
*
*
*
"Hahaha karena kali ini lo kalah, lo beserta anak buah lo harus ikut pesta kita malam ini dan lo yang harus bayarin kita semua." ujar Andre musuh bebuyutan Devan.
"Cuih!!" Devan meludah ke samping. "Nggak sudi gue ikut pesta menjijikkan seperti itu." Devan mengeluarkan segepok uang dari saku jaketnya lalu melemparkannya ke arah Andre. "Tuh buat kalian pesta."
Andre melempar uang itu pada Devan lagi. "Perjanjiannya kan tadi siapa yang kalah mau menuruti apapun permintaan yang menang, gue minta lo ikut pesta kali ini."
Devan melempar uangnya tadi pada anak buah Andre. "Nggak!!! Gue nggak suka ketempat seperti itu!!"
Andre tertawa lalu menepuk bahu Devan. "Cuma klub malam Men."
Devan mendengkus sebal, dia bukan pria pecundang yang akan lari dari kesepakatan yang pernah di buatnya, akhirnya Devan menyetujui permintaan Andre mengikuti gank Andre ke pesta di klub malam.
Mereka semua berangkat bersama ke sebuah klub malam yang terletak tidak jauh dari tempat balap mereka tadi, tak butuh waktu lama mereka telah sampai di tempat tujuan, semua segera memasuki klub tersebut dan memesan apa yang mereka inginkan.
Devan mengedarkan pandangannya, meneliti setiap sudut yang berada di gedung itu, cahaya yang minim, dentuman musik yang keras yang bisa memecahkan gendang telinga, gemerlap lampu warna-warni dan banyak manusia yang sedang meliuk-liukkan tubuhnya di bawah sinar lampu itu, meja bar berjejer panjang berserta banyak jenis minuman, dan banyak wanita seksi yang menempel pada pria-pria yang sedang menenggak minumannya di depan bar. Senakal-nakalnya Devan, dirinya belum pernah ke tempat ini.
Andre menepuk bahu Devan lumayan kencang hingga membuat Devan berjengkit kaget. "Sialan lo!!!"
Andre terkekeh. "Mau pesta apa lo? Disini ada pesta goyang, pesta minum, pesta permen, dan pesta cewek."
Devan melebarkan matanya, dia tertarik dengan menu paling terakhir namun dia tidak bilang itu pada Andre, biar bagaimanapun Andre adalah musuhnya, Devan harus extra hati-hati agar tidak terjebak dalam permainan Andre.
Entah apa yang membuat Andre mengajak Devan dan anak buahnya bergabung dengan pestanya dan anak buahnya, mungkin ada niat terselubung di balik ajakanya kali ini. Namun Devan tidak sebodoh itu dirinya tidak mungkin percaya begitu saja pada musuhnya.
Devan meninggalkan Andre lalu dia mengelilingi tempat itu, mencari keberadaan wanita malam yang disediakan di klub tersebut, Devan terus melangkah menaiki tangga lalu Devan berhenti di suatu lorong yang samping kanan dan kirinya berjejer rapih pintu kamar, Devan mendekati seseorang yang berjaga di ujung lorong tersebut untuk menanyakan tentang jasa wanita malam disini. Setelah berbicara panjang lebar dengan sang mucikari ternyata wanita malam disini boleh di bawa pergi asal bayarannya memuaskan, dan Devan memilih membawa salah satu wanita malam yang ada di klub tersebut tanpa sepengetahuan Andre.
Sejak saat itu Devan lebih suka menyalurkan hasratnya pada wanita malam, alasannya karena wanita malam lebih jago dalam urusan ranjang dan Devan lebih puas, hampir setiap hari Devan membawa wanita malam apartemen miliknya dan bergonta-ganti sesuai keinginannya.
Devan tidak terlalu berminat lagi pada anak gadis orang namun jika ada yang mendekatinya Devan juga tidak akan menolaknya. Padahal Devan bukan tipe pria perayu bahkan dia cenderung dingin dan cuek, sikapnya terhadap wanita pun tidak ada manis-manisnya, namun kenyataannya banyak cewek yang menggilainya. Devan akan bersikap hangat dan manis hanya pada orang-orang terdekatnya.
*
*
*
Di usianya yang ke 24 tahun Devan sudah menyelesaikan S2 nya, sarjana Ekonomi dengan IPK yang memuaskan. Kenakalan Devan memang seimbang dengan otak cerdasnya.
Sejak kelulusannya Devan langsung terjun membantu Papinya mengelola perusahaan milik keluarga mereka. Setelah lulus kuliah pun Devan masih tinggal di apartemen dan kebiasaan buruk itu masih terus berlanjut.
Hari ini Devan pulang larut malam, seperti biasanya sudah ada seorang wanita yang sudah menunggunya di depan apartemennya, karena Devan memang sudah membokingnya sebelum dirinya pulang kantor.
Devan melanjutkan langkahnya hingga di depan pintu lalu meneliti wanita itu dari bawah sampai atas, Devan memang tidak mau menerima wanita sembarangan, wanita yang akan memanaskan ranjangnya harus cantik dan seksi, setelah meneliti wanita itu dan wanita itu masuk dalam kriterianya barulah Devan menekan beberapa digit nomor dan 'Bib bib' pintu terbuka Devan melangkah masuk di ikuti wanita malam tersebut.
"Lo duduk dulu, gue mau mandi." titah Devan pada wanita itu.
"Okey." Wanita itu menuruti perintah Devan, dia duduk di sofa sambil menunggu Devan selesai mandi.
Tak butuh waktu lama Devan sudah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk sebatas pinggang, memperlihatkan perut sixpacksnya yang membuat wanita manapun akan menelan ludahnya dengan susah payah di tambah tubuh yang segar dan wangi serta rambut yang masih basah. Wanita itu langsung beranjak dari sofa lalu berjalan mendekati Devan, tangannya kanannya terangkat untuk membelai perut Devan dan tangan kirinya membelai rahangnya Devan, namun belum berlanjut permainan mereka bunyi bell apartemen yang tidak sabaran mengganggu aktifitas mereka. "Lo masuk dulu ke kamar!" titahnya pada wanita bayarannya.
Wanita itu memasuki kamar Devan dan Devan segera melangkah menuju pintu lalu membukanya. "Karin?"
Wanita bernama Karin itu segera nyelonong masuk dan Devan tidak bisa mencegahnya, Karin merogoh sesuatu dari dalam tasnya lalu memperlihatkan benda pipih bergaris dua warna merah itu pada Devan. "Gue hamil dan lo harus tanggung jawab!!"
Devan langsung terbelalak kaget.
*
*
Nah loh sukurin! Mainya kek gitu sih, tanggung tuh akibatnya. π π π
Makanya readers yang belum punya pasangan jangan coba-coba ya! Kayak gitu nikmatnya hanya sesaat, yang di alami Devan hanya salah satu akibatnya dan masih banyak resiko lainnya. πππ