Because Baby

Because Baby
Part 60



*


*


🌴🌴🌴


*


Delisha sedikit meringis menahan rasa nyeri di perut bagian bawah kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua.


"Sakit?" tanya Devan sembari mengelus perut Delisha, raut wajah khawatir terlihat jelas disana. "Apa aku tadi terlalu kasar?" tanyanya lagi.


"Nggak apa-apa nanti juga hilang sendiri." jawab Delisha lalu tersenyum tipis supaya mengurangi kekhawatiran Devan. "Kamu sih minta nambah mulu." lanjutnya disertai kekehan kecil.


Devan ikut terkekeh namun tangannya terus bergerak untuk mengelus perut istrinya, berharap rasa nyeri itu akan segera menghilang. "Kan aku sedang nyetok, kemungkinan kita lama nggak melakukan itu lagi, dan aku berharap kali ini jadi adiknya Delvin."


Tangan Delisha terangkat untuk mengusap rahangnya Devan. "Pengen banget ya punya anak lagi?"


"Pengen banget. Aku pengen lihat kamu hamil terus lihat kamu pakai daster dengan perut gendut kamu dan aku akan mengelus-elusnya." jawab Devan sembari menatap Delisha namun pikiran sedang membayangkan apa yang sedang diucapkannya. "Aku sudah melewatkan itu semua saat kamu hamil Delvin." ujarnya penuh penyesalan, lalu menarik tubuh Delisha kedalam pelukannya. "Kita istirahat, ini sudah hampir pagi."


"Aku mau pakai baju dulu." ujar Delisha kemudian beringsut duduk hendak menuruni ranjang untuk memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai, namun Devan menahannya. "Biar aku ambilkan. "Devan menuruni ranjang kemudian memunguti pakaian Delisha lalu menyerahkannya pada Delisha, setelah itu barulah dirinya memakai pakaian sendiri.


"Kamu tidur duluan, aku mau kebawah sebentar." ujar Devan setelah melepas kecupannya di kening istrinya.


Delisha telah selesai memakai pakaiannya kemudian dia mengangguk lalu membaringkan tubuhnya serta menarik selimut dan mulai memejamkan matanya.


Devan keluar dari kamarnya hendak ke dapur untuk mengambil minyak kayu putih, namun langkahnya terhenti saat melewati kamar anaknya, Devan membuka pintu kamar tersebut dengan pelan-pelan supaya tidak menganggu orang yang berada di kamar tersebut, senyumnya mengembang saat melihat kedua orang tuanya berada di ranjang anaknya. Memang sejak Delvin tinggal dirumah ini kedua orang tuanya tidak menempati kamar mereka, mereka memilih tidur di kamar cucunya bahkan sekarang mereka jarang berdebat, tidak seperti dulu.


Devan menutup kembali pintu kamar tersebut lalu melanjutkan langkahnya menuruni tangga menuju dapur dimana kotak P3k berada, setelah menemukan apa yang di carinya Devan segera kembali ke kamarnya.


Devan memasuki kamar pelan-pelan karena ternyata istrinya sudah tidur. Devan menaiki ranjang kemudian menyibak selimut hingga sebatas pinggang istrinya, Devan menuangkan minyak kayu putih di telapak tangannya lalu mengusapkannya diperut istrinya, setelah selesai Devan meletakkan minyak kayu putih tersebut di atas nakas dan dirinya ikut masuk kedalam selimut lalu menariknya hingga sebatas dada, sebelum Devan memejamkan mata Devan menyempatkan diri untuk mengecup kening istrinya lama. "Good sleep." ucapnya setelah melepas kecupan panjangnya kemudian mulai memejamkan matanya menyusul Delisha ke alam mimpi.


***


"Daddy... Bunda..." teriak Delvin dari luar kamar Devan.


Samar-samar Delisha mendengar suara Delvin perlahan Delisha membuka matanya, mengerjab beberapa kali untuk mengusir kantuknya.


"Bundaa..." teriak Delvin lagi.


Mata Delisha langsung terbuka sempurna, ternyata yang di dengarnya tidak salah itu benar-benar suara Delvin, Delisha segera menuruni ranjang kemudian membuka pintu kamarnya.


"Bundaa.." Delvin langsung gelendotan di kaki Delisha, Delisha membungkuk kemudian mengangkat tubuh Delvin lalu berjalan menuju ranjang.


Delisha menurunkan Delvin di ranjang kemudian dirinya juga menaiki ranjang. "Tumben Delvin belum mandi?" tanyanya, biasanya kalau pagi Delvin sudah mandi bersama oma nya.


"Mau mandi sama bunda." jawab Delvin, lalu menaiki tubuh Daddy-nya. "Daddy bangun!"


Mau tidak mau akhirnya Devan membuka matanya, padahal sebenarnya mata Devan masih enggan terbuka. "Delvin?" kemudian Devan menarik Delvin kedalam pelukannya lalu menciuminya. "Kok sudah bangun sih anak Daddy?"


"Mau mandi katanya." jawab Delisha.


"Mau mandi sama Bunda." jawab Delvin.


"Mandi sama Daddy aja." sahut Delisha.


Devan melepas pelukannya kemudian menatap anaknya. "Mau mandi sama Daddy?"


"Mau." jawab Delvin antusias.


Delisha kembali menuruni ranjang berserta Delvin menuju kamar mandi. "Ayo bunda bukain bajunya Delvin dulu."


Setelah Delisha dan Delvin ke kamar mandi, Devan menyibak selimut yang membungkus tubuhnya, namun sebelum menuruni ranjang tatapan Devan tertuju pada bercak darah yang ada di sprei. "Apa aku tadi malam terlalu kasar? Sampai ada bercak darahnya, pantes Delima sampai merasa nyeri di perutnya." gumamnya.


"Delvin sudah siap Dev." teriak Delisha dari ambang pintu kamar mandi.


Devan tersentak kaget. "Iya sebentar." jawabnya lalu menuruni ranjang kemudian menyusul Delvin ke kamar mandi, akhirnya mereka mandi bertiga.


*


🌴🌴🌴


*


Devan, Delisha, Delvin dan Aleza telah sampai di Bandara, mereka berangkat di antar oleh supir keluarga. Ezra tidak ikut mengantar Devan karena Ezra sedang sibuk di kantor.


Devan memeluk anaknya kemudian menciuminya. "Daddy mau menyusul ayah, Delvin dirumah bersama opa, oma dan bunda. Tidak boleh nakal!"


"Iya Dad." jawab Delvin. "Nanti pulangnya bawa mobil-mobilan ya?"


Devan terkekeh lalu mengacak rambut Delvin. "Iyaa, pasti nanti daddy belikan."


Devan melepas pelukannya lalu menyerahkan Delvin pada maminya kemudian memeluk istrinya. "Aku berangkat dulu, jaga diri baik-baik dan jaga anak kita! Aku pasti akan merindukan kalian."


Delisha membalas pelukan suaminya tak kalah erat. "Kamu juga jaga diri baik-baik disana dan kita disini juga akan sangat merindukanmu, semoga masalahnya cepat selesai dan kamu segera kembali."


"Aku pasti akan segera kembali karena aku tidak bisa berpisah dengan kalian terlalu lama." jawab Devan lalu melepas pelukannya lalu mengecup kening istrinya singkat. "Tidur sendiri dulu." ujarnya di sertai kekehan pelan dan di balas kekehan juga oleh Delisha. "Awas!! Jagain si emprit, tidak boleh kelayapan!" bisik Delisha lalu mereka berdua terkikik.


Delisha mengambil alih Delvin dari gendongan mertuanya dan Devan beralih memeluk maminya. "Devan berangkat mih, nitip Delisha dan Delvin."


Aleza membalas pelukan anaknya sembari mengusap lembut punggung anaknya. "Pasti mami akan menjaga cucu dan menantu mami, kamu jaga diri baik-baik disana." pesan Aleza pada anaknya dan di angguki oleh Devan.


Devan mencium pipi Aleza lalu melepas pelukannya kemudian berjalan meninggalkan orang-orang yang di sayanginya dan sesekali menoleh sembari melambaikan tangannya.


Kemungkinan Devan akan beberapa bulan disana, sampai proyek tersebut selesai karena memang proyek tersebut hampir selesai namun malah ada kendala yang mengharuskan Devan menyusul Alvin untuk menyelesaikan masalah itu.


*


*


Semoga wabah ini segera berakhir ya, dan kita semua bisa beraktivitas seperti sedia kala, dan semoga kalian semua selalu di beri kesehatan, betah-betahin diri di rumah dulu! Padahal sebenarnya Author sendiri juga nggak betah πŸ˜…πŸ˜