Because Baby

Because Baby
Part 45



*


*


🌴🌴🌴


*


Aleza dan Ezra sedang terkikik geli di atas ranjang. Mereka sedang mendengarkan Delvin berceloteh ria sambil memainkan rambut Aleza, padahal matanya sudah berat namun bocah gembul itu masih bersemangat menceritakan semua yang pernah dilihatnya, membuat kakek dan neneknya gemas dengan tingkah cucunya. Perlahan suara bocah itu melemah lalu mata bening dan bulat itu semakin menutup kemudian memasuki alam mimpi.


Ezra membenarkan posisi tidurnya Delvin lalu menciumi pipi gembulnya. "Ternyata cucu kita benar-benar mirip Devan kecil ya Mih, bahkan kebiasaannya sebelum tidur pun sama."


"Iya Pih." jawab Aleza sembari mengelus puncak kepala Delvin kemudian mengecupnya.


Erza beringsut duduk lalu merangkak berpindah ke belakang tubuh istrinya. "Mami kangen nggak sih sama Papi?" tanyanya sembari memeluk tubuh istrinya dari belakang serta menenggelamkan wajahnya di tengkuk sang istri.


"Ada cucu kita loh Pih."


"Kan sudah tidur."


Aleza membalikkan tubuhnya untuk membalas pelukan suaminya.


*


*


Devan akan melakukan segala cara supaya bisa menyusul Delimanya dikamar tamu, termasuk mengendap-endap masuk ke ruang kerja di tengah malam untuk mencari kunci cadangan kamar tamu.


Devan sudah mengetuk pintu kamar tamu berulang kali namun tidak di buka oleh Delimanya, mungkin dia sudah tidur. Devan juga sudah menelfon Delimanya berkali-kali namun tidak di jawab. Devan tak kehabisan akal akhirnya dia memutuskan untuk mencari kunci cadangan di ruang kerja, Ezra memang menyimpanya di ruang kerja.


Devan membuka setiap laci di ruang kerja tersebut. "Ketemu." serunya setelah menemukan apa yang ia cari. Devan segera menutup laci tersebut lalu berjalan keluar dari ruangan itu menuju kamar tamu dimana Delimanya sedang tidur disana.


Devan membuka pintu tersebut dengan gerakan pelan supaya tidak menimbulkan suara yang akan membangun Delimanya yang sedang tertidur. Pintu terbuka, secepat kilat Devan melangkah masuk sebelum ada orang yang melihatnya, Devan menutup serta mengunci pintu lalu berjalan menuju ranjang dan melihat Delimanya sedang tidur dengan posisi membelakanginya. Devan menaiki ranjang lalu memeluk tubuh Delimanya dari belakang.


Delisha terbelalak kaget rasa kantuknya lenyap begitu saja saat merasakan ada seseorang yang memeluknya posesif dari belakang, Delisha melepaskan diri dari seseorang yang memeluknya lalu menoleh. "DEVAN!!! APA YANG KAMU LAKUKAN DISIN---" Devan langsung membekap mulut Delisha. "Sstttt.... Jangan berisik! Kamu mau semua orang yang ada dirumah ini akan terbangun terus memergoki kita berdua disini?" bisik Devan.


Delisha melepas tangan Devan yang membekap mulutnya. "Devan!! Kok kamu bisa masuk?"


Devan terkekeh. "Kamu lupa siapa aku? Aku punya seribu cara untuk menyusulmu ke kamar ini."


Delisha membalikkan tubuhnya lalu beringsut mundur. "Jangan macam-macam!!"


Devan mendekatkan wajahnya. "Aku tidak akan macam-macam hanya satu macam, menghabiskan malam ini bersamamu."


Tangan Delisha terangkat untuk memainkan kancing piyama milik Devan membuat sang pemilik kancing tersenyum miring. "Kamu menantang aku?" tanya Devan sembari mendekatkan wajahnya tepat di depan Delisha hingga hembusan nafasnya menerpa wajah Delisha.


"Aku tidak menantang, karena aku yakin kamu pasti akan kalah sebelum melakukannya." jawab Delisha santai.


Devan beringsut duduk lalu sedikit merangkak hingga dirinya di atasnya tubuh Delisha dengan lutut dan siku sebagai tumpuan. "Maksud kamu?" tanyanya bingung.


Delisha terkikik geli. "Aku sedang datang bulan."


"Yaahh.." Devan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas Delisha.


Delisha berusaha mendorong tubuh Devan. "Devan kamu berat!!"


Devan menggulingkan tubuhnya ke samping hingga bersebelahan dengan Delisha lalu kembali memeluk tubuh Delisha dari samping. "Ciuman aja deh."


Delisha meraup wajah Devan dengan tangannya. "Devan ih! Pikirkan kamu tuh kotor mulu, jatahnya akan aku kasih setelah kita nikah. Sekarang kita harus mikirin rencana pernikahan kita, kapan kita ke Jogja untuk menemui adiknya Ayah."


Devan mengeratkan pelukannya sambil sesekali mencium puncak kepala Delisha. "Kamu punya Om, tapi kenapa saat kamu terpuruk dulu tidak bersandar pada keluarga kamu malah bersandar pada Alvin?" Devan tidak membahas soal pernikahan mereka malah mengajukan pertanyaan lain.


Delisha menghela nafas pelan. "Bayangkan keadaanku saat itu, aku sedang hamil tanpa tau siapa ayah dari anak yang ku kandung, tanpa membawa laki-laki yang akan bertanggung jawab. Kamu pikir aku punya keberanian untuk menemui keluargaku?"


Tangan Delisha terangkat untuk membelai pipi Devan. "Sudahlah itu sudah berlalu, kalau seandainya waktu itu kita tidak terpisah apa kamu akan menerima aku dengan keadaan hamil? Waktu itu kan belum jelas anak siapa yang aku kandung."


"Aku akan selalu menerima kamu apapun keadaannya, bahkan saat kamu masih menjadi wanita malam dan aku harus berbagi dengan pria lain." jawab Devan sembari menggenggam tangan Delisha yang berada di pipinya.


Delisha tersenyum tipis. "Aku mencintaimu Dev sangat mencintaimu sejak dulu hingga sekarang."


Devan mengecup senyum tipis di bibir Delisha. "Bahkan aku lebih mencintaimu, apalagi sekarang aku tau bahwa kamu adalah Ibu dari anakku, rasa cintaku semakin besar."


"Jadi kita ke Jogja kapan?"


"Besok." jawab Devan cepat.


"Apa tidak terlalu terburu-buru?"


"Semakin cepat, semakin cepat pula aku mendapatkan jatah." jawab Devan nyeleneh.


"Bisa nggak sih serius?" protes Delisha.


"Sekarang aku serius." Devan terdiam lalu menatap dalam mata Delisha. Devan menangkup wajah Delisha lalu sedikit menariknya hingga bibir mereka bertemu, Devan meraup bibir Delisha serta menghisapnya lembut bahkan sangat lembut.


Tok tok "Sha, ini Delvin terbangun dia nyariin Bundanya."


Devan dan Delisha segera melepas pagutan mereka. "Mampus!! Mami yang mengetuk pintu!" batin Devan.


"Iya sebentar." sahut Delisha dari dalam kamar. "Cepat sembunyi Dev!!"


Devan celingukan mencari tempat yang pas untuk bersembunyi, namun Delisha segera menarik lengannya menuju lemari. Delisha segera membuka lemari lalu mendorong tubuh Devan supaya cepat masuk, setelah Devan masuk Delisha segera menutupnya serta menguncinya lalu berjalan menuju pintu serta membukanya.


"Bundaaa.." tangis Delvin lalu berpindah ke gendongan Bundanya.


Aleza mengelus puncak kepala Delvin. "Jangan nangis lagi sayang, cepet bobo." ujar Aleza lalu keluar dari kamar menuju kamarnya.


"Makasih Tante." ucap Delisha dan di angguki oleh Aleza dengan menoleh lalu melanjutkan langkahnya.


Delisha membawa Delvin ke ranjang lalu menepuk-nepuk pelan bokongnya hingga bocah itu tertidur kembali. Mata Delisha hampir terpejam namun segera tersentak kaget saat teringat kalau Devan masih di dalam lemari. Delisha berjalan cepat lalu membuka lemari tersebut, Devan keluar dari lemari dengan ngap-ngapan ia segera menghirup udara banyak-banyak dia hampir kehabisan pasokan oksigen dalam paru-parunya karena lemarinya terlalu sempit untuk ukuran tubuh Devan. "Kamu lama sekali sih! Mau bunuh aku?" protesnya.


Delisha terkekeh sambil berjalan lalu menaiki ranjang. "Salah sendiri kamu masuk kamarku!! Sudah sana balik ke kamar kamu sendiri!!"


Devan tidak kembali ke kamar namun malah mengikuti Delisha menaiki ranjang, Devan mengecup Delvin lalu membaringkan tubuhnya di belakang Delisha serta memeluknya erat dan mulai memejamkan matanya.


"Kamu mau tidur disini?"


Devan hanya mengangguk.


Tangan Delisha terangkat ke belakang untuk mengusap pipi Devan. "Aku tidak mau bertanggung jawab jika sampai kamu kepergok."


Devan hanya mengedikkan bahu lalu menenggelamkan wajahnya di tengkuk Delisha.


*


*


Kepergok juga nggak apa-apa, terlanjur basah ini.😜😜😜


Lumayan Dev, udah dapet ciuman dikit dan tidurnya sambil peluk-peluk.


Sabar dulu jatahnya kalau sudah SAH!! 🀣🀣🀣


*


Kemarin ada yang minta episode panjang, tuh udah Author panjangin, Author kurang apa coba? Tiap hari udah rajin update. Tapi kalau crazy up maaf ya Author nggak bisa karena Author juga punya kerjaan lain.