
Setelah Delisha dan Baby nya tenang, Alvin melajukan kembali mobilnya, tangannya tetap fokus menyetir namun sesekali dia menoleh untuk melihat kondisi Delisha.
"Sha." Panggil Alvin dengan menoleh ke arah Delisha sesaat dan kembali menatap kedepan.
Delisha menoleh karena sedari tadi pandangannya juga lurus kedepan. "Iya Dok."
"Kamu mau tinggal di apartemen ku?" Tanya Alvin hati-hati takutnya menyinggung perasaan Delisha.
"Enggak usah Dok." Tolak Delisha halus.
"Tapi aku kasian sama kamu Sha, kalau kamu di kontrakan terus yang ada kamu semakin stress."
"Sungguh tidak apa-apa Dok, aku lebih nyaman di tempatku sendiri."
Alvin akhirnya menyerah tidak mungkin kan kalau dirinya harus memaksa Delisha. "Ya sudah, tapi kalau sewaktu-waktu kamu berubah fikiran kamu langsung bilang aku ya?"
Delisha mengangguk. "Iya Dok"
Alvin menepikan mobilnya kembali setelah sampai di butik kecil milik Delisha.
Delisha membuka seat belt dan menoleh ke arah Alvin. "Makasih Dok." Ucap Delisha di sertai senyum manisnya, membuat Alvin seakan terhipnotis oleh senyuman Delisha.
Delisha menggoyangkan telapak tangannya di depan wajah Alvin karena Alvin tak kunjung merespon kata-katanya tadi. "Dok."
Alvin tersentak kaget. "Oh, iya."
Delisha keluar dari mobil dan Alvin kembali melajukan mobilnya untuk menjemput Devan.
🌴🌴🌴
Setelah mengantar Delisha, Alvin menuju rumah Devan menjemputnya serta mengantarnya ke Bandara.
"Kemana aja sih lo?" Tanya Devan sebal pada Alvin, seharusnya dia mampir dulu ke supermarket membeli sesuatu namun sekarang gagal karena waktunya sudah mepet.
Alvin kembali melajukan mobilnya. "Biasa, ngurus pasien dulu." Jawab Alvin santai.
"Sepagi ini?" Tanya Devan seakan tidak percaya dengan jawaban Alvin.
Alvin menoleh sesaat ke arah Devan. "Iya, dia pasien pribadi gue."
Devan merubah posisinya yang tadi lurus kedepan kini menghadap Alvin. "Maksudnya?"
"Gue tadi nganter pasien gue yang tercantik ke butiknya." Jawab Alvin tanpa menoleh tetap fokus menyetir.
"Ya sehat lah, cuma dia sedang hamil, jadi gue yang anter jemput dia."
Devan melebarkan matanya. "Lo ngebuntingin cewek?" Tanyanya heboh.
Alvin menjitak kepala Devan, sungguh pertanyaan Devan itu benar-benar menjengkelkan. "Enggak!! gini-gini gue masih takut dosa asal lo tau! emang elo gonta-ganti cewek seenak jidat lo."
"Terus cewek bunting itu siapa?"
Alvin menjadi geram sendiri dan memukul lengan Devan dengan tangan kirinya. "Di bilangin pasien gue!!"
Devan membalas pukulan di lengannya dengan mencubit lengan Alvin. "Heh!!! Mana ada seorang Dokter anter jemput pasienya! Di luar jam kerja lagi, apalagi pasien tersebut sehat. Kecuali memang ada hubungan pribadi antara Dokter dan pasien tersebut, mikir dong lo pake otak bukan cuma pake Stetoskop doang."
Alvin sudah terpojokkan dia sudah tidak bisa lagi mengelak, memang benar ucapan Devan barusan, mana ada seorang Dokter segitu perhatiannya sama pasien.
Devan menoel lengan Alvin. "Heh, fokus di depan jangan bengong! Gue belum mau mati muda! gue belum nemuin Delima gue. Eh, ngomong-ngomong siapa nama pasien lo itu?"
"Del--."
"--Delima?" Potong Devan cepat.
"Delisha!!! Delima aja yang ada di otak lo." Dengus Alvin.
"Lo belum tau sih secantik apa Delima itu, kalo lo lihat Delima gue lo bakal ninggalin cewek bunting itu!" Jawab Devan penuh percaya diri.
"Elo kali yang bakal ninggalin Delima lo itu kalo lo lihat Delisha gue." Jawab Alvin tak kalah percaya diri.
"Itu tidak akan pernah terjadi!!!" Balas Devan sembari membuka pintu mobil.
Tanpa terasa mereka telah sampai di Bandara.
Devan turun dan Alvin kembali melajukan mobilnya karena dia ada jadwal praktek sebentar lagi.
**Cantik Delima atau Delisha sih???
Sama aja😂😂
Gimana reaksi Devan dan Alvin jika suatu saat mereka tau wanita yang mereka bicarakan adalah wanita yang sama???
Jawabannya ada di otak Author 🤣🤣🤣**