
*
*
π΄π΄π΄
*
Delvin menyingkirkan tangan Devan yang berada di pinggang Delisha kemudian tangannya yang melingkar di perut Delisha. "Daddy tidak boleh peluk bunda!!! Ini Bundanya Apin!!"
Mereka bertiga sedang berbaring di atas ranjang kamar Devan, dan Delisha berada di tengah di antara kedua lelaki itu.
Semenjak Devan pulang dan tidak membawa mobil-mobilan pesanannya, Delvin agak sensi pada Devan.
Bukan maksud Devan ingkar janji tapi pada saat itu yang ada di pikiran Devan hanyalah istrinya, ia sudah lupa dengan janjinya pada sang anak untuk membawakan mainan itu dari sana, yang ada di pikiran Devan saat itu adalah ingin segera bertemu dengan istrinya secepat mungkin.
Devan sudah membujuk Delvin untuk membeli mainan itu disini namun bocah gembul itu menolaknya, dia maunya oleh-oleh dari tempat Daddy-nya kerja.
"Ini mommynya daddy!!" Devan tak mau kalah dia menyingkirkan tangan kecil itu dari perut istrinya kemudian tangannya yang mengambil alih tempat itu.
Devan kejam banget sih pada anaknya. π€£π€£
Delvin juga tak mau kalah dia menyingkirkan kembali tangan daddynya dan Devan juga menyingkirkan kembali tangan Delvin, begitu seterusnya sampai berulang-ulang sampai Delisha jengah melihatnya kemudian Delisha menarik kedua lelaki sumber kebahagiaannya kedalam pelukannya. "Tidak usah rebutan! Bundanya kalian semua, bunda kan sctv."
Devan mengernyit. "Kok sctv?"
"Satu untuk semua." jawab Delisha kemudian tergelak kencang.
"Bund--."
"Mulai sekarang Delvin nggak boleh panggil bunda!" potong Devan cepat. "Panggilanya mommy!"
"Nggak mau! Maunya bunda!" tolak bocah gembul itu dengan tegas. Sepertinya perdebatan antara kedua lelaki itu akan di mulai kembali.
"Mommy!!!" kekeuh Devan.
"Bunda!!!"
"Mommy!!"
"Bunda!!"
"Mommy!!"
"Bunda!!"
"Bunda!!" kata Devan untuk mengecoh anaknya.
"Mommy!!" Delvin segera membekap mulutnya sendiri saat menyadari kalau dirinya terkecoh dengan permainan daddynya.
"Tuh bisa kan." Devan dan Delisha langsung tergelak kencang saat melihat ekspresi anak mereka yang lucu.
Merasa kalau dirinya sedang di tertawakan oleh kedua orang tuanya, Delvin memilih untuk beringsut duduk kemudian melipat kedua tangannya di dada serta membuang muka, persis seperti Delisha ketika sedang ngambek membuat Devan benar-benar gemas dengan anaknya.
Pintu kamar terbuka membuat Delvin langsung menoleh. "Opa.." rengeknya kemudian menuruni ranjang dengan cepat lalu menyusul opa nya.
Ezra mengulurkan tangan kanannya hendak menuntun cucunya. "Sudah malam waktunya tidur."
Delvin meraih uluran tangan opa nya namun sebelum meninggalkan kamar itu Delvin menyempatkan diri membalikkan badan menghadap daddynya. "Wleeee...." Delvin menjulurkan lidahnya untuk meledek daddynya.
Delisha dan Ezra merapatkan bibirnya menahan tawa, sedangkan Devan? Dia sudah tidak bisa menahan keinginannya untuk menggigit anaknya karena gemas, secepat kilat Devan menuruni ranjang lalu menyambar tubuh Delvin yang sedang di tuntun oleh Ezra kemudian membawanya kembali ke ranjang.
Ezra melangkah menuju ranjang kemudian menarik lengan Devan. "Ini sudah malam Dev, biarkan anakmu istirahat."
Devan akhirnya melepaskan Delvin, memang ini sudah waktunya bocah gembulnya untuk istirahat.
"Bunda cium dulu." pinta Delisha.
"Mommy!!" sahut Devan.
"Suka-suka Delvin mau panggil apa." ujar Delisha seakan mendukung anaknya membuat Devan mendengkus sebal.
Delvin segera mencium Delisha kemudian menuruni ranjang.
"Daddy nggak di cium dulu nih?" tanya Devan dan Delvin hanya membuang muka sebagai jawaban kemudian meraih kembali tangan Ezra serta menariknya keluar dari kamar daddynya.
Devan menutup pintu kamar kemudian kembali melangkah menuju ranjang, Devan menaiki ranjang lalu duduk bersandar di kepala ranjang serta menarik istrinya kedalam pelukannya. "Kita jadi mengambil pilihan yang kedua kan?" tanya Devan serius.
Delisha melingkarkan kedua tangannya di pinggang Devan serta menyandarkan kepalanya di dadanya, mendengar detak jantungnya serta menghirup aroma tubuhnya yang sudah lama tidak ia rasakan. "Yang pertama! Aku masih ingin hamil Dev." kekeuh Delisha.
"Itu sangat beresiko sayang, kamu sudah tau kan resikonya apa jika kita mengambil pilihan yang kedua, selain kita butuh banyak waktu dan tenaga, fisik kamu sebagai taruhannya. Dan itu pun belum tentu bisa menyembuhkan penyakitnya.
Tangan kanan Delisha terangkat untuk membelai pipi Devan. "Katanya kamu pengen lihat aku hamil, pengen lihat aku pakai daster, pengen lihat perut aku yang gendut terus kamu cium-cium, aku mau mewujudkan semua itu Dev."
Devan memejamkan matanya, menikmati usapan lembut di wajahnya. "Aku sudah sudah tidak menginginkan itu lagi, yang penting kamu sembuh itu sudah lebih dari cukup. Lagian kita sudah punya Delvin, lebih baik aku tidak menambah anak lagi dari pada harus kehilanganmu."
Delisha menurunkan tangannya agak kasar kemudian melipat kedua tangannya di dada dan membuang muka, persis seperti Delvin barusan. "Pokoknya aku mau yang pertama!"
Devan menangkup kedua sisi wajah Delisha dengan kedua telapak tangannya kemudian memutarnya paksa untuk menatap dirinya. "Hei, dengerin aku! Kalau kita pilih yang pertama tingkat kesuburanmu juga akan berkurang kan."
"Tolong dukung aku Dev, aku janji aku akan kuat. Asalkan kamu selalu ada kamu disisiku aku yakin bisa melewati semua itu."
Devan segera menarik tubuh Delisha lagi kedalam pelukannya, kali ini lebih erat. "Sungguh, aku tidak mau mempertaruhkan nyawamu hanya demi menambah anak, tolong mengertilah." pintanya dengan sangat tulus.
"Aku tetep mau yang pertama!" kekeuh Delisha sembari melepas pelukannya kemudian membaringkan tubuhnya membelakangi Devan.
Devan membuang napas kasar dia mulai jengah membujuk istrinya yang keras kepala. "Aku melakukan ini demi kamu Delima!! Jangan keras kepala!!" kata Devan dengan nada yang sedikit meninggi.
"Aku melakukan ini juga demi kamu!!!" jawab Delisha tak mau kalah.
"Aku sudah bilang kalau aku sudah tidak menginginkan itu lagi."
"Aku juga sudah bilang kalau itu kemauanku dan aku janji bakalan kuat." jawab Delisha lagi.
Devan membalikkan tubuh Delisha supaya menatap matanya. "Tatap mataku Delima!"
Mau tidak mau akhirnya Delisha menatap mata Devan.
"Apa kamu tidak memikirkan Delvin? Jika kita memilih pilihan yang pertama dan itu gagal, bagaimana dengan Delvin? Kamu mau anak kita kehilangan ibunya? Padahal usianya masih kecil, dia masih sangat membutuhkan ibunya."
Air mata Delisha langsung tumpah saat itu juga, sekelebat bayangan langsung melintas di benaknya jika dirinya benar-benar meninggal. Bagaimana nasib Devan dan Delvin. Delisha menggeleng lemah. "Aku tidak mau Dev, aku ingin merawat anak kita sampai dia dewasa bahkan aku ingin melihat cucu-cucu kita nantinya."
"Delvin dan aku masih sangat membutuhkanmu, jadi tolong pilihlah pilihan yang kedua demi kami." pinta Devan sembari menghapus air mata istrinya.
*
*
Kok Author jadi ikut sedih yak? πππ
Padahal tadi pas awal senyum-senyum sendiri kek orang gila. π π π