
*
*
Devan dan Alvin menanti jawaban dari Delisha cukup lama.
Delisha menggeleng. "Maaf aku tidak bisa memilih di antara kalian."
Alvin langsung mengangkat kepalanya lalu menatap Delisha. "Kamu harus menentukan pilihan Sha!"
"Aku tidak bisa Vin! Aku tidak bisa memilih di antara kalian. Tolonglah mengerti!"
"Kalau kamu tidak menentukan pilihan, bagaimana dengan aku dan Devan? Bagaimana dengan rencana pernikahan kita yang sedang berjalan?"
"Tidak usah memaksanya Vin!" sahut Devan.
Alvin beralih menatap Devan. "Tapi ini tentang rencana pernikahan kita Dev. Akan berlanjut atau batal?"
"Kumohon Sha, tentukan pilihanmu agar aku dan Devan bisa menentukan langkah kedepannya." Alvin menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Kalau seandainya kamu tidak memilih aku, aku akan berbesar hati merelakan kamu bersama Devan, begitupun sebaliknya."
"Aku tidak bisa Vin. Aku tidak bisa menyakiti salah satu di antara kalian."
"Bagaimana dengan nasib pernikahan kita?" tanya Alvin, membuat Delisha menumpahkan air matanya. Delisha menggeleng. "Aku tidak tau Vin." jawab Delisha sambil terisak.
Devan beranjak dari sofa lalu duduk di sebelah Delisha serta merengkuh tubuh Delisha dari samping. "Sudah Vin! Jangan menyudutkannya lagi!"
Alvin juga beranjak dari sofa lalu berjongkok di depan Delisha. "Maafin aku Sha, aku tidak bermaksud menyudutkanmu. Aku hanya ingin kejelasan tentang hubungan kita bertiga, kalau saat ini kamu belum bisa menjawab aku akan memberi kamu waktu, tapi secepatnya." ujar Alvin, lalu dia duduk kembali di sebelah Delisha.
Devan mengusap lengan Delisha untuk menenangkannya. "Sstttt.. Sudah jangan nangis, maafin aku dan Alvin. Kalau kamu terus nangis yang ada Delvin akan terbangun."
"Delvin?" batin Delisha. Delisha teringat dengan nasib Delvin kedepannya. Delisha tidak mau anaknya di katakan anak haram lagi oleh Om Reza. Tapi Alvin sudah terlalu baik, sungguh semua ini membuat kelapa Delisha berdenyut nyeri. Delisha melepas dekapan Devan lalu menunduk serta mencengkram rambutnya kuat-kuat.
Alvin langsung meraih tangan Delisha untuk melepas cengkramannya. "Jangan di tarik Sha, lepasin nanti sakit."
Delisha melepas cengkramannya lalu menatap Alvin, membuat hati Alvin berdesir saat melihat pipi Delisha basah karena air mata.
'Hening' semua kembali terdiam cukup lama.
Delisha menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan untuk mencari kekuatan. "Sebelumya aku minta maaf kalau keputusanku ini akan menyakiti salah satu dari kalian." ujar Delisha membuat Alvin dan Devan menoleh ke arahnya.
Delisha menatap Devan dan Alvin bergantian lalu memutar tubuhnya menghadap Alvin serta meraih tangan Alvin. Namun Delisha terdiam kembali membuat Alvin sedikit memiringkan kepalanya. "Kok diam? Teruskan!"
Alvin menatap lekat-lekat wajah Delisha.
Devan memiringkan tubuhnya menghadap Delisha yang membelakangi dirinya serta menajamkan pendengarannya.
"Aku memilih Devan."
Devan membulatkan matanya dirinya cukup terkejut dengan pilihan Delisha.
Bahu Alvin merosot raut wajah sedih, kecewa terlihat jelas, namun dia harus menepati perjanjian tadi, siapa yang tidak di pilih harus berbesar hati merelakan Delisha bersama pilihannya.
"Sebutkan alasannya!" titah Alvin.
"Yang pertama. Karena Devan adalah Ayah kandungnya Delvin, aku juga harus memikirkan kebahagiaan untuk Delvin, aku mau Delvin hidup di keluarga yang lengkap bersama Ayah dan Ibu kandungnya, agar tidak ada yang mengatakan kalau dirinya anak haram lagi.
Yang kedua. Karena Papamu tidak memberi restu kepada kita, memang seharusnya pernikahan kita tidak usah dilanjutkan.
Yang ketiga. Karena cinta, aku sudah lama memendam cinta terhadap Devan bahkan jauh sebelum adanya Delvin."
'Deg' Devan kembali terkejut dengan pengakuan Delisha.
Alvin menarik Delisha ke dalam pelukannya. "Seperti kesepakatan sebelumnya, siapa yang tidak dipilih dia harus berbesar hati. Aku akan merelakanmu bersama Devan, aku akan membatalkan pernikahan kita, tapi aku punya satu permintaan." Delisha mendongak. "Izinkan aku tetap menganggap Delvin sebagai anakku, aku sudah sangat menyayanginya seperti anakku sendiri."
Delisha membalas erat pelukan Alvin. "Tentu boleh Vin, Delvin juga sudah menganggap kamu seperti Ayahnya sendiri, kamu telah menyayanginya sebelum dia lahir, bahkan namamu akan selalu melekat pada diri Delvin. Terima kasih atas semua kasih sayang yang telah kamu berikan padaku dan Delvin. Aku akan selalu mendo'akanmu semoga kamu segera mendapatkan penggantiku, kamu baik Vin sudah sepantasnya kamu mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku, wanita yang masih gadis, yang cantik, yang baik."
Alvin melepas pelukannya lalu menggenggam tangan Delisha. "Terima kasih kamu sudah hadir dalam hidupku, memberi warna dan kenangan yang indah untukku."
Delisha mengangguk lalu tersenyum tipis.
*
*
Alvino Bimantara, semoga kamu mendapatkan yang lebih baik dari Delisha Maharani.
*
Relakan Delisha bersama Devan, yang kotor biarkan bersama yang kotor. Karena Alvin bersih kelak juga akan mendapatkan jodoh yang bersih juga, bukankah jodoh itu cerminan dari kita sendiri? Aseeekk....