanya.
*
*
Masih ada 2 Part lagi, di tunggu ya.
Sabar, namanya juga bonus jadi nunggu mood sang pemberi bonus. π π π